
"Hei, buka pintu nya" Teriak seorang rentenir bersama kedua anak buah nya menggedor pintu rumah Dimas yang mempunyai hutang kepada rentenir tersebut.
"Buka" Perintah nya lagi terus menggedor pintu.
Dimas membuka pintu rumah nya.
"Eh, bang" Ujar Dimas berusaha bersikap ramah.
"Bang, bang, bang... Mana? Mana uang yang kamu janji kan? Kamu bilang akan membayar nya kemaren. Tapi ini sudah telat tiga hari" Ujar rentenir tadi bernada tidak bersahabat.
"Aduh bang, aku minta maaf bang. Saya belum bisa bertemu dengan bos saya bang. Jika sudah nanti pasti akan saya bayar semua utang-utang saya sama abang" Dimas memberi alasan yang jujur. Karena sampai saat ini Santi belum juga memberinya uang sepersen pun uang kepada nya.
"Alasan lagi, alasan lagi. Harus berapa lama aku menunggu kamu ha? Aku sudah menunggu terlalu lama. Sepersen pun hutang-hutang mu tidak pernah kamu bayar hingga saat ini"
"Bang, saya minta maaf bang. Memang ini lah kenyataan nya bang. Saya belum bisa bertemu dengan bos saya"
Rentenir tadi merasa geram terhadap Dimas, hingga dia melayangkan satu buku tinju ke rahang nya Dimas hingga membuat Dimas tersungkur ke lantai dan di selah bibirnya keluar darah.
Dimas memegang bibir nya yang berdarah tadi.
"Kalian, ambil barang-barang yang berharga di rumah ini" Perintah rentenir tadi kepada kedua anak buah nya.
Tampa di suruh dua kali, anak buah nya tadi yang memiliki badan tegap dan besar masuk ke dalam rumah Dimas untuk mencari barang-barang yang berharga di rumah itu sebagai pelunas sebagian hutang Dimas kepada rentenir tadi.
"Bang, bang jangan bang ini rumah ibu saya bang" Ujar Dimas memohon kepada rentenir tadi. Namun rentenir tadi sama sekali tidak peduli dengan permohonan nya.
"Eh, ini barang-barang yang aku ambil tidak bisa sebagian pun hutang mu kepada ku. Aku akan datang lagi minggu depan. Jika kamu belum juga melunasi hutang-hutang mu, aku tidak segan-segan melenyapkan ibumu atau aku akan membuat adikmu sebagai pelunas hutang. Aku lihat adik kamu ternyata cantik juga" Ujar rentenir tadi tertawa lepas bersama kedua anak buah nya.
"Bang, jangan bang. Adik saya masih sekolah SMA bang. Masa depan nya masih panjang. Tolong jangan ganggu adik dan ibu saya" Ujar Dimas lagi meminta belas kasihan.
"Maka nya bayar hutang-hutang mu" Bentak rentenir itu lagi.
"Iya bang, iya, saya akan mencari uang untuk membayar hutang-hutang saya kepada mu bang"
"Bagus, jangan hanya janji, janji saja. Pokok nya minggu depan uangnya harus ada cara lunas" Ujar rentenir tadi kemudian mereka pun pergi meninggalkan Dimas yang masih melamun memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Santi dan meminta uang kepada nya.
"Kurang ajar kamu Santi, aku seperti ini karena mu. Janji kamu untuk memberikan ku uang tidak kamu tepati. Awas saja kamu. Aku akan mencari mu hingga ke lubang cacing" Ujar Dimas geram menggigit geraham nya.
***
"Hallo Riko" Ujar Santi saat mengetahui siapa yang menelepon nya.
"Hallo San, aku sekarang sudah ada di depan rumah mu"
"Apa?" Santi kaget dan bangkit dari rebahan nya. Sedari tadi gadis itu merebahkan diri di kamar nya.
"Iya, Sekarang aku sudah berada di depan rumah kamu" Ulang Riko lagi.
