Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Menolak


__ADS_3

Aku bergegas pergi ke ruang VIP yang di katakan oleh pelayan tadi. Aku masih bingung dengan orang yang berada di ruangan itu. Entah apa yang salah dengan spaghetti yang ia pesan tadi.


Aku mengetuk pintu ruangan VIP tadi.


"Masuk" Terdengar suara dari dalam ruangan.


Deg...


Jantung ini tiba-tiba berdetak begitu cepat mendengar suara yang tidak asing bagiku.


"Seperti suara... " Batin ku menebak.


"Apa mungkin ini dia? Tapi bagaimana bisa? Gak, gak mungkin. Aku hanya salah dengar. Mungkin Ini semua karena aku terlalu memikirkan dirinya" Kata ku dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala ku.


Perlahan aku membuka pintu ruangan itu.


Deg...


Kaget, yah memang sangat kaget melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu. Laki-laki yang aku cintai. Lelaki yang membuat hati ini selalu merasa nyaman. Meski terkadang dia menyebal kan. Lelaki yang telah memberikan ku gelar seorang istri. Dia lah Arga suami ku.


"Kamu.... " Ujar ku masih dalam keadaan kaget.


Aku menundukkan pandangan ku. Aku belum siap bertemu kembali dengan nya. Rasa sakit atas kata Kekhilafan yang ia ucap kam tempo hari masih membekas di hati dan pikiran ku.


Arga datang mendekati ku.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya ku masih menundukkan kepala.


Arga tersenyum senang melihat ku.


"Baru ku sadari kamu memang cantik" Puji nya.


Entah lah, entah harus bagaimana yang aku rasakan saat ini. Apa harus senang, atau sedih. Aku juga bingung dengan perasaan ku saat ini.


"Ehm.... Ada apa dengan makanan yang anda pesan? Apa yang kurang dengan makanan nya? Tadi seorang pelayan memberi laporan bahwa anda tidak puas dengan masakan kami. Apa yang salah?" Tanya ku.


"Yang salah itu karena tidak dari masakan kamu" Jelas Arga.


"Rea, aku sangat merindui mu. Aku jadi gila saat mengetahui kamu pergi begitu saja. Padahal kamu sudah berjanji kepadaku bahwa kamu tidak akan pergi meninggalkanku. Tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku dalam kesendirian seperti ini?" Ujar Arga dengan wajah yang tampak sedih.


Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kuat-kuat untuk melepaskan beban pikiran yang membuat hati ini terasa janggal. Aku maju beberapa langkah dari hadapan Arga saat ini.


"Hanya ini yang terbaik untuk hidup kita. Hanya ini jalan yang tepat untuk semuanya" Ujar ku lagi. Sejujurnya hati ini masih sangat mencintai suamiku itu dan tidak bisa aku bohongi bawa aku pun sangat merindunya. Namun apalah daya hati ini terluka karena ucapan dia yang membuat perasaanku tergores.


"Seharus nya aku melakukan ini dari dulu" Ujar ku. Aku kembali menoleh Arga yang masih berdiri diam di tempat nya tadi.


"Hmm, Jadi apa yang sebenarnya membuat anda merasa kurang puas dengan spaghetti kami?" Tanya ku lagi.


"Memang ada sesuatu yang kurang" Ujar Arga datang mendekati ku.


"Apa itu?"


"Kamu istri ku" Ujar nya lagi.


"Oke, jika tidak ada sesuatu yang perlu di bicarakan, aku mohon undur diri. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" Ujar ku berbalik bermaksud ingin keluar dari ruangan itu. Namun, Arga menarik tangan ku hingga membuat aku dan dia berpelukan.


Ia memeluk ku dengan erat seakan-akan tidak mau melepaskan ku. Aku kaget sangat kaget ketika Arga memeluk ku seperti itu. Ingin rasa nya aku membalas pelukan dari suami ku itu untuk melepaskan rindu di hati ini. Namun, tangan ku terasa kaku untuk membalas pelukan itu.


"Rea, apa kamu tidak mau menanyakan kabar ku" Tanya nya melepaskan pelukan kami.


"Kamu terlihat sehat" Jawab ku.


"Sandra?" Tanya nya.


Deg....


Aku menatap tajam kepada Arga. Sungguh aku tidak mau mendengar nama itu di sebut. Jika maksud nya hanya untuk membahas tentang Sandra alangkah lebih baik aku dan dia tidak bertemu sama sekali.


"Ga, Aku tidak bisa berpura-pura seperti aku ini tidak ada perasaan apa pun. Sejujur nya aku tidak mau tahu tentang kamu dan Sandra. Apa yang terjadi atas hubungan kamu dengan Sandra itu tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Itu hak kamu dan Sandra" Ujar ku dengan nada yang bergetar. Hati ku merasa sakit saat nama madu ku itu di sebut.


