
"Sandra, kamu... " Ujar Evi melihat bos nya itu datang ke rumah nya.
Tampa berkata apa pun Sandra masuk ke rumah sekretaris sekaligus sahabat nya itu.
Bisa Evi lihat wajah Sandra memancarkan aura permasalahan nya.
Sandra duduk di sofa yang ada di ruang tamu Evi.
"Kamu kenapa San? Apa yang benar nya terjadi?" Tanya Evi duduk di hadapan sahabatnya itu.
"Saat ini aku ingin menenangkan diri ku. Aku nginap di rumah kamu ya" Pinta Sandra kepada Evi.
"Iya, boleh boleh aja kamu nginap di sini. Hanya saja apa kamu sudah mengabari suami mu?"
"Saat ini aku gak mau bertemu dengan nya. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri ku. Setelah aku merasa tenang, baru aku siap untuk bertemu dengan nya kembali" Ujar Sandra.
"Emang nya ada masalah apa sih antara kamu dan Arga? Kemaren Arga juga datang ke kantor untuk mencari mu" Tanya Evi bingung.
"San, apa pun masalah kamu dan Arga, lebih baik kamu temui dia dan bicarakan baik-baik tentang masalah kalian. Jangan kamu kabur seperti ini dong" Ujar Evi menasehati.
"Gak, aku belum siap untuk bertemu dengan nya"
Evi terdiam. Jujur saja gadis yang memiliki rambut ikal itu merasa bingung dengan sikap sahabat nya itu. Ia pun tidak tahu harus berkata apa. Secara ia tidak tahu permasalahan antara Sandra dan Arga itu apa.
"Oke, jika kamu tidak mau menemui Arga, setidak nya kamu coba bercerita kepada ku. Apa sebenarnya yang terjadi?"
Sandra terdiam. Wanita itu tampak berpikir untuk menceritakan masalah nya kepada Evi. Entah ia harus memulai dari mana menceritakan hal itu kepada sahabatnya itu.
Sandra menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Oke, aku gak tahu harus menceritakan masalah ku dari mana. Tapi yang jelas aku sangat kecewa kepada Arga. Dia telah menghianati ku" Ujar Sandra.
Sandra masih enggan mengatakan bahwa Arga sudah menikah lagi dengan ku sebelum mereka berdua menikah. Tidak ada yang tahu atas pernikahan ku dan Arga waktu itu. Karena kami bertiga telah bersepakat untuk merahasiakan semua nya. Hanya pernikahan Arga dan Sandra lah yang berhak di publikasi kan.
Evi kaget. Mata gadis berambut ikal itu membulat. Ia menutup mulut nya karena terbuka lebar mendengar apa yang di ceritakan oleh Sandra kepada nya.
"Kamu serius San?" Tanya Evi masih ragu.
"Iya, aku serius. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri dia sendang berpelukan bersama wanita itu"
"Tuh kan San, aku bilang juga apa. kamu sih yang nggak mau mendengar nasehat dariku dan akhirnya seperti ini kan jadinya?"
"Kok kamu menyalahkan aku sih?"
"Iya kamu terlalu sibuk dengan urusan kerja mu. Kamu terlalu sibuk dengan karir mu. Jadi nya Arga mencari wanita lain"
"Gak, kamu jangan menyalahkan ku seperti itu dong Vi. Sebelum menikah dengan Arga, aku sudah mengatakan bahwa aku akan terus mengejar karir ku sampai impian ku tercapai. Dan dia setuju akan hal itu. Karena itu lah aku setuju untuk menikah dengan nya" Ujar Sandra.
"Lagian selama ini kami juga pacaran nya LDRan. Hampir lima tahun kami LDRan namun dia masih bisa menahan diri untuk tidak terpikat kepada wanita lain. Tapi kenapa sekarang dia seperti ini?" Tambah Sandra lagi.
"Gini aja deh, lebih baik kalian bicarakan dulu masalah kalian. Siapa tahu kamu hanya salah paham. Dia tidak bermaksud untuk menghianati mu"
"Gak mungkin aku salah paham. Aku kenal persis mereka. Dan semua ini tidak perlu di jelaskan lagi. Karena semua nya sudah jelas. Dan hanya ada satu cara untuk menyelesaikan semua ini" Ujar Sandra menatap lurus ke depan.
