Cinta Bersalut Noda

Cinta Bersalut Noda
Setuju


__ADS_3

"Kurang ajar kamu San, seperti nya kamu mempermainkan ku. Awas aja kamu ya, kamu akan tahu akibat nya" Ujar Dimas merasa geram saat Santi tidak mengirim uang yang dia minta sampai selarut ini.


"Mana ponsel nya gak aktif lagi. Awas kamu Santi, kamu akan menyesal melakukan ini" Ujar nya lagi menggenggam erat tangan nya dan memukul dinding kamar nya.


Laki-laki bertubuh kurus itu merasa di permainkan oleh Santi yang katanya akan mengirimkan sejumlah uang untuk nya. Namun sudah selarut ini sepersen pun uang belum masuk di banking nya.


***


"San, terima kasih kamu sudah menjadi tempat ku untuk berbagi keluh kesah. Aku sangat berhutang sama kamu" Ujar Riko.


"Iya sama-sama. Lagian itu lh gunanya teman bukan?" Ujar Santi.


"Oh, ya sebelum aku antarin kamu pulang, aku mau kita ke rumah ku dulu. Ibu mau bertemu sama kamu" Ujar Riko.


"Oh, tentu saja boleh" Ujar Santi merasa senang. Yah senang sangat di hatinya ketika Riko ingin memperkenalkan dirinya kepada Ibu nya. Di mana itu pertanda sebagai langkah awal. Mendapatkan restu dari Ibu nya Riko.


Riko hanya tinggal bersama Ibunya. Ayah nya telah lama pergi meninggalkan mereka demi wanita lain. Ibu nya bekerja keras untuk menyekolah kan Riko hingga Riko berhasil menjadi seorang dokter. Mereka bukan lah termasuk orang yang kurang. Ibu Riko mempunyai bisnis kecil-kecilan berupa butik yang ia kelolah sewaktu masih gadis. Butik yang di kelolah oleh ibunya Riko sukses waktu itu. Namun, ketika sudah menikah dengan ayah nya Riko, ibu nya menyerahkan sepenuh nya butik itu kepada ayah nya Riko untuk di kelolah dan ibu nya Riko memutuskan fokus mengurusi suami dan anak nya kelak.


Namun, setelah Riko berusia tahun, Ayah Riko berselingkuh dengan salah satu karyawan butik nya. Gadis cantik pemikat hati ayah nya itu berhasil memujuk ayah nya Riko untuk menguras semua uang butik hingga lima ratus juta. Hingga membuat butik itu bangkrut dan tidak berjaya lagi.


Lama wanita paruh baya itu depresi. Namun, setelah melihat Riko yang masih kecil dan membutuhkan pendidikan serta hidup yang lebih layak, akhirnya ia bangkit dari keterpurukan itu. Ia memulai lagi usaha nya dari nol dengan memberanikan diri memijam uang di bank.


Jatuh bangun dalam usaha udah biasa bagi nya. Namun dia tidak pernah berputus asa karena ia yakin usaha yang ia lakukan tidak akan menghianati hasil. Ia yakin Allah tidaj tidur dan pasti memberikan jalan terbaik untuk keluarga nya.


Dan ternyata harapan dan usaha nya tidak sia-sia. Kini ia telah berhasil menjadi wanita karir yang sukses dan juga telah berhasil membuat anak satu-satunya menjadi seorang dokter.


***


"Assalamuakaikum buk" Ujar Riko ketika sudah sampai di rumah nya.


"Waalaikumsalam" Jawab Ibu nya Riko yang bernama Maya.


"Eh, Riko, sudah pulang. Ini siapa?" Tanya Maya.


"Santi bu, teman nya Riko"


"Teman apa demen" Goda Maya.


"Teman kok bu" Jawab nya lagi.


"Oh ya, kalian sudah makan? Kebetulan ibu baru aja selesai masak ayo kita makan sama-sama" Ajak Maya.


"Kami sudah makan kok tadi bu" Tolak Riko.


"Lo, kok gitu ibu capek-capek masak untuk anak ibu. Kok gak di hargai" Ujar Maya cemberut.


"Iya, iya bu jangan sedih ya. Kami akan maka masakan ibu" Riko mengalah.


