
Arga duduk melamun di meja kerja nya. Ia duduk bersandar sambil memainkan pena yang ada di tangan nya. Sungguh pikiran nya kelut saat ini. Ia masih memikirkan kata-kata ku tempo hari saat kami membicarakan masalah kami di pantai sore itu.
Aku tidak mempermasalah kan semua itu. Kamu jangan khawatir ya" Ujar ku lagi.
"Kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini. Nanti bisa membuat kamu menjadi stress dan akan mengganggu pekerjaan kamu" Ujar ku lagi.
"Alangkah baiknya kita selesaikan saja hubungan kita ini. Jika kita terus-terusan seperti ini, itu akan membuat kamu semakin terbebani, semakin merasa bersalah. Kita selesaikan saja di mana itu untuk kebaikan kamu dan aku juga. Dan aku yakin setelah itu kamu pasti tidak akan merasa bersalah lagi seperti sekarang" Saran ku.
"Rea" Ujar Arga.
"Aku ngerti mungkin kamu masih marah kepada ku. Karena kehadiran ku membuat kamu dan Sandra seperti ini. Jika kamu masih membutuhkan waktu untuk menghukum ku, tidak masalah untuk ku. Aku akan bersedia menunggu hingga masa nya tiba nanti. Dan aku akan pergi" Ujar ku.
Kata-kata itu terus terngiang di telinga nya Arga.
"Woii" Tegur Putra membuyarkan lamunan Arga.
"Eh Put"
"Kamu ini melamun terus akhir-akhir ini. Mau kesambet ya?" Tanya Putra duduk di depan Arga.
"Aku juga bingung kenapa aku seperti ini"
"Lagi mikirin apa sih? Sandra, Rea?" Tebak nya.
"Emang paling ribet punya istri dua ya"
"Sudah, jangan meledek ku" Raut wajah Arga tampak tidak bersahabat.
"Oke, oke. Aku minta maaf jika salah. Tapi apa masalah mu?"
"Aku hanya bingung harus bagaimana mengatakan kepada mama dan papa ku bahwa aku dan Sandra akan pindah rumah"
"Pindah? Kamu dan Sandra akan pindah?" Putra kaget.
Arga mengangguk membenarkan.
"Wah, gak bener ni. Jika kamu pindah Rea bagaimana?"
"Dia akan tetap tinggal di rumah itu. Mama dan papa sayang sama dia jadi gak apa-apa dia masih di sana"
"Bukan masalah itu nya. Kamu gak memikirkan perasaan nya. Saat ini dia pasti membutuhkan kamu terlebih dia jauh dari kedua orang tua nya dan kamu meninggalkan dia begitu saja"
"Aku tidak meninggalkan nya begitu saja, aku pasti akan selalu berkunjung melihat keadaan nya dan juga kedua orang tua ku nanti nya"
"Aduh, sulit untuk ku katakan saat ini. Bagaimana ya cara menjelaskan nya"
"Sudah lah kamu jangan terlalu memikirkan nya. Aku melakukan ini untuk kebaikan Sandra agar dia dan mama tidak terjadi cekcok lagi"
"Cekcok?"
"Iya, mama menegurnya karena Sandra terlalu sibuk bekerja. Jadi mama meminta nya untuk berhenti atau mengurangi kesibukan nya"
"Bagus dong nasehat mama mu itu"
Lagi-lagi Arga menarik napas berat nya.
"Iya memang benar apa yang di katakan mama. Tapi aku tidak bisa menolak Sandra untuk mengejar cita-cita nya. Dan ketika dia mau pindah rumah, aku pun tidak bisa menghalangi nya.
"Aduh Ga, ga, cinta mu memang membuat mu buta ya. Aku pun tidak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu" Ujar Putra merasa kehabisan kata-kata untuk sahabat sekaligus sepupunya itu.
***
Sandra datang ke kantor nya dengan sangat bahagia. Melenggang lenggok berjalan menuju ruangan nya dengan hati yang sangat bahagia pagi ini.
"Sandra, kelihatan nya bahagia sekali pagi ini" Tegur Evi yang merupakan asisten nya saat ini.
"Ya dung Vi, hari ini aku sangat bahagia, aku happy banget" Ujar Sandra tersenyum senang. Sandra duduk di meja kerja nya.
"Ada apa sih? Gak biasa nya kamu seperti ini. Apa sedang?" Ujar Evi mengusap-ngusap perut nya sendiri seakan-akan menggambarkan bahwa sedang hamil.
