Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Syahadat


__ADS_3

"Rea, kenapa kamu mau merelakan Arga untuk menikah denganku" Tanya Sandra saat kami bertemu di sebuah cafe untuk membahas tentang masalah ini.


"Tidak ada haknya pun aku melarang Arga untuk menikah denganmu. Karena aku tahu kalian saling mencintai dan sudah lama menjalin kasih. Terlebih lagi kamu mau merubah keyakinan mu bersama kami" Jelas ku.


"Arga akan sepenuhnya menjadi milik kamu. Dia takkan bisa menjadi milikku karena hatinya hanya untuk kamu. Dan aku juga tidak akan mungkin jatuh cinta sama laki-laki yang tidak pernah menganggap aku ada. Aku akan jaga rasa ini agar aku tidak mencintainya. Dan jika masa itu telah tiba Arga pasti akan melepas ku. Dan dia akan sepenuhnya menjadi milik kamu. Dan kamu akan menjadi satu-satunya istri yang paling dia cintai tidak lagi ada aku di dalam hidup kalian" Jelas ku meyakini Sandra agar bisa bersatu dengan Arga.


"Maafkan aku ma, pa aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian untuk membuat Arga berubah. Aku tidak bisa membuat Arga mencintai aku sepenuhnya seperti apa yang kalian harapkan Aku sudah berusaha sebisaku untuk mengambil hati Arga namun sampai saat ini hatinya masih berada bersama Sandra. Batin ku.


***


"Sandra, kamu sudah siap?" Tanya ku saat aku menuntun Sandra untuk bertemu dengan salah satu ustad yang akan mengislamkan Sandra do sebuah yang cukup besar di kota itu.


Sandra mengangguk.


"Alhamdulillah" Ujar ku.


Dengan lantang Sandra mengucap kan


"Asyhadu alla ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah" Mulai dari hari itu, Sandra sudah menjadi seorang muslim.


***


Aku melamun di balkon lantai atas. Pikiran ku selalu terbayang tentang Arga yang mau menikahi Sandra dan tidak mau melepas ku. Aku juga tidak mengerti kenapa Arga begitu tega kepadaku. Dia tidak mau melepaskan ku. Ia selalu memberi alasan jika waktu nya sudah tiba, pasti aku akan melepas mu.


Namun, aku tidak bisa menunggu selama itu. Tiga bulan aku akan hidup dimadu bersama Sandra. Aku tahu aku hanyalah orang ketiga di dalam kehidupan mereka tapi hati dan perasaanku yang mencintai dan mulai menyayangi Arga tidak bisa dibohongi pasti hati ini akan terasa tersakiti malahan lebih sakit saat aku melihat Sandra dan Arga bermesraan di satu atap bersama aku yang tinggal di rumah ini.


"Jauh melamun nya" Tegur Arga yang tiba-tiba muncul di belakangku.


Aku kaget dan menoleh nya.


"Bosan gak di rumah?" Tanya Arga kepada ku.


Senyuman hambar terukir di bibir ku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Kamu nggak bosan di rumah" Kembali ia bertanya.


"Gak, kamu lupa ya kamu yang sudah mengajari aku untuk berdiam diri di rumah. Jadi aku sudah terbiasa berada di rumah dan aku malah nggak berminat untuk keluar" Ujar ku.


"Hah padahal aku mau memintamu untuk menemaniku keluar. ya untuk membeli perlengkapan untuk aku dan Sandra menikah nanti seperti baju, sepatu, tas mungkin" Ujar nya lagi.


"Bisa temani aku untuk berbelanja?"


"Kamu kan tahu sendiri Papa dan Mama tidak begitu setuju untuk aku menikah dengan Sandra. Jadi mereka tidak mau mengurusi semua keperluanku dan juga Sandra saat menikah nanti. Jadi aku minta sama kamu bantulah aku dan Sandra untuk mempersiapkan segalanya. Lagi pun sandra saat ini, tidak ada di sini dia pergi ke Jakarta untuk bertemu beberapa desainer terkenal di sana"


"Tapi apa nggak papa kamu keluar bersamaku ya kamu tahu sendiri kan penampilan aku seperti apa Nanti kamu malah malu di kata-kata yang sama temen-temen kamu atau Klien Klien mu gitu?"


"Nanti aku bisa memberi alasan kepada mereka kalau kamu ini karyawan kantorku. Mereka kan tidak tahu kalau aku dan kamu sudah menikah hanya segelintir orang saja yang tahu kalau kamu adalah istriku" Ujar Arga.