Laki-laki berkacamata itu paling tidak bisa melihat ibunya merasa sedih. Apalagi sampai mengeluarkan air mata karena dia sangat mencintai dan menyayangi ibunya. Apapun yang diminta oleh ibunya pasti akan ia turuti karena ia telah bertekad dari kecil ketika ditinggal oleh ayahnya ia akan selalu ada di samping ibunya dan selalu memberikan perlindungan untuk ibunya agar tidak ada lagi yang bisa menyakiti ibunya lagi.


Tekad itu ketika Riko melihat ayahnya membawa koper besar berisi baju-bajunya untuk meninggalkan mereka demi wanita itu. Dan ketika itu juga ibunya Riko mengemis-ngemis kepada ayahnya agar tidak pergi meninggalkan mereka namun dengan sangat kasar ayah Riko menolong ibunya hingga terjatuh ke lantai. Ibu Riko sangat sedih dan terpukul saat itu. Dari itulah Riko bertekad tidak ada yang boleh menyakiti hati ibunya termasuk dirinya sendiri dan ia juga berjanji apapun yang ibunya inginkan darinya ia akan berusaha untuk memenuhinya.


Riko dan Santi duduk bersebelahan di meja makan.


"Wah Ko, kalian cocok sekali deh jadi pasangan" Ujar Maya lagi.


Yah selama ini Riko memang tidak pernah membawa seorang pun wanita berkenalan dengan ibu nya. Dulu sewaktu aku belum menikah dengan Arga, Riko memang sering ingin memperkenal kan aku dengan ibu nya. Namun aku terus saja menolak nya. Karena aku merasa tidak enak hati sama Santi yang sangat mengharapkan Riko.


"Ibu...." Tegur Riko kepada ibunya.


"Oke, oke Ibu nggak akan menggodamu lagi. Tapi Ko kalau ibu meminta kamu untuk menikah sama Santi bagaimana? Kamu kan pernah cerita sama ibu kalau Santi yang kemarin telah menolong kamu saat kamu mabuk. Jadi apa salahnya kalian menikah jika kalian sudah saling kenal dan kamu juga pernah bilang kan sama ibu kalau kalian itu kenal lebih dari 5 tahun. Jadi apa salahnya hubungan ini lebih di perjelaskan lagi" Saran dari Maya.


"Apa? Riko menceritakan aku bersama ibunya.? Itu artinya sekarang Riko sudah mulai membuka hati untuk aku dong. Ini benar-benar berita yang sangat menggembirakan bagiku" Batin Santi.


"Dan sekarang sepertinya Ibu Riko sangat setuju aku bersama anaknya. Aku harus bisa mengambil hati calon mertuaku agar aku dapat restu untuk bersama Riko hingga akhir hayat nanti. Akhirnya apa yang aku harapkan satu persatu telah terpenuhi. Yang pertama aku mendapatkan jabatan yang memang seharusnya menjadi milikku bukan malah milik Rea dan sekarang aku telah mendapatkan laki-laki yang aku cintai yaitu Riko ternyata usahaku selama ini tidak sia-sia" Batin nya lagi.


"Ayo nak Santi silahkan di cicipi masakan ibu. Kamu sering-sering ya main di sini" Pinta Maya.


"Ha?" Santi kaget. Ia seakan tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.


"Iya, ibu bilang kamu sering-sering main ke rumah ini" Ulang Riko.


"Emang nggak apa-apa ya?" Ujar Santi berlagak sok keberatan.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa lah. Malahan ibu senang kamu sering-sering ke sini.. Jadi ibu ada teman nya. Apa lagi jika sudah malam begini. Riko terkadang gak ada di rumah ia selalu sibuk ngurusin pasien-pasien nya. Jadi ibu selalu merasa kesepian. Jika ada kamu, ibu jadi nya ada temen nya deh" Jelas Maya.


Santi tersenyum senang mendengar penjelasan dari Maya. Ini merupakan kesempatan yang besar bagi nya untuk memikat hati calon mertua nya.


"Iya tante, nanti saya usaha kan untuk sering main-main di sini" Ujar Santi.


"Jangan panggil tante dong. Panggil saja ibu. Kamu kan bakal. Menjadi calon menantu ku" Ujar Maya lagi.


"Ibu.." Tegur Riko lagi.


