
"Non" Tegur bik Ina. Saat aku sedang sarapan di meja makan.
"Ada apa bik?" Tanya ku.
"Coba deh non lihat itu" Ujar nya lagi menyuruh mu melihat apa yang ia lihat. Saat itu bik Ina sedang berdiri di pintu belakang. Di mana pintu itu langsung mengarah tepat di pondok kecil untuk bersantai yang ada di belakang rumah.
Aku mendekati bik Ina dan melihat apa yang ingin ia tunjukan kepada ku.
"Tuh lihat non ibu, kasihan sekali dia. Sudah dua minggu ibu hanya melamun dan bersedih seperti itu" Ujar bik Ina lagi.
"Semenjak tuan Arga dan non Sandra pindah rumah, ibu terlihat sangat sedih. Kasihan ibu non" Tambah nya lagi.
Memang ku akui mertua ku sedang bersedih karena anak kesayangan nya pindah dari rumah mewah milik nya.
"Non, pergi lah non berbicara dengan ibu. Hibur dia siapa tahu dia akan senang dan tidak akan sedih lagi"
"Iya bik. Aku akan mencoba untuk berbicara sama mama ya" Jawab ku pergi menuju mama mertua ku.
***
"Ma" Tegur ku membuyarkan lamunan mama mertua ku.
"Rea" Jawab nya tampak senyuman yang di paksakan terukir di wajah nya.
Aku duduk di samping mama mertua ku.
"Ma, kenapa sedih seperti ini? Gak biasanya aju melihat mama seperti ini" Ujar ku.
"Bagaimana mama gak sedih Ya. Kamu lihat Arga pergi ninggalin mama sendirian di rumah ini. Apa dia tidak sayang sama mama sehingga dia tega meninggalkan mama seperti ini?"
"Apa Arga tidak sayang sama mama? Sehingga dia tega melakukan hal ini sama mama, dia tega membuat mama sedih" Ucap nya dengan meneteskan air mata.
"Ma, jangan sedih seperti ini dong. Jika mama sedih, aku juga ikut sedih. Lagian, Arga hanya pindah rumah kok. Dia bisa untuk menjenguk mama di rumah ini. Mama dan dia masih bisa ketemu kok" Ujar ku mencoba untuk menghentikan tangisan sang mertua.
"Iya dia bisa menjenguk mama dengan datang ke rumah ini. Tapi kamu lihat sudah dua minggu dia pergi meninggalkan mama dan dia nggak pernah tuh datang ke rumah mama selama ini" Ujar Rina sedih.
"Mungkin selama dua minggu ini Arga nya sedang sibuk di kantor ma. Jika nanti dia sudah tidak sibuk lagi, pasti dia akan datang ke sini" Jawab ku lagi.
"Sesibuk apa pun pasti di luangkan waktu untuk melihat mama yang sudah tua ini. Seperti hari ini hari minggu bisa saja dia datang ke rumah karena tidak masuk kantor kan. Bener lah tuh dia sudah tidak sayang sama mama. Dia lebih sayang sama Sandra ketimbang mamanya sendiri" Rina tampak cemburu dengan Arga yang memilih untuk pindah mendengarkan ucapan istri ke dua nya ketimbang diri nya.
"Ma, Janganlah bisa seperti itu. Nggak mungkin Arga lebih menyayangi Sandra ketimbang mama. Bagaimanapun mama itu adalah orang tuanya Arga. Wanita hebat yang sudah melahirkan dan membesarkan Arga selama ini dengan kasih sayang. Jadi nggak mungkin Arga membeda-bedakan kasih sayang mama dan Sandra. Dia pasti sangat menyayangi mama" Jelas ku mencoba memberikan pengertian.
