
Arga membujuk ku untuk kembali bersama nya.
"Untuk apa? Apa aku hanya menemani mu di saat kamu kesepian seperti ini. Terus ketika Sandra datang kembali di dalam hidup mu dan kamu dengan lantang mengatakan kepada nya bahwa ini adalah satu kekhilafan. Begitu?" Ujar ku emosi.
"I love you, I love you so much. Kamu paham kan? Kamu ngerti kan? Aku tidak berniat untuk memanfaat kan mu Rea. Kita menikah buka sehari dua hari Rea. Hampir setahun kita menjalan kan rumah tangga ini. Jika benar aku hanya memanfaat kan mu, aku bisa menggunakan kesempatan itu dan aku sudah melakukan nya banyak kali dengan mu" Ujar Arga.
"Ingat sewaktu kita di Paris kamu tidur sampai tidak menyadari apa pun. Jika aku mau aku sudah melakukan nya dengan mu. Dan ingat sebelum aku menikah dengan Sandra, kita selalu tidur di kamar yang sama. Jika aku mau, aku bisa saja melakukan nya kepada mu. Meski kamu tak mau, aku bisa memaksa mu" Tambah nya lagi.
"Tapi apa selama ini aku melakukan nya kepada mu? Tidak kan? Aku hanya melakukan nya kepada orang aku cinta. Dan asal kamu tahu, kamu lah orang pertama yang merenggut perjaka ku. Jadi kita impas bukan?"
Degg...
Aku membulat kan mata ku mendengar ucapan dari Arga itu.
"Maksud kamu?"
"Aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu kepada wanita mana pun. Termasuk kepada Sandra. Tanya saja kepada nya jika kamu tidak percaya. Aku bukan tipe lelaki yang memanfaatkan wanita hanya untuk kesenangan ku. Aku hanya ingin melakukan nya karena aku cinta sama orang itu dan orang itu sudah halal untuk ku"
Aku diam mendengar cerita Arga.
"Waktu itu aku memang meminta seorang wanita bayaran untuk menemani ku. Hanya sekedar menemani bukan untuk melayani. Namun, entah mengapa saat melihat kamu di atas kasur dalam keadaan seperti itu, membuat sahwat ku naik. Dan pada akhirnya aku melakukan nya kepada mu untuk pertama kali. Jadi kita impas bukan?" Jelas Arga lagi.
Aku mengerut kan kening ku. Apa benar apa yang di katakan Arga? Aku masih ragu dengan ucapan nya. Tiada mungkin meminta wanita bayaran hanya menemani pasti akan terjadi hal seperti itu. Sedang kan melihat ku dalam keadaan seperti itu saja sahwat nya naik. Apa lagi dengan wanita bayaran yang jelas-jelas akan merayu dengan rayuan-rayuan maut nya. Dan pasti akan tergugah juga.
Tapi sudah lah aku malas mau memikirkan semua itu.. Karena itu adalah masa lalu yang sangat menyakitkan. Aku tidak mau mengingat kenangan pahit itu yang membuat ku depresi berat saat itu.
Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat.
"Tolong percaya dengan cinta ku Rea. Kita sudah hampir setahun hidup satu atap. Aku bisa saja melalukan nya kepada mu karena aku ada hak atas mu. Tapi aku tidak pernah melakukan itu kan? Karena aku tidak mau kamu berpikir bahwa aku memanfaatkan mu. Aku hormati kamu, aku tidak mau memaksa mu jika kamu tidak mau. Dan sewaktu itu terjadi, saat kita melakukan nya untuk yang ke dua kali nya. Itu semua atas izin dari mu kan?" Ujar Arga.
Aku diam tidak bisa menjawab apa yang di katakan Arga.
"Kenapa diam? Bukan kah kita melakukan nya karena sama-sama mau. Aku melakukan nya atas izin dari mu. Aku tidak memaksa mu kan?" Ujar Arga lagi.
Aku diam tidak menjawab.
"Rea jawab dong. Apa aku memaksa mu? Dan kamu menikmatinya kan? Ayo jawab" Desak Arga.
"Sudah lah, jangan bahas hal ini lagi" Ujar ku merasa malu. Tentu saja aku malu mengakui perasaan ku bahwa aku memang menikmati nya.
"Gak, aku akan tetap bahas masalah ini karena aku tidak terima kamu mengatakan bahwa aku hanya memanfaatkan mu" Ujar Arga
"Oke, oke aku salah.. Aku salah dan memang salah. Sudah ya jangan bahas hal ini lagi" Pinta ku.
"Kenapa? Kamu rindu dengan kejadian itu? Kamu mau malam itu terulang lagi" Arga tersenyum menggoda.
"Arga"
"Iya sayang"
Aku menatap Arga dengan kesal.
"Tuh, aku rindu tatapan itu"
Mendengar itu aku mengeluarkan suara decakan di bibir ku.
"Ha itu, decakan itu pun membuat ku rindu"
"Arga sudah stop. Jangan main-main bisa kan?"
Arga menatap ku dengan sendu.
"Aku rindu Rea yang dulu" Ujar nya dengan tatapan sendu.