"Oke kalau begitu tunggu sebentar aku mau siap-siap dulu" Ujar ku mengganti pakaian ku untuk pergi bersama Arga.


***


"Arga" Tegur seseorang saat kami sedang sibuk memilih beberapa pakaian untuk Arga.


"Hei, Put" Ujar Arga.


"Siapa?" Tanya Putra sahabat sekalian sepupunya Arga.


"Istri mu? Aku dengar dari mama dan papa kamu sudah menikah" Tebak nya lagi.


"Hmm... Iya" Jawab Arga sedikit ragu.


"Putra ini Rea, Rea ini Putra" Arga memperkenal kan kami.


Aku hanya tersenyum kepada Putra


"Kamu kapan pulang nya?" Tanya Arga.


"Baru dua hari yang lalu" Ujar Putra.


"Oh sebentar ya, aku mau membeli minuman dulu" Ujar Arga meninggalkan kami berdua.


"Rea, ngobrol di sana aja" Ujar Putra mengajak ku di sebuah kursi yang ada di tempat itu.


"Apa kabar?" Tanya nya memulai obrolan bersama ku.


"Alhamdulillah baik"


"Bagaimana?"


"Bagaimana apa nya?"


"Hidup bersama Arga, lelaki cuek bersikap dingin itu. Apa dia baik memperlakukan mu?"


"Baik, sangat baik" Ujar ku berbohong.

__ADS_1


"Kamu apa nya Arga?"


"Aku sepupu sekalian sahabat nya Arga. Biasa nya, dia selalu menceritakan semua gadis yang ia dekati.. Tapi tidak tahu kenapa, dengan mu dia tidak mau menceritakan apapun kepada ku.. Ya mungkin karena kami sudah tidak lama bertemu jadi dia mungkin tidak bisa menceritakan apapun kepadaku melalui ponselnya karena lebih enak kalau kita curhat itu ya seperti ini bertatapan mata" Jelas nya.


"Selama ini aku berada di Bandung untuk menyelesaikan beberapa proyek yang didapat oleh perusahaan papa. Aku sibuk di sana dan tidak bisa bertemu dengan Arga dan datang di acara pernikahan kalian kemarin" Tambah nya lagi.


Aku tersenyum membalas apa yang dikatakan oleh Putra kepadaku.


"Ternyata kamu manis juga ya kalau tersenyum beruntung Arga memiliki kamu. Dan aku telat karena tidak bertemu dengan kamu duluan"


Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan daei Putra. Sejujurnya aku tidak begitu paham apa niat nya berkata seperti itu.


"Kelihatan nya ngobrolnya serius banget" Ujar Arga yang tiba-tiba muncul membawa 3 botol minuman.


"Eh Ga" Ujar Putra.


"Ini minuman kalian" Arga menyerahkan botol minuman itu kepada kami.


"Ya sudah, aku pamit dulu kalian silakan melanjutkan kegiatan kalian ada pekerjaan yang harus aku selesaikan" Ujar Putra.


"Rea, senang bertemu denganmu dan mengobrol sama kamu Semoga kita bisa ketemu lagi ya dan Arga tidak merasa keberatan jika kita bertemu" Goda Putra.


Bisa kulihat Arga menatap Putra dengan tatapan yang tidak suka atas apa yang baru saja Putra ucapkan kepadaku.


"Apa maksud dari tatapan Arga seperti itu kepada Putra? Apa dia tidak suka jika Putra dekat denganku? Tapi kenapa?Bukankah dia sangat mencintai Sandra dan tidak memperdulikan aku sebagai istrinya?" Batin ku mulai bertanya-tanya.


"Sudah lah Rea, jangan terlalu GR. Arga tidak mungkin suka sama kamu yang hanya gadis desa yang tidak selevel dengannya" Batin ku lagi.


"Ayo"


"Kemana?"


"Berbelanja, bukannya barang-barang yang aku cari belum dapat, oleh karena itu mari kita lanjutkan belanjanya" Ujar Arga.


"Alangkah baiknya kamu itu pergi berbelanja bersama Sandra"


"Sandra nya tidak ada. Dia lagi ada urusan pekerjaan Jakarta. Kan sudah kubilang tadi. Jadi lebih baik kamu saja yang menemani aku untuk berbelanja. Lagi pun jika menunggu sandra nya pulang nggak tahu kapan sedangkan acara pernikahanku dan dia itu hanya seminggu lagi kan"


Aku hanya bisa menarik nafas beratku melihat pringai suamiku yang sangat keras kepala. Jika menginginkan sesuatu harus dipenuhi saat itu juga.


