
Tepat seminggu sudah kami berada di negara Paris. Dan kini saat nya kami pulang ke Indonesia.
"Assalamuakaikum ma" Sapa ku.
"Waalaikumsalam nak. Eh kalian sudah sampai? Gimana liburan nya seru?" Tanya Rina.
"Seru kok ma. Ini ada oleh-oleh untuk mama dan papa" Ujar ku menyerahkan bingkisan kepada mama mertua ku.
"Arga mana?" Tanya Rina mencari keberadaan putra sulung nya.
"Tadi ada keperluan mendadak di kantor. Jadi dia langsung pergi ke kantor deh ma" Ujar ku.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di kamar ya, kelihatan nya kamu capek. Perjalanan yang kalian tempuh juga jauh" Ujar Rina mempersilahkan ku masuk ke kamar.
"Iya ma" Ujar ku langsung masuk ke kamar.
***
"Rea" Arga memanggil ku saat aku sedang membatu bik Ina di dapur.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Ayo ikut aku ke halaman belakang" Ajak Arga.
Aku mengangguk dan mengikuti langkah nya. Sejujurnya aku merasa tidak enak hati saat ini. Aku selalu berpikir perkataan Sandra yang mau menikah dengan itu selalu terngiang di telingaku.
Pasti apa yang ingin dikatakan Arga ada sangkut pautnya dengan hal itu. Pikir ku.
"Ada apa?" Tanya ku ketika kami sudah sampai di halaman belakang.
"Sewaktu kita di Paris kemarin, kamu dengarkan bahwa Sandra setuju untuk menikah denganku" Ujar Arga.
Deg....
Hati ini kembali di landa badai ketika mendengar apa yang baru saja di ucapkan Arga kepada ku.
Aku menarik napas berat ku dan mengangguk mengiyakan.
"Jadi aku mau minta persetujuan dari kamu agar aku bisa menikah dengan Sandra" Ujar Arga.
"Kenapa kamu meminta persetujuan dari ku?" Tanya ku.
"Ya karena kamu istri ku" Ujar Arga lagi.
"Ya, aku memang istri mu. Tapi istri tidak di anggap" Batin ku.
"Emang ada beda nya ketika mendapat izin dari ku atau tidak nya? Apa itu penting?" Ucap ku membelakangi Arga. Aku tidak mau menatap Arga karena saat ini kesedihan di hati ku tidak bisa ku sembunyikan.
"Ya penting lah, aku sangat membutuhkan izin mu agar aku bisa menikah secara sah dengan Sandra"
Lagi-lagi aku menarik napas berat ku.
"Apa Sandra mau menjadi yang kedua? Apa Sandra tidak keberatan sebagai maduku?"
"Enggak Sandra nggak keberatan akan hal itu. Dia mau menjadi yang kedua asalkan hubungan aku dan kamu disembunyikan tidak ada yang tahu antara aku dan kamu adalah sepasang suami istri. Mereka hanya mengetahui bahwa aku hanya menikah dengan Sandra itu saja yang dia mau dan dia juga mau memeluk keyakinan sama seperti kita" Jelas Arga.
Lagi-lagi aku menarik napas berat ku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mengizin nya untuk menikah pun tidak mungkin. Karena mereka sudah lama menjalin kasih.. Terlebih lagi Sandra mau mengubah keyakinan nya demi cinta nya untuk Arga.
"Aku tidak merasa keberatan jika memang kamu mau menikah dengan Sandra" Jawab ku dengan nada memalas.
"Apa? Ulangi" Pinta Arga.
"Aku tidak keberatan jika kamu mau menikah dengan Sandra. Aku mengizinkan kamu untuk menikah dengan Sandra" Ucap ku lagi.
"Bener kamu tidak mempermasalah kan nya?"
Aku mengangguk dan ingin bermaksud untuk pergi dari hadapan Arga.
"Eits, tunggu dulu" Arga menahan lengan ku.
"Ada apa lagi?"
"Kenapa kamu mengizinkan aku untuk menikah dengan Sandra?"
Aku menatap Arga dengan tatapan kesal ku.
"Jadi kamu mengharapkan aku untuk menghalangi kamu dan tidak mengizinkan kamu untuk menikah dengan Sandra? lagi pun aku tidak mempunyai hak untuk membuat kamu tidak bersatu sama Sandra di sini aku hanya sebagai orang ketiga yang hanya kebetulan hadir di antara cinta kalian jadi ya terserah kamu ke kamu mau menikah sama Sandra karena kalian sudah menjalani hubungan begitu lama dan aku tidak mempunyai hak untuk menghalangi jika itu membuat kamu dan Sandra bahagia" Ujar ku lagi kemudian ingin beranjak pergi.
