
Malam yang dingin semakin dingin yang di rasakan oleh Arga. Hati nya kini sepi, dan sunyi. Kehampaan di hati nya kini menjadi-jadi saat kedua istri nya kini tidak lagi berada di sisi nya. Yang satu pergi karena rasa kecewa, yang satu lagi pergi karna ingin mencapai cita-cita nya.
Arga duduk melamun di balkon rumah papa dan mama nya. Yah, semenjak Sandra memutuskan untuk pergi dari rumah yang mereka tepati berdua itu, ia pun memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tua nya lagi.
Tidak mungkin laki-laki yang memiliki dua istri itu masih menepati rumah itu sendiri jika tiada pendamping hidup nya.
Ternyata mempunyai dua orang istri tidak lah mudah. Mungkin kebanyakan orang bilang enak mempunyai istri dua. Tapi nyatanya jika sudah kedua-duanya merajuk seperti ini, malah menjadi masalah semakin rumit.
Laki-laki dua yang mempunyai dua orang istri itu kembali menatapi foto-foto kenangan kami sewaktu di Paris saat liburan dulu. Sungguh dia sangat merindui istri pertama nya itu. Hanya di Paris lah satu-satu nya tempat yang kami melakukan foto bersama.
Bibir lelaki itu tampak mengukir senyuman. Yah melihat foto-foto itu membuatnya mengingat kembali kenangan-kenangan lucu bersamaku di kota Paris itu. Dimana saat aku tiba di sana dan dia mengajakku makan siang namun aku malah molor. Ia, berusaha membangunkan ku namun akunya tidur mati.
Kenangan saat aku kelaparan pun dan meminta untuk ia membelikan beberapa makan instan agar saat ia pergi bersama Sandra dan dia sulit untuk di hubungi pun teringat jelas di benak nya. Namun, kenangan itu membuat nya merasa bersalah kepada ku.
Hingga kenangan saat kamu foto di Menara Eiffel itu pun bermain di benaknya. Di mana ia mengatakan ponsel ku jelek hingga dia memotret menggunakan ponsel nya.
Rina melihat pintu yang berada di lantai dua nya terbuka. Di mana pintu itu menuju balkon rumah nya.
Ia melihat siapa yang membuka pintu itu. Dan nampak lah putra semata wayang nya yang duduk di kursi yang berada di balkon itu dengan memainkan ponsel nya.
Wanita paruh baya itu pun merasa iba dengan nasib yang menimpa putra nya. Namun, ia tidak ingin mengusik nya Karena ia takut akan membuat anak nya nanti semakin sedih. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Arga yang masih sibuk dengan ponsel nya.
***
Arga menghentikan mobil nya di depan rumah papa dan mama Sandra. Ia sedikit heran melihat seorang supir taksi memasukan koper yang akan di bawa Sandra ke Jakarta.
Arga menggeleng kepala nya. Ia semakin kecewa dengan sikap Sandra yang memang ingin meninggalkan nya demi mengejar karir nya.
"Aku gak menyangka. Kamu benar-benar akan pergi Sandra" Ujar Arga dalam hati nya.
Arga masuk ke rumah papa dan mamanya Sandra untuk bertemu dengan istri keduanya itu.
Saat nggak lepas-pasan Sandra masih menyambutnya dengan tatapan sinis nya.
Arga mendekati istri nya itu.
"Jadi kamu memang nekat mau pergi?" Tanya Arga bersikap tenang.
"Iya, aku memang harus pergi"
"Walaupun tanpa seizin ku?"
"Aku harus pergi karena ini pekerjaan ku" Jawab Sandra.
"Itu berarti kamu rela kehilangan ku?"
Sandra menarik napas nya dalam-dalam lalu di keluarkan nya kuat-kuat.
"Oke" Ujar Arga. Arga berusaha mengontrol napas nya. Lelaki yang mempunyai dua istri itu masih menahan emosi dan rasa kecewanya kepada istri keduanya itu.
