
Aku terus menunggu penjelasan dari Arga atas ungkapan nya tempo hari. Sehari dua hari hingga tiga hari. Namun, Arga tidak juga datang untuk menjelaskan seperti yang aku harap kan.
Hal itu membuat ku tidak ada nafsu untuk menyentuh sedikit makanan pun yang di bawa bik Ina ke dalam kamar ku. Selama beberapa hari ini aku sama sekali tidak makan. Entah lah perut ini tidak merasa lapar sama sekali.
"Non, kenapa non tidak makan non? Sudah beberapa hari ini non tidak makan. Jika begini terus non akan jatuh sakit" Ujar bik Ina datang ke kamar ku dengan membawa makanan dan minuman di tangan nya.
Aku hanya terdiam membisu. Aku tidak menjawab apa yang di katakan oleh bik Ina. Mulut ini terasa terkunci dan berat untuk mengatakan sepatah katapun.
"Non, jika ada masalah, dan non butuh teman untuk bercerita, bibi siap untuk mendengarkan nya" Ujar bik Ina lagi.
Lagi-lagi aku hanya diam tidak menjawab. Tatapan ku kosong ke depan. Kenangan malam itu masih berputar jelas di layar ingatan ku. Hingga kata kekhilafan itu pun muncul yang membuat hati ini hancur terdengar jelas di telinga ini.
Bik Ina meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas meja hias ku. Di mana meja hias itu masih terdapat makanan yang tidak disentuh oleh ku tadi malam yang dibawa oleh bik Ina.
"Ini Bibi bawakan sayur untuk non. Tolong di makan ya non. Setidak nya sedikit saja agar non tidak sakit nanti nya" Pinta wanita paruh baya itu kepadaku.
Diam, dan hanya diam yang bisa ku lakukan saat itu.
"Non, bibi bawakan makanan tadi malam keluar ya" Ujar bik Ina membawa makanan tadi malam keluar kamar ku. Wanita paruh baya itu pun tampak cemas dengan keadaan ku saat ini. Ia pun bingung mau berbuat apa. Sementara ia sama sekali tidak tahu penyebab yang membuat ku seperti ini.
Di sini aku menunggu Arga untuk datang menjelaskan semuanya. Namun Arga nya malah sibuk mencari keberadaan istri keduanya. Setiap saat ia mencoba menghubungi Sandra yang saat ini sedang menginap di hotel untuk menenangkan diri.
Sandra menatap layar ponsel nya saat tertera nama Arga yang memanggil nya. Namun wanita itu memilih untuk mengabaikan nya dan tidak mau menjawab panggilan dari suaminya itu.
***
Arga memilih untuk pergi ke kantor tempat sang istri bekerja untuk mencari keberadaan sang istri.
"Selamat pagi pak Arga. Ada yang bisa saya bantu" Sambut Evi sekretarisnya Sandra.
"Apa Sandra nya ada?" Tanya Arga.
"Sandra? Sebenar nya, semenjak Sandra pulang dari Jakarta kemarin dia belum ada datang ke kantor ini" Jelas Evi.
Arga tidak percaya dengan penjelasan Evi. Ya lelaki yang mempunyai dua istri itu pun masuk dan menggeledah kantor istrinya untuk mencari keberadaan sang istri.
"Pak Arga" Ujar Evi kaget dengan tingkah suami bos nya itu.
Setelah selesai memeriksa, Arga kembali menemui Evi lagi.
"Evi, kamu tahu di mana Sandra sekarang?" Tanya Arga kepada asisten istri nya itu.
"Aku juga tidak tahu. Sandra sama sekali tidak memberi kabar kepada ku tentang keberadaan nya. Dia hanya bilang ingin libur beberapa hari dan meminta ku menghendel pekerjaan nya" Jelas Evi lagi.
***
Rudi dan Rina sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Buk, pak" Tegur bik Ina datang mendekati kedua mertua ku itu.
"Iya bik, ada apa?" Tanya Rina.