"Lo kenapa Riko? Kamu tuh harus ingat sama usia kamu lho nak, kamu sudah waktunya untuk mencari pasangan hidup, kamu sudah waktunya menikah loh. Coba kamu lihat temen-temen kamu mereka sudah menikah bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Dan kamu masih setia dengan jomblo kamu? Lebih baik sekarang kamu coba untuk membuka hati untuk menjalani hubungan yang lebih serius kepada Santi. Kalian kan sudah sekali kenal jadi apa salahnya kalian itu membuat ikatan pernikahan. Iya kan San? UJar Maya lagi.


Santi hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan Maya. Sejujur nya dia sangat bahagia atas masukan yang di berikan oleh Maya kepadanya karena itu adalah harapannya selama ini.


"San, kenapa kamu hanya tersenyum begitu. Jawab do pertanyaan ibu" Ujar Maya.


"Ha iya buk" Jawab Santi seadanya.


"Nah Santi aja setuju Ko"


"Ibu, Santi itu sudah mempunyai kekasih. Gak mungkin lah aku mau merebut nya dari pacarnya" Ujar Riko lagi.


"Ha, benar San kamu sudah mempunyai kekasih?" Tanya Maya kaget.


"Enggak kok buk, aku masih sendiri" Ujar Santi menjawab dengan cepat.


"Nah, masih sendiri dia Ko. Udah kamu jangan terlalu memilih untuk mencari pasangan. Nanti kamu mencari yang lebih baik malah kamu akan kehilangan yang terbaik" Ujar Maya lagi.


Riko dan Santi hanya terdiam mendengar ocehan dari Maya.


***


"Wah Arga, seperti ini ya Menara Eiffel yang terkenal itu? Waw... " Ujar ku kagum dengan keindahan menara yang terkenal di negara itu.


"Arga, tolong fotoin aku ya di sini. Kenang-kenangan saat berada di Paris" Ujar ku mengeluarkan ponsel ku agar Arga bisa memotretku.


Arga mengambil ponsel ku. Dan memoteretku. Aku bergaya seadanya. Sejujurnya aku bukan lah foto model pandai bergaya saat di foto.


"Jelek hasil foto mu. Entah ponsel mu yang murahan, atau memang orang nya yang jelek"


"Jika gak mau fotoin aku bisa foto sendiri" Kata ku dengan jutek nya dan mulai berselfie ria.


"Sini, aku fotoin jamu menggunakan ponsel ku" Ujar Arga mulai memotret ku menggunakan ponsel nya.


"Nah tu lihat, meski pun modal nya gadis kampung yang jelek seperti kamu plus tidur nya seperti kebo. Kamu tetap terlihat bagus kan hasilnya. Lihat dulu dong ponsel nya seperti apa" Ujar Arga merasa bangga dengan ponsel mahal nya.


"Iya, iya.... " Ujar ku dengan ketus nya.


"Udah, sekarang giliran aku dong di potrek" Ujar Arga.


"Oke, oke" Ujar ku mulai memotret Arga.


"Sekarang kita berdua. Ayo senyum.... " Ujar Arga. Aku pun bergaya seperti bersandar di bahu nya Arga. Padahal aku tidak bermaksud untuk menyender di bahu nya. Karena takut tidak kelihatan di ponselnya Arga makanya aku mendekatkan diri kepada Arga agar hasilnya lebih terlihat jelas.


"Ye....Nyender lagi sengaja ya mau deket-deket sama orang yang ganteng ini?" Canda Arga.


"Enggak kok. aku deket sama kamu kan karena aku mau terlihat lebih jelas di fotonya kamu mana sih?" Cerutu ku.


"Bilang aja kamu mau cari kesempatan dan kesempitan kan untuk nyindir di bahu aku"


"Kepedean banget" Ujar ku pelan.


"Apa"


"Kamu kepedean" Ulang ku lagi.


"Pakai acara nggak ngaku segala lagi. Ngaku aja kenapa sih. Lagian aku nggak marah kok jika kamu jujur"


Aku mengangkat bibir kiri ku. Merasa muak dengan celoteh nya Arga yang sangat kepedean itu.


"Ya sudah, hari ini aku gak marah kamu mencari kesempatan dalam kesempitan. Anggap saja hari ini hari keberuntungan kamu karena aku kemarin malam sudah mengabaikan kamu sampai kamu kelaparan seperti itu. Jadi aku maafin kamu untuk kali ini ya" Ujar Arga berjalan mendahului ku.


"Pengen muntah aku rasanya, dasar bunglon" Ucap ku pelan.

__ADS_1


"Apa?"