"Rea, kita pulang ya" Ajak nya dengan lembut.


"Semua nya sudah berakhir Ga. Hubungan kita ini adalah satu kekhilafan. Jadi untuk apa kita mengulangi kembali kekhilafan itu?"


"Sebenar nya aku tidak ada bermaksud seperti itu. Sama sekali tidak seperti itu" Ujar nya lagi.


"Aku tidak pernah menganggap bahwa apa yang terjadi antara kita adalah satu kekhilafan. Rea, aku sangat menyayangi mu" Ujar Arga dengan tatapan mata yang tulus. Tidak bisa ku lihat kebohongan dari tatapan mata nya itu. Namun, aku tidak mau terlalu mudah untuk luluh kembali kepadanya.


"Rea aku perlukan kamu dalam hidup ku. Aku sangat mencintai mu" Ujar nya lagi.


Aku berlalu dari hadapan Arga. Aku duduk di kursi yang ada du ruangan itu.

__ADS_1


"Sudah lah Ga, jangan seperti ini. Aku sudah melupakan semua itu. Sudah tidak ada hal lagi yang perlu kita bicarakan" Ujar ku mencoba untuk tegar.


Arga mengukir senyuman di sebelah bibir nya.


"Jika benar kamu sudah melupakan semua ini? Kenapa kamu masih menatap kartu pernikahan kita? Sampai-sampai kartu itu terjatuh lagi"


Aku hanya diam tidak tahu harus menjawab Arga. Dari mana Arga tahu tentang ku di sini. Batin ku.


"Kamu berbohong Rea. Kamu tidak pernah melupakan ku"


"Aku sudah melupakan semua nya. Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi" Ujar ku lagi.


"Gak mungkin, gak mungkin kamu melupakan ku begitu saja. Aku tidak bisa berpisah dengan mu. Sekarang aku baru sadar bahwa aku tidak bisa hidup tampa mu"


"Ga, kita tidak saling mengenal sebelum nya. Pernikahan ini hanya suatu mimpi saja. Hubungan kita tidak pernah baik. Kamu hanya menganggap ku sebagai teman tapi dengan Sandra berbeda jauh. Dan kamu bilang aku hanya sebagai teman ketika kamu merasa kesepian dan tidak lebih dari pada itu" Ujar ku dengan tatapan kesedihan.


"Ga, mustahil jika kamu tidak bisa hidup tanpaku. Sebab aku bukan siapa-siapa untuk mu" Tambah ku lagi.


"Kamu salah Ya. Aku tidak tahu kapan semua ini bermula. Tapi aku hanya tahu satu hal saja. Bahwa kamu sudah menjadi separuh bagian dari hidup ku. Kamu adalah nyawa ku Rea. Aku tidak bisa tampa kamu" Ujar Arga memohon.


Aku tersenyum tidak percaya. Selama ini aku sudah di permainkan perasaan nya oleh suami ku itu. Dan kali ini aku tidak mau di permainkan lagi untuk yang ke sekian kali nya.


"Ga, tolong... Jangan berbicara seperti itu. Tidak baik mempermainkan perasaan ku seperti ini" Pinta ku.


"Aku serius Rea" Ucap nya lagi meyakin kan ku.


"Oke, oke... Jangan bahas masalah ini lagi. Aku tidak mau membahas nya kembali"


"Kenapa dengan mu Rea? Ada apa? Kamu tidak seperti yang dulu lagi" Ujar Arga.


"Sampai kapan aku harus menangis melihat kebahagiaan mu? Aku tahu itu hak mu. Tapi harus sampai kapan aku seperti ini. Saat ini aku mau mencari kebahagiaan ku sendiri" Pinta ku.


"Apa kamu bahagia seperti ini?"


Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Arga. Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat.


"Apa kamu bahagia?" Ulang nya lagi.


"Setidak nya aku tidak merasakan sesakit saat aku melihat mu dan Sandra" Ujar ku dengan mantap.


"Rea, tolong jangan seperti ini. Kita pulang ya.... Aku membutuhkan ku" Arga memohon lagi.


"Sekarang ini lah kehidupan ku yang baru. Di sini sudah menadi tempat ku. Aku merasa tenang di sini" Ujar ku masih menolak ajakan Arga dengan cara halus.


"Gak" Jawab ku. Langsung pergi meninggalkan Arga yang masih terbengong di sana. Jika boleh jujur hati ini memang sangat merindui suami ku itu.


Tapi, aku takut jika nanti aku akan di permainkan kembali oleh Arga. Hati ini masih ragu dan bimbang kelak peristiwa yang menyakitkan itu akan terulang kembali.


