Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Rencana pulang kampung


__ADS_3

"San, kamu mau pesan makanan apa?" Ujar Riko saat mereka sedang berjalan-jalan sambil makan siang di mall.


"Apa aja boleh kok Ko, aku ikut-ikut kamu aja" Ujar Santi.


"Ya udah kita ke sana aja yuk" Ajak Riko menunjuk ke arah salah satu toko makanan yang ada di mall itu.


Santi mengangguk.


Mereka pun pergi menuju toko yang di maksud Riko.


"San, aku ke toilet sebentar ya. Kamu pesan aja makanan nya dulu" Ujar Riko.


Santi mengangguk.


Ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang telah memperhatikan gerak gerik mereka. Ketika ada kesempatan yaitu Riko pergi ke toilet dan Santi tinggal sendirian di mejanya orang tadi pun datang mendekati gadis itu.


"San, akhir nya aku bisa menemui mu di sini" Ujar orang tadi mengagetkan Santi.


"Dimas, kamu... "


"Iya aku" Potong Dimas sedikit emosi.


"Ternyata kamu dan Riko sudah semakin dekat ya? Dan aku dengar kamu dan Riko sudah bertunangan. Lupa dengan jasa ku dan perjanjian kita?" Ujar Dimas mengingatkan.


"Eh, Dimas bukan tak pernah aku mengatakan pekerjaanmu itu gagal dan aku tidak mau membayarnya"


"Oh begitu, jadi kamu tidak mau membayar ku?"


"Gak, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini"


"Aku akan pergi jika kamu mau memberikan apa yang aku minta"


"Kamu gak akan mendapatkan sepersen pun dari ku. Karena tugas mu gagal"


"Oke, jika kamu tidak mau memberikan apa yang aku minta, tidak masalah. Aku akan tetap di sini sampai Riko muncul dan aku akan bilang sama dia apa yang kamu lakukan kepada Rea"


"Jangan gila ya kamu" Santi kelihatan cemas.


"Maka nya turuti kemauan ku. Jika kamu sudah menuruti nya, rahasia mu pasti aman di tangan ku" Ujar Dimas lagi.


"Kerja kamu saja gak becus, masa meminta bayaran" Santi tetap bersih keras untuk tidak mau menuruti kemauan Santi.


"Ya sudah jika begitu, sebentar lagi Riko pasti datang. Aku jamin Riko pasti akan benci banget sama kamu ketika dia sudah tahu seperti apa kamu sebenar nya"


Deg....


Detak jantung Santi tidak karuan.


"Sialan Dimas jika dia tetap di sini, pasti akan banyak pertanyaan yang Riko tanya kan kepada ku. Dan jika Dimas membuka mulut nya, pasti nasib pertunangan ku dan Riko akan putus" Batin Santi mengerutu.


Lama Santi berpikir keras untuk memikirkan cara untuk menghindar dari Dimas. Namun, saat ini pikiran nya buntu. Terlebih ia melihat Riko sudah keluar dari toilet nya.


"Oke, oke, aku akan memberikan mu uang. Nanti akan ku transfer" Ujar Santi mengalah.


"Gak, Aku nggak mau kamu transfernya nanti. Aku maunya uang itu berada di tanganku sekarang" Ujar Dimas.


"Saat ini aku tidak mempunyai uang cash jadi nanti saja aku akan mentransfernya ke rekening kamu"


"Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi lagi untuk yang kedua kalinya ya. Kamu pikir aku akan percaya dengan apa yang kamu katakan? Aku yakin kamu akan menghilang seperti kemarin-kemarin Oleh karena itu aku mau uangnya sekarang atau enggak kamu harus mentransfernya sekarang juga ke rekeningku baru aku akan perg.i Atau enggak tuh kamu lihat Riko sudah mulai mendekati kita" Ujar Dimas lagi menunjuk ke arah Riko yang semakin dekat.


"Oke, oke" Ujar Santi membuka banking nya.


"Berapa nomor rekening mu" Ujar Santi lagi. Dimas menyebut nomor rekening nya.