"Terus Kenapa Arga memutuskan untuk pindah rumah dan nggak mau tinggal bersama kita di rumah ini? Apa yang kurang dari rumah ini fasilitasnya lengkap, kamarnya banyak, rumahnya besar. Jadi apa yang membuat dia tidak mau tinggal bersama kita kalau bukan karena dia lebih mendengarkan omongannya Sandra itu"
"Dulu, sewaktu Arga mendapatkan tawaran untuk kuliah di Jakarta, mama tidak mengizinkan dia pergi meninggalkan mama. Mama meminta nya untuk melanjutkan kuliah di sini saja. Mama gak bisa berpisah dengan Arga" Cerita nya tentang masa lalu Arga dengan tatapan kosong ke depan.
"Mama gak pernah berpisah sama Arga Rea, kamu tahu sendiri kan. Arga itu anak satu-satu nya mama dan papa. Laki-laki pula. Anak kesayangan mama dan papa. Oleh karena itu mama gak bisa jauh-jauh dari nya. Sewaktu itu, Arga selalu menuruti kemauan mama. Dia tidak pernah membuat mama sedih. Tapi sekarang, semenjak dia mengenal Sandra. Arga telah berubah. Dan lihat lah sekarang Sandra telah membuat mama dan anak mama berpisah" Ujar nya lagi dengan meneteskan air mata.
Setakut itu lah mertua ku berpisah dengan anak semata wayang nya. Hingga untuk menempuh pendidikan di luar kota Pekanbaru saja ia tidak mengizinkan nya.
Aku diam tertunduk mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rina. Sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa lagi agar aku bisa menghibur mertuaku itu.
"Rea, coba kamu telfon dia. Pujuk dia agar dia mau pulang ke rumah ini" Ujar Rina meminta ku untuk memujuk Arga.
"Aku ma?" Tanya ku. Sejujurnya aku merasa keberatan atas permintaan mertuaku itu. Karena aku rasa percuma saja jika aku membujuknya untuk kembali ke rumah ini dia pasti tidak akan mau mendengar perkataanku dan lebih mendengarkan perkataan Sandra istri yang ia sayangi saat ini. Siapa lah aku yang berani-beraninya meminta Arga untuk kembali ke rumah ini? Sedangkan ku tahu Arga hanya menganggap ku orang ketiga di dalam kehidupannya. Jelas dia akan merasa lebih nyaman tinggal bersama Sandra di rumah barunya. Tanpa ada gangguan aku sebagai orang ketiga di rumahnya.
"Rea, kok bengong? Bisa kan kamu pujuk Arga agar dia mau kembali ke rumah ini?" Tanya nya lagi.
"Hmm... " Aku berpikir. Jawaban apa yang harus aku berikan kepada mertuaku saat ini. Jika aku mengatakan aku menolaknya secara terang-terangan atas permintaannya saat ini, aku yakin dia pasti akan semakin sedih karena aku tidak menuruti permintaannya. Tapi jika aku mengatakan aku akan membujuk Arga. Sejujurnya aku ragu apakah Arga mau mendengarkan perkataanku atau malah ia akan marah-marah kepadaku karena telah berani beraninya memintanya pulang ke rumah ini kembali.
Aku di lema saat ini. Seperti buah simalakama.
"Rea, bisa kan?" Tanya nya lagi kepada ku meminta kepastian.
"Iya ma, nanti aku akan mencoba untuk memujuk Arga untuk pulang ya" Jawab ku setelah lama berpikir panjang.
Alang kah baiknya aku mencoba terlebih dahulu untuk membujuk Arga apapun nanti responnya Arga. Itu urusan belakangan yang penting aku sudah memenuhi keinginan mama mertuaku dan membuatnya merasa lebih tenang. Batin ku.
Tampa sengaja aku menoleh ke belakang. Karena aku merasa ada seseorang di belakang kami saat ini. Karena penasaran aku melihat dan betapa kaget nya aku mengetahui siapa yang sedari tadi berdiri di belakang kami.
__ADS_1
"Jika dia tidak mau mendengarkan nya, nanti marah kan saja dia. Bilang sama dia apa kamu tidak sayang sama mama mu yang sudah tua ini" Ujar nya lagi.
Kembali aku melihat ke arah depan setelah mengetahui siapa yang ada di belakang kami.
