
Arga masih belum bisa terima bahwa aku telah pergi meninggalkan nya.
Ia kembali duduk di kursi tempatnya bekerja.
"Papa, papa tolong papa bilang sama aku, apa kesalahan ku. Apa salah ku kepada Rea pa hingga dia tega meninggalkan ku seperti ini" Ujar Arga meminta kejelasan kepada papa nya.
"Kamu bilang sama Sandra bahwa hubungan kamu dan Rea itu adalah satu kekhilafan" Jelas papa nya Arga.
Dada Arga kembang kempis. Ia sulit untuk mengatur napas nya saat ini. Bahkan untuk berbicara pun dada nya terasa sesak.
"Tidak pa, bukan begitu maksud ku. Aku, aku bilang seperti itu karena aku hanya ingin membujuk Sandra. Aku tidak ada maksud seperti itu pa" Jelas Arga dengan intonasi suara yang bergetar.
"Pa, tolong pa di mana Rea?" Tanya Arga lagi.
Papa Arga hanya diam tidak menanggapi pertanyaan dari Arga
***
"Riko kamu...?" Santi tampak kaget ketika tunangan nya itu tiba-tiba muncul di kantor nya.
Yah, ini kali pertama Riko menampakan diri di kantor nya. Memang lelaki berkacamata itu dulu nya sering datang ke kantor itu hanya untuk bertemu dengan ku. Semenjak aku tidak kerja di sana, ia pun tidak menampakan dirinya lagi di kantor itu.
Ini lah kali pertama ia menampakkan dirinya lagi di kantor itu untuk mengajak Santi makan siang bersama.
"Hai" Sapa nya.
"Hai" Jawab Santi tersenyum senang.
"Kamu ngapain kesini? Tumben?"
"Aku mau mengajak mu makan siang bersama. Apa kamu ini sudah waktu nya istirahat? Takut nya aku datang terlalu cepat" Ujar Riko.
Santi melirik jam yang ada di tangan nya.
"Gak kok Ko, ini sudah waktu nya istirahat"
"Ya sudah, kita ke kantin bawah aja ya" Ajak Riko.
Santi mengangguk sambil tersenyum.
***
"Ko, aku senang banget kamu akhir nya mau datang ke kantor ku untuk mengajak ku makan siang seperti ini" Ujar Santi saat mereka sudah berada di kantin kantor nya yang berada di lantai bawah itu.
Riko tersenyum manis menatap Santi.
"Iya dong San, secara kita sekarang sudah bertunangan dan tidak lama lagi kita akan menikah. Aku juga sudah berjanji kepada mu bahwa aku akan menerima mu di dalam hidup ku. Jadi ini adalah hal yang harus aku lakukan untuk membuat tunangan ku senang" Ujar Riko sambil tersenyum.
Tentu saja ucapan Riko barusan membuat Santi merasa berbunga-bunga. Ini lah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Ternyata kesabaran nya kini telah membuahkan hasil. Dimana ia memetik buah yang terasa begitu manis yang saat ini ia rasakan.
"Nanti pulang kerja aku jemput ya" Ujar Riko lagi.
Deg....
Santi kaget mendengar Riko mau menjemputnya ketika ia pulang dari kantor nanti. Kali ini bukan Ia yang meminta Riko untuk menjemputnya namun Riko sendirilah yang menawarkan jasa untuk menjemput Santi ketika sudah pulang dari kantornya nanti. Tentu saja ini adalah perubahan yang baik untuk hubungan Santi dan juga Riko perlahan namun pasti Riko bisa menerima Santi di dalam hidupnya.
***
Arga membuka perlahan pintu kamar ku yang pernah aku tepati di rumah mama dan papa nya. Kamar yang menjadi tempat kamu bersatu tempo hari.
Kenangan malam itu masih berputar jelas di layar ingatan Arga. Ia menatap ruangan itu dengan kesedihan yang mendalam di hati nya.
