
Di sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam membisu tanpa ada satu patah pun keluar dari mulut ku.
Hati ini masih terasa sakit dan perih mengingat semua percakapan antara Sandra dan Arga tadi.
"Rea"
"Hmm"
"Kamu kenapa? Dari tadi hanya diam tidak mau berbicara kepada ku?"
"Oh, gak apa-apa" Jawab ku
"Tadi sewaktu kita pergi makan malam nya, kamu banyak bercerita. Tapi sekarang kenapa diam?" Ujar Arga.
"Gak apa-apa hanya merasa ngantuk saja" Ujar ku lagi berbohong.
***
Santi tersenyum senang melihat Riko duduk di sebuah kursi cafe yang terletak di sudut ruangan untuk menunggu nya datang.
"Riko" Tegur Santi duduk di hadapan Riko.
"Eh San, sudah sampai?" Tanya Riko.
"Sudah lama menunggu?"
"Gak, belum lama kok aku sampai" Ujar Riko.
"Terima kasih ya kamu sudah mau datang temani aku di sini" Tambah lelaki berkacamata itu.
"Iya sama-sama"
"Kamu mau pesan apa?"
"Kentang goreng sama cappucino aja" Jawab Santi.
"Ko, ngapain kamu ngajak aku ketemuan di sini?"
"Gimana ya San, aku juga gak tau. Tapi jika aku berada di cafe ini aku merasa tenang"
"Oke, jika begitu tiap-tiap hari pun kamu datang ke sini dan mau mengajak ku untuk menemani kamu, aku siap kok" Ujar Santi.
"Benar ya san, kamu akan temani aku di sini"
"Iya, aku akan selalu ada untuk kamu kok" Ujar Santi tersenyum senang.
"San, kamu tahu tempat ini membuat rindu ku kepada Rea sedikit terobati. Waktu pertama kami berjalan bersama, dia memilih tempat ini sebagai tempat tongkrongan kami" Ujar Riko mulai bercerita masa lalu nya.
Santi menarik napas berat nya. Wajah yang tadi nya tersenyum senang, kini berubah menjadi murung. Santi memutar bola matanya merasa muak dengan cerita Riko tentang ku yang bagi nya itu tidak lah penting.
"Ko, jika kamu meminta ku datang ke sini hanya untuk mendengarkan mu menceritakan masa lalu mu bersama Rea, lebih baik aku pulang saja. Aku kasihan melihat kamu seperti ini. Mengharap cinta nya Rea yang kini sudah menjadi istri orang lain" Ujar Santi.
"Dan jika tempat ini membuat kamu mengingat kenangan kamu bersama Rea, yang tentu saja akan membuat hati kamu semakin hancur. Lebih baik kamu jangan datang lagi ke tempat ini karena ini akan membuat kamu sendiri yang sakit" Tambah nya lagi.
"Ko aku kasihan deh sama kamu. Kamu coba dong membuka mata dan hati kamu lihat apa yang terjadi sama Rea. Dia bukan orang yang seperti kamu bayangkan. Dia tidak sebaik dan tidak sesuci itu Ko. Jadi lebih baik kamu membuka hati kamu untuk menerima orang lain jangan terlalu memikirkan masa lalu yang aku membuat kamu semakin menderita move on dong Ko, move on" Ujar Santi untuk menyadarkan Riko.
Riko hanya terdiam mendengar nasehat dari Santi. Lelaki berkacamata itu tampak berpikir.
"Benar juga apa yang di katakan oleh Santi. Sangat sulit untuk ku memiliki Rea yang sudah menjadi milik orang lain" Batin nya.
"Lebih baik sekarang kita keluar dari tempat ini. Dan aku akan membawa mu ke suatu tempat yang mungkin akan membuat hati mu lebih tenang" Saran Santi menarik tangan Riko yang tampak masih kebingungan.
***
"Ngapain kita ke sini?" Tanya Riko bingung saat Santi menyuruhnya untuk memberhentikan mobilnya di sebuah tempat sunyi dan cukup tinggi seperti perbukitan.
"Coba deh kamu lihat pemandangan kota dari sini bagus kan? Gemerlap lampu-lampu yang menghiasi setiap gedung dan rumah-rumah menambah kecantikan malam ini bukan? Dan coba deh kamu lihat di atas sana, banyak bintang yang bertaburan dan bersinar dengan terang nya. Di sini kita kan lebih merasa tenang dan nyaman" Ujar Santi menunjuk pemandangan dari atas bukit itu.
