
tiba lah hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluargaku yaitu di mana hari ini adalah hari pernikahanku dan juga Arga.
Hati ini masih terasa bimbang dan ragu untuk menjalani pernikahan yang tanpa didasari oleh cinta.
Yah, memang bisa di katakan aku mulai mencintai Arga sejak aki bertamu ke rumah nya untuk makan malam bersama keluarganya.
Namun, jika hanya aku yang mencintai Arga. Apa mungkin hidup ini akan bahagia. Dan kami terlanjur membuat kesepakatan bahwa kami akan bercerai dalam waktu tiga bulan lamanya masa pernikahan kami.
Sejujurnya, aku tidak mau berpisah. Setiap wanita di bumi ini pasti tidak ingin berpisah dari suami nya. Pasti menginginkan hidup rumah tangga yang kekal abadi hingga hayat memisahkan mereka.
Namun, apa lah daya ku. Pernikahan ini hanya lah pernikahan untuk menutup status ku yang gadis rasa janda ini.
Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipi ku.
"Lo, mbak kok nangis? " Tanya mua tersebut..
"Iya mbak, terharu aja mbak. Gak nyangka hari ini aku akan menikah. Sedih, terharu, dan bahagia menjadi satu mbak" Alasan ku.
"Oh gitu ya mbak. Iya mbak kebanyakan orang yang mau menikah gitu sih mbak perasaan nya" Ujar mua itu.
"Oh ya mbak. Mbak sudah menikah?" Tanya ku.
"Belum sih mbak. Mungkin aku akan merasakan hal yang sama seperti mbak nanti nya" Ujar mua itu.
"Pasti itu. Pasti mbak akan merasakan apa yang setiap calon pengantin rasakan" Ujar ku.
"Ya mbak benar itu pasti saya merasakan apa yang mbak rasakan saat ini"
Aku tersenyum kecut mendengarnya.
"Jangan mbak. Jangan merasakan hal yang sama seperti aku rasakan saat ini mbak.. Rasa nya tidak enak mbak. Penuh dengan kesedihan dan kepedihan di hati ini. Ku harap kelak mbak bahagia di hari pernikahan mu. Jangan seperti ku ini mbak" Batin ku.
"Ya ampun Rea, cantik banget sih kamu" Ujar Santi yang masuk ke dalam kamar ku.
Lagi-lagi pujian itu terdengar seperti hinaan bagi ku. Aku sadari aura kebahagiaan yang harus nya terpancar pada setiap pengantin tidak ku dapatkan. Yang aku dapatkan hanya lah aura kesedian.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum saat Santi menyapa ku.
"Aku gak nyangka kamu akan menikah. Waktu begitu cepat berlalu ya" Ujar nya penuh dengan basa basi.
Lagi-lagi hanya senyuman yang tampak di paksakan terpancar dari bibir ku.
Acara pernikahan ku di adakan di rumah kontrak ku. Pelaminan yang bertemakan adat melayu telah menghiasi di ruang tamu ku. Yah aku sengaja tidak membuat pelaminan di luar rumah seperti yang lagi Viral-viral nya saat ini. Aku hanya meminta pelaminan bertemakan adat melayu dan cukup pasang di dalam rumah ku.
Toh bagi ku tak ada guna nya pernikahan mewah-mewah seperti kebanyakan. Karena tidak ada yang ku banggakan dengan pernikahan ini.
__ADS_1
Secara aku menikah dengan seseorang yang baru ku kenali dan tidak mempunyai rasa cinta kepada ku. Jadi alangkah baik nya aku membuat pesta yang sederhana saja.
***
Lima belas menit lagi acara akad nikah ku akan di mulai. Banyak para tamu yang hendak sebagai saksi di hari pernikahan ku datang ke rumah ku. Tidak sengaja aku mengintip dari jendela kamar ku yang memang jendelanya langsung berhadapan dengan halaman rumah ku. Aku hanya memastikan siapa saja yang yang hadir di acara ku. Dan apakah keluarga Arga sudah datang atau belum.
Pandangan ku terhenti kepada sosok insan yang baru datang ke rumah ku beberapa hari yang lalu. Yah dia lah Sandra. Gadis itu duduk di antaran tamu-tamu yang hadir di tenda yang berdiri di halaman rumah ku.
Hari itu dia sangat cantik. Dengan memakai kebaya bewarna merah menambah pesona kecantikan nya.
Jujur saja aku merasa kagum dan minder dengan kecantikan nya. Siapa lah aku yang hanya gadis desa yang tidak secantik diri nya.
Kemudian pandangan ku beralih dengan sekelompok rombongan yang keluar dari beberapa mobil mewah yang terparkir di jalan halaman rumahku.
Yah itu lah rombongan dari calon suami ku. Mereka datang dengan memakai pakaian seragam bewarna coklat muda.
Dan kini pandanganku teralihkan lagi dengan sosok Insan yang mempunyai paras tampan dengan rahang yang tegas badan yang kekar yang menggunakan pakaian pengantin adat Melayu menambah kegagahan dan ketampanan dirinya bisa dikatakan aku kembali terpesona dengan sosok itu dialah calon suamiku Arga Atmaja Kusuma CEO perusahaan terkenal di kota itu yang bergerak di bidang industri manufaktur.
Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku saat ini. Ketika aku melihat Arga yang begitu gagah dan tampan di hadapanku membuat semua rasa sakit hati dengan perkataannya hilang seketika.
Untuk sesaat aku melupakan perjanjian kami yang hanya berjalan selama 3 bulan di masa pernikahan ini. Yah aku menyadari aku telah jatuh cinta kepada calon Suamiku itu namun apalah dayaku cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.