***


"Yang ini bagaimana" Ujar ku memperlihat baju kemeja berwarna kuning kepada Arga.


"Jangan buat aku pening"


"Jangan buat aku pitam"


"Ha yang ini, merah"


"Jangan membuat aku marah"


"Biru. Bagaimana dengan biru?"


"Kamu telah membuatku cemburu"


Deg....


Mata ku membulat ketika Arga mengatakan hal itu. kaget sangat-sangat kaget karena Arga bilang bahwa aku telah membuatnya cemburu. Artinya dia cemburu saat aku ngobrol bersama Putra tadi.


"Cemburu? Apa aku telah membuat dia cemburu saat aku ngomong sama Putra tadi? Apa Arga sudah mempunyai perasaan kepada?" Batin ku bertanya-tanya.


"Kenapa berhenti? Ayo pilih lagi baju yang tepat untukku Yang mana?" Katanya lagi.


Aku menggelengkan kepalaku membuang jauh perasaan GR ku agar tidak terlalu berharap kepada laki-laki yang belum tentu mencintaiku sepenuhnya.


"Hmm" Aku melihat baju-baju yang bergelantungan di toko itu dan memilih baju mana yang tempat untuk Arga yang banyak cingcong nya ini.


"Bagaimana kalau yang ini?" Ucap ku memperlihat kan baju kaos kepadanya.


"Eh kamu lihat dong masa kamu memilih aku baju kaos seperti itu sih? Itu terlalu sederhana tidak sesuai dengan aku" Ucap nya.


"Kamu kan sudah tahu bahwa aku ini tidak tahu dengan fashion-fashionmu. Oleh karena itu lebih baik kamu menunggu Sandra pulang. Sandra yang lebih paham akan fashion-fashion sekarang ini dibandingkan aku. Dan aku yakin pilihan nya sangat tepat untuk kamu dan kamu pasti akan menyukainya" Ujar ku lagi.


"Nggak, nggak. Kelamaan kalau menunggu Sandra. udah pilihkan aku satu baju yang menurut kamu cocok untuk aku"


"Nanti kamu nya nggak suka" Protes ku mulai sebal melihat Arga yang banyak protes nya itu.


"Dia meminta ku untuk memilih baju nya. Tapi ketika aku memilih dengan selera ku, malah di protes. Kalau gitu lebih baik dia memilihnya sendiri. Gak usah mengajak dan bertanya kepada ku" Batin ku menatap Arga dengan kesal.


"Ngapain kamu menatapku seperti itu?" Ujar nya kepada ku.


"Dak, bukan apa-apa" Jawab ku mengalihkan pandangan ku.


"Cepat pilihkan baju ku" Perintah nya lagi.


"Oke, yang ini pilihan terakhir dan tolong kamu terima" Ujar ku.

__ADS_1


"Oke" Jawab nya.


"Biru ya?"


"Oke, karena kamu telah berhasil membuat aku cemburu?"


"Cemburu? Cemburu apa sih maksud nya?" Aku semakin kesal.


"Udah biru aja. Ayo bungkus" Ujar nya lagi meninggalkan aku yang masih dalam kebingungan.


"Dasar bunglon" Ujar ku.


"Apa?"


"Eh gak, gak apa-apa"


***


Arga tersenyum menatap layar ponsel nya. Ia melihat-lihat foto aku dan dia sewaktu kami berada di Paris.


"Ini ponsel nya yang jelek atau memang orang nya yang jelek ya?" Ujar nya menghina ku saat itu.


"Pakai ponsel ku saja" Ujar nya kemudian memotret ku menggunakan ponsel nya.


"Nah tuh lihat, hasil nya bagus kan" Kata nya.


Ia terus menatap layar ponsel nya dengan gambar ku dan diri nya.


"Rea, ternyata kamu manis juga" Ujar nya lagi.


"Astaga, apa-apaan sih aku" Ucap nya sadar.


"Ngapain aku memikirkan dia? Perasaan apa ini?" Batin nya.


Kring....


"Hallo" Jawab Arga saat ponsel nya berdering.


"Sayang, lagi ngapain?" Tanya Sandra dari seberang.


"Ini siap-siap mau tidur" Jawab Arga.


"Sayang, aku minta maaf ya jika saat ini aku masih sibuk dengan pekerjaan ku" Ujar Sandra.