"Sebentar aku akan keluar" Ujar Santi bergegas keluar rumah nya.
Saat Santi membuka pintu rumah nya, betapa kaget nya ia melihat Riko berdiri di depan pintu dengan sebuah buket bunga berwarna merah di tangannya.
Riko tersenyum melihat Santi di depan nya.
"Riko" Ujar nya merasa terharu.
"Iya San, ini bunga untuk kamu" Riko memberikan buket bunga itu kepada Santi. Santi menyambutnya dengan senang hati.
"Ya ampun Riko. Terima kasih ya kamu capek-capek membawa bunga ini untukku"
"Gak apa-apa. Aku melakukan ini semua untuk membuktikan kepada kamu bahwa aku sudah mulai membuka hatiku untuk bisa menerima kamu sepenuhnya. Aku akan belajar mencintai kamu dan juga menyayangi kamu dengan segenap hatiku" Ujar Riko meyakin kan gadis di hadapan nya itu.
"Ya ampun Riko. Aku sangat tersentuh dengan apa yang kamu lakukan kepada ku saat ini. Aku sangat bahagia melihat kamu seperti ini" Ujar Santi meneteskan air mata bahagia. Baru kali ini dia diperlakukan istimewa oleh Riko.
"Aku juga mau mengajak mu makan malam di luar. Ini semua juga sebagai ungkapan permintaan maaf ku kepada kamu karena membuat kamu kesal tempo hari"
"Oh, oke, sebentar aku ganti baju dulu. Kamu silahkan masuk" Ujar Santi.
***
__ADS_1
"Rea, makasih ya kamu mau mengisi kekosongan ku hari ini" Ujar Arga terus fokus mengemudi.
Namun aku sama sekali tidak menjawab apa yang ia katakan.
"Rea, Rea" Panggil nya. Ia melihat aku yang berada di samping nya.
"Ya ampun, ternyata dia sudah tidur" Ucap nya menggeleng kepala melihat aku yang terlelap tidur karena kecapean seharian kami hanya keliling mall.
Arga menghentikan mobil nya karena sudah tiba di rumah.
Ia menatap wajah lelap ku. Ia tersenyum menatap wajah ku yang sama sekali tidak sadarkan diri.
"Dasar kebo, jika Sudah terlelap pasti tidak akan sadar apapun yang akan terjadi kepada dirinya" Batin Arga.
Arga membelai pipi ku dengan lembut. Menatap ku dengan penuh rasa getaran di hati nya.
"Ternyata kamu manis juga" Ucap nya lagi. Secara spontan ia menyematkan sekecup ciuman hangat di kening ku.
Arga memutuskan untuk menggendong yang sedang tertidur untuk membawaku ke dalam kamar ku.
Arga membaringkan ku dengan perlahan di kasur ku. Suami ku itu duduk di sisi kasur menatap ku yang sudah terlelap.
Kembali ia membelai kepalaku dengan lembut dan menancapkan sebuah ciuman hangat di keningku lagi.
"Selamat malam Rea, mimpi yang indah ya. Hadirkan lah aku di dalam mimpi indah mu" Ujar Arga, kemudian ia keluar dari kamar ku.
***
"Rea, malam ini aku mau kamu ikut dengan ku" Ujar Arga yang tiba-tiba datang ke dalam kamar ku. Saat itu ia baru saja pulang dari kantor nya dan langsung datang ke rumah mama nya.
"Ha? Ikut kemana?" Tanya ku.
"Kamu harus ikut dengan ku pulang ke rumah aku dan Sandra?"
"Ha? Serius kamu mau mengajak ku ke sana? Ngapain?"
"Ya untuk menemani aku lah di sana"
"Kamu tenang aja. hari ini Sandra berangkat ke Jakarta untuk bekerja sama dengan beberapa desainer terkenal di negara ini jadi dalam waktu 2 atau 3 hari dia akan di sana" Jelas Arga.