"Ini sudah, puas? Sekarang kamu pergi dari sini" Ujar Santi memperlihatkan ponsel nya yang tertera bukti tranfernya.


"Bagus" Ujar Dimas mencolek dagu nya Santi. Santi mengelap dagu yang di colek oleh Dimas tadi dengan kesal.


"Coba dari kemaren kamu memberikan ku uang. Pasti semua urusan kita telah selesai" Ujar Dimas.


"Sekarang semua telah selesai. Aku mohon sama kamu pergi dari sini"


"Oke aku pergi, selamat siang. Senang berkerja sama dengan anda" Ujar Dimas pergi meninggalkan Santi di sana.


Riko tampak heran melihat seorang laki-laki yang sama sekali tidak dikenalinya berbicara seperti orang yang mengenal Santi sudah lama.

__ADS_1


"San, Siapa laki-laki tadi?" Tanya Riko saat Dimas telah jauh meninggalkan mereka.


"Oh itu, Dimas temen nya Rea"


"Temen Rea, kenapa aku tidak pernah bertemu dengan nya? Padahal setahu ku teman nya Rea hanya kamu" Ujar Riko merasa aneh.


"Oh itu, temen nya Rea dari kampung. Dia hanya bertanya tentang Rea sama aku. Sudah lah Ko, kamu juga gak kenal sama dia karena dia teman nya dari kampung" Ujar Santi berbohong.


Meski di hati masih terasa ada yang janggal, namun Riko berusaha untuk menerima semua alasan Santi barusan.


***


"Hallo sayang" Ujar Sandra saat ia menghubungi Arga malam itu.


"Iya hallo, kamu jadi pulang besok?" Tanya Arga.


"Aduh, aku minta maaf ya sayang.. Aku nggak bisa pulang besok mungkin dua atau tiga hari lagi aku baru bisa pulang. Karena ada beberapa desainer terkenal di kota ini yang mau mengajak kerjasama dan mengadakan fashion show di sini sayang. Jadi nggak mungkin kan aku melewatkan kesempatan ini. Ini merupakan kesempatan yang cemerlang bagiku" Jelas Sandra.


Oh, jadi kamu masih lama di sana nya?"


"Sayang aku tahu, aku memang selalu sibuk dan gak ada waktu untuk mu. Tapi aku seperti ini kan hanya karena karir ku. Kamu sendiri yang bilang bangga mempunyai istri yang menjaga penampilan nya dan juga berkarir cemerlang bukan? Jadi sekarang aku sedang menjadi istri impian kamu. Dan aku sangat mengharapakan dukungan dari kamu sayang" Ujar Sandra.


Arga menarik napas nya dalam-dalam lalu di hembuskan nya kuat-kuat.


Yah, memang ia pernah mengatakan hal itu kepada Sandra, namun ternyata semua yang ia katakan adalah salah. Karena yang ia butuhkan saat ini bukan istri yang super sibuk dengan karir nya dan berpenampilan modis tapi tidak ada waktu untuk diri nya. Melainkan seorang istri yang selalu ada untuk nya selama dua puluh empat jam.


"Sayang, kenapa kamu malah diam? Apa ada yang salah dengan perkataan ku? " Tanya Sandra.


Arga memijit kening nya karena kepala nya mulai terasa pusing dengan tingkah istri kedua nya saat ini.


"Gak, bukan kamu yang salah. Aku yang salah sebenarnya" Ujar Arga. Yah dia lah yang salah saat ini karena telah mengatakan apa yang di katakan Sandra tadi sewaktu mereka akan menikah.


"Maksud kamu apa sayang? Kamu salah apa sama aku?"


"Gak, sudah lah lupa kan saja" Ujar Arga.


"Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja. Hari pun sudah terlalu larut. Semoga saja karir mu sukses" Ujar Arga.


"Aamiin, terima kasih ya sayang" Ujar Sandra.


Arga memikirkan tentang ku dan Sandra yang mempunyai sifat yang jauh berbeda. Sikap ku yang selalu menuruti nya dan selalu ada untuk nya membuat nya tersenyum senang mengingat masa-sama di mana ia selalu membuat ku kesal. Namun, ketika ia membayangkan saat bersama Sandra yang ada hanyalah pertengkaran demi pertengkaran di antara mereka berdua membuat hatinya merasa sedih dan kosong saat ini.