Sandra tertawa melihat asisten nya memperagakan seperti layak nya orang hamil.
"Bukan, bukan itu. Saat ini aku belum siap untuk hamil. Aku hanya ingin fokus pada karir ku. Jika aku hamil nanti, aku takut akan menganggu karir ku. Kamu tahu sendiri kan orang hamil itu seperti apa? Mual, muntah, sering merasa kecapean, gak enak badan dan lain-lain" Jelas Sandra.
"Aduh Vi, membayang kan nya saja aku tidak sanggup. Apa lagi harus menjalani nya. Gak, gak aku benar-benar belum siap" Jelas Sandra tidak bisa membayangkan bahwa diri nya jika sedang hamil saat ini.
"Kamu aneh deh San, dimana-mana orang-orang itu menginginkan kehamilan jika sudah menikah. Kamu malah menunda nya" Ujar Evi merasa sedikit aneh dengan bos nya itu.
"Itu orang-orang ya Vi. Kalau aku sih no. Aku mau fokus pada karir ku dulu. Karir yang aku impikan selama ini" Ujar Sandra lagi.
"Terus, jika kamu tidak hamil, apa yang membuat mu senang pagi ini?"
"Aku, akan pindah dari rumah mertua ku" Ujar nya.
"Aku dan Arga akan pergi pindah dari rumah yang seperti neraka itu"
"Neraka, neraka bagaimana sih maksud kamu"
"Aduh, kamu pasti juga tidak akan betah bila tinggal di rumah itu. Emang rumah nya bagus, besar. Tapi isi nya seperti neraka"
"Aku gak ngerti deh sama apa yang bicarakan"
__ADS_1
Sandra menghembus napas berat nya.
"Itu lo Vi, mama mertua ku selalu ikut campur urusan ku"
Evi mengerutkan kening nya.
"Ikut campur bagaimana?"
"Masa aku di suruh berhenti bekerja sih Vi hanya karena aku harus menjadi istri sepanjang masa di rumah seperti dia. Jelas dong aku gak mau. Aku sudah banyak menghabiskan waktu ku untuk mencapai cita-cita ku seperti ini. Dan sekarang, setelah kesempatan ada di depan mata, aku harus merelakan dan melepaskan nya begitu saja. Oh.... Sungguh tidak bisa" Ujar Sandra tertawa menyindir.
"Padahal Arga sama sekali tidak mempermasalahkan pekerjaan ku selama ini. Dia malah mendukung karir ku. Tapi malah orang tua itu yang sewot dan banyak komplen" Ujar Sandra.
"Kenapa bisa seperti itu? Apa karena kamu terlalu sibuk hingga mengabaikan Arga anak nya?"
"Iya, itu lah masalah nya. Akhir-akhir ini aku memang terlalu sibuk karena urusan ku ini. Kamu kan tahu sendiri, aku baru saja debut untuk menjadi desainer, jelas dong aku akan mengadakan acara-acara fashion show di berbagai kota besar di negara ini agar aku orang yang baru muncul ini bisa di kenal oleh kalangan orang-orang ternama. Seperti para artis dan desainer-desainer terkenal lain nya" Jelas nya lagi.
"Dan siapa tahu aku bisa nanti nya berkalaborasi dengan beberapa desainer terkenal nanti nya. Dan jelas itu akan menjadi awal yang bagus bukan untuk karir ku" Tambah nya lagi.
"Tapi ada benar nya juga apa yang di katakan oleh mertua mu. Apa lagi kalian baru saja menikah. Harus nya kalian menikmati masa-masa bulan madu kalian kamu malah sibuk dengan mempersiap kan acara fashion show mu" Ujar Evi mendukung pendapat mertua Sandra.
"Aku harus bagaimana? Bukan kah tadi sudah ku katakan, ini merupakan awal karir ku. Aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ini"
"Aku akan terus berusaha hingga aku mencapai kesuksesan ku. Dan nanti nya ketika semua nya sudah ku dapatkan, baru aku akan memikirkan kembali saran dari kalian ya" Ujar Sandra melanjutkan kerja nya.
"Kamu ini, di kasih tau malah ngeyel dan tidak mau mendengarkan. Nanti ketika Arga sudah berpaling dari mu, baru kamu sadar"
"Oi, Jangan kamu mendoakan aku seperti itu dong. Lagi pun aku yakin Arga pasti gak akan tertarik sama gadis mana pun. Dia hanya mencintai ku dan cinta mati sama aku" Ujar Sandra lagi.