__ADS_1
Tampa sengaja ia melihat ada dua buah surat yang sengaja aku tinggalkan untuk dirinya dan juga Sandra. Dan sebelum ku pergi, aku telah mengganti nomor ponsel ku yang baru agar Arga tidak bisa menghubungi ku lagi nanti nya.
Arga berlahan berjalan mendekati surat yang ada di meja hias ku itu. Ia mengambil satu buah amplop dan di buka nya. Di mana di dalam amplop itu terdapat sebuah kalung yang ia belikan untuk ku sewaktu kami berjalan berdua di mall waktu itu.
Aku sengaja meninggalkan kalung itu, aku tidak mau membawa kenangan ku bersama Arga. Aku ingin melepaskan semua nya. Jika aku terus memakai kalung itu, itu akan membuat ku mengingat Arga kembali. Di dalam amplop itu juga terdapat sebuah cincin pernikahan ku dan Arga. Kini aku yang melepaskan cincin itu dari jari ku. Seperti yang ku katakan tadi. Aku hanya ingin meninggalkan semua kenanganku bersama Arga. Aku tidak ingin membawa kenangan-kenangan itu yang kelak akan membuatku semakin mengingat Arga di dalam hidupku.
Arga mengambil surat yang ku tulis untuk nya yang masih berada di amplop yang sama dengan kalung dan cincin tadi. Ia membaca isi surat itu.
"assalamualaikum wr. Wb.
Arga, mungkin ini adalah keputusan yang di luar perkiraan mu. Maa jika keputusan ini membuat mu merasa kecewa. Tapi saat ini keputusan yang ku buat ini adalah keputusan yang tepat dan yang terbaik untuk semua. Mungkin benar apa kata kamu, semua ini adalah satu kekhilafan. Semua ini memang salah ku. Jika waktu itu aku tidak mempertahankan diri untuk menikah dengan mu, pasti hubungan mu dan Sandra tidak akan seperti ini. Mungkin kamu akan bahagia bersama orang yang kamu cintai. Sungguh aku merasa bersalah kepada kalian berdua. Aku harap dengan sangat semua ini akan kembali jernih. Kamu pergi lah pujuk Sandra dia berhak untuk marah. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi.
Arga, aku mengambil kesempatan ini untuk meminta maaf kepada mu. Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu kembali. Oleh karena itu aku mohon maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi istri yang kamu harapkan. Dan hubungan kita ini kamu lah yang menentukan. Aku sudah tidak peduli lagi. Hanya aku meminta kepada mu, tolong ampuni segala dosa-dosa ku atas apa yang pernah aku lakukan. Baik itu sengaja atau pun tidak. Aku keluar dari rumah ini tanpa izin dari mu. Aku tahu itu salah, tapi aku sudah tidak sanggup lagi berada di rumah ini. Kehadiran ku akan membuat kamu merasa terbebani. Insha allah aku akan selalu menjaga marwah kamu sebagai seorang suami. Jika kamu mau melepaskan ku. Aku doa kan kamu bahagia bersama Sandra
Wassalam"
Surat yang ku tulis berakhir di sana. Arga membuka lemari pakaian ku. Di sana hanya terdapat pakaian yang ia berikan kepadaku saat aku ulang tahun waktu itu. Arga tampak sangat sedih dah terpukul atas kepergian ku.
Ia mengambil baju itu dan memeluk serta mencium nya dengan meneteskan air mata. Sungguh hati nya merasa hancur saat ini. Apa yang ia rasakan saat ini jauh berbeda ketika ia di tinggal Sandra ke Paris waktu itu. Perasaan kali ini yang ia rasakan sakit nya berlipat-lipat.
Arga meletakan kembali baju itu. Ia menghapus air mata nya. Kini ia duduk melamun menatap setiap perkataan ku yang ada di surat itu.
Sandra datang menemui Arga yang berada di kamar ku.
"Kamu kenapa menelepon ku? Apa yang mau kamu bicarakan dengan ku?" Tanya Sandra masih dengan nada judes nya.
