
Aku duduk termenung jauh menatap deburan ombak yang bernyanyi riang di pantai itu. Aku duduk di atas bebatuan tempat dimana aku selalu duduk di sana dan merenungi nasib ku ini.
"Buk Rea" Tegur seseorang mengagetkan ku.
"Eh, kamu" Ujar ku melihat pelayan yang bekerja di cafe tempat ku bekerja. Yah pelayan yang berjenis kelamin perempuan yang selalu bertengkar dengan Arga. Nama nya Fiza.
"Melamun terus sih buk" Ujar nya lagi.
"Apa saya menganggu?"
"Gak kok" Jawab ku singkat.
"Boleh saya duduk sini" Ujar nya.
"Oh, boleh dong. Duduk saja" Ujar ku.
"Buk, tahu gak sih, hari ini aku kesel banget sama itu laki-laki yang kemaren yang mau bertemu dengan ibu. Hari ini dia datang lagi ke cafe dan terus saja nekat mau ketemu dengan ibu. Saya bilang gak bisa eh dia mala ngeyel buk" Ujar Fiza bercerita panjang lebar tentang Arga.
Aju tersenyum mendengar omelan dari pelayan itu.
"Gak apa-apa kok Fiza. Anggap saja ini adalah cobaan di dalam pekerjaan mu. Jika kamu berhasil mengahadapi nya, itu berarti kamu bisa menghadapi pekerjaan mu dengan baik" Ucap ku mencoba menyemangati Fiza.
"Buk, omongan ibu ini sama seperti apa yang di ucapakan oleh lelaki tadi lo buk"
Aku hanya bisa tersenyum menjawab ucapan Fiza.
"Saya mau tanya boleh?"
"Apa? Tanya saja"
"Apa buk Rea kenal dengan nya?"
Deg...
Jantung ku kembali bergemuruh. Apa yang harus katakan kepada Fiza. Apa harus aku menjawab nya dengan jujur bahwa dia adalah suami ku? Atau aku berbohong saja. Sejujurnya aku belum bisa menerima nya kembali. Entah lah hati ini semakin terbagi harus berkata apa.
Aku hanya memilih untuk diam tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Fiza tadi.
***
"Hallo" Ujar Putra saat ponsel nya berdering.
"Hallo Put" Ujar Arga.
"Ada apa? Bagaimana keadaan mu di sana? Berhasil mendekati istri mu kembali?" Tanya Putra.
"Belum, Aku sudah berusaha untuk membujuk nya. Tapi dia bertingkah acuh tak acuh dengan ku"
"Hahaha.... Rasakan, emang nya enak. Ini balasan untuk mu. Apa kamu lupa bagaimana kamu melayani nya dulu" Ujar Putra terdengar mengejek.
"Kamu ini bukan nya memberi dukungan malah mengejek ku seperti itu"
"Bukan begitu Ga. Hanya saja ini adalah ujian untuk mu. Mungkin saja dia sedang menguji mu. Dia ingin melihat seberapa jauh usaha mu untuk mendapatkan nya kembali" Saran Putra.
"Iya mungkin saja seperti itu. Tapi dulu dia tidak seperti ini kepada ku. Sekarang dia sudah berubah Put" Ujar Arga dengan nada sedih nya.
Putra menarik napas nya dalam-dalam dan di hembuskan nya kuat-kuat.
"Begini saja Ga. Kamu harus terus berusaha untuk membuat nya kembali. Hal seperti ini membuat nya membutuhkan waktu. Tidak mungkin dia bisa terima kamu dengan bulat-bulat seperti dulu. Kamu harus menurun kan sedikit ego mu. Jika perlu kamu buang saja ego mu itu biarkan dia hanyut sampai ke samudra atlantik sana" Saran Putra.
"Oke, aku akan coba saran dari mu" Jawab Arga dengan mantap dan penuh keyakinan di hati nya.
"Ya sudah, nanti kita telfonan lgi. Ada perkerjaan yang harus aku selesai kan" Ujar Putra.
"Oke, selamat bekerja"
"Ya terima kasih, dan semangat untuk mendapatkan istri mu kembali" Putra menutup ponsel nya.
Arga duduk di teras rumah Bayu sepupunya.