Aku tidak mau hal itu terjadi kepada diri ku. Jika benar Arga ingin aku kembali, aku ingin melihat keseriusan nya kepada ku seperti apa.


***


Santi pulang dari tugas nya di Jakarta. Ia sangat semangat karna telah tiba di kota Pekanbaru di mana ada sang kekasih di kota itu.


Sesampai nya di kota Pekanbaru, Santi pun bergegas menuju ke rumah Riko dengan bermaksud ingin memberi kejutan kepada sang kekasih.


Ia memang tidak mengabari Riko bahwa hari ini dia akan pulang. Ia pikir, Riko akan sangat terkejut mengetahui Santi pulang. Dan ia membayang kan Riko akan menyambut nya dengan hangat.


"Assalamualaikum" Ujar Santi memberi salam.


"Waalaikumsalam. Eh calon menantu ibu datang. Sudah pulang dari dinas nya?" Tanya Maya menyambut hangat kehadiran Santi di rumah nya.


"Sudah buk. Ini aku bawain oleh-oleh untuk ibu" Ujar Santi memberikan bingkisan kepada calon mama mertua nya itu.


"Ya ampun Santi, repot-repot saja. Gak perlu lah kamu bawain ibu oleh-oleh. Kamu pulang dengan selamat saja sudah membuat ibu senang" Ujar Maya menyambut pemberian dari calon menantu nya itu.


"Gak apa-apa kok buk. Aku senang bisa membawa oleh-oleh untuk calon ibu mertua" Ujar Santi tersenyum senang.


"Oh ya buk, Riko nya ada?" Tanya Santi mencari keberadaan Riko di rumah itu.


"Oh Riko, dia ada di taman belakang" Jawab Maya.


"Pergi saja ke sana. Semenjak kamu pergi, ibu lihat dia sering melamun di taman belakang rumah. Mungkin dia rindu sama kamu. Dan setelah kamu datang seperti ini, ibu yakin dia pasti akan senang dan gak sedih lagi" Ujar Maya penuh keyakinan.


Santi tersenyum senang mendengar ucapan dari Maya. Ia pun berharap bahwa Riko akan merindui nya dan kelak akan menyabut nya dengan hangat. Selayak nya sepasang kekasih yang sudah tidak lama ketemu.


"Ya sudah tante, kalau begitu, aku mau ke belakang dulu. Mau bertemu dengan Riko. Dia pasti kaget melihat ku di sini. Aku sengaja pulang ke sini gak kabarin dia. Aku mau kasih kejutan untuk nya" Ucap Santi penuh semangat.


Maya mengangguk sambil tersenyum. Santi pun berlalu dari hadapan Maya.


***

__ADS_1


Riko duduk melamun di kursi yang ada di taman belakang rumah nya. Ia menatap layar ponsel nya. Di mana di layar ponsel itu masih tersimpan foto ku. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa foto ku ada di ponsel nya. Setahu ku, dia tidak pernah mengambil foto ku.


Mungkin saja foto itu ia ambil secara diam-diam. Aku pun tidak tahu pasti. Yang tahu sebenarnya hanya lah dia.


Santi mendekati Riko yang memang membelakangi nya. Pelan-pelan ia melangkah mendekat. Ingin bermaksud untuk mengageti Riko. Tapi tidak sengaja ia pun melihat layar ponsel Riko terdapat foto ku.


Seketika hati nya merasa panas. Maksud nya ingin mengageti kini telah hilang karena melihat foto itu. Wajah yang tadi nya tersenyum senang kini berubah menjadi murung.


Santi melipat tangan nya di dada. Napas nya tidak teratur. Hati nya saat ini benar-benar sakit melihat apa yang di lakukan tunangan nya itu.


Siapa yang tidak sakit hati ketika tunangan nya masih mengharapkan gadis lain dan belum bisa move on. Pasti semua orang akan merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Santi barusan.


"Kamu memang bisa ya lupakan Rea" Ujar Santi penuh dengan emosi.


Riko kaget, yah tentu saja kaget karena tiba-tiba saja Santi ada di belakang nya. Ia tidak menyangka gadis itu muncul secara tiba-tiba.


"Santi" Ujar nya bergegas mematikan layar ponsel nya.


"Kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabari ku?" Tanya Riko mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak penting, yang penting sekarang adalah kamu memang tidak bisa melupakan Rea" Ujar nya lagi.


Riko diam, ia juga bingung harus menjelaskan semua ini seperti apa.


"Aku, aku minta maaf" Ujar laki-laki berkacamata itu.


Santi tersenyum mengejek. Ia benar-benar kecewa kepada Riko.


"Santi, aku mohon tolong mengerti perasaan ku" Ujar nya.


