
Bayu bos ku itu menceritakan tentang ia melewati masa sulit nya kepada ku. Di mana ia telah kehilangan wanita yang ia cintai untuk selama nya akibat kecelakaan.
"Rea, kamu harus menolong ku" Pinta Bayu.
"Tolong apa?"
"Tolong kamu menemui Pasha" Pinta nya lagi.
"Oh, boleh. Aku merasa senang bisa bertemu dengan anak pintar itu" Ujarku.
"Terima kasih Ya"
Aku mengangguk dan tersenyum lebar.
"Aku sebenarnya merasa heran dengan mu. Kenapa kamu selalu melamun di tempat ini. Gadis cantik seperti mu tidak baik jika melamun terus-terusan"
Aku tertawa geli mendengar ocehan bos ku itu.
"Apa sebenarnya kamu mencoba untuk menggali tentang ku?" Tabak ku.
"Maaf bukan maksud ku mau ikut campur atau apa lah itu. Hanya saja aku merasa heran. Kenapa gadis cantik seperti ku selalu saja melamun dengan wajah yang muram?"
"Ada cerita apa di sebalik wajah yang muram itu? Aku pikir aura inilah yang membuat Pasha tertarik untuk mendekati kamu"
"Aura? Aura bagaimana ya maksud nya" Ujar ku tersenyum yang memang tampak di buat-buat.
"Aku tahu kamu mengerti maksud ku. Semenjak aku bertemu dengan mu, aku bisa melihat ada beban dan tekanan di dalam diri mu yang kamu pendam dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Hal itu yang membuat ku jadi penasaran dan ingin mengenal mu lebih dekat" Ujar nya.
Aku mengukir sedikit senyuman di wajah ku. Entah lah aku tidak tahu kenapa. Namun pertanyaan itu benar-benar membuat ku merasa tidak nyaman. Hanya saja untuk langsung pergi meninggalkan bos ku itu akan membuat ku tidak sopan bersikap terhadap atasan ku.
"Tidak ada masalah apa pun di dalam hidup ku" Bohong ku.
"Tapi wajah mu berkata lain"
"Oh, Oke" Ujar ku masih dengan senyuman yang tampak di paksakan.
"Oh kebetulan hari sudah hampir sore. Dan aku masuk shift malam ini. Lagi pun aku merasa tidak enak apa bila di lihat oleh orang-orang kita berdua seperti ini" Ujar ku memberi alasan.
"Rea, apa pun masalah mu, tetap lah tersenyum Karena senyum itu adalah penawar dan bisa di katakan senyuman itu adalah terapi"
"Oke" Ujar ku mengangguk-ngangguk kepala ku.
"Aku akan tersenyum dan akan terus tersenyum dan aku akan mencoba untuk tetap tersenyum terutama kepada Pasha terlebih dahulu. Kalau begitu, saya pamit mau pulang dan mau siap-siap untuk kerja" Ujar ku meninggalkan bos ku yang masih berada di tempat itu.
***
Arga melamun di pondok kecil yang berada di belakang rumah nya. Semenjak kepergian istri pertama nya itu, lelaki itu terus saja melamun. Hati nya kini terasa sepi. Kenangan pagi itu masih terbayang nyata di benak nya.
"Apa lagi yang mau kamu jelas kan kepada ku. Semua ini sudah jelas. Aku sudah melihat nya dengan mata kepala ku sendiri. Pantas saja selama ini kamu selalu mencari kesalahan ku" Ujar Sandra marah kepada aku dan Arga saat melihat kami berpelukan kala itu.
"Bukan, dengar dulu penjelasan ku"
"Aku nggak mau mendengarkan apapun dari mulutmu"
Aku hanya bisa terdiam melihat pertengkaran kedua suami istri itu. Aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Yang hanya bisa ku lakukan hanya diam dan menyaksikan kedua nya bertengkar.
"Oh, aku tahu. Kamu sebenarnya tidak mencintai ku lagi kan?"
