
Sandra dan Arga bertemu di sebuah caffe yang biasa nya tempat mereka janjian.
***
"Ya Allah, kuatkan lah aku untuk mengahadapi semua cobaan yang terjadi pada diri ku. Tak henti-henti nya aku berdoa kepada Mu. Aku sangat mengharapkan kekuasaan dari mu agar suami ku bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Buat lh dia mencintai ku. Tuntun lah dia agar bisa menjadi imam yang baik untuk ku kelak. Aamiin" Doa ku seusai sholat magrib.
"Rea, ayo kita makan malam bersama" Ajak Rina saat kami usai melaksanakan kewajiban kami yaitu solat magrib.
"Iya ma" Jawab ku.
Kami pun bergegas pergi ke meja makan yang berada di ruang makan.
"Rea, Arga belum pulang? " Tanya Rudi.
"Belum pa, mungkin sebentar lagi" Jawab ku.
"Anak itu benar, benar keterlaluan. Baru nikah istrinya sudah di tinggalin seperti ini" Ujar Rudi merasa geram.
"Sudah pa, gak apa-apa. Mungkin Arga ada urusan penting di luar sana. Maka nya dia belum pulang" Jawab ku mencoba meredakan amarah Rudi.
"Tetap saja ini tidak bagus. Masa baru menikah sudah sibuk sih dengan urusan kerja. Harus nya menikmati masa-masa indah nya bulan madu berdua" Ujar Rina menyempali.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi percakapan kedua orang yang kini sudah menjadi mertua ku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya aku bingung. Arga seperti ini karena dia tidak mencintai ku. Dia berontak karena sedang merasa kecewa cinta nya tidak di restui oleh kedua orang tua nya bersama Sandra.
"Ya sudah. Jangan pikirin Arga lagi lebih baik kita lanjutin makan malam nya" Ujar Rina.
***
"Sayang, lusa aku sudah harus pulang ke paris" Ujar Sandra yang bergelayut manja di lengan nya Arga. Yah mereka masih menghabiskan waktu bersama di sebuah cafe yang terdapat ruangan Vip.
Yah memang sedari tadi mereka berdua hanya berada di cafe itu untuk menghabiskan waktu berdua.
"Artinya kita akan LDR lagi dong" Ujar Arga tampak sedih.
"Seperti nya begitu. Aku ke sana kan untuk mengejar cita-cita ku menjadi desainer ternama di dunia" Kata Sandra.
"Sebagai kekasih yang baik, kamu harus nya mendukung aku dong. Toh jika aku berhasil nanti nya, kamu juga yang bangga kan mempunyai kekasih sukses seperti aku" Tambah nya lagi.
"Iya, iya aku akan selalu mendukung mu" Arga mengalah.
"Gitu dong sayang" Ujar Sandra mencium hangat pipi Arga.
Arga tersenyum senang mendapati sikap manis dari wanita yang ia cintai itu.
***
"Kamu baru pulang?" Tanya ku kepada Arga yang baru saja masuk ke dalam kamar nya.
"Hmm"
"Dari mana? Sudah malam begini baru pulang"
"Bukan urusan mu"
Deg....
Perih memang hati ini saat mendengar Arga berkata seperti itu.
"Astagfirullah, sabar Rea, sabar" Batin ku.
"Kamu sudah makan? Mau aku siapkan makanan untuk mu"
"Gak perlu, aku sudah makan tadi. Aku mau bersih-bersih dulu" Ujarnya berlalu dari hadapan ku menuju kamar mandi.
Kling...
Notifikasi ponsel nya harga berbunyi.
penasaran dari siapa yang memberi pesan kepada Arga kulihat ponsel Arga yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.
Aku mengerut keningku saat mengetahui dari siapa pesan itu berasal. Daan bisa ku baca sebagian pesan itu yang berasal dari Sandra.
[Sayang, sudah sampai kamu di rumah? Terima kasih untuk hati ini...... ] Aku tidak bisa membaca lebih lanjut pesan tersebut. Hal itu dikarenakan aku tidak mengetahui kata sandi ponselnya Arga.
__ADS_1
"Ya Allah ternyata mereka masih bertemu? Apa yang mereka lakukan di belakangku?" Hati ini sangat bimbang dan penuh ketakutan.
Kenapa aku bisa mencintai laki-laki yang bersikap dingin kepada ku? Sungguh lagi-lagi rasa ini sangat menyiksa ku. Pikir ku.
"Oh ya, kamu tidur di sofa ya. Dan aku tidur nya di kasur" Ujar Arga.
Aku mengangguk setuju. Tak ad guna nya aku membantah. Toh aku hanya lah orang baru yang datang di kehidupan mereka. Entah lah rasa nya sulit untuk menjelaskan perasaan ku saat ini.
***
Sepanjang malam itu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selain aku harus beradaptasi di tempat baru, aku juga terus terpikir dengan masalah-masalah ku.
Yah bisa di katakan sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kehormatan di renggut secara paksa, di pecat dari pekerjaan secara tidak hormat, kini suami ku tidak menganggap aku ada. Sungguh masalah ini membuat ku sangat frustasi.