Sejujurnya hatinya sangat berat untuk melepaskan sang istri Namun karena perangai Sandra yang sangat keterlaluan dan selalu membelakanginya membuat rasa kecewa yang mendalam di hatinya. Selama ini dia merasa bahwa Sandra tidak menghargainya sebagai seorang suami.
Arga menarik nafasnya dalam dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa kegelisahan di hatinya.
"Sandra, mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga, aku ikhlas melepaskan mu sebagai istri ku. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" Ujar Arga dengan hati yang berat.
Deg...
Jantung Sandra berdetak kencang. Rasa emosi di hatinya semakin menjadi-jadi. Ia tidak menyangka bahwa Arga bisa semudah itu untuk melepaskannya. Wanita itu menatap Arga dengan tatapan sinis dan penuh dengan amarah.
Rasa kecewa di hati nya terhadap Arga pun meningkat. Ia telah berkorban untuk Arga yaitu telah merubah keyakinan nya, namun Arga dengan mudah nya melepaskan nya begitu saja.
__ADS_1
Wanita itu pergi meninggalkan Arga tampa berkata sepatah kata pun.
Arga menatap kepergian Sandra yang pergi menggunakan taksi nya yang telah ia pesan tadi.
***
"Arga, apa yang mau bicarakan dengan papa?" Tanya Rudi.
"Pa, aku mau minta maaf atas semua kesalahan ku" Ujar Arga menyadari kesalahan nya.
Rudi menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat kuat.
"Ga, sebenarnya papa merasa kecewa dengan semua kinerja kamu akhir-akhir ini" Ujar Rudi.
Emang semenjak Arga tidak masuk di kantornya saat ia mencari Sandra dulu membuat Rudi menjadi aktif kembali di kantor. Terlebih lagi kinerja Arga semakin hari semakin menurun akibat masalah-masalah yang ia alami saat ini. Membuatnya hilang konsentrasi dalam pekerjaannya.
"Kamu seperti hilang arah, seperti kehilangan tumpuan"
"Aku minta maaf pa" Hanya kata itu lah yang berhasil Arga sampaikan kepada papa nya itu.
"Maaf? Kamu pikir dengan kata maafmu itu akan menyelesaikan semua masalahmu? Dulu papa tidak perlu memberitahumu untuk melakukan hal-hal yang bersangkutan dengan pekerjaanmu di kantor. Kamu bisa melakukannya dengan sendiri tanpa petunjuk dari papa. Tapi sekarang kamu tidak bisa melakukan hal itu lagi, kamu sudah tidak bisa berpikir apa. yang harus kamu lakukan di kantor"
"Ingat Ga, ini adalah kesalahan yang pertama dan terakhir yang mau papa lihat dari kamu di kantor ini.. Dulu kamu bisa bekerja dengan baik, kamu bisa bekerja dengan kompeten tapi sekarang hanya karena Rea kamu jadi seperti ini?" Ujar Rudi dengan rasa kecewa di hati nya melihat prestasi pekerjaan putra nya semakin menurun. Jika terus begini, perusahaan yang ia bangun dengan susah payah akan bangkrut nanti nya.
"Oke pa, aku minta maaf atas semua yang terjadi. Aku mohon sama papa agar papa bisa memaafkan aku. Aku mengaku bahwa aku bersalah atas semua ini. Sekarang papa sudah puas?" Ujar Arga dengan rasa kesal di hati nya. Saat ini pikiran nya sedang kacau. Perasaan nya saat ini tidak menentu. Untuk mengontrol emosi nya saja ia tidak bisa.
"Kamu jangan bersikap keras kepala seperti itu dengan papa" Ujar Rudi.
"Pa, maaf kan aku pa. Saat ini pikiranku sedang Kelut, perasaanku gelisah. Aku janji sama papa hal ini tidak akan terjadi lagi. Mulai hari ini aku akan berusaha untuk memisahkan antara urusan pribadi dan urusan pekerjaanku" Ujar Arga meminta papa nya memberikan kesempatan kepada nya.
