Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Kecewa


__ADS_3

Sandra baru saja tuba dari Jakarta. Wanita itu langsung pergi menuju ke rumah mertua nya saat ia tidak menemukan suami nya di rumah yang ia tinggali bersama sang suami.


Betapa kaget nya ia ketika melihat aku dan Arga sedang berpelukan mesra seperti itu. Sungguh Iya tidak percaya dengan kenyataan yang ia lihat di depan matanya saat ini. Bagaimana mungkin Arga yang begitu membenciku kini memelukku seperti itu.


"Arga" Tegur nya mengagetkan kami.


"Apa-apaan ini?" Tanya nya lagi.


Arga melepaskan pelukan nya kepada ku. Aku pun kaget dengan kedatangan Sandra yang secara tiba-tiba ke dalam kamarku seperti itu.


"Sandra?" Tanya Arga kaget melihat istri kedua nya muncul secara tiba-tiba.


"Bukan kah kamu besok baru akan pulang?" Tanya nya lagi.


"Kenapa? Kenapa jika aku pulang cepat tidak sesuai dengan apa yang aku bilang kemarin? Kaget melihatku tiba-tiba ada di sini, Kenapa? Jadi ketahuan ya penghianatan kalian" Ujar nya lagi emosi.


"Penghianatan apa maksud kamu?" Tanya Arga.


"Kamu gak sadar jika aku saat ini sedang di hianati? Ini semua apa maksud nya?" Tanya nya lagi.


"Kamu Rea, kamu janji sama aku bahwa hubungan kamu dan Arga tidak lebih hanya sebatas suami istri yang hanya di atas kertas.. Kamu meyakinkan aku bahwa di antara kalian tidak akan pernah terjadi apapun. Tapi lihat, lihat apa yang terjadi saat ini? Kamu dan Arga berpelukan seperti itu. Kamu menghianati aku, kamu mengingkari janji kamu sama aku. Kamu bilang kamu akan pergi dari kehidupan Arga setelah 3 bulan pernikahan kalian. Tapi kenapa? kenapa sampai sekarang kalian masih bertahan dalam hubungan ini?" Sandra sangat kecewa dengan apa yang ia lihat barusan.


"Aku rela pulang cepat hanya karena aku ingin bertemu dengan mu Arga. Aku sangat merindukan mu. Tapi apa yang ku dapat? Hanya sebuah penghianatan" Tambah nya lagi dengan meneteskan air mata nya.


"Sandra, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan ini semua hanya salah paham. Apa yang kamu lihat ini semua adalah kehilafan" Ujar Arga.


Deg....


Hati ini merasa teriris saat Arga mengatakan bahwa apa yang terjadi semua ini adalah kekhilafan.


Aku membulatkan mata ku, bibir ku terbuka dan terkunci tidak bisa mengatakan apa pun Aku sangat syok mendengar Arga berkata hal itu. Seperti petir menyambar di siang bolong yang ku rasakan saat ini.


Jika kalian berada di posisi ku pasti kalian akan sangat syok mendengar bahwa semua yang terjadi adalah kekhilafan bukan? Sudah ia mendapatkan semua nya, kini malah dia mengatakan bahwa itu adalah sebuah kesalahan.


Tadi malam ia merayu dengan sangat lembut agar bisa bersatu dengan ku. Namun, setelah istri kedua nya tiba dan melihat semua ini dia malah rela membuat perasaan ku terluka akibat ungkapan kekhilafan itu. Siapa yang tidak terluka di perlakukan seperti itu?


Apa salahnya ia mengakui bahwa ia sudah mencintaiku dan menerimaku sepenuh hati.di depan Sandra. Bukankah ia mengatakan hal itu kepadaku tadi malam bahwa urusannya untuk menjelaskan perasaannya kepadaku agar Sandra bisa mengerti dengan semua ini? Tidak hanya tadi malam, pagi ini, baru saja ia mengatakan hal yang sama bahwa ini adalah sudah takdir dari Allah untuk hubungan aku dan dia. Namun kenapa semua itu bisa berubah ketika di hadapannya.


Perasaan ku saat itu sangat sulit untuk ku jelaskan. Ingin rasa nya aku mengatakan bawa Arga telah mencintaiku kepada Sandra. Namun apa yang aku katakan kelak akan disanggah oleh Arga. Dan dia pasti akan mengatakan kepada Sandra hanya aku yang baper kepadanya. Sedangkan dia tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Terbukti bukan bahwa dia tidak bisa mengakui perasaannya kepadaku di depan Sandra. Padahal jelas-jelas Sandra sudah melihat aku dan dia sedang berpelukan.


"Sandra" Ujar nya.


Sandra hanya mengangkat tangan nya meminta Arga agar berhenti dengan semua alasan yang akan di berikan kepada nya. Wanita itu pun langsung ke luar dari kamar ku dengan perasaan kecewa nya.


"Sandra" Teriak Arga mengejar istri nya.


Aku duduk di kasur ku tak berdaya. Sungguh saat ini aku kehabisan tenaga.


"Arga, bisa-bisa nya kamu mempermain kan perasaan ku. Tega-tega nya kamu kembali membuat hati ini terluka" Batin ku.


