
"Sedang memikirkan apa? Seperti nya bahagia sekali" Tanya Arga tiba-tiba masuk kemar ku.
Senyuman yang ku pancar kan tadi kini sirna. Aku merasa salah tingkah karena ketahuan senyum-senyum sendiri seperti tadi.
Aku menggelengkan kepala mengatakan tidak ada apa pun yang aku pikirkan.
"Hmm... Ngapain kamu di kamar ini?"
"Ini memang kamar ku"
"Kamu masih marah?"
"Aku gak marah. Ini memang kenyataan nya" Ujar ku lagi. Arga datang mendekati ku. Ia duduk di samping ku menatap ku dengan penuh sendu.
"Rea, tolong lupakan semua yang berlalu. Kamu sudah berada di rumah ini kembali. Jadi mari kita mulai hidup kita yang baru" Pinta Arga lagi.
"Coba kamu lihat tadi, betapa bahagia nya mama dan papa saat melihat mu. Tolong jangan tinggal kan rumah ini lagi. Gak mungkin kan kamu tega membuat papa dan papa sedih" Ujar Arga terdengar seperti memujuk ku.
Aku tersenyum mendengar perkataan Arga barusan.
"Gak apa-apa. Mama dan papa pasti mengerti" Ujar ku lagi.
"Kamu tinggal di sini saja ya.. Kembali lah bersama ku" Ujar Arga lagi merayu.
Kembali ku ukir senyuman di wajah ku.
"Arga, kamu sudah berjanji kepada ku bahwa aku ke sini hanya untuk pergi ke pernikahan nya Santi. Setelah itu, aku akan kembali ke Bengkalis" Ujar ku lagi.
"Kenapa sekarang kamu menjadi keras kepala seperti ini? Langsung tidak mau mempertimbangkan permintaan ku" Ujar Arga sedikit kecewa.
Baru aku mau menjawab ponsel ku pun berdering. Aku mengambil ponsel ku yang berada di atas nakas kamar ku itu.
Belum sempat aku membaca pesan yang di kirim dan belum sempat aku melihat dari siapa pesan itu, Arga sudah merampas ponsel ku.
"Arga, apaan sih? Sini kembalikan ponsel ku" Ujar ku berusaha untuk merebut ponsel ku itu.
"Sebentar" Ujar Arga melihat siapa yang mengirim ku pesan.
"Sini ponsel ku.. Dari siapa?" Tanya ku.
"Dari Pasha" Ujar Arga. Dia pun menekan sebuah nomor di ponsel nya.
"Arga, kamu mau telfon siapa?" Tanya ku heran.
"Sebentar, aku mau menyimpan nomor mu yang baru" Ujar nya.
"Oke sudah" Ucap nya setelah terdengar nada terhubung dari ponsel ku.
"Ini ponsel mu" Ujar nya memberikan ponsel ku kembali.
"Seperti nya kamu sangat dekat dengan Pasha"
"Iya, aku senang ngobrol kepada nya. Ketika aku ngobrol dengan nya, semua masalah ku seakan-akan hilang" Ujar ku lagi.
"Sampai kapan masalah mu akan hilang?" Tanya Arga.
"Tak tahu" Jawab ku. Yah benar apa kata Arga tidak selama nya masalah ku hilang. Karena rasa kesedihan itu akan kembali muncul di hati ini.
Tok... Tok...
Terdengar suara pintu kamar ku di ketuk.
"Maaf non Rea dan tuan Arga. Bapak dan ibu menunggu non dan tuan di bawah untuk makan malam bersama" Ujar bik Ina kepada kami.
"Oke bik sebentar lagi kami akan turun" Jawab Arga
"Baik lah, tapi jangan lama-lama ya. Ibu dan bapak sudah menunggu" Ucap nya lagi meninggalkan kami.
"Ayo kita turun ke bawah. Papa sama mama sudah menunggu kita di bawah" Ujar ku.
Arga mengangguk.
"Hmm.... Rea"
"Ya"
"Hmm... Gak jadi. Gak ada apa-apa" Ujar Arga mengurungkan niat nya untuk mengungkap kan perasaan nya.
"Kenapa?" Tanya ku lagi.
"Gak ada apa-apa. Gak jadi" Jawab nya lagi.
__ADS_1
"Ya sudah jika tidak ada apa-apa, ayo kita turun ke bawah. Kasihan mama dan papa sudah menunggu" Ajak ku lagi.
"Ayo" Ajak ku lagi menarik tangan Arga agar ikut turun bersama ku.
***
Di meja makan bisa di lihat bahwa Arga melamun dengan menguek-uek nasi di piring nya. Melihat itu Rina jadi heran.
"Arga" Tegur Rina.
Namun, Arga masih sibuk dengan pikiran nya.
"Arga" Tegur nya lagi.
"Arga" Ujar nya dengan nada yang cukup tinggi.
"Ha" Arga kaget.
"Kamu sedang memikirkan apa? Dari tadi mama perhatikan kamu melamun saja" Tanya Rina.
"Kamu mikirin apa sih Ga" Tanya Rudi pula.