"Apa?" Tanya Evi.
"Perceraian"
"Astaga Sandra, kamu gila ya. Semudah itu kamu mau bercerai dengan Arga setelah pengorbanan kamu kepada nya?"
"Habis nya harus bagaimana? Aku bertahan dengan semua ini? Dengan penghianatan Arga lakukan kepada ku?"
Evi tidak bisa menjawab. Gadis itu tampak berpikir dengan masalah yang menimpa bos nya itu.
"Aku gak tahu harus berbuat apa dan bilang apa sama kamu. Aku jadi bingung dengan semua ini" Ujar Evi.
"Oh ya, siapa sih wanita yang telah berhasil merebut hari Arga? Apa dia lebih cantik dari kamu? Karir nya bagus"
Sandra menggeleng kepala nya.
__ADS_1
"Jadi dia gak secantik kamu? Dan karir nya juga gak sehebat kamu" Ulang Evi.
Sandra menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Dia adalah Rea, istri pertama nya Arga"
Lagi-lagi mulut Evi terbuka lebar mendengar ucapan Sandra.
"Kamu bilang apa? Arga pernah menikah sebelum sama kamu? Dan kamu mau menjadi istri kedua nya? Kamu mau di madu?" Evi seakan tidak percaya dengan kenyataan yang Sandra berikan.
Sandra memijit kepala nya yang terasa pusing.
"Aku juga gak tahu, kenapa aku mau menjadi madu nya. Kenapa. waktu itu aku setuju untuk menikah dengan Arga"
"Waktu itu, entah bagaimana kejadian nya, Arga masuk ke dalam kamar yang salah. Kamar dimana Rea ada di sana. Dia pikir itu adalah gadis yang ia pesan dari mucikari itu. Tapi ternyata salah. Sehingga terjadilah hal itu. Dan mereka tertangkap dan terpaksa menikah" Jelas Sandra lagi.
"Terus?"
"Setelah Arga menikah dengan Rea, dia meminta ku untuk menikah dengan nya. Awal nya aku menolak. Tapi Rea datang menemui ku dan mengatakan agar aku bisa menikah dengan Arga. Dia janji tidak akan ada apa pun di antara mereka. Mereka menikah hanya di atas kertas saja. Dan menunggu waktu tiga bulan usia pernikahan itu kemudian berpisah"
"Tapi sampai sekarang Arga belum menceraikan wanita itu?"
"Iya, hingga saat ini mereka masih resmi menjadi suami istri. Dan aku tidak tahu awal nya kenapa Arga belum bisa melepaskan Rea. Tapi sekarang, aku sudah paham. Bahwa mereka berdua ada perasaan"
"Kamu tahu bagaimana perasaan ku setelah mengetahui semua itu? Hancur... Sakit hati ini, sangat-sangat sakit. Padahal mereka sudah berjanji tidak akan ada perasaan di antara mereka, dan tidak akan terjadi apa pun di antara mereka. Tapi lihat lah apa yang terjadi. Mereka menusuk ku dari belakang" Ujar Sandra meneteskan air mata.
Hati wanita itu sangat hancur mengetahui semua ini.
"Aku gak menyangka jika mereka berdua sama-sama penipu" Ujar Sandra penuh dengan rasa kecewa.
"Mustahil lah San jika mereka tidak akan mempunyai perasaan. Lagian mereka sudah mejadi suami istri. Dan aku rasa kamu memang salah juga dalam hal ini" Ujar Sandra.
"Maksud kamu?"
"Karena kesibukan mu, karena meniti karir mu, karen mengejar impian mu membuat mereka semakin dekat. Kamu yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk semakin dekat" Jelas Evi lagi.
Sandra hanya diam tidak menjawab. Wanita itu tampak. memikirkan apa yang di bilang oleh Evi tadi.
"Gak, tidak ada yang tahu tentang semua ini. Hanya kamu orang pertama yang tahu tentang masalah ini" Jelas Sandra.
Lama Evi melamun memikirkan masalah sahabat nya itu.