"Itu sebabnya aku mau mengajak kamu untuk menemani aku di rumah karena aku sendirian di sana tidak ada yang menemani ku. Ya setidaknya kamu bisa menemani aku ngobrol, bisa menemani aku makan, dan bisa membuatkan aku makanan seperti biasanya" Jelas Arga lagi.
"Tapi.... "
"Udah jangan tapi-tapian. Sekarang kamu siap-siap, dan jangan lupa bawa pakaian kamu karena kamu akan nginap di rumah ku" Tegas nya lagi.
"Aku tunggu di bawah, cepat ya siap-siap nya. Aku juga mau meminta izin sama mama dan papa untuk membawa mu" Ujar Arga lagi langsung meninggalkan ku yang masih bingung.
***
"Ma" Panggil Arga kepada mama nya yang sibuk menyiram tanaman nya.
"Eh Ga,"
"Ma, aku mau meminta izin sama mama dan papa untuk membawa Rea ke rumah ku ya"
Deg....
Kaget, tentu saja kaget yang Rina rasakan saat ini. Karena putra nya ingin membawa ku yang selama ini dia tidak pernah menganggap ku sebagai istri nya untuk pulang ke rumah nya dan Sandra.
"Kamu serius? Terus Sandra?" Tanya Rina.
"Sandra tadi pagi sudah berangkat ke Jakarta ma untuk bekerjasama dengan beberapa desainer di sana. Jadi aku tinggal sendirian di rumah karena itu aku ingin mengajak Rea untuk menemaniku di rumah sana. Ya setidaknya dalam waktu dua atau tiga hari" Jelas Arga.
"Oh gitu, Ya sudah nggak apa-apa. Kamu bawa aja Rea ke rumah kamu. Lagian kamu dan Rea kan suami istri. Dia kan istri kamu. Jadi ngapain juga kamu minta izin kepada mama untuk membawanya pergi ke rumahmu"
Arga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena ia pun bingung kenapa dia harus meminta izin kepada mamanya bahwa ingin membawa ku ke rumahnya. Padahal aku ini adalah istrinya yang jelas boleh dibawa ke mana saja yang dia mau.
"Nanti jika aku tidak mengatakannya kepada mama, takutnya nanti mama dan papa bingung mau mencari Rea di mana. Karena itu aku meminta izin kepada mama dan papa agar nanti kalian tidak khawatir tiba-tiba Rea hilang dari rumah ini" Ujar Arga memberi alasan.
__ADS_1
***
"Aku masuk ke rumah Arga bersama Sandra. Ku lihat foto besar yang terpampang di dinding rumah itu. Itu adalah foto pernikahan mereka.
Reflek semua memori menyakitkan saat resepsi pernikahan Sandra dan Arga bermain di benak ku. Rasa perih dan pedih di hati kini ku rasakan saat melihat foto itu Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Karena mereka sudah menikah dan aku lah yang merestui pernikahan ini. Jika di katakan aku munafik. Yah aku memang orang yang munafik karena di depan Sandra dan Arga aku terlihat baik-baik saja. Tapi nyatanya di hati ini telah tergores luka yang tak berdarah dan tak terlihat oleh kasat mata.
Saat itu aku rela menerima pernikahan kalian karena aku juga ingin Arga bahagia bersama wanita yang ia cintai.
"Rea" Tegur Arga menghilangkan lamunan ku.
"Iya" Jawab ku.
"Kamu tidur di kamar ini ya" Ujar Arga memperlihatkan ku sebuah kamar yang tidak jauh dari kamar nya.
Aku mengangguk.
"Kamu sedang mikirin apa sih? Dari tadi aku perhatikan kamu banyak melamun" Tanya Arga kepada ku.
Aku menarik menghembus napas berat ku.
"Aku hanya sedang memikirkan ibu dan ayah di kampung. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Aku kangen sama mereka" Ujar ku mencari alasan. Aku memang merindui kedua orang tua ku. Tapi yang aku pikirkan saat itu bukan tentang kedua orang tua ku melainkan tentang hubungan Arga dan Sandra.
