
"Oh, begitu" Pak Rudi mengangguk.
Selama makan malam berlangsung, tiada sepatah katapun yang keluar dari bibir tipis Arga. Ia hanya diam menikmati makan malam yang di sajikan. Bahkan melihat atau melirik ku saja tidak.
***
"Terima kasih ya ma, pa atas makan malamnya" Seru ku saat kami selesai menikmati hidangan dan buk Rina dan pak Rudi mengantar ku ke depan pintu rumah mewahnya untuk berpamitan pulang. Sedangkan Arga sudah dari tadi menunggu di mobil.
"Ya sama-sama nak. Mama senang kamu bisa makan bersama seperti ini bersama kami. Terlebih lagi kamu akan menjadi menantu kami. Jadi rumah kami akan semakin ramai. Jika sudah menikah nanti, kamu tinggal di rumah mama dan papa ya nak" Pinta buk Ajeng.
"Iya ma, aku akan ikut saja jika Arga mau mengajak ku tinggal di sini. Eh maksud nya bang Arga"
Buk Rina dan pak Rudi saling menatap. Ia sedikit kaget saat aku mengubah panggilan untuk Arga.
"Kenapa? Tanya ku sedikit heran.
"Gak, mama sama papa senang kamu memanggil Arga dengan sebutan abang" Bu Rina tersenyum senang.
"Sudah sewajarnya ma, kelak dia akan menjadi suami ku. Aku harus berbakti dan menghormati suami ku" Sahut ku.
__ADS_1
Tet.....tet.....
Suara klakson mobil Arga menghentikan perbincangan kami.
"Sepertinya obrolan kita terlalu lama sehingga membuat Arga lama menunggu dan marah sepertinya" Seru ku dengan tersenyum sedikit di buat-buat.
"Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya" Kata buk Rina. Aku pun berpamitan menyalami kedua calon mertua ku secara bergantian dan masuk ke dalam mobil Arga.
"Lama sekali" Sergah Arga saat aku sudah di dalam mobil.
"Maaf" Seru ku kecut.
"Hmm...." Jawab Arga dingin dan melaju dengan mobil pribadi nya.
"ngomong apa saja tadi sama mama dan papa?" Arga mulai bertanya dengan suara datarnya.
"Hanya ngomong seadanya saja" Jawab ku gugup.
"Mama tidak bilang apa-apa kan tentang aku.? Atau dia bercerita tentang hubungan ku dan Sandra?"
__ADS_1
"Tidak" Bohong ku. Tentu saja itu tidak benar. Buk Rina bercerita banyak tentang Arga dan Sandra. Bahkan meminta ku agar Arga bisa melupakan Sandra.
Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat ingin menghilangkan kegelisahan yang ada di dalam hati ku.
Entah lah, melihat sikap Arga seperti ini, membuat aku ragu untuk melangkah lebih jauh dengan nya. Semakin ke sini Arga semakin bersikap dingin dan cuek.
Saat ini dia mengantar ku pulang karena terpaksa saja oleh mama dan papanya. Terlebih lagi dia sudah menjemput ku secara resmi dengan ke dua orang tua ku. Jika aku pulang sendiri nanti tanpa diantar oleh nya jelas itu akan membuat orang tua ku kecewa. Walau bagaimana pun Arga mempunyai prinsip dan itu lah prinsipnya bertanggung jawab jika ia melakukan kesalahan sebesar apa pun itu.
Dan kini ia menjalani tanggung jawab itu dengan ku. Karena ia telah merusak masa depan ku.
"Apa pun yang mama dan papa katakan, itu semua tidak akan merubah perasaan ku ke Sandra" Dengan mantap Arga meyakini hati nya tidak berubah.
"Kamu jangan pernah berpikir untuk bisa menggantikan nya di hati ku" Tambahnya lagi.
"Baik bang" Seru ku.
"Apa?." Kagetnya ia saat aku memanggilnya dengan sebutan abang.
"Maaf, tapi tidak sopan jika nanti aku memanggil mu dengan sebutan nama saja jika kita sudah menikah. Toh sekarang usia mu lebih muda dari ku dua tahun. Aku hanya ingin bersikap sopan. Dan maaf jika membuatmu tidak nyaman" Seru ku berhati-hati.
__ADS_1
"Terserah kamu saja"