"Aku sayang sama kamu Sandra"
"Gak, jika kamu sayang kepada ku kamu pasti tidak melakukan hal ini. Ini apa? Apa semua ini?" Ujar nya dengan sangat emosi.
"Aku sayang kamu Sandra. Dengar Sandra. Apa yang kamu lihat ini adalah satu kekhilafan"
Deg....
Sungguh hati ku terasa hancur saat itu mendengar ucapan dari Arga.
Arga hanya bisa merenungi ucapan nya waktu itu. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah ia ucapkan. Dimana hanya kata kekhilafan itu lah yang membuat ku pergi meninggalkan nya.
"Maaf kan aku Rea. Kemana aku harus mencari mu" Ucap nya lirih.
__ADS_1
***
"Hallo Santi" Jawab Riko saat Santi menghubungi nya.
"Hallo sayang, lagi ngapain?" Tanya Santi dari seberang.
"Aku baru saja pulang dari mesjid bersama paman. Ada apa?"
"Lo, Emang gak boleh aku menelepon tunanganku sendiri. Gak mungkin kan aku hanya menelepon mu disaat penting saja" Ujar Santi.
"Riko, Kenapa ya aku merasa beberapa waktu ini aku melihat kamu berubah" Ujar Santi merasa ada yang berubah pada tunangan nya itu.
"Lo, berubah gimana? Kenapa bisa kamu ngomong seperti itu?"
"Riko, kamu itu berubah. Apa karena kita jauh ini yang membuat kamu seperti ini?"
"Gak ada yang berubah Santi. Aku masih Riko yang sama"
"Gak Ko, kamu berubah. Kamu tidak cuek dan dingin kepada ku. Berbeda dengan sikap mu yang kemaren" Ujar Santi.
"Itu perasaan kamu aja San, tidak ada yang berubah. Ya sudah sekarang aku mau pulang dulu. Nanti setelah sampai di rumah, kamu telfon ku kembali ya" Ujar Riko.
"Kamu yang harus menghubungi ku Ko"
"Iya nanti aku telfon mu kembali" Ujar Riko mengalah. Riko mematikan ponsel nya.
***
Dimas kembali mencoba menghubungi Santi. Seperti biasa dia ingin memeras Santi karena uang yang kemaren di kirim Santi sudah habis di tangan nya.
Namun, ia merasa kesal karena ia tidak bisa menghubungi Santi lagi. Itu karena Santi memblokir nomor nya sehingga dia tidak bisa menghubungi Santi. Ia sengaja melakukan itu karena ia merasa muak atas pemerasan yang di lakukan Dimas kepada nya.
"Kurang ajar Santi. Nomor nya sama sekali tidak bisa aku hubungi. Apa dia sengaja melakukan ini? Apa dia telah memblokir nomor kontak ku sehingga aku tidak bisa menghubungi nya" Ujar Dimas sendiri.
"Kurang ajar Santi. Harus kemana aku pergi saat ini. Uang ku sudah habis. Dan aku mau pulang ke Pekanbaru tidak mempunyai ongkos" Ujar nya. Saat ini Dimas sedang berada di kota Terubuk Bengkalis. Ia di sana karena mengantar kekasih nya yang memang berasal dari sana.
Tidak mungkin juga ia meminjam atau meminta uang kepada pacar nya itu. Selama ini dia mengaku orang kaya raya. Jika dia meminjam uang, maka kedok nya yang selama ini berbohong akan terbongkar.
"Rea" Ujar nya lirih.
"Benar kan itu Rea?
"Apa aku mencoba untuk meminta bantuan saja kepada Rea ya" Batin nya.
"Tapi apa Rea mau menolong ku?" Ia merasa ragu.
"Tapi apa salah nya jika aku mencoba. Rea adalah wanita yang baik hatinya. Pasti ia mau menolongku" Ujar nya lagi penuh keyakinan.