"Iya ma, nanti akan aku sampaikan kepada Arga seperti apa yang mama bilang tadi" Jawab ku.
"Aduh, sejak kapan ini orang ada di belakang kami? Apa sedari tadi dia memang sudah berada di sana?" Batin ku lagi.
Arga datang mendekati mama nya dan duduk di samping mama nya.
"Siapa yang gak sayang sama mama?" Tanya Arga.
Rina kaget mendapati Arga tahu-tahu sudah ada di samping nya.
Wanita paruh baya itu berlagak marah kepada putra nya tidak mau menatap putra nya yang paling ia rindukan saat ini.
"Mimpi apa kamu datang ke sini?" Ujar Rina berlagak sok marah.
"Kenapa mama bertanya seperti itu? Aku datang ke sini karena aku kangen sama wanita yang paling aku sayangi. Wanita paling cantik dan paling hebat sedunia yaitu mama" Ujar Arga memeluk mama nya.
"Oh.... Masih ingat sama mama? Masih menganggap orang tua ini mama kamu? Mama pikir kamu sudah lupa jalan menuju ke rumah ini. Soalnya sudah dua minggu kamu tidak menjenguk mama di sini" Ujar Rina berlagak marah tapi sebenarnya hatinya bahagia karena putranya datang berkunjung ke rumahnya.
Aku tersenyum senang melihat peringai kedua ibu dan anak itu.
"Ma, jangan marah seperti itu dong. Mana mungkin aku melupakan mama. Mana bisa aku gak menjenguk mama" Ujar Arga mulai merayu mama nya.
"Kalau begitu malam ini kamu menginap di rumah ini. Kamu kan juga harus memikirkan Rea yang ada di rumah ini sebagai istri kamu. Ingat kamu harus bersikap adil kepada kedua istrimu" Pinta Rina.
"Lihat nanti ya ma" Ujar Arga menggoda.
"Tuh kan mulai lagi buat mama kecewa" Rina mencubit lengan putra nya.
Arga mengosok-gosok lengan yang terasa sakit karena di cubit oleh mama nya tadi. Laki yang sudah menjadi suami ku itu tertawa lepas melihat mamanya mulai kesal kepadanya.
"Iya mama ku sayang. Malam ini aku pasti menginap di sini. Agar mama ku senang" Ujar nya mencium pipi mama nya.
***
Aku duduk melamun di kursi yang ada di balkon lantai dua seperti biasa nya. Yah entah mengapa aku sangat suka duduk di sana ketika malam seperti ini. Menikmati tiupan angin sepoi-sepoi dengan menikmati secangkir teh panas membuat pikiran ku merasa lebih tenang dan nyaman.
"Kebiasaan duduk melamun di sini" Tegur Arga mengaget kan ku.
"Arga, ngapain di sini?" Ujar ku.
"Rumah ku, suka-suka aku dong mau kemana saja di rumah ini" Jawab Arga seenak nya. Arga duduk di samping ku.
"Malam-malam begini ngapain kamu duduk sendirian di sini? Melamun pula, mau kesambet ya?" Tanya nya.
"Apaan sih, jangan ngomong hal yang bukan-bukan deh" Ujar ku kesal.
Arga tersenyum melihat ku. Entah mengapa aku mulai merasakan Arga merasa nyaman kepada ku. Seperti nya dia mulai menyukai ku. Aku yakin setiap wanita pasti merasakan hal yang sama dengan ku apa bila orang itu mulai menyukai kita.
Arga menghembus napas berat nya.
"Jadi, apa kabar sekarang?" Tanya nya setelah lama kami terdiam.
"Alhamdulillah baik. Seperti yang kamu lihat" Jawab ku.
Arga mengangguk.
"Bagaimana tinggal di sini selama tidak ada aku? Apa nyaman?"
Kini giliran aku yang mengangguk.
"Selama aku tidak ada? Apa kamu merindukan ku?"
Pertanyaan Arga membuat ku mengerutkan kening ku. Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang menurutku itu lucu.
"Malah senyam-senyum begitu. Jawab dong" Ujar nya tak sabar.