"Iya gak apa-apa. Aku ngerti kok"


"Sayang, jika kita sudah menikah nanti, gak masalah kan jika aku masih sibuk seperti ini? Aku gak mungkin meninggalkan karir yang telah aku bangun ini begitu saja"


"Iya nggak apa-apa. Aku tidak mempersalahkan pekerjaanmu. Lagi pun ini kan memang sudah jadi cita-citamu untuk menjadi desainer terkenal. Jadi aku akan mendukung semua keputusan kamu dan pekerjaan kamu saat ini" Ucap Arga.


"Terima kasih ya sayang. Aku beruntung banget mempunyai suami pengertian seperti kamu" Ujar Sandra.


"Iya sama-sama"


"Jadi kamu kapan pulang nya?" Tanya Arga.


"Mungkin lusa aku sudah pulang. Sayang, aku gak sabar menunggu pernikahan kita" Ujar Sandra.


"Iya aku juga tidak sabar menunggu kita bersama" Bakas Arga.


Yah mereka memang akan menikah seminggu lagi. Papa dan mama Arga terpaksa pergi menemui kedua orang tua nya Sandra untuk melamarnya. Untung nya kedua orang tua Sandra tidak mempermasalahkan jika Sandra merubah keyakinannya bersama kami. Sehingga mereka pun setuju untuk menikahkan Sandra dan juga Arga.


Awalnya Papa dan Mama Arga tidak mau untuk pergi melemah sandra. Namun aku terus-terusan membujuk mereka dan pada akhirnya mereka luluh dengan ucapan ku sehingga dengan berat hati mereka pun pergi ke rumah orang tua Sandra untuk melamar Putri mereka.


***


"Begini, maksud dan kedatangan kami di sini, untuk melamar anak bapak dan ibu sebagai calon menantu saya dan istrinya anak saya" Ujar Maya malam itu ketika Riko, Santi dan dirinya berangkat pada pagi harinya.


"Wah, kalau kami sih terserah putri kami saja. Mau di terima atau tidak nya. Karena dia lah yang nanti yang akan menjalani rumah tangga bersama anak ibu. Jadi kami Serahkan semua keputusan kepada anak kami" Ujar bapak nya Santi.


"Bagaimana Santi, apa kamu setuju menerima lamaran dari Riko dan ibunya?" Tanya nya lagi.


Santi tersipu malu lalu mengangguk pelan.


Bukan nya senang lamaran nya di terima. Riko malah semakin sedih karena kelak dia pun akan menjadi milik orang lain. Ia sungguh berharap bahwa akulah yang akan mendampingi hidupnya. Namun kenyataan yang ada berbanding terbalik dengan segala harapannya.


Sebenarnya Riko emang keberatan untuk melamar Santi. Namun apalah daya ibunya selalu memaksa dirinya untuk menikah dengan Santi. Karena bagi ibunya hanya Santilah gadis yang cocok mendampingi Putra semata wayangnya yang saat ini sedang Kehilangan arah karena kehilangan belahan jiwanya.


Riko sama sekali tidak bisa menolak keinginan ibunya karena dia telah berjanji akan selalu menuruti apa saja kemauan ibunya yang penting Ibunya bisa bahagia.


"Baik lah acara pertunangan ini akan di adakan dua minggu lagi. Alangkah lebih baiknya jika kita melaksanakan pertunangan ini lebih cepat. ibarat kata pepatah lebih cepat lebih baik" Ujar Maya.


"Kami setuju dengan keputusan ibu" Jawan Ayah nya Santi.


***


"Ya Allah, tak henti-henti nya hamba selalu berdoa kepada Mu meminta ketenangan hati dan jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Saat ini perasaanku sedang hancur, hatiku telah goyah, jiwaku lagi merana mendapati suamiku yang akan menikah dengan wanita yang ia cintai. Sejujurnya aku tidak sanggup untuk melihat mereka bersama. Namun jika Ini adalah kebahagiaan bagi suamiku, maka ajarkanlah aku untuk mengikhlaskan mereka bersatu. Meski diri ini terluka dan batin ini akan merana. Jadikanlah ini sebagai penguat hati. Jadi kalau ini sebagai ujian yang kelak akan membawaku ke derajat yang lebih baik lagi. Aku mohon kepadamu ya Allah bantulah aku, ikhlaskan hatiku, kuatkanlah jiwaku dalam menjalani semua cobaan-cobaan yang telah Engkau berikan kepadaku. Karena aku percaya Engkau tidak akan pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya" Doa ku pada sepertiga malam.

__ADS_1


__ADS_2