Jika saja di turut rasa hati dan tidak di bekali dengan iman di hati, aku sudah bunuh diri karena tak sanggup menjalani ini semua. Namun, di hati ini masih ada iman dan takut dosa kepada sang pencipta. Jadi, alangkah baiknya aku mengadu dan bercerita kepada tuhan semesta alam. Hanya dia lah yang bisa menolong ku.
Karena hati ini semakin tidak tenang, aku memutuskan untuk berwudhu dan melaksanakan solat di sepertiga malam. ku.
Di hadapan yang maha kuasa. Aku menceritakan semua masalah ku.
"Ya Allah, aku tahu semua yang Engkau berikan karena aku bisa melalui nya. Aku tahu Engkau tidak akan memberikan cobaan demi cobaan ini di luar batas kemapuan ku" Doa ku malam. itu. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipiku.
"Sejujurnya hati ini sangat rapuh, hati ini kini terasa goyah dengan terpaan badai yang selalu menghantam kehidupan ku. Aku selalu meminta kepada mu ya Allah, selalu kuatkan diri ini" Doa ku lagi.
"Ya Allah ya Tuhan ku, Tuhan yang maha besar yang bisa membolak balik kan hati setiap insan yang ada di muka bumi ini. Tolong rubah lah hati suami ku. Rubah lah dia menjadi orang yang lebih baik lagi. Hanya Engkau lah yang bisa membantu semua masalah hidup ku. Kabulkan lah semua doa-doa ku. Aamiin" Ucap ku pertanda doa ku telah selesai.
Aku bersujud di sajadah yang masih terbentang di hadapan ku. Aku menangis sejadi-jadi nya dengan masalah demi masalah telah menimpa ku. Tidak ku sadari suara ku terdengar terisak-isak sehingga membuat Arga bangun dari tidur nya.
"Aduh, ni cewek ngapain sih berisik banget. Gak tau hari masih malam apa? Orang masih ngantuk dia malah buat keributan" Ujar Arga menggosok-gosok matanya yang masih terasa berat.
Arga bangun dari tidur nya. Ia melihat aku bersujud di sajadah yang masih terbentang tadi.
"Ya Allah, kuat kan aku dalam. menghadapi masalah demi masalah yang datang dalam hidup ku. Aku sangat butuh kekuatan dari mu. Sesungguh nya semua ini bukan karena atas kemauan ku, namun. mengapa, sikap. Arga kepada ku menunjukan aku lah yang bersalah?" Ujar ku dalam sujud itu.
Deg....
Hati Arga tersentuh mendengar ungkapan hati yang keluar dari mulut ku.
"Ya Allah, betapa teganya aku kepada Rea. Gadis ini hanya lah korban. Aku yang menyebab kan dia masuk di dalam hidup ku. Maafkan aku Rea, maaf kan" Ujar nya lagi mulai merasa bersalah.
Aku bangkit dari sujud ku. Ku hapus air mata yang talah membasahi pipi. Tanpa sengaja aku melihat ke arah Arga yang duduk memperhatikan ku.
"Astagfirullah Arga, maaf, maaf jika aku telah membangunkan mu" Ucap ku menunduk takut. Yah takut rasanya diri ini menatap mata elang yang penuh kebencian kepada ku.
"Gak, gak apa-apa. Aku terbangun karena aku mau ke kamar mandi" Bohong nya. Beranjak dari tempat tidur nya dan beranjak menuju ke kamar mandi.
Ku lirik jam yang berada di dinding kamar nya Arga. Baru pukul 03.00 wib. Masih lama waktu nya solat subuh. Lebih baik aku berbaring dulu di sini hingga waktu subuh tiba nanti. Sejujur nya aku sangat lelah. Yah memang lelah dengan masalah ini.
Arga keluar dari kamar nya. Dia melihat ku tertidur di atas sejadah dengan masih menggunakan mukenah lengkap.
"Kasihan kamu Rea, aku merasa sangat bersalah dengan mu" Ujar Arga menatap ku iba.
Arga mendekat kepada ku. Ia mengangkat ku pindah atas kasur nya.
"Wajah mu sangat terlihat lelah. Istirahat lah Rea, semoga besok aku melihat keceriaan di wajah mu" Ungkap nya menatap ku dengan dalam.
***
Alarm ponselku berdering. Aku memang selalu memasang alarm pada ponselku agar aku bisa bangun saat solat subuh. Terkadang aku terlewat untuk melaksanakan salat subuh jika tidak memasang Alarm.
Pernah saat itu tubuh ini sangat lelah dengan semua pekerjaan di kantor hingga aku terbabas (terlewat) untuk solat subuh Karena itu aku selalu memasang alarm agar aku tidak terbabas (terlewat) lagi melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim.
Aku menggosok mata ku yang terasa berat. Yah memang saat subuh ini lah setiap orang baru bisa tidur dengan nyenyak nya.
Betapa kaget nya aku saat ku sadari aku sudah berada di atas kasur nya Arga.
Ku lihat Arga masih terlelap dengan pulas nya di sofa yang tadi nya tempat ku tidur.
