
Arga masih sibuk mencari keberadaan Sandra. Semenjak kejadian itu, dia tidak pernah menampak kan diri nya di rumah papa dan mama nya lagi.
Rina dan Rudi sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah nya. Hari ini sudah masuk dua minggu Arga tidak masuk ke kantor nya dan selama itu juga Rudi lah yang menghendel semua pekerjaan Arga. Meski laki-laki paruh baya itu sudah menyerahkan sepenuh nya perusahaan kepada Arga, namun tetap saja ia sering datang ke kantor untuk memantau keadaan perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah.
Jadi, untuk menghendel semua pekerjaan Arga ia tidak lah merasa sulit karena ia selalu tahu tentang keadaan kantor nya.
Hari ini hari minggu, Rudi dan Rina duduk bersantai di sofa yang berada di meja tamu nya. Mereka menikmati waktu weekend berdua untuk ngobrol.
Dengan langkah yang berat, aku melangkah mendekati kedua mertua ku itu.
Rudi dan Rina melihat ku dengan senyuman yang ramah. Mereka tampak senang melihat ku hari ini sudah keluar dari kamar ku. Biasanya aku hanya menghabiskan waktu ku di kamar dan menunggu kedatangan Arga untuk menjelaskan semua nya. Namun, kali ini aku sudah membulatkan tekat untuk mengambil keputusan ku sendiri.
"Rea... " Sapa Rina tersenyum ramah.
"Ma, pa, ada yang mau aku bicarakan kepada kalian" Ujar ku dengan berhati-hati.
Rina dan Rudi saling pandang. Mereka tampak heran karena baru kali ini aku bersikap seperti ini.
"Kamu mau bicara apa? Ayo silahkan duduk" Ujar Rudi dengan lembut.
Aku duduk di hadapan kedua mertua ku itu.
"Mau ngomong apa nak?" Tanya Rina.
Aku masih diam. Bibir ku masih terasa berat untuk mengatakan maksud ku menemui mereka pagi ini. Aku terus memainkan jari-jari ku untuk menghilangkan rasa kegelisahan di hati. Saat ini hati dan perasaan ku tidak sejalan. Di mana hati ini masih mengharapkan Arga untuk datang menemui ku menjelaskan semua nya. Namun, perasaan ku sudah lelah dengan semua tingkah nya yang selalu memberikan harapan kepada ku. Membuat ku kembali terluka.
"Mau ngomong apa nak?" Tanya Rudi lagi.
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat untuk menenangkan kegelisahan di hati dan untuk memberanikan diri mengatakan apa maksud tujuanku pagi ini.
"Ma, pa sebelumnya aku mau meminta maaf kepada kalian jika keputusanku ini membuat kalian kecewa" Ujar ku akhir nya memberanikan diri.
Lagi-lagi Rudi dan Rina saling pandang. Mereka masih heran dengan perkataan ku yang belum jelas itu.
"Ma, pa, aku sudah memikirkan masalah ini baik-baik dan aku sudah memutuskan bahwa aku ingin pergi dari rumah ini" Ujar ku lagi.
Rina dan Rudi tampak kaget dengan keputusan ku yang mendadak.
"Ma, pa aku benar-benar minta maaf jika keputusan ini membuat kalian kecewa. Tapi aku tidak bisa bertahan lagi di sini ma, pa. Jadi aku mohon kepada mama dan papa agar memberikanku izin untuk meninggalkan rumah ini" Ujar ku lagi memohon kepada kedua mertua ku.
"Mama dan papa tolong izinkan aku pergi ya" Ujar ku lagi dengan lembut.
"Kamu ngomong apa Rea, kamu mau pergi ke mana? Rumah mu di sini" Ujar Rudi.
"Ma, pa aku sudah tidak tahan lagi ma dengan semua ini. Aku sudah kehabisan kesabaran ku. Arga sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan ku. Dia lebih memilih untuk bersama Sandra dan tidak memperdulikan ku. Perasaan ku sangat hancur ma" Ujar ku meneteskan air mata.