"Pak, buk saya jadi bingung dengan non Rea sekarang. Dia terlihat sangat sedih. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Kerjanya hanya melamun dan menangis saja buk, pak. Saya jadi khawatir sama dia" Jelas bik Ina.
"Sedikit pun dia tidak mau makan?" Tanya Rudi.
"Iya pak. Semua makanan yang saya bawakan selama beberapa hari ini di kamar nya, sama sekali tidak di sentuh nya pak" Jelas bik Ina lagi.
"Bercerita tentang apa masalah nya pun dia tidak mau. Saya pikir kemaren dia sedang merindukan ibu nya di kampung. Tapi seperti nya ada masalah lain yang membuat hati nya hancur" Tambah nya lagi.
"Aduh, gimana ini pa? Tidak biasa nya Rea seperti ini. Biasa nya dia juga mau keluar kamar. Tapi beberapa hari ini dia hanya mengurung diri di kamar" Ujar Rina ikut cemas.
"Ma, lebih baik mama jenguk Rea di kamar nya. Siapa tahu dia mau mencerita kan masalah nya kepada mama" Pinta Rudi kepada istri nya.
"Papa pun juga heran sama Arga, sudah dua hari dia tidak masuk kantor. Orang-orang kantor pada menghubungi papa untuk mengadakan rapat dengan beberapa klien penting. Mereka sudah menghubungi Arga, namun ponsel nya pun tidak bisa di hubungi. Papa juga mencoba menghubungi nya, namun hasil nya pun sama" Jelas Rudi lagi.
__ADS_1
"Apa mereka ada masalah ya pa? Soal nya kemaren mama pernah melihat Arga dan Sandra bertengkar di teras rumah. Hanya saja mama tidak tahu masalah mereka apa. Mama pikir hanya masalah Arga dan Sandra. Tapi Rea pun jadi seperti ini pasti ada sangkut paut nya dengan masalah ini" Ujar Rina mulai mengingat kejadian waktu itu.
"Arga pun sama, dua-dua istri nya sudah ngambek, dia malah sibuk hanya membujuk Sandra saja. Sedangkan Rea di biarkan sendiri seperti ini. Mama jadi cemas sama Rea pa" Ujar Rina lagi.
"Karena itu, papa minta mama untuk bicara sama Rea. Siapa tahu dia mau bercerita kepada mama. Jadi kita tahu apa penyebab nya seperti ini"
"Apa dia mau ya pa bercerita sama mama" Ujar Rina merasa ragu.
"Coba saja dulu ma. Siapa tahu dia mau menceritakan nya sama mama" Ujar Rudi.
"Ya sudah Jika begitu mama ke kamar nya Rea dulu ya pa. Mama akan mencoba untuk berbicara kepada nya" Ujar Rina pergi menuju kamar ku.
***
Rina membuka pintu kamar ku. Melihat ku masih posisi yang sama. Melamun dengan tatapan kosong ke depan. Rina mencoba mendekati ku dan duduk di hadapan ku.
"Rea, kamu kenapa nak? Kenapa seperti ini?" Tanya Rina dengan hati-hati.
"Rea, bik Ina bilang kamu tidak makan selama beberapa hari ini. Kenapa sayang?"
Aku hanya diam tidak bersuara.
"Kamu makan ya nak. Sedikit saja nanti kamu bisa sakit jika tidak makan" Pujuk mertua ku itu.
Bik Ina kembali datang membawa teh hangat dan sepiring makanan.
"Bik, tolong bawakan makanan tadi ke bawah ya" Titah Rina.
"Baik buk" Ujar bik Ina meletakan makanan yang di bawa nya tadi di meja hias ku dan membawa makanan tadi pagi ke bawah. Rina mengambil teh hangat yang di bawa bik Ina tadi.
"Rea, makan ya sayang. Ini coba minum teh hangat ini dulu" Ujar nya lagi terus memujuk ku.
Aku menggelengkan kepala ku pelan.