Tatapan ku kosong ke depan. Kepala ku pusing memikirkan semua ini. Tega, sungguh tega Arga kepada ku. Baru tadi malam bahkan pagi ini pun sama ia membuat ku terbang tinggi, kini dengan sekejap mata ia menghempaskan ku ke bumi kembali itu rasanya sangat menyakitkan.


"Apa salah ku kepada mu Arga? Jika memang kamu tidak mengharapkan ku, ku mohon jangan kamu mempermain kan perasaan ku. Hati ini baru saja mulai sembuh, namun kenapa kamu membuat nya terluka lagi?" Batin ku. Aku menangis menutup wajah ku yang basah dengan air mata menggunakan kedua tangan ku. Sungguh hati ini sangat sakit dan kecewa. Bahkan untuk saat ini pun, Arga lebih memilih untuk mengejar Sandra ketimbang aku. Yang telah di permainkan perasaan nya.


"Tega kamu Arga, tega kamu memperlakukan mu seperti ini" Batin ku menangis tersedu-sedu.


***


"Sandra, Sandra tunggu aku" Ujar Arga menarik lengan Sandra. Sandra berhenti melangkah karena ia di tarik oleh Arga. Saat ini mereka berada di teras depan rumah orang tua nya Arga.

__ADS_1


"Dengarkan penjelasan ku" Ujar Arga lagi.


"Penjelasan apa? Bukan kah semua nya tadi sudah jelas? Tidak yang perlu di jelaskan lagi Arga" Ujar Sandra.


Pasti wanita itu pun merasakan sakit di hati nya karena di khianati oleh sang suami. Meski pun ia tahu bahwa aku dan Arga suami istri, tapi tetap saja yang merasa dikhianati karena aku pernah berjanji bahwa antara aku dan Arga tidak akan terjadi apapun. Bahkan aku akan pergi meninggalkan arga setelah usia pernikahanku 3 bulan.


"San, semua yang kamu lihat tadi adalah satu kekhilafan. Aku mohon percaya sama aku" Arga memohon.


"Untuk apa aku percaya kepada kamu? Kamu telah menghianati ku. Kamu dan Rea sama-sama munafik" Ujar Sandra merasa kecewa. Ia pun berlalu dari hadapan Arga. Mengendarai mobil nya membelah jalan raya.


Wanita itu meninggalkan rumah mertuanya dalam keadaan hati yang hancur menangis sejadi-jadinya di dalam mobil sambil terus fokus mengendarai mobilnya.


"Tega kamu Ga, tega kamu menghianati ku seperti ini" Ujar nya memukul stir mobilnya untuk melampiaskan rasa kecewa di hatinya kepada Arga dan aku.


Arga mengajak-ajak rambut nya karena ia benar-benar buntu mau melakukan apa saat ini.


***


Aku menunggu kedatangan Arga untuk menjelaskan apa maksud dari kata-katanya itu kepada Sandra tadi pagi.


"Apa yang kamu lihat itu hanya lah sebuah kekhilafan" Kata-kata itu masih bergema di telingaku. Semakin kucoba untuk melupakan kata-kata itu, hati ini semakin terasa sakit karena semakin kuat pula lah kata-kata itu bergema di telinga ini.


"Non Rea" Ujar bik Ina mengetuk pintu kamar ku.


"Non saya masuk ya" Ujar nya lagi membuka pintu kamar ku.


Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Aku hanya duduk melamun di atas kasur ku memikirkan perkataan Arga yang menyakitkan itu.


"Non, ibu dan bapak menunggu non di bawah untuk makan malam bersama" Ujar bik Ina lagi.


Aku menatap wanita paruh baya itu. Sungguh saat ini aku butuh seorang ibu yang selalu ada untuk ku dan memberikan ketenangan di hati ini. Namun sayang, ibu ku kini jauh di kampung halaman ku.


Melihat mata ku sembab, bik Ina mendekati ku dengan hati-hati. Wanita paruh baya itu duduk di hadapanku.


Air mata ku kembali tumpah di pipi. Kembali aku menangis. Aku memeluk bik Ina agar hati ini bisa sedikit tenang.


Bik Ina kaget saat aku memeluk nya seperti itu.


"Lo, non kenapa? Apa yang membuat non sedih?" Tanya bik Ina.


Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Pertanyaan demi pertanyaan dari bim Ina justru membuatku semakin sedih dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan wanita paruh baya itu.


Tidak mungkin ku ceritakan masalah pribadiku kepada bik Ina. Apalagi ini masalah menyangkut harga diriku. Di mana aku telah disentuh sepenuhnya oleh Arga dengan rayuan rayuannya yang manis sehingga membuatku terlena dan menyerahkan segalanya kepada Arga.


Sehingga aku memutuskan hanya diam dengan seribu bahasaku dan mencoba mencari ketenangan di dalam pelukan wanita paruh baya itu.


Melihat ku terus menangis membuat bik Ina semakin bingung dan tidak bertanya lebih lanjut apa yang membuat diri ini sedih.


Kini, wanita paruh baya itu membalas pelukan ku. Untuk membuat ku tenang.