"Dan jika masih banyak pikiran, lebih baik kamu teriak deh sekencang-kencang nya dari sini. Dan kamu pasti akan lebih merasa lebih tenang. Coba deh jika gak percaya" Ujar Santi.
"Aaaaaa....... " Teriak. Riko mengikuti saran dari Santi.
Beberapa kali lelaki berkacamata itu berteriak sekencang-kencangnya.
"Kamu benar San, aku lebih merasa tenang saat ini. Seakan-akan beban yang ada di benak ku hilang" Ujar Riko tersenyum senang.
"Bener kan apa yang aku bilang" Ujar Santi tersenyum bangga.
Mereka duduk di depan mobil Riko menyaksikan gemerlap nya bintang dan pemandangan malam dari atas bukit itu.
__ADS_1
...(Hanya Visual)...
***
"Hallo Riko" Ujar Santi saat panggilannya di sambut oleh Riko.
"Ya ada apa San?"
"Kamu lagi di mana sekarang? Masih di rumah?" Tanya nya.
"Aku lagi di jalan, mau ke rumah sakit. Ada apa San?"
"Oh, gini, aku boleh minta bantuan sama kamu? Ini loh motor mu rusak, aku juga gak ngerti sih kenapa. Jadi aku minta tolong kamu bisa jemput aku gak untuk anterin aku ke kantor" Ujar Santi.
"Oh, iya bisa kok. Tunggu ya sebentar lagi aku pasti ke sana" Ujar Riko.
"Oke, terima kasih ya Ko" Santi menutup ponsel nya.
Santi tersenyum puas sambil melonjak kegirangan karena Riko mau menjemputnya.
"Perlahan namun pasti, seperti nya Riko mulai membuka hati nya untuk ku. Akhirnya aku bisa juga deket seperti ini sama Riko" Batin nya.
***
Aku sibuk membantu bik Ina di dapur untuk menyelesaikan pekerjaan dapur seperti memasak, mencuci piring dan lain-lain.
Yah aku memang suka mencari kesibukan ku sendiri. Dari pada aku hanya duduk diam di rumah tidak berbuat apa-apa. Lebih baik aku mencari keringat agr tubuh ini tidak terbiasa nanti nya menjadi pemalas.
"Rea" Tegur Arga kepada ku.
"Iya" Jawab ku menatap nya.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu" Ujar nya lagi.
"Apa?" Tanya ku.
"Sebaiknya kita bicaranya di halaman belakang saja. Tidak enak bicaranya di sini" Ujar nya.
Aku mengangguk mengerti.
"Ada apa Ga?" Tanya ku saat kami sudah sampai di halaman belakang rumah.
"Ya, aku mau ngomong sama kamu. Dan aku harap kamu tidak merasa keberatan" Ujar nya lagi.
"Aku mau kita pergi liburan ke Paris. Yah bilang saja sama mama dan papa kita bulan madu di sana" Ujar nya.
"Maksud mu?"
"Iya kita pergi liburan ke Paris Tahu Paris kan negara yang ada menara Eiffel nya itu. Atau bisa disebut sebagai negara romantis gitu"
"Iya aku tahu tapi mengapa? Maksudku kenapa ke Paris?" aku masih bingung dengan Arga yang mengajakku untuk berlibur honeymoon ke Paris sedangkan yang kutahu dia sama sekali tidak mencintaiku namun mengapa dia mengajakku liburan honeymoon ke Paris. Apakah dia mulai membuka hatinya untukku atau bagaimana. Batinku bertanya-tanya.
"Y aku mau liburan aja ke luar negeri. Karena aku mau refreshing terlalu banyak pekerjaan dan terlalu banyak masalah-masalah yang selama ini membuat otakku buntu. Jadi ya aku mau refreshing untuk merileksasikan otak-otak ku yang bisa dikatakan tegang selama ini. Dan kamu juga begitu kan? Oleh karena itu aku mengajakmu untuk pergi ke Paris ya sebagai jalan-jalan untuk merelaksasikan keadaan otak kita" Arga memberikan alasan yang bisa di katakan masuk akal.