"Eits, tunggu dulu" Arga lagi-lagi menahan lengan ku lagi.
"Ada apa lagi sih?" Aku mulai kesal.
"Nih" Ujar nya memberikan ponsel nya pada ku.
Aku menatap Arga dengan bingung.
"Telfon Sandra, bilang jika kamu tidak keberatan jika aku menikah dengan nya" Ujar Arga.
"Kenapa?"
"Agar dia yakin kamu beneran setuju untuk aku menikah dengan nya"
Dengan Hati yang kesal aku mengambil ponselnya Arga dan menelepon Sandra.
"Hallo" Sapa seseorang dari seberang.
Aku masih belum bisa menjawab. Hati ini terasa sakit mendengar suara itu. Beberapa kali aku menarik napas berat ku agar hati ini bisa tenang.
__ADS_1
"Hallo, sayang" Ujar nya lagi.
"Hallo" Akhir nya aku bersuara.
Sandra terlihat kaget mendengar suara ku.
"Kamu?" Ucap nya.
"Iya ini aku Rea"
"Ngapain kamu menelponku pakai ponselnya Arga? Arganya mana?" Tanya Sandra terdengar tidak suka.
"Ada, dia ada di samping ku" Ucap ku.
"Aku, aku menelepon mu karena aku mau mengatakan bahwa aku setuju kamu menikah bersama Arga" Ujar ku setelah berpikir panjang.
"Apa? Aku nggak salah dengar? Kamu setuju aku menikah sama Arga?" Tanya Sandra tidak yakin.
"Iya aku setuju"
"Tapi kenapa? Maksud ku kebanyakan wanita tidak suka di poligami. Tapi kamu mau di poligami? Lagi pun aku tidak mau berbagi suami dengan mu"
"Nggak, nggak, kamu jangan takut. Kamu sama sekali tidak akan pernah berbagi suami kepadaku. Karena Arga sepenuhnya akan tetap menjadi milik kamu. Kamu tahu sendiri kan aku menikah bersama Arga hanya sebagai status saja. Jadi jika sudah masanya nanti, Arga akan melepaskan aku. Dan dia akan sepenuhnya menjadi milik kamu. Tapi kamu juga harus menepati janji kamu bahwa kamu akan memeluk satu keyakinan bersama kami" Jelas ku.
"Kamu serius dengan ucapan mu?" Kembali Sandra masih tidak percaya atas keputusan ku.
"Iya aku serius. Apa ada yang salah?"
"Apa kamu tidak akan menyesal dengan keputusan kamu?"
"Inshaallah aku tidak menyesal" Jawab ku dengan mantap.
Mendengar aku memberikan jawaban seperti itu, Sandra langsung menutup ponselnya.
Aku kaget menatap ponsel Arga.
"Kenapa? Apa yang dia katakan?" Tanya Arga.
"Dia menutup ponsel nya begitu saja" Ujar ku memberikan ponsel Arga dan pergi dari sana.
***
"Rea, kenapa kamu bisa setuju bahwa Arga akan menikah lagi? Kamu tahu kan bahwa kamu akan berbagi kasih dan berbagi suami dengan wanita lain" Ujar Rudi menasehati ku ketika kami mengadakan pertemuan di ruang keluarga membahas tentang Arga akan menikah dengan Sandra.
"Pa, Tidak ada hak nya bagiku untuk menghalangi kebahagiaan Sandra dan Arga. Jika mereka bahagia, tidak masalah bagi ku" Jelas ku.
"Terlebih lagi, Sandra sudah berjanji mau memeluk satu keyakinan bersama kita" Jelas ku lagi.
"Iya, bahagia untuk Sandra dan Arga. Kebahagiaan kamu bagaimana?" Tanya Rina lagi.
"Gak apa-apa ma, Insha allah aku baik-baik saja. Lagi pun jika sudah masa nya Arga akan melepaskan ku juga" Ujar ku lagi.
"Gak apa-apa ma, Aku hanya orang ketiga di dalam hidup mereka. Mereka sudah lama menjalin kasih, saling mencintai dan kini Sandra sudah mau ikut satu keyakinan bersama kita.. Untuk itu tidak ada alasan aku lagi untuk menghalangi ini semua" Jelas ku lagi.
Rudi menarik napas berat mendengar penjelasan ku.