***


"Ternyata kamu di sini" Ujar Arga mengagetkan ku saat aku duduk di depan teras rumah nya. Yah saat ini aku masih berada di rumah Arga. Besok pagi aku baru pulang ke rumah kedua orang tua nya Arga. Karena besok Sandra akan pulang.


"Eh Arga, mengagetkan saja" Ujar ku.


"Kamu ini gak di rumah mama gak di rumah ku tetap saja selalu melamun di malam hari seperti ini duduk di luar" Ujar Arga duduk di sampingku.


"Gak tahu juga ya Ga, Entah mengapa aku suka menikmati suasana malam seperti ini Aku merasa lebih tenang, lebih nyaman seperti ini" Ujar ku.


"Iya, iya aku tahu kok kamu kan memang musang jadi Ya wajarlah jika suka keluar malam-malam untuk mencari makan" Ujar Arga


Aku menatap nya dengan tatap kekesalan.


"Dasar bunglon mulai lagi nyeselin nya" Batin ku.


"Oh ya, apa besok Sandra jadi pulang?" Tanya ku.


Raut wajah Arga yang tadi nya tersenyum kini berubah menjadi murung.


Ia menggelengkan kepala nya.


"Sandra tidak akan pulang besok. Kemungkinan ia akan pulang dua atau tiga hari lagi. Masih ada pekerjaan nya di sana" Jelas Arga.


Aku mengangguk mengerti.


"Sudah lah jangan pikirkan tentang Sandra. Aku malas mau memikirkan diri nya yang terlalu sibuk dengan urusan nya untuk mengejar karirnya itu" Ujar Arga.


"Sekarang pikirkan saja masalah kamu dan aku" Tambah nya lagi.


Aku mengerutkan kening ku tidak mengerti apa yang di maksud oleh Arga barusan.


"Masalah kita? Masalah apa? Apakah aku ada salah sama kamu?" Tanya ku.

__ADS_1


"Gak, kamu nggak punya salah apa-apa kok sama aku"


"Terus?"


Kata mu, kamu merindukan kedua orang tua mu, oleh karena itu, bagaimana besok kita pulang ke rumahmu di kampung halaman" Saran Arga.


"Apa? Benarkah? Kamu serius?" Tanya ku.


"Iya Aku serius tidak mungkin kan aku berbohong dengan apa yang baru saja katakan kepadamu.. Bagaimana pun kamu adalah istriku dan sudah kewajibanku untuk membuatmu bahagia yaitu membawamu pulang ke kampung halamanmu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu melepaskan rindu yang sudah lama tidak kesampaian" Jelas Arga.


Aku tersenyum senang mendengar apa yang baru saja Arga rencanakan. Perlahan namun pasti Arga sudah mulai membuka hatinya untuk menerima keluargaku artinya dia perlahan menerimaku sebagai istrinya.


"Apa kah saat ini aku sedang bermimpi?" Batin ku mencubit lengan ku sendiri untuk membuktikan Apakah aku sedang bermimpi atau ini adalah nyata.


"Aduh" Aku meringis kesakitan menggosok-gosok lengan ku yang sakit karena ku cubit tadi.


"Kamu kenapa?" Tanya Arga melihat tingkah ku yang aneh itu.


"Ha? Gak kok, gak apa-apa. Hanya di gigit nyamuk tadi" Aku memberi alasan.


Arga hanya mengangguk sebagai respon.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih telah mengabulkan satu persatu doa ku" Batin ku sambil tersenyum senang.


"Ngapain sih dari tadi tingkah mu aneh? Tadi meringis kesakitan, sekarang malah tersenyum sendiri" Ujar Arga.


Aku hanya menatap Arga sambil tersenyum. Mungkin Aega bisa membaca tatapan ku saat ini. Di mana tatapan itu penuh dengan tatapan cinta.


"Sekarang menatap ku seperti itu lagi" Protes nya.