"Bener juga ya apa yang dikatakan Arga Lebih baik aku ikut saja dia pergi liburan ke Paris. Kapan lagi coba aku bisa jalan-jalan ke luar negeri? Mumpung ada orang yang mau ngajakin Lebih baik aku gunakan kesempatan emas ini untuk melihat negeri orang" Batin ku.
"Malah diam"
"Gimana mau gak?" Tanya Arga lagi.
"Oh ya, tentu saja aku mau. Kapan kita berangkat?" Tanya ku.
"Dua hari lagi" Ujar nya langsung meninggalkan ku sendirian di halaman belakang rumah.
Aku mengangguk mengerti.
"Wah aku mau pergi jalan-jalan ke Paris? Apa aku sedang bermimpi ya?" Batin ku tak percaya.
Aku mencubit lengan ku untuk membuktikan apakah aku bermimpi atau tidak.
"Aduh" Aku meringis kesakitan. Aku menggosok-gosok lengan ku yang terasa sakit akibat cubitan ku tadi.
"Sakit, berarti aku gak mimpi dong. Wah, asyik.... Aku bisa jalan-jalan. Aku lihat di google ah tempat wisata mana saja yang mau ku kunjungi di kota Paris itu.
Aku mengeluarkan ponsel ku dari saku celana ku dan mencari informasi di google tentang wisata yang ada di Paris.
"Yang jelas aku mau pergi ke menara eiffel dong. Bukan kah Paris terkenal dengan menara Eiffel nya. Jadi aku wajib, wajib pakai banget ke sana. Terus.... " Ujar ku sibuk dengan ponsel yang terus ku otak-atik mencari informasi wisata di negara yang mempunyai julukan City of the love.
"Wah, Montmartre merupakan bukit besar dan terkenal yang berada pada ketinggian 130 meter. Pada puncak bukit ini terdapat tempat bersejarah yakni Basilika Sacré-Cœur. Montmartre menjadi tempat terbaik untuk menikmati pemandangan kota Paris dari atas yang sangat luar biasa" Ujar ku membaca artikel yang menerangkan wisata yang bernama Montmartre itu.
"Wah, bangunan ini seperti nya pernah di jadikan tempat shooting para artis bollywood deh. Tapi film apa yah? Dan siapa yang pemeran utama nya?" Aku berpikir keras.
__ADS_1
"Apa film Kabhi Alvida Naa Kehna? Itu saat Shahrukh Khan dan Rani nyanyi lagu tumhi dekho naa ya? Tapi kan kalau gak salah film nya itu mereka syuting nya di New York deh. mentang-mentang ada tangga nya seperti ini, buka berarti mereka shooting di sini juga kali" Ujar ku mengejek pada diri sendiri.
"Apa film main ho na ya? Tapi kalau nggak salah main ho na itu syutingnya di Inggris" Kembali otak ku berpikir.
"Ah ya udah lah. yang penting aku bisa liburan di kota itu" Ujar ku dalam hati.
Aku memasukan kembali ponsel ku ke saku celana ku. Kembali ku pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan ku membantu bik Ina masak-masak di dapur.
"Pasti akan sangat menyenangkan bisa liburan seperti ini" Batin ku berjalan ke dapur dengan hati yang bahagia.
***
"Pa, ma, ada yang mau aku dan Rea sampaikan sama mama dan papa" Ucap Arga saat kami makan malam bersama.
"Ada apa?" Tanya Rina.
"Begini ma, pa. Aku dan Rea telah banyak menghadapai masalah demi masalah yang menimpa kami belakangan ini. Jujur saja otak kami saat ini butuh reflesing dan kami butuh liburan untuk memenangkan pikiran-pikiran kami yang telah kelut ini" Jelas Arga.
"Jadi, kami memutuskan untuk pergi liburan ke luar negeri hitung-hitung untuk mencari suasana baru agar pikiran kami kembali fresh. Iya... Bisa di bilang lah sebagai bulan madu" Ujar nya lagi.
Rudi dan Rina saling pandang. Mereka seakan tidak percaya bahwa kami akan melakukan bulan madu seperti layak nya suami istri kebanyakan.
"Beneran kalian mau bulan madu?" Tanya Rina memastikan.
"Iya ma" Jawab ku.
"Kalian mau pergi bulan madu nya ke mana?" Tanya Rudi penasaran.