Calon suamiku mencintai wanita lain yang begitu cantik yang bernama Sandra. Aku hanya bisa menghela nafas berat agar bisa menerima kenyataan yang begitu pahit ini terkadang aku juga berpikir apakah pernikahanku akan berjalan lama atau akan berakhir hanya dalam waktu 3 bulan saja perasaan bimbang dan ragu selalu menghantui diri ini.
"Ya Allah ya Tuhanku jika jodohku panjang bersama dengan Arga, maka kumohon kepadamu Sabarkanlah hati ini Kuatkanlah diri ini untuk menghadapi apapun dan bagaimanapun sikapnya terhadapku. Tapi jika jodohku dan dia tidak bertahan lama maka ikhlaskan lah hati ini untuk menerima semua kenyataan yang pahit yaitu perpisahan" doaku sambil memejamkan mataku.
***
"Iya buk" Jawabku singkat.
Bisa kulihat harga sudah duduk di meja berhadapan dengan penghulu untuk melakukan akad nikah bersamaku.
"Sayang, cantiknya menantu mama" Puji Rina kepadaku Rina memeluk dan mencium keningku dengan penuh kasih sayang selayaknya anaknya sendiri
Lagi-lagi aku diperlakukan sangat hangat oleh bu Rina sehingga membuat hati ini begitu tenang dan yah bisa dikatakan aku bisa melupakan sikap Arga yang begitu dingin dan cuek terhadapku dengan kehangatan yang diberikan oleh bu Rina mamanya Arga.
"Sini sayang duduk di samping Arga kita akan memulai akad nikahnya ya" Ujar Rina menuntun ku untuk duduk di samping nya Arga..
"Baiklah apa semuanya sudah siap?" tanya penghulu itu kepada semua yang hadir di sana.
"Siap" Jawab mereka dengan lantang.
"Baiklah ini yang akan menikahkan saudari Rea adalah Ayah kandungnya sendiri benar?" Tanya penghulu itu kepada ayah ku yang duduk berhadapan dengan Arga.
"Iya benar" Jawab ayah ku dengan mantap.
__ADS_1
"Baik lah untuk kedua mempelai di persilahkan untuk istifar sebanyak tiga kali" Titah penghulu itu
Aku dan Arga pun mengucapkan Istifar. Kemudian kami di minta untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan kami pun melakukan nya.
"Baiklah saya akan bertanya kepada mempelai laki-laki terlebih dahulu Apakah kamu bersedia menjadi suaminya Rea Nuraini dengan ikhlas tanpa ada paksaan apapun?" tanya penghulu itu kepada Arga.
Sedetik, dua detik Arga belum menjawab pertanyaannya dilontarkan oleh penghulu itu.
"Arga jawab apa yang ditanyakan oleh Pak penghulu" Ujar Rina duduk di samping Arga.
"Iya Pak Insha Allah saya bersedia" Jawab Arga tersadar.
"Baiklah selanjutnya saya akan bertanya kepada saudari Rea Nuraini Apakah saudari bersedia menjadi istri dari saudara Arga tanpa ada paksaan apapun jika saudari bersedia silakan saudari menganggukkan kepala" Kata penghulu itu lagi.
Dengan berat hati aku pun mengangguk kepala tanda setuju.
"Alhamdulillah kalau begitu kita akan mulai akad nikahnya ya pak bagaimana para saksi siap?"
Para saksi yang duduk di samping ku dan Arga mengangguk kan kepala mereka.
"Baik lah pak, Bapak ikuti saya ya" Ujar Penghulu itu kepada ayah ku.
"Saudara Arga Atmaja Kusuma aku nikahkan dan aku kawin kan engkau dengan anak kandungku Rea Nuraini dengan emas kawin cincin seberat 10 gram dibayar tunai" ujar Ayahku langsung dengan mantap.
"Aku terima nikahnya dan kawinnya anak kandung Bapak Rnea Nuraini dengan emas kawin cincin seberat 10 gram dibayar tunai" Dengan sekali tarikan nafas harga langsung mengesahkan aku sebagai istrinya di hadapan para saksi dan kedua orang tuaku.
"Sah" Ucap kedua saksi tersebut.
Aku tidak menyangka Arga mampu melaksanakan akad nikah dengan hanya sekali tarikan napasnya saja.
***
"Selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah" Ucap para tamu undangan yang hadir di acara pernikahan kami saat mereka satu persatu bersalaman kepada kami.
Kini kembali pandanganku tertuju kepada gadis cantik yang bernama Sandra Bisa ku lihat mata nya sembab. Yah sembab karena baru saja menangis atas pernikahan ku dan Arga.
Hati ini sungguh merasa bersalah atas semua ini. Aku telah merebut kekasih hati nya. Namun apa lah daya ku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan ku yang memaksa aku harus menikah dengan Arga.
"Selamat ya" Ucap nya saat datang bersalaman dengan kami.
"Terima kasih" Ucap ku.
Saat Arga dan Sandra bersalaman, mereka saling menatap dalam. Hati mereka sama-sama terluka karena pernikahan ini. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk menghentikan tatapan mata mereka pun aku tak sanggup. Meski aku kini telah menikah dengan Arga. Namun aku merasa tidak berhak untuk mencampuri urusan Arga dan Sandra karena ku sadari aku hanyalah orang ketiga.
Sandra memeluk Arga. Ia menangis di pelukan lelaki yang kini telah menjadi suami ku.
__ADS_1
Semua para tamu undangan yang melihat merasa heran karena sikap Sandra barusan. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam tidak bisa mencegah apa yang terjadi. Toh aku juga telah sepakat bahwa pernikahan ini hanya menutup status ku saja Dan akan berakhir selama tiga bulan kedepan.