Aku tertegun mendengar ungkapan perasaan nya itu. Sejujurnya aku pun merindukan suami ku itu. Tapi masih masih perlu waktu untuk menerima nya kembali karena takut di permainkan lagi.
Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat.
"Arga, aku butuh waktu untuk semua ini. Tolong berikan aku waktu agar bisa memulihkan hati ku. Biar kan aku sendiri dulu" Pinta ku.
"Rea, itu arti nya kamu akan tetap pergi dari rumah ini? Dengan semua pujuk rayuku, dengan apa yang ku katakan tadi panjang kali lebar tidak membuat mu luluh juga?" Ujar nya dengan wajah yang kesal karena tidak berhasil menahan ku.
"Aku perlu waktu Arga. Tolong ngerti ya" Ujar ku dengan lembut.
"Oke, tapi kamu harus janji kamu tidak akan kemana-mana dan hanya di cafe nya kak Bayu saja"
"Oke" Ujar ku.
"Kamu harus janji kamu tidak akan mengganti nomor ponsel mu lagi"
__ADS_1
"Oke"
"Kamu harus janji kamu tidak akan menghindar lagi dari ku"
"Oke"
"Dan kamu harus janji malam ini kamu tidak tidur di kamar mu"
"Oke"
"Oke ayo" Ujar Arga menggenggam tangan ku.
"Eh, sebentar" Ujar ku kaget dengan ucapan yang terakhir dari Arga. Baru otak ku menyambung setelah Arga menggenggam tangan ku. Mengajak ku ke kamar nya.
"Aku gak bisa Arga, aku belum siap" Ucap ku.
"Hanya sekedar menemani ku tidur. Aku tidak akan berbuat macam-macam kepada mu.. Kamu tahu kan aku tidak akan memaksa mu". Ujar Arga meyakin kan ku.
"Tapi Ga.... "
"Ayo lah Rea, besok kamu sudah pergi lagi ke Bengkalis"
Aku tampak berpikir dengan permintaan Arga.
***
Rina duduk di atas kasur nya. Majalah di pegang nya sedangkan pandangan nya lurus ke depan. Ia tersenyum sendiri melamun.
Rudi yang melihat itu pun merasa heran dengan sikap istri nya itu.
"Ma, dari tadi papa perhatikan mama senyum-senyum sendiri" Tegur nya.
Rina kembali tersenyum menatap suami nya.
"Iya pa, mama senang sekali melihat Rea kembali ke rumah ini. Hati mama terasa sejuk bila melihat dia dan Arga tampak akur seperti itu" Ujar Rina masih dengan senyuman bahagia nya.
"Iya ma, papa juga merasa senang melihat mereka sudah bisa bersatu seperti ini" Balas Rudi.
"Tapi pa, mama tidak menyangka bahwa selama ini Rea itu adalah korban dari temannya sendiri yang mempunyai sikap iri hati kepadanya. Kasihan Rea selama ini telah menanggung malu akibat dari ulah temannya itu"
"Iya ma, papa juga tidak menyangka bahwa temannya itu adalah maksud di dalam selimut" Jawab Rudi.
"Iya pa, ingat gak ketika kita berusaha menahan Rea untuk tidak pergi dari rumah ini? Tapi dia tetap juga pergi. Dan sekarang ini dia sudah pulang ke rumah kita. Jadi nanti jika Arga masih membuat kesalahan lagi. Mama akan pergi dia pelajaran yang setimpal" Ujar Rina.
Rudi tertawa mendengar ucapan istri nya itu.
"Kenapa pa? Ada yang salah?"
"Gak, mama itu ternyata galak juga ya"
"Lah, iya dong pa. Rea itu menantu mama. Dan mama harus bisa pertahan kan dia" Ujar Rina lagi.
"Tapi papa juga tidak menyangka jika Arga pintar untuk membujuk Rea kembali ke rumah ini"
"Anak siapa dulu" Ujar Rina melipat tangan nya di dada. Merasa bangga karena Arga bisa membawa menantu nya kembali.
"Hai, tadi marah dengan Arga, sekarang malah memuji" Ujar Rudi tersenyum geli.
"Alah papa, gak apa-apa dong.. Yang penting saat ini mama sangat bahagia karena sudah memiliki dua anak. Arga anak mama dan Rea juga anak mama. Iya kan pa?" Ujar Rina tersenyum senang. Rudi pun ikut senang melihat istri nya itu.
***
Arga meminta ku untuk membuat nya teh hangat sebelum dia tidur. Aku pun bergegas pergi ke dapur untuk membuat nya teh hangat itu.
"Ya ampun non Rea, bibi pikir tadi siapa?" Tanya bik Ina datang mendekati ku.
"Iya bik, maaf ya bik jika aku menganggu" Ujar ku melihat bik Ina datang menghampiri ku.
"Gak apa-apa non" Jawab nya sambil tersenyum.
"Lagi ngapain non?" Tanya nya lagi.
"Ini bik Arga meminta ku untuk membuat nya minuman"
Bik Ina tersenyum menatap ku.
"Kenapa bik?"
