
"Arga, kamu mau kemana? Gak sarapan dulu?" Tanya Rina melibat Arga terburu-buru.
"Gak ma, aku mau nganterin Sandra ke bandara" Jawab nya.
"Sandra lagi, sandra lagi" Ujar Rudi yang tiba-tiba nongol dari arah belakang Arga.
"Papa gak suka kamu masih berhubungan dengan dia. Lagian gak seharus nya kamu terlalu peduli dengan nya. Harus nya kamu lebih peduli dengan istri mu" Ujar Rudi lagi.
"Harus nya kamu lebih meluangkan waktu bersama Rea" Tambah nya lagi.
"Pa, bukan nya sudah ku bilang, aku tidak mencintai Rea pa. Aku menikahinya karena aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah menimpanya. Bukan berarti aku mencintai nya" Ujar Arga.
Deg....
Hati ini kembali terasa perih saat Arga mengatakan hal itu lagi kepada papa nya. Tak sengaja aku mendengarkan percakapan mereka dari lantai atas. Aku berdiri mematung bersembunyi di balik tiang yang menopang lantai itu.
"Pa, aku hanya mencintai Sandra pa. Pa, jangan memaksakan hati ku untuk mencintai gadis lain selain Sandra. Pa, Sandra dan Rea, itu di seperti langit dan bumi. Beda kelas pa, beda kasta" Ujar Arga.
"Lihat lah penampilan Sandra berkelas, modif dan terkini. Nama nya juga desainer jelas dia menjaga penampilan nya. Sesuai dengan ku sebagai seorang CEO. Jika ku perkenalkan ia bersama klien ku, aku tidak malu" Ujar Arga memuji sandra kekasih hati nya.
"Coba papa lihat Rea, gadis kampung itu penampilan nya tidak sesuai dengan aku seorang CEO. Sederhana dan yah sulit untuk ku jelaskan pa. Aku yakin papa bisa menilai nya bukan?" Ujar nya lagi merendahkan ku.
Deg...
Teriris semakin teriris hati ini mendengar hinaan demi hinaan yang di lontarkan oleh Arga kepada ku. Pasti kalian akan merasakan rasa sakit yang dua kali lipat saat orang yang kita cintai menghina kita seperti itu bukan?
"Astagfirullah Arga, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Kamu nggak seharusnya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, kamu tidak tahu kan hatinya seperti apa?" Ujar Rina.
"Aku tahu Sandra, aku mengenal nya dengan baik. Hati nya tulus dan baik mencintai ku. Justru aku belum mengenal Rea dengan baik. Aku baru bertemu dengan nya dan menikah juga baru seumuran jagung. Siapa tahu dia mempunyai maksud tertentu untuk menikah dengan ku" Ujar Arga.
Deg....
Sungguh hati ini berkali kali lipat sakit nya saat Arga menuduh ku seperti itu. Aku sangat kecewa kepada Arga. Bisa-bisa nya dia berpikir buruk tentang ku.
Padahal aku sama sekali tidak ada rencana untuk menikah dengannya. Dialah yang membuat aku terjebak di dalam hidupnya saat ini. Dia yang membuat aku harus menikah dengannya. Namun mengapa dia menuduhku bahwa akulah yang mengakibatkan semua ini terjadi?
Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipiku. Baru kali ini aku merasakan Betapa terhinanya diri ini, betapa rendahnya harga diriku saat ini, hatiku benar-benar terluka orang yang aku cintai kini menuduhku menyebak nya dalam pernikahan ini.
Aku berlari menuju kamar agar aku tidak mendengarkan lebih lanjut perkataan demi perkataan yang menyakitkan hati yang keluar dari mulut Arga
" Ya kamu memang mengenal Sandra dan sangat mengenalnya. Tapi apa kamu sadar selama kamu berhubungan dengan Sandra, apa kamu tidak menyadari bahwa kamu telah berubah benar-benar berubah menjadi orang yang tidak pernah kami kenali" Ujar Rudi tampak marah.