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Benar kamu kangen sama aku?" Arga tampak kaget.
Aku kembali tersenyum kemudian mengangguk lagi.
"Benar?" Ulang nya lagi.
Kembali aku mengangguk.
"Kangen nya seperti apa? Apa yang kamu kangenin dari aku? Senyum ku, suaraku, tatapan mata ku, atau aku yang tampan ini?" Ujar nya dengan sangat PD.
Aku memutar mata ku.
"Mulai deh kambuh PD nya" Batin ku.
"Jawan dong, apa yang kamu kangenin dari aku?"
"Benar kamu mau tahu?" Tanya ku.
Arga mengangguk.
"Aku kangen tidak ada orang yang marah-marah sama aku, tidak ada orang yang nyeselin di rumah ini seperti kamu, tidak ada..... "
"Udah, udah stop" Ujar nya terdengar kesal atas jawab ku.
Aku tersenyum melihat Arga kesal seperti itu.
"Kamu ini nyeselin juga ya. Sudah berani sama aku ya" Ujar nya mencolek hidung ku.
Kaget yah, itu lah yang aku rasakan. Arga baru saja menyentuh hidung ku. Itu membuat ku bahagia di perlakukan seperti itu dengan orang yang aku sayang.
Aku tersenyum lebar menatap Arga. Sungguh ada bunga-bunga yang berterbangan di hati ku saat ini karena perlakuan Arga barusan kepada ku.
"Apa?" Tanya Arga melihat ku tersenyum lebar kepada nya.
"Apa? Apa nya?" Ujar ku sadar salah tingkah.
"Hmm, aku tahu sebenarnya kamu tidak kangen dengan marah-marah ku dan nyeselin ku kan. Kamu sebenarnya kangen kan aku karena kamu telah jatuh cinta kepada ku. Pasti kamu merindui diri ini bukan?" Ujar nya lagi.
Aku tersenyum lebar. Memang benar apa yang dikatakan Arga barusan. Aku memang telah jatuh cinta kepadanya sejak aku pertama kali ngobrol dan satu mobil dengannya saat kami mau pergi ke rumahnya untuk makan malam bersama.
"Jika benar aku jatuh cinta kepadamu kenapa?" Tanya ku menatap Arga dengan serius meminta kepastian akan perasaan nya kepada ku saat ini. Apa kah dia mempunyai perasaan sama atau cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan.
Arga hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Dia hanya tersenyum lebar sendiri tanpa kejelasan akan perasaan nya kepada ku. Padahal aku sudah lama menunggu kejelasan perasaan nya.
"Kenapa diam?" Tanya ku.
"Kenapa diam?" Ulang ku lagi menggoyang-goyang lengan Arga meminta jawaban.
"Kamu ini mulai berani ya sama aku. Sudah mulai ngeyel ya" Ujar nya lagi menyentil jidat ku.
Aku menggosok-gosok jidatku yang baru saja disentil oleh Arga. Meskipun aku baru saja disentil, tapi entah mengapa hatiku bahagia saat ini melihat aku bisa kembali dekat bersama Arga dan ngobrol seperti sebelumnya ketika dia belum pindah rumah.
"Arga, sering-sering lah pulang ke rumah ini. Jenguk mama, semenjak kamu pergi, mama selalu sedih. Sering melamun, menyendiri. Dia sangat merindukan kamu" Ujar ku.
"Jika kamu bagaimana?" Tanya Arga.
"Aku?" Ulang ku.
Arga mengangguk.
"Kalau aku ya tetap seperti ini ada ataupun tidak adanya kamu aku akan tetap sendirian sering melamun seperti ini" Jawab ku.
"Nanti lama kelamaan mama pasti akan terbiasa dengan tanpa kehadiran ku" Ujar nya lagi.
"Tapi nanti aku pasti akan sering-sering berkunjung ke sini untuk melihat keadaan mama dan papa. Kamu tolong jagain mereka untukku ya"
"Insha allah" Jawab ku.
__ADS_1