"Baik lah, jika memang itu keputusan kamu, dan kamu ikhlas untuk berbagi segalanya, papa tidak akan ikut campur lagi urusan kalian" Ujar Rudi pergi meninggalkan kami yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Mama juga sama. Mama gak mau ikut campur urusan kalian lagi. Dan mama harap keputusan yang kamu buat tidak salah dan tidak akan membuat kamu menyesal" Ujar Rina juga ikut meninggalkan kami.
***
"Ko, ibu lihat Santi itu baik anak nya. Apa salah nya kamu membuka hati untuk dia" Ujar Maya saat mereka sedang makan malam.
"Bu, aku belum bisa membuka hati untuk yang lain" Jawab Riko.
"Kenapa? Masih mengigat Rea. Ibu memang tidak pernah bertemu dan kenal dengan nya, tapi ibu bisa menilai jika Rea bukan lah wanita yang baik untuk mu. Kamu pernah dengar kan Rea melakukan itu di sebuah kamar hotel. Itu sudah jelas bahwa dia tidak baik orang nya" Jelas Maya.
"Dia di perkosa ma, dia buka rela melakukan nya" Ujar Riko.
"Emang, kamu berada di sana ketika kejadian itu? Kamu tidak tahu kan yang sebenarnya karena kamu tidak berada di sana. Lagian, siapa tahu Rea memang sengaja melakukan itu. Terus dia mengarang cerita bahwa di perkosa" Jelas Maya lagi.
"Bu, Rea gak seperti itu orang nya" Ujar Riko terus membela ku.
"Dan sekarang bukannya dia sudah menikah bersama laki-laki itu. Kamu tidak memungkinkan mengharapkan istri orang. Lebih baik kamu membuka hati untuk Santi menerima dia apa adanya sebagai istri kamu. Ibu lebih suka kamu bersama Santi karena Ibu yakin Santi adalah gadis yang baik untuk kamu" Jelas Maya.
"Coba lah nak untuk membuka hati untuk wanita lain usia kamu sekarang sudah tidak muda lagi. Kamu sekarang seharusnya sudah mempunyai keluarga kamu sendiri" Jelas Maya.
"Ibu akan memberikan kamu waktu 3 hari agar kamu bisa berpikir. Dan ibu harap kamu setuju atas Perjodohan kamu dan Santi" Tambah nya lagi.
Arga tidak bisa menjawab. Hati dan pikiran nya tidak sejalan saat ini. Di sisi lain ia ingin melupakan ku dan mencoba untuk membuka hati untuk Santi. Namun, di sisi lagi Riko tidak bisa membohongi hatinya yang selalu mencintaiku dan mengharapkan aku untuk menjadi pendamping hidupnya.
***
"Ga, aku meminta izin kepada mu untuk keluar sebentar boleh?" Tanya ku kepada Arga.
"Keluar kemana?"
"Sekedar mencari udara segar di luar" Ujar ku.
"Kamu di rumah aja lah, ngapain juga keluar udah malam gini juga" Ujar Arga tidak mengizinkan ku untuk keluar.
Entah lah semenjak pulang dari Paris sikap nya kini terlalu posesif kepada ku. Aku tidak boleh keluar rumah jika tidak bersama nya atau tampa seizin nya.
"Boleh dong Ga aku keluar. Aku bosan di rumah. Aku hanya ingin menghilangkan sedikit beban pikiran ku dengan semua masalah ku saat ini. Terlebih lagi kamu mau menikah sama Sandra. Jadi aku mau mencari udara segar sebentar. Boleh ya" Ujar ku lagi.
Arga menarik napas berat nya.
__ADS_1
"Ya sudah, aku izinkan kamu keluar. Tapi jangan terlalu lama. Dan ingat jangan kamu tebar pesona di luar sana dengan lelaki lain" Ujar nya.
Aku mengerut kening ku. Sedikit bingung dengan apa yang di katakan Arga.
"Jangan tebar pesona? Maksud nya dia cemburu atau bagaimana dengan ku? Entah lah" Aku menggeleng kan kepala ku dan meninggalkan Arga yang masih berdiri membelakangi ku balkon rumah lantai atas.
***
Aku pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumah nya Arga menggunakan motor scoopy ku.
Aku duduk di kursi yang ada di taman itu melihat kesibukan hilir mudik setiap pasangan yang lewat di sana. Aku termenung memikirkan nasib ku. Dan memang hati ini sangat sedih mendengar Arga akan menikah dengan orang yang ia cintai.