"Ke Paris pa, Paris sepertinya negara yang tepat untuk honeymoon karena Paris dijuluki sebagai city of love. Negara teromantis di dunia" Jelas Arga.
"Tapi bukan kah..... " Rudi tidak melanjutkan perkataan nya saat tangan nya di sentuh oleh istri nya.
Rani menggelengkan kepalanya sebagai isyarat jangan mengatakan hal yang akan membuat mood mereka berubah nanti nya.
"Ya sudah, jika itu keputusan kalian, papa dan mama akan setuju. Kapan rencananya kalian berangkat" Tanya Rina.
"Dua hari kedepan ma"
"Ya sudah, have fun ya kalian di sana. Semoga saja pulang-pulang mama dan papa akan mendapat kabar baik dari kalian yaitu seorang cucu" Ujar Rina tersenyum senang.
***
"Ma, ngapain tadi mama menghalangi papa untuk mengatakan bahwa Sandra juga berada di Paris. Apa mama gak curiga bahwa Arga ke sana bukan nya untuk bulan madu, malah ini merupakan alasan nya untuk bertemu dengan Sandra" Ujar Rudi saat mereka berada di kamar untuk beristirahat.
"Iya pa mama tahu. Tapi apa salah nya kita memberi kesempatan kepada Arga untuk merubah sikap nya kepada Rea. Siapa tahu kan dia beneran mau berubah dan membuka hati nya untuk Rea. Terbukti kemaren dia mau mengajak Rea untuk makan malam bersama. Jadi mama yakin bahwa Arga juga memang mau melakukan bulan madu nya bersama Rea" Jelas Rina.
"Iya, dari banyak negara yang ada di dunia ini, Kenapa dia malah memilih ke Paris. Padahal di negara-negara lain juga masih banyak tempat wisata yang bagus-bagus juga seperti Italia, New York, Amerika, Singapura. Bukan kah mereka juga bisa melakukan bulan madu di sana" Ujar Rudi lagi.
"Iya pa, mama tahu. Tapi mereka pilihnya di Paris. Bukan kah tadi Arga sudah bilang Paris di juluki City of the love. Wajar saja mereka mau ke sana untuk memulai hubungan mereka yang baru" Jelas Rina.
"Tapi ma.... "
"Pa sudah ya, hari sudah malam. Ayo kita istirahat! Pokok nya papa percaya saja sama mama ya" Ujar Rina berbaring di samping suami nya untuk memejamkan mata.
Rudi hanya menarik napas berat. Hati nya masih ragu dengan keputusan Arga yang mau berlibur ke Paris. Lelaki paruh baya itu hanya tida kamu aku nanti nya akan di baikan dan merasa tersakiti oleh suami ku sendiri.
"Semoga saja firasat ku salah" Batin Rudi.
***
"Wah, tak lama lagi aku mau liburan ke Paris. Di sana musim apa ya sekarang? Apa musim panas? Atau musim dingin, atau musim semi? Aduh... Musim apa yah? Aku harus bawa baju tebal nih agar aku gak kedinginan di sana" Pikir ku terus memikirkan tentang liburan ku ke Paris dua hari mendatang.
"Rea" Arga memanggil ku.
"Iya, ada apa?" Tanya ku bangkit dari sofa yang sempat aku tiduri.
"Sini"
Aku datang mendekati suami ku itu.
"Duduk di sini" Pinta nya untuk duduk di samping nya.
"Ini kartu kredit ku. Kamu gunakan saja ya untuk berbelanja membeli keperluan kamu nanti nya untuk ke Paris. Terserah mau kamu gunakan untuk membeli baju, celana, terserah lah. Gunakan ini untuk membeli pakaian yang mahal ya. Agar nanti kamu tidak malu-maluin pergi ke negara orang" Ucap nya menyerahkan sebuah kartu kredit nya kepada ku.
Aku tampak kebingungan. Sejujurnya aku tidak paham menggunakan kartu kredit ini. Aku hanya tahu menggunakan kartu ATM selama ini.
"Kok kamu bengong? Ayo ambil kartu ini!" Ujar nya.
"Jika aku boleh jujur, boleh gak kamu memberikan aku uang cash aja. Aku gak ngerti menggunakan kartu ini" Ujar ku polos.
__ADS_1
Arga menepuk jidad nya.