"Kamu telfon sama siapa Ga?" Tanya Bayu yang tiba-tiba muncul dari pintu rumah.
"Eh, kak Bayu. Baru selesai telfonan sama Putra kak" Jawan Arga.
Bayu duduk di samping adik sepupunya itu.
"Ga, Aku rasa, kamu lebih baik tinggal saja di rumah kakak ini. Dari pada tinggal di hotel sana.
"Gak perlu lah kak. Terima kasih, Kak apa Rea sering datang ke sini?"
"Rea memang sering datang ke sini. Dia selalu mengajak Pasha jalan-jalan. Aku lihat Rea dan Pasha sangat dekat" Ujar Bayu.
Arga hanya melamun mendengar cerita sang kakak sepupu.
"Ga, aku mau tanya sama kamu"
__ADS_1
"Apa kak?"
"Emang nya ada masalah apa antara kamu dan Rea. Kamu dan Rea sudah lama menikah?" Tanya Bayu lagi.
Arga menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat seakan-akan ingin menghilangkan beban pikirannya saat ini.
"Panjang cerita nya kak. Aku juga bingung mau menceritakannya sama kakak dimulai dari mana" Ujar Arga.
"Saat ini aku memang bersalah sama dia kak. Dan kami menikah sudah hampir setahun" Jawab Arga.
"Hampir setahun? Arti nya saat kamu menikah dengan Sandra, Rea sudah menjadi istri mu?"
Arga mengangguk membenarkan.
Arga menceritakan saat diri nya pertama kali bertemu dengan ku hingga pada akhir nya kami menikah.
Bayu mengangguk mengerti dengan apa yang di ceritakan oleh adik Sepupunya itu.
"Aku menyesal kak, aku menyesal karena telah mengabaikan nya selama ini. Kini baru ku sadari aku sangat membutuhkan nya. Aku tidak bisa hidup tampa dia" Ujar Arga dengan sedih.
"Kamu jangan bersedih seperti ini Ga. Kamu adalah seorang laki-laki, jadi kamu harus kuat. Kamu harus bisa mendapatkan istri mu kembali. Apa pun dan bagaimana pun cara nya. Jangan menyerah begitu saja" Bayu memberi semangat.
"Iya, kak. Saat ini aku sedang berusaha untuk mendapatkan Rea kembali. Setelah aku berhasil nanti, aku tidak akan melepaskan nya. Aku akan membuat nya bahagia" Jelas Arga dengan mantap.
"Terus, bagaimana dengan Sandra?"
"Aku dan Sandra sudah berpisah kak. Aku sudah menalak nya beberapa waktu yang lalu. Hanya saja pengajuan perceraian kami belum masuk ke pengadilan. Aku hanya menalak nya secara agama saja" Jelas Arga lagi.
"Itu lah orang zaman sekarang. Sudah sampai setahun menikah, cerai, menikah, cerai. Tidak berpikir panjang. Terlalu mengikuti perasaan. Untung gak punya anak. Jika punya anak, bagaimana? Kasihan juga kan anak yang jadi mangsa" Ujar Bayu lagi.
"Sandra tidak bisa menghargai ku sebagai suami nya. Ia lebih mementingkan karir nya ketimbang aku" Ucap Arga dengan nada sedih nya.
"Tapi ini juga sebenarnya salah ku, aku tidak bisa bersikap tegas nya. Aku selalu memanjakan dia dan menuruti semua kemauan nya. Dan setelah aku sadar, dan ingin bersikap tegas, malah gak bisa. Sudah terlambat semua nya" Jelas Arga lagi dengan nyengir.
Bayu mengangguk mengerti dengan perasaan adik sepupunya itu.
"Sekarang, kamu harus perjuangkan Rea. Jika benar kamu mencintai nya, coba lah untuk bertahan dengan semua ujian yang dia berikan kepada mu" Ujar Bayu.
"Iya kak, selama kepergian Rea, aku selalu solat di sepertiga malam. ku. Aku meminta petunjuk dari sang Maha Kuasa siapa jodohku sebenarnya" Ujar Arga.