"Tuan Arga rindu dengan teh buatan non. Sudah lama dia tidak merasakan teh hangat buatan tangan istri nya ini" Goda bik Ina.
__ADS_1
"Bibi bisa aja"
"Selama non pergi, tuan Arga tidak pernah meminta bibi membuatkan nya minuman" Cerita bik Ina.
"Jadi dia minum apa bik?"
"Gak tahu juga ya non. Mungkin membeli minuman di luar"
Aku mengangguk. Aku pun terus mengaduk teh hangat yang ku buat tadi.
"Bibi belum tidur?" Tanya ku lagi.
"Tadi sih bibi sudah tidur non. Cuma terbangun saat mendengar suara di dapur. Bibi pikir siapa tadi. Lagian sudah lama juga kan tiada ada aktifitas di dapur malam-malam seperti ini" Ujar bik Ina lagi. Yah memang semenjak kepergian ku itu tidak ada lagi yang mengusik dapur. Selama ini hanya akulah yang selalu mencari makanan di malam hari saat semuanya sudah terlelap tidur. Sehingga Arga memanggilku dengan panggilan musang karena aku mencari makanan di malam hari.
"Ya Allah bik Aku minta maaf ya bik" Ujar ku tidak enak hati.
"Lah, minta maaf kenapa non"
"Karena telah menganggu bibi tidur"
"Gak apa-apa non. Lagian bibi senang non Rea telah kembali ke rumah ini. Apa lagi melihat non dan tuan akur seperti ini. Senang sekali hati bibi melihat nya non" Ujar nya dengan senyuman bahagia di wajah nya.
Aku tersenyum mendengar wanita paruh baya itu. Sejujurnya hati ini pun merasa senang karena kembali bersama orang yang aku cintai itu.. Meski aku meminta waktu kepada Arga untuk sendiri dulu. Tapi tetap saja hati ini senang karena telah kembali bersama nya. Terlebih mengingat cara ia membujuk ku.
"Ya sudah bik, aku ke atas dulu ya mau antar minuman nya Arga" Ujar ku.
"Oke, selamat malam non" Ujar nya tersenyum.
"Selamat malam" Jawab ku tersenyum.
***
Pasha duduk murung di kursi teras rumah nya. Ia tampak sedih.
"Lo sayang, ternyata kamu di sini. Papa dari tadi mencari mu kemana-mana tahu nya di sini" Ujar Bayu melihat putra nya duduk di kursi teras rumah nya.
Pasha hanya menatap Bayu dengan sedih dengan memanjangkan moncong nya.
"Lo kenapa sayang?"
Bocah itu hanya dia dengan wajah yang masih murung. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari papa nya.
"Sayang, ayo kita makan nak. Ini sudah waktu nya makan siang" Ajak Bayu kepada putra semata wayang nya..
"Gak mau pa"
"Kenapa gak mau makan sayang? Nanti kamu sakit lo"
"Aku gak mau makan jika tante Rea gak ada. Aku mau makan nya sama tante Rea" Ujar bocah itu lagi.
"Sayang, kamu harus makan nak. Nanti kamu akan sakit. Jika kamu sakit bagaimana? Pasti kamu gak bisa lagi kan bermain sama tante Rea. Terus tante Rea pasti akan sedih melihat mu seperti ini. Kamu mau membuat tante Rea sedih?" Tanya Bayu duduk di samping putra nya.
Bocah itu menggeleng kepala.
"Nah, jika tidak mau, kamu harus makan"
"Tapi pa, aku mau di suapin sama tante Rea. Tante Rea kemana sih gak pulang-pulang. Aku kan kangen sama dia" Ujar bocah itu sedih.
"Sayang, tante pergi karena ada urusan yang harus di selesaikan. Karena itu dia harus pergi. Dan kita tidak boleh menghalangi nya serta kita tidak bisa meminta nya untuk pulang secepat yang kita mau" Jelas Bayu.
"Kamu harus mengerti itu ya nak" Pujuk nya lagi.
"Tapi tante Rea bilang pergi nya gak akan lama sama aku pa. Aku mau menunggu tante pulang aja. Aku mau di suapin sama tante" Ujar nya dengan penuh harapan.
Bayu tampak berpikir dengan kata-kata anak nya itu. Ia mencari cara untuk membujuk putra nya agar mau makan siang ini.
"Ya sudah, begini saja. Bagaimana papa suapin kamu makan, setelah itu kita akan telfon tante Rea. Kita tanyakan kepada nya kapan dia akan pulang ke sini" Ujar Bayu setelah berpikir keras.
"Benar pa?" Ulang Pasha dengan senang.
"Iya sayang. Tapi janji ya makan dulu"
"Asyik... Makasih ya pa" Pasha memeluk Bayu dengan erat.
"Iya sama-sama" Ujar Bayu membalas pelukan putra nya.
"Ayo kita masuk ke rumah dan makan ya" Ajak Bayu.
"Ayo pa" Ucap Pasha menggandeng papa nya dengan erat. Ia sangat bahagia ketika papa nya mau menghubungi ku.
__ADS_1