"Itu, tuh... Rea sudah ada di samping mu" Ujar Rudi lagi.
Arga hanya tersenyum mendengar perkataan dari papanya itu.
"Rea" Panggil Rina.
"Iya ma"
"Arga sudah menceritakan semua yang terjadi kepada kamu. Mama sama sekali tidak menyangka bahwa sahabat kamu sendiri tega menjebak mu seperti itu" Ujar Rina dengan rasa prihatin.
"Gak apa-apa ma, ini memang sudah takdir ku. Aku harus ikhlas dan ridho dengan semua yang terjadi kepada ku" Ujar ku lagi.
"Rea, kamu tahu gak.. Wanita seperti kamu, satu dalam seribu di dunia ini" Ujar Rina.
"Iya, papa juga bersyukur karena Allah telah mengirimkan kamu sebagai menantu kami" Ujar Rudi.
"Aku juga mau meminta maaf sama mama dan papa. Jika selama ini aku ada salah kepada kalian. Yang telah membuat kalian susah" Ujar ku.
"Sebab kamu pergi itu lah yang membuat Arga susah. Kerja di kantor semua terbenggalai. Air mata meleleh terus di pipi nya. Sedih, murung, melamun itu lah yang bisa dia lakukan. Kemana kamu pergi, pasti dia akan mencari nya.. Karena selama ini dia berusaha mencari keberadaan mu" Ujar Rudi.
"Rea, kamu tahu gak. Selama kamu pergi, Arga rajin sholat. Apa lagi di sepertiga malam. Paling rajin dia melakukan nya. Mama sering melihat nya di mushola di rumah ini saat mama bangun malam ingin mengambil minuman. Dia berada di sana berdoa sepanjang malam" Ujar Rina tersenyum menggoda Arga.
***
Seperti rutinitas ku setiap malam ketika berada di rumah itu. Aku duduk di kursi balkon lantai dua di rumah itu.
Aku memang senang duduk di sana menikmati suasana malam dan merenungi nasib ku.
Arga datang mendekati ku. Dia duduk di samping ku.
"Kamu ngapain sendirian di sini?" Tanya Arga.
"Seperti tidak tahu saja kebiasaan ku di rumah ini. Aku suka duduk di sini" Jawab ku.
Lama kami saling terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Rea" Ujar Arga setelah lama terdiam.
"Iya"
"Aku mau mengajak mu pulang ke kampung halaman mu. Apa kamu mau?" Tanya Arga kepada ku.
Aku mengerutkan kening ku.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Gak tahu juga sih, tiba-tiba saja aku rindu dengan suasana kampung halaman mu"
"Tapi bukan kah kita akan pulang ke kampung halaman ku juga saat pernikahan Santi beberapa hari lagi"
Arga menggaruk-garuk kepala nya yang terasa gatal. Ia salah tingkah di depan ku.
Diam lagi, hening lagi.
"Arga" Ujar ku.
"Iya"
Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat.
__ADS_1
"Aku mau hidup sendiri"
Deg....
Arga kaget. Ia menatap ku dengan sangat serius ketika mendengar apa yang aku katakan. Dia berharap bahwa aku tidak meminta untuk hidup sendiri lagi. Namun, harapan nya sia-sia.
"Rea, bukan kah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan ku" Ujar Arga dengan nada yang sedih.
"Maaf kan aku Arga. Aku tidak bisa memenuhi janji ku. Aku terpaksa melakukan ini untuk masa depan ku, masa depan kita" Ujar ku lagi.
Arga terdiam di dalam pikiran nya. Ia sangat sedih dan terpukul ketika aku ingin pergi di dalam hidup nya.
"Rea, aku memang tidak pandai merayu. Tapi aku yakin dengan keputusan ku. Aku tahu apa yang aku rasakan dan apa yang aku butuhkan. Aku memang membutuhkan mu di dalam hidup ku. Aku ingin kamu kembali kepada ku. Dan ini bukan satu kekhilafan lagi. Rasa sayang dan cinta ini hanya untuk mu" Jelas Arga.
"Tapi aku merasa ini semua tidak jelas. Aku belum yakin dengan mu. Bagaimana kita bisa bersama jika perasaan dan hati ku masih ragu dengan mu" Ujar ku.
"Oke, tolong beri tahu aku bagaimana cara agar aku bisa meyakin kan mu? Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu percaya dengan semua perasaan ku bahwa cinta ku tulus dan suci" Ujar nya lagi.
"Sudah lah Ga. Jangan lah kita membahas tentang hal ini lagi"
"Gak, gak... Aku gak mau. Sebagai suami aku harus pastikan kamu berada di sisi ku. Dan kamu tidak boleh membantah hal itu"
"Arga.... "
"Gak, keputusan ku sudah bulat dan final. Kamu harus tetap tinggal bersama ku di mulai pada hari ini" Tegas Arga.
"Ha?" Aku kaget.
"Gak boleh gitu dong Ga" Ujar ku merasa keberatan.