"Dan hati ini semakin mantap menambatkan hati untuk Rea kak. Oleh karena itu aku ke sini untuk membuat Rea kembali kepada ku. Aku sangat mencintai nya. Dia sudah menjadi sebagian dari hidup ku kan. Beberapa bulan ini, aku merasa kosong dan hampa tiada dia di sisi ku. Menemani ku, dia lah penawar ku, racun ku, dia lah segala-galanya" Jelas Arga lagi dengan mantap nya.
"Aku doa kan semoga kamu dan Rea akan bersama kembali. Dan bahagia dalam menjalankan biduk rumah tangga kalian"
***
Aku berjalan menuju kos ku dari tempat kerja ku. Aku ada barang ku berkas yang ketinggalan di rumah dan harus ku bawa ke cafe tempat ku bekerja.
Tapi, entah mengapa Dimas mengikuti ku dari belakang. Ternyata ia belum pulang selama ini. Meski Santi sudah mengirimkan uang, namun dia masih juga berada di kota Terubuk itu.
Fiza yang melihat ku di ikuti oleh Dimas pun merasa cemas. Selama beberapa hari ini ia selalu melihat Dimas terus-terusan memperhatikan ku.
"Itu orang kenapa sih, dari kemarin aku lihat dia terus saja memperhatikan buk Rea. Apa jangan-jangan, dia mempunyai maksud yang jahat sama buk Rea" Ujar Fiza terlihat panik.
"Lebih baik aku beri tahu hal ini dengan pak Bayu. Biar pak Bayu yang menanggani hal ini" Ujar Fiza pergi menuju rumah Bayu bos nya itu. Di mana rumah Bayu pun tidak jauh dari cafe itu.
***
"Pak Bayu" Teriak nya panik ketika melihat Bayu dan Arga ngobrol di teras rumah nya Bayu.
"Ada apa Fiza. Kenapa kamu kelihatan panik seperti itu?" Tanya Bayu.
"Pak, saya mau kasih tau tentang buk Rea"
"Rea, ada apa dengan nya?" Ujar Arga ikut panik.
"Selama beberapa hari ini ada seorang laki-laki yang terus memperhatikan gerak gerik buk Rea. Dia selalu mengikuti kemana buk Rea pergi" Ujar Fiza.
"Siapa?" Tanya Arga merasa gelisah.
"Saya juga tidak tahu pak. Saya tidak kenal dengan orang itu. Dia selalu ikuti buk Rea sampai ke kos nya"
"Tunggu sebentar" Ujar Arga menghentikan cerita dari Fiza.
"Kak, Rea tinggal dengan siapa?"
"Rea tinggal sendiri"
"Mungkin dia teman nya Rea" Ujar Bayu.
"Iya kemaren buk Rea pernah bilang lelaki itu kenal dengan nya. Lelaki itu teman nya teman buk Rea. Tapi buk Rea sama sekali tidak kenal dengan nya"
"Wah, tidak bisa seperti ini. Lebih baik kita pergi ke kos nya Rea. Aku takut terjadi apa-apa sama dia" Ujar Arga semakin cemas.
"Ya sudah, ayo kita ke sana" Ajak Bayu.
__ADS_1
Mereka bertiga pun pergi ke tempat kos ku.
***
"Selamat pagi Rea" Tegur seseorang dari luar pintu membuat ku kaget saat aku ingin keluar dari kos ku.
"Ya selamat pagi. Kamu?" Ujar ku kaget dengan kehadiran Dimas secara tiba-tiba.
"Iya Dimas. Maaf sebelum nya menganggu. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu" Ujar Dimas dengan wajah yang serius.
"Mau bicara apa?" Tanya ku heran
"Boleh aku masuk?" Ujar Dimas lagi.
"Kalau mau bicara, ya sini aja. Gak perlu masuk juga kan" Ucap ku merasa keberatan.
"Ini masalah Santi"
Deg...
Jantung ku berdetak dengan cepat mendengar nama sahabat ku itu di sebut.
"Ada apa dengan Santi? Kenapa dia?" Tanya ku sedikit panik.
"Izin kan aku masuk dulu ya" Pinta nya.
Dengan berat hati, aku pun mengizin nya untuk masuk. Karena aku pun penasaran atas apa yang akan Dimas katakan kepada ku mengenai Santi sahabat ku itu.