"Rea, badan kamu panas nak. Kamu demam?" Tanya nya lagi.
"Makan lah sedikit nak, setelah itu kamu minum obat ya" Pinta mertua ku lagi.
Rina menarik napasnya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Rea, ada apa sebenar nya? Apa yang terjadi? Yang mama tahu kemaren Sandra marah-marah lalu pergi. Dan Arga pun tidak bisa di hubungi. Apa yang terjadi nak?" Tanya Rina lagi.
"Apa Arga tidak datang ke rumah ini ma?" Akhirnya aku membuka suara.
"Papa dan mama sudah mencoba menghubungi nya, namun ponsel nya tidak bisa di hubungi. Bahkan papa bilang para orang-orang kantor pun mencoba untuk menghubungi nya tapi tidak bisa. Alhasil papa lah yang mengganti kan nya untuk bertemu dengan klien penting nya beberapa hari ini" Jelas mama mertua ku itu.
Padahal, aku sangat mengharapkan Arga untuk memberi kabar kepada kedua orang tua nya. Jika dengan ku tidak mau menjelaskan tenang pagi itu, setidak nya beri lah kabar kepada kedua orang tua nya.
Jangan kan dengan ku, dengan kedua orang tua nya saja dia tidak memberi kabar.
"Rea, coba cerita sama mama apa yang sebenarnya terjadi"
Aku menatap sendu ke arah mama ku. Beberapa air bening mengalir kembali di pipiku.
"Mama, mama" Ujar ku kembali menangis memeluk wanita yang ada di hadapan ku.
"Kenapa sayang? Apa yang terjadi?"
"Arga sungguh tega kepada ku ma" Ujar ku Akhirnya menceritakan masalah yang mengganjal di hati ku.
Tidak ada salah nya jika aku bercerita kepada mama mertua ku itu. Karena Arga adalah anak nya. Jadi tidak masalah jika Rina tahu kelakuan anak nya kepada ku.
"Arga kenapa? Apa yang Arga lakukan kepada mu?" Tanya Rina.
Aku melepaskan pelukan ku. Menatap kedua bola mata wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Arga telah menyentuh ku ma" Ujar ku kembali menangis.
Rina kaget mendengar hal itu. Bukan kaget kami telah melakukan hal itu, melainkan dia kaget lantaran aku menangis ketika telah di sentuh oleh suami ku sendiri.
"Lo, kenapa sedih nak? Bukan kah hal itu wajar bagi suami istri. Secara Arga dan kamu sudah sah menjadi suami istri dan kalian halal untuk melakukan apa pun" Ujar Rina.
"Masalah nya bukan itu ma, aku rela Arga menyentuh ku. Hanya saja ketika Sandra tiba melihat aku dan dia berpelukan kemaren pagi, Arga bilang apa yang Sandra lihat hanya lah kekhilafan" Ujar ku kembali menangis.
"Tega Arga bilang seperti itu ma. Kemaren malam dia merayu ku, mengatakan cinta kepada ku. Berjanji tidak akan meninggalkan ku. Tapi setelah Sandra hadir kembali di hadapan nya, dia lupa dengan apa yang dia ucapkan dan mengatakan bahwa ini adalah kekhilafan. Tega Arga mempermainkan perasaan ku setelah dia dapat semua nya dari ku ma" Ujar ku menangis sejadi-jadi nya.
"Ma, aku tidak marah jika Arga menyentuh ku jika dia benar mencintai ku. Jujur kepada Sandra bahwa dia telah mencintai ku. Yang aku tidak terima di depan ku dia berkata manis, sedangkan di depan Sandra, aku di campakkan begitu saja. Dia telah berhasil membuat ku terbang melayang ke angkasa. Dan dalam sekejap kini dia hempaskan ku kembali ke bumi. Hati ini terasa sakit ma" Jelas ku lagi.