"Kamu meminta ku untuk mengerti perasaan mu. Terus, siapa yang mau mengerti perasaan ku? Apa kamu? Kamu bisa mengerti perasaan ku?" Ujar Santi dengan penuh rasa kecewa di hati nya.


"Maaf kan Aku Santi. Aku benar-benar minta maaf. Tolong ngerti keadaan ku" Ujar Riko memohon.


Santi menggeleng-geleng kepala nya. Merasa sangat kecewa. Tampa mengata separah kata pun, ia pun pergi meninggalkan Riko. Bukan nya mengejar, Riko malah bengong dan bingung harus berbuat apa. Ia malam memilih untuk kembali duduk di kursi itu.


***


Rina turun dari lantai atas rumah nya. Ia pergi menuju suami nya yang sedang duduk sambil baca koran di sofa yang berada di ruang tamu rumah nya.


"Pa, Arga ada menelfon papa?" Tanya Rina cemas karena tiada kabar berita dari anak kesayangan nya.


Rudi menggeleng kan kepala nya.


"Aduh, Arga ini gimana sih. Sama sekali tidak memberi kabar kepada kita" Ujar Rina lagi.


"Sudah lah ma, biarkan saja Arga menenangkan diri nya di tempat Bayu. Papa sengaja tidak mau menganggu nya. Biarkan dia benar-benar bisa melupakan masalah nya di sini" Ujar Rudi masih sibuk membolak balikan koran yang ada di tangan nya.


"Yang penting, saat dia pulang nanti dia bisa bekerja seperti biasa nya. Papa jadi pusing melihat prestasi kerja nya selama ini. Banyak yang tidak sesuai. Oleh karena itu papa belum bisa melepaskan kembali perusahaan kita kepada Arga. Jika nanti dia sudah bisa bekerja seperti biasa nya, maka papa tidak perlu lagi untuk terus-terusan di kantor" Jelas Rudi.


"Selama ini Arga tidak pernah lalai dalam pekerjaan nya. Ini semua pasti karena Sandra" Ujar Rina duduk di samping suami nya dengan wajah yang marah.


"Sudah, sudah ma, papa tidak mau dengar lagi tentang dia. Yang penting saat Arga pulang nanti, dia sudah bisa memulai kerja dengan baik dan memulai hidup nya yang baru" Ujar Rudi lagi.


"Tapi pa, apa yang mama bilang itu benar lo. Coba papa ingat-ingat lagi. Saat Arga menikah dengan Rea, dia tidak pernah seperti ini. Dan setelah dia menikah dengan Sandra, coba papa lihat, berbagai masalah yang terjadi dalam hidup nya" Ujar Rina lagi.


***


Setelah dua hari Arga berada di kota Terubuk itu, dia pun pulang dengan perasaan yang kecewa karena tidak bisa membawa ku pulang bersamanya.


"Arga" Tegur Rina melihat anak nya mau menaiki tangga menuju kamar nya.


Bisa Rina lihat bahwa keadaan putranya itu sangat kusut seperti orang yang baru kalah dari judi.


"Arga, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?" Tanya nya lagi penuh dengan perhatian.


"Aku baik-baik saja ma. Aku ke kamar dulu ya mau mandi dan istirahat" Ucap nya lagi dengan nada yang lemas.


Arga pergi meninggalkan Rina yang masih menatapnya dengan sedih.


"Harusnya kamu pergi berlibur untuk menenangkan hati mu nak. Bukan nya pulang dengan keadaan yang baik, malah pulang dengan keadaan semakin parah seperti ini" Ujar Rina dengan sedih melihat putra semata wayang nya seperti ini.


***


Aku berbaring di kamar kecil tempat kos ku berada. Sulit untuk ku memejam kan mata. Mengingat semua kenangan ku tempo hari bersama Arga. Entah lah, saat ini aku memang belum siap untuk kembali dengan nya. Tapi hati ini sedih melihat keadaan Arga yang seperti itu.


Aku bangun dari baring ku. Duduk di atas kasur ku melamun memikirkan semua masalah yang telah menimpa ku. Tampa terasa, beberapa air bening jatuh di pipi ku.


Sangat sulit untuk ku mengartikan semua perasaan ini. Aku juga bingung dengan perasaan ku sendiri saat ini. Hati ini terasa di lema. Bingung harus berbuat apa.


Di satu sisi hati ini terasa sedih karena telah menolak Arga. Padahal di hati masih sangat mencintai nya. Tapi di sisi lain mengatakan aku harus melakukan itu, karena selama ini Arga hanya mempermainkan perasaan ku. Dia tidak serius dengan ucapan nya itu.

__ADS_1


Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Tentu saja aku tidak mau mengulangi rasa sakit yang sama. Sungguh aku sangat frustasi memikirkan semua ini.


__ADS_2