"Menangis lah non jika itu akan membuat non merasa tenang nanti nya. Lepas kan semua kesedihan itu non" Ujar nya membelai lembut rambut ku.


Entah lah aku kembali merasa kehilangan Arga. Kembali seperti dulu ketika aku kehilangan keperawanan ku karena ulah Arga.


Sekarang, hati ini hancur pun karena ulah Arga.


***


"Bik, mana Rea?" Tanya Rina saat melihat bik Ina turun dari tangga.

__ADS_1


"Non Rea di kamar nya buk. Kata nya belum lapar" Jawab bik Ina.


"Buk, kelihatan nya non Rea sedang sedih. Tadi waktu saya memanggilnya untuk makan, mata nya sembab buk. Setelah saya tanya kenapa? Dia malah menangis di pelukan saya" Ujar bik Ina.


"Lo, kenapa dengan Rea? Apa karena dia merindui ibu nya?" Tanya Rina.


"Saya juga gak tahu buk. Kemungkinan begitu juga buk, tadi dia juga bilang menganggap saya sebagai pengganti ibu nya. Saat dia memeluk saya katanya nya seperti memeluk ibu nya buk" Jelas wanita paruh baya itu lagi.


"Oh begitu, mungkin dia memang sedang merindukan ibu nya di kampung. Ya sudah, biarkan saja dia sendirian dulu. Mungkin dia sedang butuh waktu untuk menenangkan diri dan ngobrol sama ibu nya di telefon. Oh ya bik. Tolong kamu antarkan saja makanan di kamar nya. Nanti jika dia lapar, dia tinggal makan saja" Titah Rina.


"Baik buk"


***


"Non" Ujat bik Ina kembali membuka pintu kamar ku membawa sepiring makanan dan juga minuman di tangan nya.


"Non, ini ibu meminta bibi membawakan makan untuk non. Nanti jika lapar non makan ya. Jangan sampai tidak makan. Setidak nya sedikit saja, agar non tidak sakit" Ujar bik Ina dengan penuh perhatian.


"Iya bik, letakan saja di atas meja hias ku. Nanti jika sudah lapar aku pasti akan memakan nya" Jawab ku. Sebenarnya aku sama sekali tidak nafsu untuk makan. Karena yang ku harapkan saat ini adalah penjelasan dari Arga.


Aku menjawab seperti itu agat bik Ina bisa mengatakan kepada mertua ku tentang aku akan memakan makanan yang di bawa nya agar mereka tidak cemas nanti nya.


***


"Sudah jam sepuluh malam, Sandra belum juga pulang. Kemana kamu?" Tanya Arga cemas menunggu kepulangan Sandra di rumah mereka.


Arga mencoba menghubungi ponsel nya Sandra. Namun, ponsel istri ke dua nya itu tidak bisa untuk di hubungi. Lelaki yang memiliki dua istri itu sangat cemas. Ia dari tadi mondar mandir memikirkan keberadaan sang istri nya.


Ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa ke mana istri kedua nya itu pergi membawa hati yang kecewa atas diri nya dan aku.


"Aduh Sandra kamu di mana?" Tanya Arga cemas.


Arga mencoba menghubungi nomor papa dan mama nya Sandra. Siapa tahu ia berada di sana.


"Hallo" Ujar Arga saat ponsel nya di angkat oleh papa nya Sandra.


"Hallo, nak Arga. Ada apa?" Tanya mertua Arga itu.


"Pa, aku mau tanya. Apa Sandra ada di rumah papa?"


"Sandra? Bukan nya dia ke Jakarta ya. Dan besok baru pulang"


"Aduh, mati aku. Aku harus memberi alasan apa kepada papa? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenar nya. Sedangkan kedua mertua ku sama sekali tidak tahu bahwa aku mempunyai istri lagi selain Sandra" Batin Arga gelisah.


"Hallo Arga"


"Ya pa, tadi kata Sandra sih mau pulang malam ini. Mungkin ia masih di pesawat kali ya, soal.nya dari tadi ponsel nya gak bisa di hubungi. Hingga sekarang dia belum tiba di rumah. Tentu saja aku merasa cemas" Arga berbohong.


"Dari pukul berapa dia bilang akan take off?"


"Pukul sembilan pa"


"Sebentar lagi di pasti tiba" Ujar papa Sandra.


"Ya sudah pa, terima kasih ya pa" Jawab Arga mematikan ponsel nya.


"Kemana kamu sebenarnya Sandra? Kenapa kamu seperti ini?" Batin nya lagi.


***

__ADS_1


Aku melirik ponsel ku dan terlihat sudah pukul sepuluh malam. Sungguh aku berharap Arga akan menghubungi ku atau tidak hanya memberikan pesan untuk menjelaskan perkataannya tadi pagi. Jika dia tidak berani menampakkan dirinya di rumah mamanya lagi, setidak nya jelaskan lah melalui ponsel nya saja.


Namun, harapan ku sia-sia. Aku terus saja menatap layar ponsel ku. Membaringkan diri di atas kasur yang merupakan saksi bisu penyatuan kami tadi malam. Hingga pada akhirnya aku terlelap.


__ADS_2