Pikiran ku kembali ketika Arga meminta izin untuk menikah lagi.
"Jika kamu mau menikah dengan Sandra, lepaskan aku dulu" Kata ku.
"Gak, aku belum bisa melepaskan mu hingga waktu itu tiba" Ujar Arga.
Kembali aku menarik napas berat.
"Arga, apa sih mau kamu? Harus nya kamu lepaskan saja aku biar aku tidak lebih tersiksa seperti ini" Batin ku.
"Rea" Tegur seseorang.
"Riko" Ujar ku saat melihat siapa yang menegur ku tadi.
"Sendirian?" Tanya nya lagi.
Aku mengangguk.
"Kenapa ke sini?"
"Hanya jalan-jalan menghilangkan kesuntukan" Ujar ku.
Pandangan ku lurus ke depan dengan tatapan kosong. Banyak pikiran yang bergelayut di benak ku.
"Rea" Tegur Riko.
"Ya"
"Apa kamu bahagia hidup bersama suami mu?" Riko menyelidiki.
"Ha?" Aku kaget dengar pertanyaan Riko barusan.
"Aku bisa melihat kesedihan dari raut wajah mu" Tambah nya lagi.
"Bagaimana aku bisa bahagia jika suamiku ingin menikah bersama orang yang ia cintai" Batin ku.
"Aku bahagia kok dengan pernikahan ku" Bohong ku.
"Rea" Ujar nya.
"Ibu memintaku untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi bersama Santi" Ujar Riko.
Aku membulatkan mata ku. Tidak percaya atas pernyataan itu.
"Apa aku bisa membuka hati ku untuk wanita lain? Sedangkan kamu tahu sendiri aku sangat mencintai kamu" Ujar nya dengan kesedihan.
"Coba lah untuk membuka hati kepada Santi. Belajar lah untuk mencintai nya" Ujar ku.
"Syukurlah jika kamu dan Santi akhirnya bersama" Batin ku merasa senang. Karena harapan Santi untuk mendapatkan Riko bentar lagi akan terwujud.
"Rea" Tegur seseorang kepada kami.
"Arga" Ujar ku.
"Ternyata benar kamu di sini. Ayo pulang" Ujar nya menarik tangan ku dengan kasar.
"Aduh, sakit Arga" Rintih ku.
"Jangan perlakukan Rea kasar seperti itu" Ujar Riko.
Arga berbalik dan menatap Riko dengan penuh kemarahan.
"Dia istri ku, aku berhak apa pun atas diri nya. Dan kamu jangan ikut campur dengan apa yang aku perbuat kepadanya. Karena kamu hanya orang luar yang tidak berhak ikut campur atas masalah aku dan keluargaku" Ujar Arga lagi.
Kembali ia menarik lengan ku.
"Ayo masuk" Ujar nya menyuruh ku masuk ke mobil nya.
"Gak usah, aku pulang sendiri saja. Aku membawa motor ku" Ucap ku lagi.
"Jangan membantah, ayo masuk atau aku semakin marah. Motor mu biar nanti mang Udin yang jemput" Ujar nya lagi.
Dengan terpaksa aku pun masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu, kamu ngapain bertemu dengan laki-laki lain di luar rumah seperti ini?" Ujar nya menyelidiki.
Aku menarik napas beratku. Sesungguhnya aku tidak mau ribut sama Arga saat itu. Karena hati dan perasaanku saat itu sedang tidak enak.
"Di tanya malah diam. Ayo jawab" Bentak Arga kepadaku.
"Kamu kamu mencoba untuk tebar pesona kepadanya begitu?"
"Sudah lah Arga, jangan menuduh ku seperti itu. Aku dan dia tadi tidak sengaja bertemu dia juga teman lama aku kok kamu tidak ada hubungan apa-apa" Bela ku.
"Kamu tidak perasan ya, bawa dia itu bukan kamu. Kamu lihat dari tatapan matanya kepada kamu itu membuktikan kalau dia itu mencintai kamu" Jelas Arga.
__ADS_1
"Oh jadi ini mungkin maksud kamu meminta aku berpisah dari kamu secepatnya agar kamu bisa kan bersatu bersama dia?" Kata nya lagi.
"Enggak, sebentar lagi dia juga pasti akan bertunangan sama sahabat aku Santi. Sudahlah Ga jangan berdebat lagi Ayo kita pulang aku sudah capek" Melihat wajah ku yang tidak bersahabat, akhir nya Arga berhenti mengomeli ku dan menuruti kemauan ku.