
"Assalamualaikum" Sapa ku pelan saat memasuki pintu masuk rumah Arga. Arga masuk meninggalkan ku di belakang nya. Perlahan dan tertatih aku melangkah. Langkah ku berat menelusuri setiap tapak ruangan rumah besar nan megah itu.
Bisa di lihat, Lampu berwarna emas terjuntai menghiasi di tengah ruangan tamu itu. Di bawah nya ad sofa berwarna putih di tengah nya terdapat meja persegi panjang. Rumah yang berdenominasi warna putih dan coklat sungguh tampak mewah dan megah.
...hanya Visul...
Berbeda dengan rumah kos ku dan rumah ku di kampung yang serba sederhana. Mungkin rumah ku yang di kampung hanya sebesar kamar mandi atau gudang di rumah Arga. Sungguh merasa canggung melihat rumah megah nan mewah. Dan diri ini merasa tidak pantas berada di tengah-tengah orang elit seperti mereka.
Ingin rasa nya aku menolak pernikahan ini karena hal ini. Namun, masih terpikir di benak ku bagaimana masa depan ku kelak. Yah mau tak mau aku harus menerima pernikahan ini dengan berat hati.
Aku menelan salivaku. Menelusuri dengan mata ku setiap jengkal rumah mewah itu.
"Ayo cepat" Tegur Arga melihat ku masih melongok melihat ruangan itu.
Kembali kaki ku melangkah mengikuti Ivan yang berada di depan ku.
__ADS_1
"Papa dan mama menunggu di meja makan" Kata nya lagi.
Deeeggg....
Kembali jantung ku bereaksi begitu cepat. Berdebar mendengar orang tua Arga menanti kedatangan ku.
"Assalamualaikum" Kembali ku ucap kan salam kepada dua manusia paruh baya yang berada di kursi makan megah itu.
Kedua nya menoleh.
Bisa ku lihat mereka tersenyum ramah menyambut kedatangan ku.
"Ini calon nya Arga?" Tanya mama Arga menatap kepada anak semata wayang nya agar memberi jawaban.
"Iya ma, ini gadis yang ku ceritakan kemaren" Jawab Arga datar. Ku lihat wajahnya tidak begitu semangat mengakui ku sebagai calon istrinya.
"Manis kok anak nya. Sopan lagi ya kan pa" Kata bu Rina mama nya Arga.
__ADS_1
"Iya, Papa sama .mama suka dengan gadis yang menutup aurat seperti ini" Jawab pak Rudi.
Arga terlihat kesal mendengar respon terbuka kedua orang tua nya. Ku lihat wajah nya semakin tak bergairah. Untuk menghilangkan rasa jengkel di hatinya, Ia menyibuk kan diri dengan mengupas buah-buahan yang ada di meja makan itu dan mulai melahap nya satu persatu.
"Mama sengaja menyuruh Arga menjemput mu jam segini. Agar mama bisa berbicara mempunyai banyak waktu ngobrol sama kamu" Ku lihat jam benar baru pukul 17.30 Telat di mana Arga baru pulang dari kantor nya dan langsung mengajak ku ke rumah nya. Tentu saja waktu makan malam masih lama.
Aku hanya tersenyum mendengar buk Rina berbicara.
"Oh ya, silahkan duduk nak" buk Rina mempersilahkan ku duduk di samping nya.
"Aku mau mandi dulu ya ma, pa" Sahut Arga dengan wajah dingin dan langsung beranjak dari sana.
"Siapa nama mu nak?" Tanya pak Rudi.
"Rea pak" Jawab ku sungkan.
"Papa,.panggil papa saja, dan ini mama. Karena kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi harus panggil seperti itu dari sekarang" Kata pak Rudi.
__ADS_1