"Begini saja, lebih baik kamu bertemu dengan Arga. Berbicara dari hati ke hati. Selesaikan masalah kalian dengan baik-baik" Saran Evi.
"Sejujurnya aku belum siap untuk bertemu dengan Arga. Aku masih merasakan kecewa di hati ini. Setiap wanita pasti juga merasakan hal yang sama mereka tidak ingin dimadu. Begitu juga dengan aku. Aku nggak bisa bertemu dengan Arga apalagi bertemu dengan Rea aku masih belum siap" Jelas Sandra.
"Terus apa yang akan kamu lakukan?"
Sandra berdiri dari duduk nya. Berjalan beberapa langkah membelakangi Evi.
"Aku juga gak tahu harus berbuat apa" Ujar Sandra berbalik menatap sahabat nya itu.
"Sejujurnya aku ingin bercerai dari Arga. Tapi hingga saat ini, aku masih cinta dan sayang sama dia" Jelas Sandra frustasi.
"Terus jika aku meminta Arga untuk menceraikan Rea, Aku tidak yakin dia akan bisa melakukan itu. Terus apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku butuh masukan dari kamu. Tolong kasih aku masukan apa yang harus aku lakukan" Tambah nya lagi kembali duduk di hadapan Evi.
"Aduh, besar juga masalah kamu ya San. Aku juga bingung harus bagaimana" Ujar Evi merasa bingung.
"Oh ya, jika masalah kamu sudah seperti ini, apa mungkin kita akan melanjutkan kerjasama dengan beberapa desainer di Jakarta kembali. Secara acara itu hanya dua minggu lagi" Tanya Evi.
Memang Sandra akan kembali terbang ke Jakarta untuk menyelesaikan kerjasama nya di sana. Karena kemaren acara nya sukses, sehingga mereka akan kembali mengadakan fashion show dengan mengundang beberapa artis ternama untuk mempromosikan baju rancangan-racangan mereka.
"Jelas aku akan tetap pergi ke sana"
"Ya ampun Sandra. Kali ini kamu pergi nya lama lo. Bisa sebulan pergi nya. Dan pasti nantinya akan membuat Arga dan istri pertama nya semakin rapat"
"Coba lah pikirkan lagi San, jangan hanya kamu terlalu sibuk mengejar karir Dan cita-citamu itu, kelak kamu akan menyesal nantinya" Jelas Evi.
"Ini adalah kesempatan emas bagi ku. Rugi jika aku tidak mengambil nya. Ini adalah impian ku dari dulu"
__ADS_1
"Terserah kamu saja lah San, yang jelas aku tidak mau kamu menyesal nanti nya. Oleh karena itu aku menasehati mu" Ujar Evi lagi.
Sandra hanya diam memijit kepala nya yang terasa pusing.
***
"Hallo San" Ujar Dimas saat mereka bertemu di sebuah supermarket.
"Dimas, ngapain kamu di sini?" Tanya Santi kaget melihat keberadaan laki-laki itu.
"Santai dong San, kenapa panik begitu?"
"Ngapain kamu menemui ku lagi? Bukan kah urusan kita sudah selesai?"
"Selesai? Belum dong San"
"Apa maksud kamu? Aku sudah memberikan uang yang kamu minta. Jadi aku tidak ada urusan nya lagi sama kamu" Ujar Santi kelihatan emosi.
"Iya, kemaren kamu memang sudah memberikan ku uang, tapi uang yang kamu beri ke aku itu hanya membayar DP nya saja. Sisa nya belum kamu bayar"
"Eh, kamu lupa ya, kamu tidak mengerjakan tugas ku dengan benar. Kamu tidak melakukan apa pun Jadi untuk apa aku membayar mu seperti apa yang kita sepakati? Kamu itu harusnya bersyukur karena aku sudah mau membayar mu walaupun hanya Dp nya saja" Ujar Santi emosi.
"Lo kok emosi sih San? Tenang. Aku tidak meminta banyak kok dari kamu. Aku hanya meminta yah separuh nya saja"
"Gak, aku gak mau memberikan kamu uang sepersen pun Pekerjaan mu sama sekali tidak becus" Santi bermaksud ingin meninggalkan Dimas yang berdiri di hadapannya itu.