"Hati seseorang siapa yang tahu San. Apa lagi kamu terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk bersama nya. Bisa saja dia lelah dan berpaling dari mu"
"Gak mungkin, aku dan Arga sudah lama berpacaran. Kami juga sudah sering LDRan. Dan selama ini aku dan Arga baik-baik saja tidak ada permasalahan apa pun meski kami saling berjauhan"
"Terserah kamu deh San. Yang jelas aku sudah menasehati kamu. Karena aku tidak mau kamu menyesal nanti nya"
"Kamu tenang saja, aku gak akan menyesali apa pun karena Arga tidak akan mungkin berbuat seperti itu" Ujar Sandra.
"Aamiin... Mudah-mudahan apa yang kamu katakan itu benar ada nya"
Sandra tampak berpikir tetang apa yang di katakan oleh Evi tadi.
Sejujurnya diri nya juga takut bahwa Arga seperti itu karena kehadiran ku. Terlebih lagi ia mengetahui bahwa Arga pernah mengajak ku keluar waktu itu.
Itu sebab nya ia mengajak Arga pindah agar tidak terlalu dekat dengan ku dan juga menghindari omelan demi omelan dari sang mertua.
***
"Pa, ada yang mau aku bicarakan sama papa" Ujar Arga saat melihat papa nya sibuk menyiram tanaman yang ada di kebun nya di halaman belakang rumah.
"Ada apa?" Tanya lelaki paruh baya itu melanjutkan pekerjaan nya.
Rudi menghentikan kegiatannya. Dirinya terlihat kaget mendengar rencana dari putra semata wayangnya.
"Pindah? Kenapa?" Tanya Rudi.
"Aku hanya ingin mandiri saja pa. Aku ingin merasakan tinggal di rumah sendiri" Arga berbohong.
"Kenapa? Apa Sandra tidak nyaman tinggal di rumah ini?" Tebak Rudi.
"Bukan begitu pa, aku yang ingin mandiri saja"
Rudi tersenyum mengejek. Sejujur nya ia tahu bahwa menantu ke dua nya itu merasa tidak nyaman karena selalu di tegur oleh istri nya.
"Sudah lah Arga. Kamu tidak perlu berbohong dan menutupi keinginan istri mu itu"
Arga menunduk terdiam.
"Jika kamu pindah, bagaimana dengan Rea?"
"Rea, Dia akan tetap tinggal di sini bersama kalian" Ujar Arga.
Lagi-lagi Rudi tersenyum mengejek.
"Arga, arga, kapan kamu bisa membuka mata kamu" Ujar Rudi.
"Terus bagaimana dengan mama mu. Apa dia setuju kamu dan Sandra akan pindah?"
"Aku belum membicarakan ini sama mama. Nanti aku akan mencoba untuk memujuk nya dan dia pasti akan setuju"
Rudi hanya menghembuskan napas berat nya. Hanya itu yang bisa di lakukan oleh lelaki paruh baya itu. Mau melarang pun tidak mungkin karena ini sudah menjadi pilihan hidup untuk anak nya.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, papa mau bilang apa lagi. Mau melarang pun tidak mungkin"
***
"Kamu ini paling suka ya melamun malam-malam seperti ini" Ujar Arga mengagetkan ku yang sedang duduk melamun di balkon lantai atas.
"Astagfirullah Kamu ini mengagetkan ku saja" Ujar ku mengusap-ngusap dada ku.
Arga datang mendekati ku. Ia duduk di samping ku.
"Kamu ngapain suka duduk melamun di sini? Mau kesambet?" Ujar nya.
__ADS_1
Kembali tatapan kesal ku tunjukan kepada Arga. Namun yang di tatap malah tidak peduli.
"Tapi mana ada setan yang mau masuk ke dalam tubuh mu. Melihat mu menatap nya seperti itu saja sudah kabur tuh setan. Karena menyeramkan sekali" Ujar Arga bercanda.
Namun, candaa nya sama sekali tidak membuat ku tertawa sedikit pun. Saat ini aku tidak mood untuk bercanda.
Aku menatap Arga dengan kesal.
"Gak lucu ya, tapi aku rindu dengan tatapan mu seperti itu" Ujar Arga.
"Sudah lama aku tidak melihat mu. Apa kabar dengan kaki mu?" Ujar nya.
"Seperti yang kamu lihat, aku sudah bisa berjalan keluar kamar, arti nya sudah membaik" Jawab ku seadanya.
Yah itu lah Arga, meski tinggal di satu atap dengan ku, sana sekali dia tidak memperdulikan ku ketika Sandra ada di sisi nya.