"Sudah hampir setahun ma aku menjalankan semua ini dengan kesabaran. Aku sabar dengan sikap Arga yang dingin kepada ku. Namun, kali ini aku sudah tidak bisa bertahan lagi ma, pa" Tambah ku lagi.
"Rea, kamu tega meninggalkan mama di rumah ini? Arga pergi meninggalkan rumah ini. Dan sekarang, kamu pun ingin pergi? Mama tidak ada teman nya lagi di rumah ini nak" Rina ikut sedih dengan keputusan ku.
"Ma, maaf kan aku. Tolong mama mengerti keadaan ku. Aku sudah tidak sanggup lagi ma. Aku ingin pergi dari sini, menenangkan diri dan melupakan semua kesedihan ini" Ujar ku menggenggam erat tangan mama mertua ku untuk meyakinkan nya.
"Tapi aku janji sama mama, aku akan terus menghubungi mama. Aku tidak akan melupakan mama dan papa" Ujar ku lagi.
"Nak, Mama minta maaf atas sikapnya Arga kepada kamu. Mama nggak bisa kalau kamu pergi dari rumah ini untuk selamanya" Ujar Rina.
"Atau nggak gini aja kamu pergi untuk menenangkan diri dengan berlibur beberapa minggu untuk memikirkan ini semua matang-mateng ya. Setelah itu kamu kembali lagi ke rumah ini" Tambah nya lagi.
"Iya nak, jika pergi liburan, papa dan mama akan izin kan kamu" Tambah Rudi.
"Ma, pa aku ingin pergi jauh dari sini. Aku mau melupakan semua kesedihan ini" Ujar ku lagi.
__ADS_1
"Rea, apa pun itu, kamu harus menunggu Arga pulang ke sini terlebih dahulu dan kamu cobalah untuk bicarakan hal ini baik-baik bersama dia. Mungkin dia tidak bermaksud untuk ngomong seperti itu. Mungkin ada penjelasan dari diri dia sendiri. Jadi kamu harus menunggu dia dulu nak" Ujar Rudi.
"Pa, sudah dua minggu pa aku menunggu penjelasan dari Arga. Tapi dia tidak pernah datang menemui ku untuk menjelaskan semua ini" Ujar ku lagi dengan rasa perih di hati.
"Mungkin Arga benar ini adalah satu kekhilafan" Tambah ku lagi.
"Sabar dulu Rea jangan kamu membuat keputusan terburu-buru. Tunggu lah Arga pulang dulu" Ujar Rudi.
Aku hanya bisa diam memikirkan semua perkataan papa dari suamiku itu.
"Biar lah Arga membujuk Sandra. Mungkin ini terbaik. Arga pun sayang sama Sandra. Jika aku masih berada di sini, itu akan membuat rumah tangga mereka akan bermasalah. Aku pun merasa serba salah kepada Sandra. Dan aku juga tidak mau Sandra dan Arga merasa serba salah kepada ku" Ujar ku.
"Mama, papa, jika benar ini satu kekhilafan, untuk apa harus di teruskan kekhilafan ini? Aku minta mama dan papa mengerti perasaan ku. Aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini. Ini semua akan membuat ku merasa terluka" Aku memohon kepada kedua mertua ku.
"Rea, kamu tidak bisa pergi tampa izin dari Arga" Ujar Rudi.
"Pa, selama ini Arga tidak pernah menganggap ku sebagai istri nya pa. Mungkin dia menginginkan aku pergi, hanya saja dia tidak tahu harus mengayakan nya seperti apa" Ujar ku lagi.
"Atau tidak, kamu coba telfon Arga dan bicarakan ini semua" Saran Rudi lagi.