"Siapa bilang gak boleh? Sekarang coba kasih tahu aku dan tanya kepada ustad-ustad yang melarang untuk istri berada di sisi suami nya"
Aku menarik napas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat. Bagi ku untuk bertengkar dengan Arga pun tidak ada gunanya. Dia pasti akan mau menang sendiri dan tidak mau mendengar apa yang aku katakan.
"Berapa lama Sandra pergi ke Jakarta?" Tanya ku mencari topik pembicaraan lain.
"Gak tahu. Terserah dia mau berapa lama di sana. Jika nanti kerja sama nya berhasil, dia akan berangkat ke Paris. Sudah lah jangan membahas tentang dia lagi. Dan jika dia mau tinggal di sana pun tidak masalah bagi ku" Ujar Arga.
"Arga, bukan kah kamu begitu mencintai dan sayang sama Sandra? Tidak mungkin kan segitu mudah nya kamu melepaskan dia" Ujar ku.
"Aku yakin dia pasti akan mencari mu kembali" Tambah ku lagi.
Arga menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Entah lah, aku tidak tahu jika dia akan mencari ku nanti nya. Yang ku tahu saat ini adalah aku mencintai mu. Di hati ku ada kamu" Ujar nya lagi.
"Aku menginginkan mu kembali bersama mu. Beberapa bulan ini aku tersiksa menanggung rindu terhadap mu Rea" Ujar nya penuh rasa pilu di hati.
"Aku juga begitu Arga. Hati ini tersiksa merindui mu" Batin ku. Tentu saja aku sangat tersiksa juga. Karena sampai detik ini aku masih mencintai suami ku itu. Tidak mudah melupakan dia yang telah memberikan warna di dalam hidup ku.
"Kamu pasti merasakan hal yang sama kan?" Tanya Arga kepada ku.
Aku tidak menjawab. Aku memilih untuk diam dengan seribu bahasa.
"Iya kan kamu merasakan hal yang sama?" Ulang Arga lagi.
Aku menarik nafas ku dalam-dalam dan ku hembuskan kuat-kuat. Aku pun mengangguk menjawab pertanyaan Arga.
Arga berdiri di hadapan ku. Ia mondar mandir kelihatan gelisah. Aku juga tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu setelah mendengar jawaban ku.
"Rea, kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Kenapa kamu harus menyembunyikan perasaan mu kepada ku? Padahal kamu tahu bahwa kita tidak bisa berjauhan. Kamu dan aku saling membutuhkan" Ujar Arga ngengos-ngosan.
"Karena itu kita harus tetap bersama. Aku janji sama kamu aku tidak akan mengecewakan kamu lagi. Aku akan berusaha membuat mu bahagia. Aku tidak akan menyakiti hati mu lagi" Ucap Arga terdengar memohon.
Aku hanya diam. Sejujurnya aku bingung harus menjawab apa.
"Arga, tidak semudah itu" Ucap ku.
"Please Rea. Kita mulai hidup kita yang baru. Buang kenangan pahit kita. Kita buka lembaran baru" Pinta Arga lagi.
"Entah lah, aku bingung harus bagaimana. Semua yang terjadi kepada ku saat ini hanya lah palsu. Aku yakin dengan persahabatan ku dan Santi. Tapi aku tidak menyangka Santi tega menusuk ku dari belakang. Aku yakin kepada mu di mana kamu akan melepaskan ku setelah kamu bahagia bersama Sandra. Tapi apa yang terjadi, kamu terus-terusan menyakiti ku. Dan yang paling parah nya adalah kamu membuat ku jatuh cinta kepada mu" Ujar ku.
"Jujur, aku benci Sandra, aku benci kamu, aku benci hidup ku. Tapi yang paling ku benci adalah kenapa aku tidak bisa membuang rasa cinta ini kepada mu" Tambah ku lagi.
"Dan sewaktu kamu mengatakan kamu mencintai ku dan tidak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Aku yakin dengan perkataan mu dimana kamu mencintai ku. Aku yakin kamu akan selama nya bersama ku sesuai dengan ucapan mu. Aku luluh, aku serah kan semua nya. Tapi ketika kamu mendapat kan nya, dengan lantang kamu mengatakan kepada Sandra bahwa aku ini adalah satu kekhilafan. Seketika keyakinan ku kepada mu luntur. Tembok kepercayaan yang ku bangun hancur seketika" Ujar ku dengan rasa pilu di hati mengingat kembali peristiwa menyakitkan itu. Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku
"Sekarang aku mau bertanya kepada mu. Bagaimana aku bisa yakin kembali dengan semua yang kamu ucap kan itu?" Tambah ku.
Arga diam. Lelaki itu tampak memikirkan apa yang aku katakan. Dia tampak menyesali apa yang terjadi selama ini.
"Aku minta maaf Rea" Ujar nya penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
"Semua ini memang salah ku. Aku benar-benar minta maa.f. Tolong berikan aku kesempatan. Aku ingin memperbaiki semua nya" Ujar Arga memohon kembali.
"Untuk apa? Untuk Sandra kembali kepada mu. Untuk menemani mu dalam kesepian seperti ini. Setelah Sandra kembali, dan kamu akan bilang kepada nya bahwa ini adalah satu kekhilafan? Begitu?" Tanya ku.