"Oh, begitu, ya sudah nanti kita atur waktu untuk pulang ke kampung halamanmu bertemu dengan kedua orang tuamu. Lagi pun aku belum pernah pergi ke kampung halamanmu dan melihat keadaan kampung kamu itu seperti apa"
"Benar Ga? Kamu mau membawa ku untuk bertemu sama ibu dan ayah?" Tanya ku lagi.
"Iya, aku akan membawamu pulang ke kampung halamanmu bertemu dengan kedua orang tuamu. Lagi pun aku juga mau berkenalan dengan saudara-saudara kamu yang berada di kampung. Aku juga mau merasakan suasana di kampung itu seperti apa. Menantu seperti apa aku jika aku tidak bisa meluangkan waktu untuk melihat keadaan mertuaku di kampung seperti apa? Apakah mereka sehat atau bagaimana?" Ujar Arga lagi.
Sungguh hati ini sangat bahagia melihat Arga yang kini seperti nya sudah mulai menerima kedua orang tua ku sebagai mertua nya.
"Alhamdulillah, ternyata doa ku kepada Allah perlahan sudah mulai di kabulkan. Terima kasih ya Allah" Batin ku. Tak sadar di bibir ku telah terukir senyuman.
"Malah tersenyum sendiri" Tegur Arga membuat pikiran ku buyar seketika.
"Ya sudah, aku lapar tolong buatkan aku masakan seperti biasa ya. Nasi goreng yang pedas dengan telor mata sapi di atas nya. Serta jangan lupa teh hangat manis nya ya" Ujar Arga.
Aku mengangguk mengerti. Tanpa di minta kedua kali, aku pun pergi ke dapur untuk memulai pertempuran memasak nasi goreng yang di pesan oleh Arga barusan.
Arga memperhatikan setiap gerak gerik ku yang sibuk meracik bumbu-bumbu untuk nasi goreng tadi. Terukir senyuman yang manis di bibir suami ku itu. Dia bahagia di layani selayaknya para suami kebanyakan yang selalu di masakin dan di layani oleh istri-istri mereka.
"Tara, sudah jadi. Ayo makan" Ajak ku menyajikan masakan ku tadi di atas meja.
"Wah, seperti nya sangat enak. Aroma nya saja sudah menggugah selera" Puji Arga.
"Bisa aja, sini piring nya aku ambilkan nasi goreng nya ya" Ujar ku.
Ku sajikan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Silahkan di nikmati" Ujar ku lagi.
Kami pun makan bersama seperti layaknya pasangan suami istri lain nya.
***
"Hallo, sayang" Ujar Sandra saat telponan nya di angkat oleh Arga.
"Ya" Jawab Arga dengan nada dingin nya.
"Sedang ngapain? Sudah makan?" Tanya nya dengan perhatian.
"Baru selesai makan malam" Ujar Arga menjawab dengan jujur.
Lama mereka saling terdiam. Mereka bertindak seperti orang asing. Entah lah hal itu mungkin karena Arga masih merasa kecewa kepada Sandra yang terus menerus meninggalkan nya sendirian.
"Kamu gak mau tanya balik gitu kepada ku? Aku sedang apa? Sudah makan apa belom?" Ujar Sandra setelah lama terdiam.
"Oh ya, Kamu sedang apa? Sudah makan apa belum? Ujar Arga mengikuti apa yang di katakan Sandra.
"Sudah kok barusan saja. Tetnyata.... "
__ADS_1
"Oh Sandra, aku sudah ngantuk dan mau tidur. Besok saja ya kita telfon nya lagi. Selamat malam dan semoga sukses ya kerjasama mu" Ujar Arga langsung mematikan ponsel nya.
"Hallo, Arga, Ga" Ujar Sandra merasa ada yang aneh karena Arga bersikap seperti itu. Selama ini Arga tidak pernah bersikap sedingin ini kepada nya.