"Pa, telfon dari papa dan mama Arga tidak mengangkat nya. Apa lagi dari ku pa"
"Sabar dulu Rea, coba lah bicarakan ini baik-baik sama Arga"
"Pa, tidak ada yang harus di bicarakan lagi pa. Jika benar Arga perlu bicara dan menjelaskan semua nya kepada ku, dia pasti sudah datang kesini dari kemaren. Tapi hingga sekarang, Arga tidak muncul pa. Sekarang ini aku hanya butuh waktu sendiri. Tolong ma, pa izin kan aku pergi" Mohon ku lagi.
"Pa, ma tolong izinkan aku pergi. Semakin lama aku tinggal di rumah ini, aku bisa jadi gila. Aku hanya ingin pergi dari kehidupan nya Arga, aku ingin mencari ketenangan" Tambah ku lagi.
"Aku ingin memulai hidup ku yang baru pa"
"Terus bagaimana hubungan kamu dan Arga?" Tanya Rudi.
"Semua keputusan ada di tangan Arga. Apa pun keputusan nya kelak, aku akan terima" Tambah ku lagi.
Saat ini hanya Rudi lah yang banyak berbicara. Sedangkan Rina hanya diam dalam kesedihan melihat ku yang akan pergi dari rumah itu.
"Pa, untuk apa lagi aku berada di rumah ini? Perasaan ini semakin terluka pa jika aku masih di sini. Tolong pa ngerti" Pinta ku penuh dengan harapan.
"Aku ingin tinggalkan semua ini, demi masa depan ku pa. Masa depan Arga. Demi pernikahan Arga dan Sandra. Mereka berhak bahagia tampa aku pa"
"Sebenar nya papa tidak mengizikan kamu pergi dari rumah ini. Tapi papa juga tidak mau melihat kamu terus-terusan seperti ini. Papa minta maaf atas apa yang terjadi kepada kamu Papa juga minta maaf atas nama Arga karena telah membuat kamu seperti ini. Papa merasa bersalah dengan semua ini"
"Papa" ujar ku bersimpuh di kaki mertua ku.
"Papa jangan bicara seperti itu. Apa yang terjadi kepada aku dan Arga adalah sudah takdir dari yang kuasa. Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun dengan semua ini" Ujar ku mencium punggung tangan papa mertua ku.
Hati ini sungguh merasa tidak enak jika papa mertua ku menyalahkan diri nya seperti ini.
"Papa tahu kamu menderita nak. Sekarang, papa serah kan semua nya pada keputusan kamu. Kamu sudah terlalu lama menderita nak. Jadi papa akan terima semua keputusan dari kamu nak" Ujar papa mertua ku lagi.
"Papa tidak mau kamu bertahan dan terus-terusan menderita seperti ini" Tambah nya lagi.
Aku menatap mama mertua ku yang dari tadi hanya terdiam dan mengeluarkan air mata nya.
"Ma, mama tidak marah kan sama aku?" Tanya ku dengan penuh hati-hati.
"Mama tidak pernah marah sama kamu nak. Kamu harus tahu, mama sayang sekali sama kamu nak" Ujar Rina menangis.
"Ma...." Ujar ku kembali bersimpuh di kaki mertua ku.
"Aku pun sangat sayang sama mama dan papa. Mama dan papa sudah memperlakukan ku selayak nya anak sendiri. Terima kasih atas semua kebaikan mama dan papa" Ujar ku lagi mencium punggung tangan kedua mertua ku.
__ADS_1
"Rea" Ujar Rina mengangkat wajah ku. Menatap bola mata ku dalam-dalam.
"Kamu harus janji sama mama. Kamu akan kembali lagi di rumah ini. Kamu hanya pergi sebentar ya nak" Ujar Rina lembut. Nada bicaranya penuh dengan harapan.
"Aku janji ma, aku akan selalu hubungi mama. Aku tidak akan melupakan mama dan papa" Ujar ku penuh keyakinan.
Mama mertua ku memeluk ku dengan erat. Pelukan itu seakan tidak mengizinkan ku pergi dari rumah itu.
***
Arga tampak melamun tatapan nya kosong ke depan.