"Pribadi? Emang itulah seharusnya pribadi urusannya pribadi, pekerjaan di urusannya pekerjaan. Jangan kamu campur kan urusan pribadimu dengan pekerjaan Dan lihat hasilnya seperti apa sekarang ini itu karena kamu mencampurkan urusan pribadimu dengan pekerjaan" Ujar Rudi lagi.
"Aku bodoh ya pa?"
Rudi menarik nafasnya dalam dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat.
"Meski pun kamu anak ku, Jadi apa harus bisa terima Jika kamu memang kurang pintar dalam hal-hal seperti ini"
"Papa, aku benar-benar rindu kepada Rea pa. Aku tidak pernah merindui siapa-siapa seperti ini. Sandra pun tidak pernah aku merasakan rasa rindu seperti ini"
"Ternyata kamu belum bisa bekerja. Jika seperti ini alangkah baik nya kamu pergi liburan untuk menenangkan pikiran mu itu" Saran Rudi.
"Papa" Ujar Arga mendekati papa nya.
"Dimana aku harus mencari nya pa?" Tanya Arga lagi.
Arga tertawa geli mendengar pertanyaan dari putra nya itu.
"Terkadang Papa merasa heran terhadap kamu Arga. Yang kamu cinta setengah mati itu adalah Sandra. Rea yang kamu tidak cinta dan kamu benci itu bisa membuat kamu galau seperti ini" Ujar Rudi tertawa mengejek putra nya.
"Aku juga gak tahu pa. Tapi yang ku tahu saat ini adalah aku benar-benar rindu dengan Rea pa. Aku merasa bersalah dan menyesalkan aku selama ini telah mengabaikannya. Padahal aku sangat yakin bahwa dia tidak akan pergi dan meninggalkan ku seperti ini. hingga kapanpun. Tapi ternyata aku salah"
"Nasi sudah menjadi bubur Ga"
"Pa, harus kemana aku mencari nya pa?"
"Bagaimana kamu bisa bekerja jika kamu seperti ini?"
Arga hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan dari papa nya itu.
"Begini saja, lebih bak kamu istirahat saja. Kamu pergi liburan untuk menenangkan pikiran kamu Cobalah untuk pergi ke Bengkalis. Di sana ada pantai selat baru, dan juga ada sebuah hotel yang dekat dengan lautan. Di sana kamu bisa bertemu dengan Bayu. Coba untuk bercerita dengan nya dan mencari suasana baru agar kamu merasa tenang. Papa. khawatir sama kamu seperti ini. Lama-lama kamu bisa tambah stress jika dipaksakan untuk terus bekerja seperti ini" Saran Rudi.
__ADS_1
"Lihat nanti pa aku pikir-pikir dulu" Ujar Arga.
***
Aku duduk melamun di atas batu-batu yang bertumpuk yang menghalangi air untuk mengikis pantai yang ada di taman pasir itu.
Ya, saat ini aku berada di kota Bengkalis. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan di sana karena aku tidak mau berada di kota Pekanbaru itu lagi yang membuat aku selalu mengingat kenangan bersama Arga.
Aku mencoba mengadu nasib di kota Terubuk itu. Di sana, Aku bekerja di sebuah cafe yang cukup besar di kota itu sebagai manager. Nasib ku kali ini beruntung, karena ketika aku melamar pekerjaan, aku langsung di angkat menjadi manager di sana. Cafe tempatku bekerja itu terletak di pinggir lautan yang menghubungi antara Bengkalis dan Sungai Pakning. Dari Sungai Pakning, jika ingin pergi ke kota Bengkalis, harus menyeberangi menggunakan kapal feri atau speedboat kurang lebih memakan waktu tiga puluh sampai enam puluh menit.
Di cafe ku itu juga, aku bisa menyaksikan secara langsung hiruk pikuk ah kapal feri dan speed boat yang berlalu-lalang di sana.