Dimas pergi menuju tempat ku bekerja.
"Rea" Tegur nya Aku dan Dimas saat itu berpas-pasan jalan. Dimana aku mau keluar dari cafe itu dan dia mau masuk ke cafe itu.
"Iya" Jawab ku sedikit heran. Aku tidak mengenal laki-laki yang menegur ku tadi. Tapi kenapa bisa dia mengenal ku.
"Hai" Sapa nya lagi.
Aku tersenyum kecut melihat nya. Tentu saja aku tidak ingat dengan dia. Di mana saat ia masuk ke kamar ku bersama Santi waktu kejadian itu, aku sudah pingsan.
"Maaf sebelum nya. Anda siapa ya? Apa kita saling kenal?" Tanya ku dengan sopan takut nanti Dimas tersinggung dengan ucapan ku. Mungkin dia adalah salah satu karyawan di kantor klien ku di perusahaan lama ku kemarin. Batin ku mulai menerka-nerka.
"Kamu memang tidak mengenali ku. Tapi aku kenal sama kamu" Ujar nya lagi.
"Oh" Ujar ku. Hanya kata itu yang lolos dari mulut ku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Sekarang kamu tinggal di sini? Apa cafe ini milik suami mu?" Ujar nya lagi.
"Suami? Apa kamu kenal dengan suami ku?" Tanya ku kaget.
"Ya kenal lah. Siapa yang tidak kenal dengan Arga seorang CEO perusahaan terkenal di kota Pekanbaru"
Deg...
__ADS_1
Hati ku semakin bertanya-tanya. Kenapa dia bisa mengenali Arga dan bisa tahu bahwa aku adalah istri nya. Sedangkan pernikahan ku dan Arga tidak banyak orang yang tahu. Hanya keluarga terdekat saja.
Jika dia benar klien ku dulu, atau klien Arga, bagaimana dia bisa tahu bahwa aku dan Arga sebagai suami istri. Padahal saat acara pernikahan kami Arga mau pun aku tidak pernah mengundang klien kami. Bahkan, orang kantor saja sama sekali tidak di undang.
"Oh ya, tapi maaf sebelum nya. Aku benar-benar tidak mengenali mu" Ujar ku lagi.
"Seperti yang ku katakan tadi. Kamu memang tidak mengenali ku. Tapi aku kenal dengan mu. Kalau begitu, alangkah baik nya kita saling berkenalan agar kita bisa saling mengenal" Ujar nya bersikap ramah.
"Kenalin nama ku Dimas" Ujar nya mengulurkan tangan.
Meski hati masih merasa ragu, aku menyambut uluran tangan itu.
"Rea" Ujar ku tersenyum kecut.
"Maaf aku harus melanjutkan pekerjaan ku" Ujar ku mencoba untuk menghindar.
"Tunggu dulu" Dimas menghentikan langkah ku.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku"
"Pertanyaaan yang mana ya" Ujar ku bingung
"Apa cafe ini milik mu? Ya bisa jadi kan Arga membangun cafe ini untuk mu"
"Bukan, ini bukan cafe milik ku atau Arga. Aku hanya bekerja di sini" Ujar ku langsung berlalu dari hadapan Dimas.
"Tung... " Ujar nya tidak melanjutkan teriakan nya melihat ku sudah pergi jauh dari hadapan nya.
"Bekerja di sini? Tapi kenapa? Apa Rea dan Arga sudah bercerai? Kenapa Rea sekarang bekerja di sini? Padahal setahu ku Arga orang yang kaya raya. Mana mungkin seorang CEO perusahaan terkenal membiarkan istri nya bekerja di sebuah cafe seperti ini" Batin nya mulai bertanya-tanya.