Rina menghembuskan napas berat nya. Wanita paruh baya itu tidak habis pikir dengan kelakuan anak nya seperti itu. Sungguh tega Arga membuat ku seperti ini. Ia pun ingin menasehati anak nya pun tidak bisa lantaran Arga tidak tahu keberadaan nya di mana. Secara ponsel nya tidak bisa si hubungi.
"Nanti, ketika mama atau papa bisa menghubungi Arga, mama dan papa akan minta Arga datang ke rumah ini untuk menjelaskan semua nya ya" Pujuk Rina berkata lembut kepada ku.
"Sekarang, kamu makan dulu ya nak, setelah itu minum obat. Nanti setelah Arga tiba, kamu dan dia bicarakan masalah ini baik-baik ya nak" Tambah nya lagi.
Aku mengangguk.
"Jangan kamu tidak makan ya sayang nanti demam mu akan semakin parah" Ujar nya lagi membelai rambut ku.
"Ya sudah, mama keluar dulu ya. Setelah makan minum obat nya dan istirahat"
Kembali aku mengangguk.
Rina menutup pintu kamar ku setelah ia ke luar dari kamar ku itu.
***
"Buk" Panggil Riko saat menemui mama nya yang sedang asyik membaca majalah di ruang tamu rumah nya.
"Iya ada apa?" Tanya Maya terus sibuk membolak balikan majalah yang ada di tangan nya tadi.
Riko duduk di samping ibu nya.
"Buk, kemaren sewaktu aku ikut Santi pulang kampung halaman nya, tidak sengaja aku bertemu dengan Rea"
Maya menghentikan kegiatan nya. Ia menatap wajah putra nya lekat-lekat.
"Rea gadis yang kamu cinta dulu itu? Yang telah membuat hati mu hancur?" Tanya Maya.
Riko mengangguk.
"Ngapain kamu berbicara dengan ibu tetang dia? Ibu sama sekali tidak mau mendengar tentang nya"
"Buk, bukan begitu maksud ku. Aku melihat dia bahagia bersama suami nya"
"Nah, sudah tahu dia bahagia, kenapa kamu masih mau mengambil urusan tentang gadis itu"
"Buk, dengar dulu. Setelah aku melihat nya seperti itu. Aku ingin hidup bahagia seperti dia buk. Saat ini aku ingin memikirkan masa depan ku bersama Santi agar aku bahagia dan tidak terpuruk ke masa lalu ku" Jelas Riko.
Maya tersenyum senang mendengar putra semata wayang nya kini telah move on.
"Gitu dong nak, ibu mendukung mu seratus persen untuk hal itu. Setiap ibu, pasti menginginkan anak nya bahagia" Ujar Maya senang.
"Riko, kamu sudah membuka hati mu untuk Sandra, terus kapan kamu pergi ke kantor KUA untuk mendaftar pernikahan kalian? Ibu tau kamu sibuk dengan pekerjaan mu di rumah sakit, tapi sempatkan lah waktu untuk ke sana"
"Iya buk aku pasti akan pergi ke sana lagi nanti nya. Lagian kamu tunangan nya sama Santi sudah lama lo, tidak baik tunangan lama-lama. Lebih baik di percepat halam nya saja" Ujar Maya menggoda Riko.
"Iya ma, nanti aku akan mengatur jadwal ku di rumah sakit agar aku bisa mendaftarkan secepat nya pernikahan ku dan Santi di kantor KUA di kampung nya Santi. Karena orang tua Santi meminta pernikahan itu di laksanakan di rumah mereka"
"Iya, kamu atur saja waktu mu ya nak. Ibu jadi gak sabar melihat anak ibu satu-satu nya bersanding. Ini merupakan impian ibu melihat anak satu-satu nya bersanding di atas pelaminan"
Riko hanya tersenyum kecut mendengar apa yang di katakan ibu nya. Harus nya ia merasa bahagia, tapi entah mengapa ada perasaan mengganjal di hati nya saat ini yang dia pun tidak mengerti itu perasaan apa.
__ADS_1