"Kamu kenapa Ga?" Tanya Putra menegur Arga yang memang mereka sudah berjanji untuk bertemu di sebuah cafe.
Arga hanya diam tidak menjawab.
"Aduh Ga, kamu kembali lagi seperti dulu. Baru saja aku melihat kamu tersenyum sendiri, kini melamun ini lagi" Ujar Putra.
Arga menarik nafas nya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat.
"Saat ini pikiran ku kelut" Ujar Arga.
"Kelut? Kelut kenapa?" Tanya Putra.
"Saat ini aku telah jatuh cinta kepada Rea. Hati ku sungguh menyayangi nya"
"Bagus dong. Bukankah itu berita yang bagus terus Kenapa kamu melamun seperti ini? Seperti sedang banyak pikiran saja" Ujar Putra lagi.
"Yang membuat aku kepikiran ini adalah masalah Sandra. Aku tidak tahu dia sekarang ada di mana. Sudah dua minggu aku mencari nya tapi tidak ketemu" Ujar Arga lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Arga.
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku kepada Rea saat ini. Tapi aku tahu Sandra tidak akan terima semua ini" Ujar Arga.
"Bukan kah Sandra sudah menerima jika kamu dan Rea adalah suami istri. Jadi dia tidak boleh melarang perasaan mu kepada Rea"
"Sebelum Aku menikah dengan Sandra aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku dan Rea tidak akan mempunyai perasaan apapun dan tidak akan terjadi apapun di antara kami" Ujar Arga.
"Hanya masalah nya saat ini adalah aku sudah jatuh cinta kepada Rea. Itu lah masalah nya sekarang" Tambah Arga.
"Jadi masalah yang ter tu yang sudah di ketahui oleh Sandra?"
"Sandra melihat ku memeluk Rea. Itu yang membuat nya marah dan menghilang seperti ini"
"Dan sekarang, aku tidak tahu dia di mana sekarang. Dan sedang melakukan apa saat ini. Apa dia baik, atau tidak di sana. Aku bingung mau mencari nya kemana lagi" Tambah Arga.
"Hmm... Susah juga masalah mu" Ujar Putra berpikir.
***
Sebelum aku pergi dari rumah itu, aku telah membuat dua surat untuk Arga dan juga Sandra. Kali ini tekat ku memang sudah bulat untuk meninggalkan semua kesedihan ini agar aku bisa memulai hidup baru ku yang baru demi masa depan ku.
Memang berat rasa nya pergi dari rumah itu. Dimana kedua mertua ku sangat menyayangi ku. Memperlakukan ku penuh dengan kehangatan layak nya anak sendiri.
Meski di rumah itu terdapat kenangan yang pahit bersama Arga, ada juga kenangan-kenangan indah yang membuat ku tersenyum sendiri jika mengingat peristiwa itu.
Aku berdiri di halaman rumah Arga. Melihat sepuas nya rumah yang megah itu sebelum ku pergi.
Semua kenangan manis itu bermain di ingatan ku. Di mana saat Arga memberikan ku roti saat kami sarapan pagi dan roti itu masih setengah nya ku simpan di kamar ku. Meski roti itu sudah berjamur, tapi tetap saja bila melihat roti itu hati ku merasa senang. Dan masih banyak kenangan manis yang terus berputar di ingatan ku saat itu.
Setelah puas menatap rumah itu sebagai ungkapan selamat tinggal, aku pun pergi mengendarai sepeda motor ku.
__ADS_1
Aku tidak tahu harus pergi ke mana, yang jelas aku ingin pergi meninggalkan Arga. Dan aku juga tidak mau pulang ke rumah orang tua ku di kampung. Aku belum siap untuk di serang pertanyaan demi pertanyaan nanti oleh kedua orang tua ku.
Saat ini, aku hanya ingin sendiri dulu untuk menenangkan hati ku. Jika aku sudah siap nanti, baru lah aku akan pulang ke rumah orang tua ku di kampung.