"Eits... Mau kemana kamu. Urusan kita belum selesai" Ujar Dimas menarik lengan Santi agar tidak kabur dari nya.
"Apa lagi. Eh, aku bisa saja melaporkan mu ke polisi ya karena kamu sudah memeras ku seperti ini" Ancam Santi.
"Oh, kamu mau melaporkan ku? Silahkan saja. Aku tidak takut. Tapi jika aku masuk ke penjara, aku akan pastikan kamu juga akan merasakan nya. Terlebih lagi, Riko akan mengetahui bahwa kamu telah menjebak Rea selama ini. Dan aku pastikan Riko akan membenci mu" Dimas kembali mengancam.
"Kamu masih ingatkan jika rekaman tentang percakapan kita di ponsel ku? Mau aku putar kembali agar kamu tidak hilang ingatan" Tambah nya lagi.
Dimas mengambil ponsel nya. Ia memutar percakapan antara diri nya dan Santi waktu itu.
"Rea sekarang sudah berada di kamar yang ku pesan. Kamu hanya perlu berpura-pura tidur di samping nya dan aku akan mengambil gambar kalian seolah-oleh kalian sudah melakukan hal yang memalukan itu" Ujar Santi yang ada di rekaman nya ponsel Dimas.
"Terus bagaimana jika dia marah?" Jawab Dimas.
"Kamu tenang aja, tadi di restoran aku sudah memasukan serbuk kedalam minuman nya. Dan aku yakin dia pasti dalam keadaan setengah sadar waktu ini. Jadi kamu bisa berpose seperti apa yang kita rencana kan. Kemudian hasil foto itu akan ku serahkan kepada Riko. Riko pasti akan benci kepada Rea dan menjadi milik ku" Ujar Santi lagi di dalam rekaman itu.
"Kamu dengar kan? Bagaimana reaksi nya Riko dan Rea saat mengetahui rencana mu seperti ini?" Ujar Dimas mematikan rekaman di ponsel nya.
"Kurang ajar si Dimas. Berani-berani nya dia mengancam ku seperti ini" Batin Santi mulai ketakutan.
"Sini ponsel mu, sini" Santi berteriak mencoba merampas ponsel nya Dimas.
"Kamu mau apa? Mau kamu hancurkan? Silahkan saja, rekaman ini sudah ku foto kopi kan Dan jika ponsel ku ini rusak, aku masih ada bukti lain nya" Dimas tersenyum senang.
"Kurang ajar Dimas dia sudah memeras ku seperti ini" Batin Santi lagi.
"Bagaimana? Apa kamu masih gak mau memberikan ku uang? Mau rahasia busuk mu itu akan terbongkar ke semua orang?"
"Oke, oke aku akan mengirimkan mu uang. Tapi aku minta ini lah kali terakhir kamu memeras ku seperti ini" Pinta Santi.
"Aku gak janji ya. Karena rekaman ini sangat mahal harganya"
"Maksud kamu? Kamu akan memeras ku lagi?"
"Aku tidak memeras mu Santi. Aku hanya meminta bayaran atas rahasia yang ku simpan ini. Sekarang transfer uangnya! Lalu aku akan pergi atau nggak aku akan memutarkan rekaman ini di supermarket ini agar orang-orang di sini tahu kelakuan busuk kamu seperti apa" Ancam Dimas lagi.
"Oke, Oke" Akhir nya Santi mengalah. Santi pun mengirim sejumlah uang ke dalam rekening nya Dimas.
"ini, puasa?" Ujar Santi memperlihatkan bukti transaksi nya berhasil.
"Oke, terima kasih cantik. Senang bekerja sama dengan mu" Ujar Dimas mencolek dagu nya Santi.
Santi kelihatan kesal atas perbuatan Dimas barusan kepadanya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Dimas. Aku tidak akan tinggal diam. Awas saja kamu. Kamu akan mendapat balasannya nanti. Aku akan mencari cara untuk bisa terlepas dari Dimas" Ujar Santi menggenggam erat jarinya karena merasa kesal kepada Dimas yang telah mengancamnya.