"Kami tidak pernah menyajari kamu menjadi orang yang menentang apa yang kami katakan. Kami selalu mencintai menyayangi kamu, mendidik kamu, agar kamu menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, berbakti kepada agama, tidak seperti ini nak. Kamu lihat keadaanmu sekarang kamu berani-beraninya melawan mama dan papa kamu lupa bahwa mama dan papa adalah orang tua kamu"
"Kamu benar-benar telah berubah nak. Kami sama sekali tidak mengenali kamu saat ini. Kamu juga tahu kan kami tidak merestui hubungan kamu dengan Sandra bukan karena dia telah membuat kamu seperti ini. Tapi juga karena dia berbeda keyakinan bersama kita nak" Ujar Rina menangis sedih melihat pertengkaran antara kedua laki-laki nya.
"Ma, jangan menangis seperti itu ma. Aku tidak mau mama menangis karena tingkah ku. Aku melakukan semua ini agar mama dan papa mengerti, bahwa cinta tidak bisa di paksa kan.. Tolong mengerti lah perasaan ku ma, pa" Ujar Arga bersujud di kaki mama dan papa nya.
Rudi dan Rani tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia kehabisan kata-kata dengan sikap anak semata wayang nya itu.
"Ma, jika aku memaksakan untuk mencintai Rea seperti apa yang kalian inginkan, aku takut batinku akan tersiksa ma. Dan aku juga akan takut aku akan menyiksa Rea juga. Aku nggak mau ma harus mencintai wanita seperti Rea dengan pura-pura. Aku tidak mau menyakitinya dan aku tidak mau juga menyakiti hatiku dengan memberikan harapan palsu kepadanya. Aku harap mama sama papa bisa mengerti" Ujar Arga langsung meninggalkan kedua orang paruh baya itu.
"Ya Allah, sungguh terhina nya diri ini saat mendengar apa yang Arga katakan kepada ku. Kenapa dia bisa menuduh ku sekeji itu. Apa ini adalah salah ku ya Allah? Baru saja aku merasakan dia mulai baik kepadaku. Kini dia kembali seperti dulu lagi. Hati ini benar-benar terluka" Ujar ku menangis di dalam kamar.
***
"Maaf kan aku ma, pa, aku tidak bisa mewujudkan impian kalian untuk meninggalkan Sandra. Aku tidak bisa melepaskan Sandra. Aku sangat mencintai dia. Meski kalian tidak merestui hubungan kamo, biarlah kami seperti ini. Tetap menjalani hubungan meski tanpa restu dari kalian" Ujar Arga saat menyetir mobil nya.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya.
"Harus bagaimana lagi mengatakan kepada kalian bahwa tidak bisa memaksa kan hati ku untuk mencintai orang yang baru saja ku kenal? Berulang kali ku katakan kepada kalian agar bisa mengerti keadaan ku" Ujar nya lagi berbicara pada diri nya sendiri.
***
"Sayang, kenapa wajah mu cemberut begitu sih?" Tanya Sandra saat melihat bertemu dengan kekasih nya di apartemen milik nya.
"Biasa, sedikit ada pertengkaran dengan mama dan papa" Ujar Arga masuk dan duduk di sofa yang berada di dalam apartemen milik Sandra.
__ADS_1
"Waktu take off mu masih lama kan?"
"Satu jam lagi sayang"
"Yah, aku mau menghilangkan kesuntukan ku bersama mu sebentar" Ujar Arga tampak kecewa.
"Gak bisa sayang, kita harus berangkat sekarang. Bisa-bisa aku akan ketinggalan pesawat nanti" Ujar Virda.
"Ya sudah, ayo"
Mereka pun turun dari apartemen nya Sandra menuju parkir untuk pergi ke bandara.
***
"Sayang kamu jangan cemberut seperti itu dong" Ujar Sandra mencoba menghibur.
"Iya" Jawab Arga masih dengan ketus nya.
"Aku mau berangkat lo sayang, aku bisa gak tenang jika kamu masih bersikap seperti ini kepada ku" Ujar Sandra berlagak cemberut.
