
Aku mulai berwudhu dan menyiapkan diri menyambut kumandang azan. Yah rumah Arga tak jauh dari mesjid yang cukup besar di sana. Tentu saja jika suara azan berkumandang sangat jelas terdengar di sana.
Bu Rina duduk di samping ku juga bersiap untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Papa gak ikut sholat ma?" Tanya ku celingak-celinguk mencari seseorang yang di sebut sebagai papa nya Arga.
"Sebentar lagi juga turun" Jawab mama.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Kembali ku ambil sebuah tasbih yang berwarna putih yang tergantung di pinggir rak-rak tempat kitab suci al-quran. Aku mencoba berzikir mengingat Tuhan semesta alam yang masih mengizinkan aku untuk tetap bernapas dan beraktifitas sampai saat ini.
Bu Rina menatap ku lekat. Entah apa yang ada di pikiran nya saat itu. Sesekali ku bisa melihat dari sudut bola mata ku ia tersenyum kecil dan matanya mulai berkaca-kaca. Entah lah aku pun tidak mengerti apa yang ada di pikiran wanita paruh baya itu.
Ku hentikan zikir ku saat ku dengar azan sudah berkumandang.
__ADS_1
Terlihat pak Rudi bergegas menuju kami. Mengambil alih tempat terdepan sebagai imam untuk kami berdua. Lama kami berdiri sampai akhirnya suara azan telah berakhir.
"Arga mana ma? Gak ikut sholat?" Tanya pak Rudi kepada istrinya.
"Mungkin sholat di kamarnya pa" Jawab Bu Rina. Pak Rudi hanya memberi respon mengangguk. Dan kami pun mulai melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Selesai melaksanakan sholat dan berdoa aku menyalami kedua calon mertua ku. Pak Rudi beranjak kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Iya ma, ada apa?"
"Mama mau bicara sebentar bisa?"
"Bisa dong buk. Mau bicara apa?" Tanya ku dengan tatapan yang heran.
__ADS_1
"Sini duduk dulu kita" Bu Rina kembali menarik ku untuk duduk di tengah-tengah musholla kecil nan mungil itu. Tanpa di suruh yang ke dua kali nya aku mengikuti duduk berhadapan dengan calon mertua ku.
Mata kami saling beradu pandang, di tatapnya mata ku dalam-dalam untuk menyampaikan apa yang ada di hatinya saat itu.
"Nak, entah mengapa mama merasa berbeda sama kamu" Kedua alis ku bertaut tidak mengerti maksud perkataan calon mertua ku barusan.
"Iya nak, entah mengapa mama merasa nyaman saat pertama kali bertemu sama kamu. Mama suka melihat tutur bahasa mu yang sopan, sikap mu yang baik, terlebih lagi kamu sepertinya taat dalam mengerjakan kewajiban mu sebagai seorang muslim. Mama sangat senang akan hal itu nak. Mama dan papa berharap kamu bisa membuat Arga kembali bersikap normal kepada kami" Jelas bu Rina.
"Normal bagaimana ma?" Tanya ku kembali.
"Nak, semenjak Arga pacaran sama Sandra, dia berubah nak. Terlebih lagi mama sama papa menentang hubungan mereka. Mama dan papa tidak suka sama Sandra, karena Sandra berbeda keyakinan dengan kita nak" Nampak jelas mata bu Rina berkaca-kaca mengingat anak semata wayangnya yang begitu dingin kepadanya.
"Awalnya papa dan mama hanya diam dan berpikir mereka hanya sekedar pacaran dan pasti suatu saat nanti juga akan putus. Akan tetapi, semakin ke sini Arga semakin berbeda. Apa lagi semenjak dia tahu bahwa kami tidak menyetujui hubungan nya" Jelas bu Rina lagi.
__ADS_1