Cafe itu cukup terkenal antara ia berada di pinggir laut dan ketika Senja akan tiba pada pengunjung akan betah di sana menyaksikan Sunset atau matahari terbenam yang memancarkan cakrawalanya yang begitu indah dari huruf Barat.
"Tante" Tegur sekarang bocah laki-laki yang bernama Pasha mengagetkan aku.
"Eh, Sayang. Kaget tante jadi nya" Ujar ku tersenyum ramah.
"Tante kenapa sih dari tadi melamun terus?" Tanya bocah yang berusia 7 tahun itu.
"Oh, tante hanya kepikiran sama ibu dan ayah tante di kampung" Jawab ku berbohong. Padahal saat ini aku sedang memikirkan hubunganku dengan Arga bagaimana nantinya
"Kenapa tante tidak menghubungi Ibu dan Ayah tante di kampung? Bukankah sekarang kita bisa menghubungi mereka dengan bertatap muka dengan menggunakan video call begitu" Celoteh bocah itu lagi.
Aku tersenyum mendengar celoteh dari anak bos ku itu.
"Oh iya ya, kenapa tanda tidak kepikiran ya? Untung ada kamu yang mengingatkan tante. Bahwa saat ini kita bisa menghubungi orang menggunakan video call sehingga kita bisa melihat wajah mereka seperti apa" Ujar ku mencolek hidung bocah itu.
"Hehehe... Iya dong tante, siapa dulu. Pasha. Kata papa aku memang anak yang pinter" Ujar nya dengan rasa bangga di hati.
"Iya, kamu memang pinter. Tante senang bertemu dan berteman dengan mu. Jadi di sini tante ada teman nya deh. Gak kesepian tante" Ujar ku dengan memeluk bocah itu.
"Iya tante, aku juga senang bertemu dengan tante selama ini aku juga sendirian dan kesepian di sini. Tapi semenjak ada tante aku merasa ada temannya dan aku senang banget bisa kenal sama tante"
Aku tersenyum senang mendengar ocehan dari bocah laki-laki itu.
Sedikit banyaknya bocah laki-laki itu memang sudah membuatku terhibur dengan kehadirannya. Setidaknya aku tidak kesepian dan ada temannya di sini.
"Pasha, kamu ganggu tante Rea lagi ya?" Tanya Bayu mendekati kami yang sedang asyik bercengkrama itu.
"Gak kok pak, dia tidak menganggu ku" Jawab ku.
"Malahan dia di sini untuk menangani ku di sini. Jadi aku tidak merasa kesepian karena ada temannya di sini pak"
"Anak bapak ini memang pintar ngomong ya pa. Membuat ku merasa gemes dengan nya" Ujar ku mencubit manja pipi tembang nya.
Bukan nya meringis kesakitan, malahan bocah itu merasa senang dan tersenyum lebar ketika aku mencubit nya seperti itu.
"Papa ngapain di sini? Papa aku dan tante Rea sedang meeting. Papa jangan ganggu kami ya" Pinta bocah itu lagi.
Bayu dan aku tersenyum geli mendengar ocehan bocah itu lagi. Ia mengatakan itu seolah-oleh dia mengerti tentang meeting itu seperti apa.
"Oh, jadi kalian sedang meeting. Apa boleh papa ikut bersama dengan kalian untuk meeting juga" Balas Bayu.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Bolehkan pasha?" Tanya ku lagi.
"Iya sudah deh boleh. Karena tante sudah mengizinkan papa untuk ikut meeting bersama kita, jadi aku ikut-ikut tante aja deh. Padahal aku nggak mau diganggu sama papa saat aku sudah meeting bersama tante" Ujar bocah itu.
Aku dan bayu tersenyum geli melihat bocah itu dengan mulutnya yang sedikit di monyongkan ke depan karena merasa terganggu atas kehadiran papanya.
__ADS_1