"Aku gak kesal sama kamu sayang. Aku hanya kecewa sama mama dan papa yang tidak mau mengerti perasaan ku"
"Tapi tetap saja, di saat seperti ini aku gak bisa menemani kamu untuk menghilangkan kesuntukan mu" Lagi-lagi Sandra cemberut seperti anak kecil.
"Kalau kamu seperti ini lebih baik aku gak usah deh berangkat lagi"
"Jangan dong sayang, ini kan impian mu"
"Tapi kamu nya seperti ini. Aku jadi gak tenang ninggalin kamu seperti ini"
"Iya, iya" Arga menghentikan mobil nya di pinggir jalan.
"Gok berhenti?" Tanya Sandra bingung.
"Kamu akan pergi lama San, boleh aku meminta sebagai ucapan perpisahan untuk kita?" Tanya Arga menatap serius kepada Sandra.
Sandra mengerti dengan apa maksud dari kekasih nya itu.
Sandra menanti nya dengan berdebar di dada. Perlahan namun pasti wajah mereka semakin dekat, dekat dan dekat hingga napas kedua nya bisa di rasakan di pipi mereka masing-masing.
Dekat, dekat hingga b*bir mereka bersentuhan. Yah b*ibir hangat nya Arga menempel di b*bir nya Sandra yang lembut dan manis.
Mereka saling mengul*m, saling *******. Hingga ci*man yang mereka lakukan semakin dalam, dalam dan dalam. Sandra melingkarkan tangan nya di lehernya Arga. Begitu pun dengan Arga menekan tengkuk nya Sandra agar ci*man yang mereka lakukan semakin dalam dan hangat..
Lid*h kedua nya saling bertemu. Menyelusuri setiap rongga mulut hingga saling bertukar saliva. Lama mereka melakukan adegan yang hangat itu. Hingga tautan bib*r mereka pun terlepas.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan ucapan perpisahan yang hangat kepada ku. Dan terima kasih juga kamu sudah membuat mood ku membaik" Ucap Arga kembali menjalankan mobil nya.
Sandra bersandar di bahu kekasih nya itu.
"Iya sayang, sama-sama. Kamu harus janji ya jangan kamu sampai jatuh cinta sana istri mu atau gadis mana pun" Ujar Sandra.
"Iya sayang. Kamu tenang aja. Hati dan mata ku hanya untuk mu seorang" Ucap Arga mengecup lembut puncak kepala Sandra yang bersandar di bahu nya.
***
"Kamu ngapain?" Tanya Arga melihat ku tidur di sofa.
"Mau tidur, kenapa?"
"Kenapa di sofa. Tidur di kasur saja"
"Gak usah, aku tidur di sini saja" Ucap ku lagi.
Semenjak mendengar kata-kata Arga tadi siang yang sangat menyayat hati, aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu baper dengan nya. Karena jika aku baper kembali, otomatis akan membuat hati ini kembali sakit karena aku merasa setelah aku dibuat tinggi terbang melayang dengan sekejap mata, dia menghempaskan aku kembali ke bumi Alasannya itu sangat menyakitkan
"Gak apa-apa kamu di sini aja tidur nya" Ujar nya lagi.
__ADS_1
Aku tidak merespon ucapan Arga. Aku membaring kan tubuh ku dan mencoba untuk tidur.
"Dasar keras kepala" Ujar Arga.
"Lagian, ngapain juga dia kembali tidur di sofa. Kemarin-kemarin dia tidur di kasur tapi kenapa sekarang malah mau tidur sofa aneh" Batin Arga.
"Ya Allah ampunilah diri ini jika aku tidak mendengar ucapan suami ku. Aku melakukan ini hanya aku tidak mau nanti nya hati ini kembali berharap dan akan terasa sakit kembali. Dari itu aku mohon, lumpuhkan lah hati ini untuk nya. Jangan terlalu membuat hati ini terlalu berharap kepada seorang hamba yang belum tentu bisa membalas perasaan ini" Doa ku sambil memejamkan mata.
***
Aku terbangun dari tidur ku. Ku lirik jam yang ada di dinding kamar nya Arga. Pukul dua subuh. Batin ku.