"Kamu duduk di sini dulu ya, aku buatkan teh manis" Ujar ku meninta nya untuk duduk di kursi tamu.
Aku pun pergi menuju dapur untuk membuat nya teh. Setelah selesai membuat teh aku pun pergi membawa secangkir teh untuk Dimas.
Hati dan perasaan ku sangat was-was. Ada apa sebenar nya? Apa kah Santi dalam masalah? Atau bagaimana? Pikir ku.
"Ini teh nya" Ujar ku menyajikan segelas teh di atas meja.
"Terima kasih" Ucap nya.
"Bagini... " Ujar Dimas ingin memulai bercerita. Tiba-tiba Arga, Bayu dan Fiza datang masuk ke rumah.
Sontak membuat aku dan Dimas kaget
"Kurang ajar, apa yang akan kamu lakukan kepada istri ku" Ujar Arga langsung melayangkan tinju nya ke geraham Dimas. Hal itu membuat Dimas jatuh tersungkur ke lantai.
"Astaghfirullah Arga, Kamu apa-apaan sih?" Ujar ku kaget melihat Dimas terjatuh karena di tinju oleh Arga. Di selah bibir nya mengeluarkan darah.
"Kamu apa-apaan sih Ga"
"Kamu yang apa-apaan. Dia ini mempunyai maksud buruk terhadap mu. Dan kamu masih menerima nya bertamu di kos mu ini?" Ujar Arga dengan kesal.
"Dia tidak mempunyai maksud jahat terhadap ku Arga. Dia hanya ingin menjelaskan dan menceritakan sesuatu kepada ku"
"Bohong, selama beberapa hari ini Fiza melihat nya selalu mengikuti dan memperhatikan gerak gerik mu"
"Benar Fiza?" Tanya ku kaget.
"Iya buk, saya lihat lelaki ini selalu mengikuti ibu" Tambah nya.
"Dimas, Apa maksud kamu mengikuti ku selama ini? Sebenarnya ada maksud apa kamu kepada ku?" Tanya ku lagi.
Dimas bangkit dari jatuh nya. Ia mengusap bibir nya yang keluar darah itu.
"Maaf kan aku. Aku tidak mempunyai maksud jahat terhadap kamu. Aku hanya ingin meluruskan apa yang sebenar nya terjadi"
Arga memperhatikan wajah lelaki tadi.
"Seperti nya aku pernah bertemu dengan mu. Aku pernah melihat mu. Tapi di mana ya?" Ujar nya pelan.
"Wajah mu tidak asing bagi ku" Ucap nya lagi mengingat kembali di mana ia bertemu dengan Dimas.
"Tentu saja kamu pernah bertemu dengan ku. Pertama kali kita bertemu di hotel tempat kejadian antara kamu dan Rea" Jelas Dimas membantu Arga mengingat kejadian itu.
"Ya, aku baru ingat saat itu kamu datang bersama Santi" Ujar Arga saat ia berhasil mengingat kembali peristiwa itu
"Oleh karena itu aku datang ke sini untuk menjelaskan tentang peristiwa itu. Aku ingin menceritakan hak yang sesungguh nya kepada kalian. Karena selama ini aku merasa bersalah dan tidak enak hati karena telah menyembunyikan kenyataan yang pahit ini. Yang telah membuat kamu Rea menjadi korban atas keegoisan dan rasa cemburu oleh sahabatmu sendiri" Ujar Dimas.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" Tanya ku tidak mengerti karena Dimas mengatakan hal yang masih tergantung seperti ini.
"Sebenarnya, kejadian telah menimpamu itu semua itu telah direncanakan oleh sahabatmu sendiri" Jelas Dimas.
Deg...
Terasa petir menyambar di tengah siang bolong itu yang kurasakan saat ini mendapati kenyataan bahwa sahabatku sendiri yang telah menjerumuskan ku.
Meski hati ini masih bertanya-tanya dan belum begitu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Dimas, tapi firasatku sudah tidak enak mengenai Santi. karena selama ini dialah satu-satunya sahabatku. Aku tidak mempunyai sahabat lain selain dia. Tentu saja Dimas mengatakan hal itu karena ada sangkut pautnya dengan dia.
__ADS_1