"Ya Allah Arga, kamu tidur di sofa?" Kembali hati ini tersentuh dengan sikap Arga yang bagi ku ini begitu manis. Nama nya juga sudah jatuh cinta, sedikit saja perbuatan manis nya pasti akan membuat hati ini klepek-klepek.
"Ya Allah, apa Arga mulai membuka hati? Alhamdulillah jika dia sudah mulai bisa menerima ku" Ujar ku lagi.
Aku mendekati tubuh kekar yang sedang terlelap di atas sofa. Ku selimuti ia agar tidak kedinginan.
__ADS_1
Ku tatap wajah itu. Sungguh wajah ganteng itu telah memikat hati ku. Seketika, kata kasar yang di ungkapkan nya tempo hari menjadi hilang dalam otak ku.
"Astagfirullah" Ucap ku sadar.
"Solat, solat" Ujar ku lagi bergegas kembali berwudhu. Karena wudhu ku sudah batal saat aku tertidur tadi. Terlebih lagi Arga sudah menyentuh ku.
"Aduh, kok perut ku terasa aneh nya. Seperti mau halangan" Batin ku memegang perut yang terasa nyeri.
"Alhamdulillah, aku sudah mendapat tamu bulanan" Batin ku merasa lega. Artinya aku tidak hamil.
Saat keluar dari kamar mandi, aku kembali berbaring tidur di kasur nya Arga. Yah karena tamu bulanan sudah datang, libur lah aku untuk solat selama beberapa hari ke depan.
***
"Arga, Ga," Ujar ku antara takut dan berani membangunkan Arga yang masih terlelap.
"Arga sudan setengah tujuh. Ayo bangun nanti kamu terlambat ke kantor nya" Ujar ku lagi.
Namun orang yang di panggil tak kuncung membuka mata.
Selangkah, dua langkah aku mulai mendekat.
"Arga... Bangun" Ujar ku lagi.
Arga masih seperti tadi. Sana sekali tidak membuka matanya.
Lagi-lagi aku melangkah mendekati Arga. Kini aku memberanikan diri untuk menyentuh Arga.
"Arga, bangun... Sudah jam setengah tujuh nanti kamu telat ke kantor nya" Ujar ku lagi menyentuh lembut lengan Arga.
Arga menggeliat.
Cepat-cepat aku menjauh dengan langkah mundur. Tanpa ku sadari aku menginjak bola tangan yang ada di tergeletak tak jauh dari sofa itu hingga membuat ku jatuh ke lantai. Aku mundur karena aku takut kalau Arga akan marah kepada ku karena telah menganggu nya yang sedang terlelap.
"Aduh" Aku meringis kesakitan.
Melihat aku terjatuh Arga langsung bangun dari tidurnya.
Aku memegang pergelangan kakiku yang terasa sakit.
"Aduh sakit" Ucap ku lagi meringis.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya nya mendekati ku.
Aku kaget saat wajahnya Arga berada di dekat wajah ku. Aku langsung menundukan pandangan ku agar Arga tidak bisa membaca hati ku yang saat ini sedang bergemuruh karena berada di dekat nya melalui tatapan mata ku.
"Aku nggak apa-apa kok. Kenapa ada bola tangan di sana?" Tanya ku sedikit heran.
"Maaf ya Rea, tadi malam ketika aku tidak bisa tidur saat keluar dari kamar mandi, Aku mempunyai kebiasaan menggenggam bola itu. Istilah kata aku memainkan nya sampai ngantuk ku datang. Jadi gak tau deh kalau bola itu tergeletak di lantai" Ujar nya.
"Mana yang sakit, biar ku lihat" Tambah nya lagi.
Arga memegang kaki ku. Sentuhan nya yang hangat membuat hati ini semakin klepek-klepek.
"Gak apa-apa kok, lebih baik kamu siap-siap untuk berangkat ke kantor. Nanti kamu akan telat lagi" Saran ku.
"Kamu gak ke kantor mu?" Tanya Arga mulai bertanya tentang diri ku.
Aku menggeleng kepala ku.
"Gak, aki di pecat. Aku gak tahu kesalahan ku di. mana.. Yang jelas aku di fitnah telah membuat dokumen proyek dengan harga yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Sehingga membuat perusahaan merugi" Jelas ku.
Arga menatap. ku dalam. Entah dia kasihan atau bagaimana aku juga tidak bisa mengartikan tatapan itu. Secara aku hanya sesekali saja menatap nya. Biasa takut jika perasaan i ini terbaca.
Aku mencoba untuk berdiri ketika pergelangan kakiku mulai terasa tidak sakit lagi.
"Bisa?"
"Bisa kok" Ujar ku.
Meski masih terasa nyeri, namun aku berusaha menahan nya karena aku tidak mau bersikap manja kepada Arga. Secara Arga belum tentu mau memanjakan ku.
Bisa-bisa Arga merasa ilfil kepada ku yang sok bersikap manja seperti itu. Baru di perhatiin dikit aja malah sudah mengelunjak. Begitu lah yang aku pikirkan jika aku bersikap berlebihan.
__ADS_1