"Lebih baik aku selidiki semua ini. Dan siapa tahu nanti nya Rea akan membantu ku untuk pulang ke kota ku. Dan jika dia ingin membantu ku, aku akan menceritakan kebusukan Santi yang mengaku sahabat namun tega menusuk Rea dari belakang" Ujar Dimas Ia memang sudah mempunyai tekat di hati nya untuk menceritakan semua kebusukan Santi kepada ku.
Ia merasa bersalah karena telah membuat hidup ku menjadi seperti ini. Terlebih lagi aku sekarang bekerja di sebuah cafe. Pasti hidup ku tidak bahagia sehingga aku memilih pergi dari Arga dan bekerja di kota Terubuk ini.
***
"Kurang ajar Santi. Awas aja ya jika benar dia memblokir nomor ponsel ku" Ujar Dimas mengetik nomor ponsel Santi di nomor ponsel baru nya. Yah karena Santi tidak bisa di hubungi menggunakan nomor ponsel nya yang lama, jadi ia memutuskan untuk membeli nomor ponsel baru untuk mencoba menghubungi Santi.
"Hallo" Jawab Santi saat ponsel nya berdering.
Dimas tersenyum senang mendengar suara Santi. Berarti benar selama ini nomor nya telah di blokir oleh Santi. Hal ini terbukti ketika dia menghubungi Santi menggunakan nomor baru nya di jawab oleh Santi.
"Hallo Santi sayang. Akhirnya kamu bisa di hubungi juga ya" Ujar Dimas.
Santi membulatkan mata nya ketika mengetahui siapa yang telah menghubunginya saat ini.
"Dimas" Ujar nya dengan nada yang bergetar.
Ia merasa menyesal karena talah mengangkat ponsel nya. Ia tidak menyangka bahwa yang meneleponnya tadi ada lagi Dimas. Ia pikir yang menghubunginya barusan adalah kliennya. Karena saat ponselnya berdering ia masih sibuk dengan laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Karena kesibukannya ia tidak melihat nama yang tertera di ponselnya Ia langsung mengangkat ponsel itu tanpa melihat nama atau nomor yang ada di layar ponselnya.
"Kamu?"
"Iya aku. Kenapa kaget? Ternyata benar ya nomor ku kamu blokir"
"Aduh mati aku. Harus memberi alasan apa sama Dimas" Batin Santi gelisah.
"Bukan begitu Mas. Masalahnya beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku tidak mengaktifkan ponselku beberapa hari ini" Santi memberi alasan.
"Hahaha.... Alasan kamu tidak bisa aku terima San" Dimas tertawa terbahak mendengar alasan Santi itu.
"Benar Mas. Aku sedang sibuk saat ini. Baru hari ini ponsel ku aktif"
"Terserah lah alasan mu apa San. Yang jelas saat ini aku mau meminta uang kepada mu. Aku sedang berada di Bengkalis mengantarkan pacar ku pulang ke kampung halaman nya. Dan saat ini aku membutuhkan sedikit ongkos untuk pulang ke kampung halamanku. Jadi Aku minta sama kamu untuk segera mentransfer uangku di rekeningku"
"Mas, kamu jangan gila ya. aku sudah memberimu uang kemarin dan aku rasa aku sudah tidak mempunyai hutang kepada kamu dan aku tidak perlu untuk mentransfer uangku kepadamu"
"Eh San, apa kamu pikir pekerjaan yang aku jalani untuk melancarkan rencanamu itu bisa dibayar dengan uang segitu apa? Ini pekerjaan yang berat dan tentunya aku harus meminta lebih dan kamu harus ingat uang yang kamu transfer kemarin belum mencapai angka kesepakatan kita" Jelas Dimas kembali mengancam.
"Dimas, saat ini aku sedang bekerja. Dan aku pun membutuhkan uang untuk biaya tambahan acara pernikahanku nanti"
"Aku tidak peduli. Yang jelas aku mau uang ku sekarang. Jika tidak, aku minta maaf kepada kamu. Karena kebusukan mu akan ku bongkar nanti nya" Ancaman Dimas kepada Santi.
__ADS_1