"Jangan memandang ku seperti itu. Aku lebih suka kamu memandang ku dengan kesal seperti biasa nya" Ujar Arga.


"Aku merasa lebih nyaman jika di tatap penuh dengan kekesalan seperti biasanya" Tambah nya lagi.


"Oh ya, boleh aku bertanya?"


"Apa?"


"Di saat awal pertama kita bertemu dulu, kenapa kamu bisa .seperti orang mabuk di dalam kamar itu?"


Aku menatap ke depan dengan penuh rasa sedih di hati. Yah mengingat masa kelam itu yang membuat aku ingin mengakhiri hidup ku. Dimana sudah jatuh tertimpa tangga pulak.


"Aku juga tidak tahu, Sebenarnya aku tidak mau mengingat lagi masalah itu. Karena aku sudah mulai melupakan kisah kelam itu yang sudah membuat hidupku terasa hancur. Waktu itu posisiku di kantor tempatku bekerja telah naik jabatan. Dan Santi sahabatku menjadi asistenku dan waktu itu kami sedang mengadakan meeting di hotel tempat pertama kali kita ketemu. Setelah itu kami memenangkan tender dan kamu pergi makan bersama tiba-tiba aku merasa pusing. Rasa pusing itu sulit untuk diceritakan dan untuk digambar. Karena aku belum pernah merasakan seperti itu baru itu pertama kalinya" Jelas ku.


"Sehingga Santi membawa ku ke kamar hotel agar aku bisa beristirahat di sana. Lalu setelah itu, kamu datang dan yah itu lah yang terjadi di antara kita" Ujar ku.


"Terus laki-laki yang bersama Santi waktu itu siapa? Apa itu pacar nya?"


"Laki-laki?" Aku mulai mengingat. Namun ingatan ku tidak berhasil menggambarkan sosok laki-laki itu. Karena aku berada di bawa alam sadar ku.


"Aku tidak tahu Santi datang bersama laki-laki. Dan aku gak kenal sama dia" Ujar ku.


"Terus kenapa kamu bisa di pecat dari pekerjaan mu?"


"Yah karena aku telah di tuduh membuat dokumen palsu yanga harga pemasaran nya jauh dari kesepakatan. Sehingga membuat perusahaan ku jadi rugi. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu? Setahuku selama aku libur kemarin aku menyerahkan semua pekerjaanku kepada Santi. Agar dia bisa menangani pekerjaanku dengan baik karena dia asistenku saat itu"


"Terus setelah kamu berhenti posisi mu siapa yang menggantikan nya"


"Santi"


Arga tampak berpikir.


"Kamu gak curiga sama sekali kepada Santi? Bahwa dia lah yang membuat dokumen palsu itu agar kamu bisa dipecat dan dialah yang menggantikan posisi kamu sekarang seperti apa yang diharapkan"


"Gak mungkin Santi tega melakukan hal itu kepada ku. Dia adalah sahabat baik ku. Lagian, aku mendapatkan pekerjaan ini karena dia. Dia lah yang memberikan informasi tentang lowongan kerja di perusahaan ku itu"


"Bisa saja kan Ya, dia itu iri dengan posisi kamu. Secara dia sudah bekerja lama tapi belum juga naik jabatan. Sedangkan kamu baru saja bekerja sudah naik jabatan. Sehingga membuat dia tega melakukan hal ini demi merebut posisi mu"


Aku mulai berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Arga. Sebenarnya aku juga mempunyai perasaan yang sama kepada Santi. Namun aku tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh Santi yang bukan-bukan takutnya nanti akan menjadi fitnah dan hanya akan menjadi dosa untukku.


"Gak mungkin, dia Sahabat ku. nggak mungkin dia akan menusukku dari belakang seperti itu"


"Kamu di beri tahu malah ngeyel" Arga kesal.


"Lagian jika itu benar pun, biarlah Allah yang membuktikan kebenaran nya. Karena Allah maha adil. Pasti kelak Dia akan memberi keadilan nya kepada ku. Aku hanya perlu bersabar saja" Jelas ku kepada Arga.

__ADS_1


__ADS_2