"Arga ngapain tidur mengerang seperti itu?" Ujar ku mengosok-gosok mata ku yang masih terasa berat.
Aku datang mendekati Arga yang terbaring.
Ku lihat seperti nya Arga sedang kedinginan. aku menyentuh dahinya Arga untuk memastikan suhu tubuhnya. Betapa kaget nya aku setelah merasakan suhu tubuhnya. Tubuh nya Arga panas artinya harga sedang demam saat ini.
"Astagfirullah kamu demam Ga? Pantesan kamu tidur mengerang seperti ini. Nama panas nya tinggi lagi" Batin ku.
Aku pergi mengambil air hangat untuk mengompres kening nya Arga agar suhu tubuh nya turun.
"Arga, Arga bangun dulu, ini coba minum obat ini dulu agar panas mu bisa turun" Ujar ku membangun kan Arga.
Arga berusaha membuka matanya. Dia langsung membuka mulut nya untuk meminum obat yang ku berikan.
"Sekarang istirahat lah. Semoga demam mu bisa berkurang besok lagi ya" Ujar ku mengompres kening nya Arga terus menerus.
Hingga aku terlelap di samping kasur nya Arga. Aku duduk di atas lantai dan kepala ku bersandar di kasur nya Arga dengan terlipat sebagai bantal nya.
***
Arga terbangun dari tidur nya.
Kaget, doa sangat kaget saat aku berada di samping nya.
Dia lihat di sekitarnya. Ada tempat kompres dan handuk kecik di kening nya.
Baru ia ingat bahwa malam tadi dia sedang demam dan aku lah yang telah merawat nya hingga ia merasa membaik.
Lelaki itu menyentuk kepala ku.
Aku terbangun saat merasa ada yang menyentuh kepala ini.
"Arga, kamu sudah bangun?" Ujar ku mencoba merasakan kembali kening nya Arga apa kah masih demam atau tidak.
"Alhamdulillah sudah reda panas mu" Ucap ku. Aku bangkit dari duduk ku untuk membereskan semua peralatan untuk mengompres nya Arga tadi malam.
"Rea" Panggil Arga membuat langkah ku terhenti.
Aku menoleh nya.
"Iya, Ada apa?" Tanya ku.
"Terima kasih ya" Ujar nya lagi.
"Terima kasih untuk apa?" Tanya ku tak mengerti.
"Karena kamu telah merawat ku tadi malam. Aku sangat-sangat mengucapkan terima kasih kepada mu" Ujar nya lagi.
"Iya sama-sama. Lagian itu juga sudah menjadi kewajiban aku untuk merawat kamu kalau kamu lagi sakit seperti tadi malam" Ujar ku.
"Aku buatin kamu bubur ya agar kamu bisa merasa lebih baik lagi setelah itu kamu minum obatnya agar kamu cepat sembuh" Ujar ku lagi berlalu keluar dari kamar nya Arga.
Aku tersenyum sendiri membayangkan Arga tersenyum manis kepadaku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Sungguh Aku tidak menyangka dia bisa bersikap seperti itu kepadaku.
"Astagfirullah, apa-apaan sih ini" Ujar ku sadar.
__ADS_1
"Ngapain juga aku masih baperan sama dia. Dia melakukan itu hanya karena merasa berhutang budi kepadaku. Dan aku tidak seharusnya baperan seperti ini kepadanya. Ayo dong Rea sadar, sadar nanti kamu sendiri yang sakit loh seperti yang telah terjadi sebelumnya. Jangan terlalu berharap sama Arga. Dia tidak pernah mencintai kamu. Ingat dia hanya menikahi kamu karena terpaksa bukan karena cinta. Hatinya hanya milik Sandra cintanya yang selama ini ia pertahan kan. Jadi kamu jangan terlalu berharap lebih kepadanya" Batin ku bergejolak.
"Hati, kotak tolong kondisikan keadaan ini Ingat jangan terlalu baper. Aku melakukan ini hanya karena kasihan tidak mungkin kan aku membiarkannya sakit sendirian seperti itu" Batinku lagi cepat-cepat menuruni tangga menuju dapur.