Terbukti sudah tahu kaki ku sakit, dia sama sekali tidak menjenguk ku di kamar.
"Kamu kenapa di sini? Sana masuk. Nanti Sandra mencari mu. Dan dia pasti akan salah paham jika melihat kita seperti ini" Ujar ku merasa tidak enak.
"Sandra akan pulang telat malam ini. Dia sedang sibuk mempersiapkan acara nya di kota ini" Ujar Arga.
Aku mengangguk mengerti.
"Arga, apa benar kamu dan Sandra akan pindah rumah?" Tanya ku.
Arga mengangguk membenarkan.
"Terus, jika kamu dan Arga pindah, bagaimana dengan ku?" Tanya ku dengan hati-hati.
"Kanu tetap tinggal di sini" Ujar Arga seenak nya.
"Tapi... "
"Alah sudah lah, kamu di sini saja. Lagian papa dan mama sayang sama kamu. Yah dapat juga kamu menjaga mereka untuk ku"
Aku hanya bisa menarik napas berat ku.
Hati ini merasa berbeda mendengar Arga dan Sandra akan pindah. Perasaan ini silit untuk di jelaskan. Pasti kalian akan merasakan hal yang sama ketika suami kita pergi meninggalkan kita dan membiarkan kita tinggal bersama kedua orang tua nya.
Apa guna nya kita tetap di rumah megah itu jika suami kita tidak ada. Bukan kah kita berada di sana untuk menemani suami kita. Ini malah suami kita meninggalkan kita sendiri.
Meski mertua kita baik dan sayang sama kita, tetap saja akan merasa ada yang kurang.
"Kapan rencana nya kalian pindah?"
"Minggu depan"
***
"Pokok nya mama gak setuju jika kamu pindah" Ujar Rina terus berjalan meninggalkan Arga yang meminta izin dari nya.
"Ma, Aku mohon izin kan aku pindah ya. Aku janji akan selalu menjenguk mama dan papa. Aku akan menghubungi kalian" Ujar Arga terus mengikuti mama nya dari belakang.
"Gak Arga. Sekali bilang tidak mama akan tetap tidak" Tega Rina.
"Ma, tolong ma"
"Emang kenapa dengan rumah ini? Apa yang kurang dengan rumah ini? Kamar nya banyak, fasilitas nya lengkap rumah nya besar" Jelas Rina lagi.
"Kami hanya ingin mencoba hidup mandiri ma di rumah kami sendiri"
Rina menghentikan langkah nya.
"Bohong, kamu pasti berbohong sama mama. Mama tahu kamu ingin pindah karena Sandra yang meminta nya kan?" Tebak Arga.
Arga menunduk terdiam.
"Jangan berbohong sama mama. Mama tahu itu dan mama bisa menebak nya. Kenapa? Apa dia gak suka jika mama nasehati dia untuk tidak terlalu sibuk bekerja?" Tanya Rina menatap dalam bola mata putra nya.
Lagi-lagi Arga diam.
"Kenapa istri kamu mau memisahkan mama dan kamu? Tega sekali dia. Padahal selama ini kita tidak pernah berpisah" Jelas Rina tampak kecewa.
"Apa kamu lebih sayang sama istri kamu itu di bandingan mama yang telah melahirkan kamu dan membesarkan kamu?"
"Ma, jangan berbicara seperti itu ma. Aku sayang sama mama, aku sayang juga sama Sandra. Aku tidak bisa memilih antara kalian berdua" Ujar nya lagi.
"Tapi kenapa kamu mau tinggalin mama?"
"Ma, aku akan selalu berkunjung"
"Bohong, jika kamu sudah sibuk dengan istri kamu pasti kamu akan melupakan mama"
"Ma, mana mungkin aku bisa melupakan mama. Mama jangan berbicara seperti itu sama aku ma" Ujar Arga terus merayu.
"Gak, mama gak setuju, pokok nya mama gak mau kamu pergi dari rumah ini. Jika kamu tetap pergi berarti kamu tidak sayang sama mama" Ujar Rina naik ke atas tangga meninggalkan Arga agar pembahasan ini tidak berlanjut.
"Ma, ma" Teriak Arga.
Arga menghembus napas berat nya.
__ADS_1
"Susah juga merayu mama" Ujar nya.
"Aku harus bagaimana lagi untuk memujuk mama agar dia mengizinkan aku pindah" Ujar nya lagi menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Saat ini ia sudah kehabisan kata-kata untuk merayu mama nya.