"Enggak, bukan apa-apa" Jawab ku.


Ternyata dari tadi ada yang memperhatikan tingkah laku kami berdua.


Hingga orang tadi merasa panas di hati dan pergi menemui kami.


"Arga" Tegur nya.


Kami sama-sama menoleh untuk melihat siapa yang menegur Arga barusan.


"Sandra" Ucap Arga setelah mengetahui siapa yang menegur nya.


Aku menunduk terdiam melihat siapa yang menegur kami barusan.


"Jadi di belakang aku kamu enak-enakan jalan sama gadis ini? Kamu bilang, kamu ke sini untuk menemui aku dan menemani aku mengejar karir ku di sini. Tapi kenapa di saat aku sedang sibuk kamu malah enak-enakan berduaan dan jalan-jalan bersama gadis ini? Aku benar-benar nggak nyangka kamu bisa ngelakuin hal ini sama aku" Ujar Sandra berlalu meninggal kan kami.


Arga hanya terdiam di tempat nya.


"Arga" Tegur ku.


"Kenapa kamu tidak mengejarnya dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya" Saran ku.


"Untuk apa? Percuma saja aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi sama Sandra. Jika dia sudah marah seperti ini dia akan sulit untuk mendengar penjelasan apapun dariku. Jadi biarkan saja dia sendiri dahulu sampai hati dan pikirannya tenang baru aku bisa menjelaskan semuanya dan dia bisa menerima itu" Ujar Arga.


Tak lama kemudian, Sandra kembali datang ke tempat kami.


"Arga aku setuju untuk menikah sama kamu" Ujar Sandra kemudian dia pun pergi lagi.


"Apa yang barusan dia katakan? Apa aku gak salah dengar?"


Aku menggelengkan kepala ku.


"Dia bilang, dia setuju untuk menikah sama kamu" Ulang ku.


"Jadi, dia setuju untuk menikah denganku?" Ujar Arga.


Kembali aku hanya mengangguk.


"Jadi, sekarang aku harus mengejarnya?"


"Hmm.... " Untuk yang kesekian kalinya aku mengangguk.


"Pergilah sebelum dia jauh" Ucap ku lagi.


Arga meninggalkan aku di sana sendirian dan mengejar Sandra.


Aku hanya menarik napas berat ku untuk menghilangkan semua kegundahan di dada.


***


"Sandra, San, tunggu dong" Ujar Arga menarik lengan kekasihnya.


"Kamu beneran mau menikah sama aku?" Tanya Arga memastikan.


"Iya" Jawab Sandra singkat.


"Aku akan menikah sama kamu. Aku akan masuk ke agama mu agar kedua orang tua mu bisa menyetujui hubungan kita" Jelas Sandra.


"Tapi ingat, Aku tidak mau berbagi kasih bersama Real kamu sedang janji sama aku kamu akan berpisah sama rea ketika masanya sudah tiba" Ucap gadis cantik itu.


"Iya aku akan berpisah sama Rea ketika waktunya sudah tiba jadi selama 3 bulan"


"Oke, aku akan setuju dan aku harap juga sama kamu tolong rahasiakan hubungan kamu bersama Rea aku nggak mau sampai temen-temen aku tahu bahwa aku menjadi yang kedua. Dan aku juga tidak mau keluarga aku tahu terutama kedua orang tuaku aku menikah sama suami orang" Jelas Sandra.


"Kamu hanya milik aku! Meskipun sekarang kamu itu juga suaminya Rea. Tapi aku mau Rea itu tidak wujud di hadapanmu. Aku mau kamu hanya terus menghabiskan waktu bersama aku bukan bersama gadis itu" Jelas Sandra lagi.


"Oke, bagi ku permintaan mu itu gampang untuk aku penuhi. Lagi pun, aku memang selalu menjadi milik mu. Aku dan Rea hanyalah status saja bukan sebagai suami istri sebenarnya" Kata Arga menyanggupi.


"Oke" Ujar Sandra meninggalkan Arga.


"San, kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Aku harus bertemu dengan klien ku. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya. karena kamu telah berjanji akan menikahi ku setelah aku pulang dari negara ini. Jadi aku harus secepatnya selesaikan semua pekerjaan ku di sini. Agar semua impian kita terpenuhi" Jelas Sandra.


"Ya sudah kamu hati-hati ya" Ujar Arga.


__ADS_2