Arga mengambil surat yang ku tulis untuk nya dan memberikan nya kepada Sandra. Sandra mengambil surat itu dan membacanya.
"Ini yang kamu bilang satu kekhilafan? Wajah mu kelihatan sedih, kamu mau tunjukan jika Sandra sudah pergi meninggalkan mu untuk apa?" Tanya Sandra.
"Agar aku bisa simpati untuk mu? Begitu?" Tambah nya lagi.
"Kamu sudah pikirkan apa yang aku katakan kemaren?" Tanya Arga dengan nada bicara yang rendah.
"Aku rasa, aku tidak perlu memikirkan nya lagi. Aku sudah membuat keputusan" Ujar Sandra masih dengan keras kepala nya.
"Sandra, aku perlukan kamu sebagai istriku di sisi ku"
"Aku rasa jika aku tidak ada pun, tidak akan membuat mu kehilangan juga kan. Bukan kah kamu masih mempunyai seorang istri lagi" Sindir Sandra.
"Aku bisa merasakan bahwa kamu memang sudah mencintai dia, sudah sayang sama dia. Dan mungkin sekarang dia sedang menunggu mu pujuk dia, telfon dia, pergi lah. I am oke" Ujar Sandra.
"Rea tidak main-main kali ini"
"Oh ya? Aku rasa ini adalah cara nya untuk membuat kamu merasa bersalah dan membuat mu kembali bersama nya" Ujar Sandra.
"Karena dia tahu bagaimana keadaan ku sekarang ini, dia tahu keadaan kita saat ini. Itu yang membuat nya mencari kesempatan agar kamu kembali kepada nya. Aku tahu kamu sayang sama dia, yah maklum lah dia istri yang baik, istri yang penurut, istri yang soleha. Berbeda dengan diri ku ini" Sandra penuh dengan emosi.
"Sandra, Rea tidak main-main. Dia sudah pergi meninggalkan rumah ini. Tidak mungkin aku bisa mendapatkan nya kembali" Ujar Arga dengan raut wajah yang serius.
"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Sandra.
Arga hanya diam tidak bisa menjawab. Ia duduk kembali ke kasur ku yang ada di kamar itu.
Ia menghembuskan napas berat nya. Ingin rasa nya ia membuang kekusutan pikiran nya saat ini.
"Sandra, aku tidak mau kamu pergi ke Jakarta apa lagi ke Paris nanti nya" Ujar nya setelah lama terdiam.
"Aku tetap akan pergi" Sandra masih tetap pada pendirian nya.
"Aku tidak mau kamu pergi. Aku mau kamu tetap disini selalu berada di sisi ku. Aku mau kamu fokus pada rumah tangga kita" Ujar Arga dengan lembut.
__ADS_1
"Gak bisa gitu dong Ga. Aku harus pergi"
"Kamu sanggup tinggalkan aku sendirian dalam keadaan seperti ini hanya demi karir mu?"
"Arga, saat ini aku sudah kehilangan kamu juga kan. Asal kamu tahu, hati aku saat ini sudah hancur. Tapi aku tetap bertahan. Aku bisa merasakan jika kamu bersama ku itu hanya tubuh mu saja. Sedangkan hati dan pikiran mu hanya kepada Rea. Semua itu di sebab kan karena kamu sudah sayang sama dia, cinta sama dia aku bisa merasakan itu Ga"
"Sandra, Rea tidak ada sangkut paut nya dengan masalah ini. Tidak ada sangkut paut nya dengan kamu pergi ke Jakarta apa lagi ke Paris anti nya"
"Jika aku sudah pergi ke Jakarta, hati aku akan tenang. Aku akan fokus pada pekerjaan ku dan aku bisa melupakan semua masalah saat ini. Tolong kamu ngerti hati dan perasaan ku ini" Ujar Sandra dengan suara yang bergetar karena mencoba menahan tangisan nya.
"Aku tetap tidak akan mengizinkan mu pergi. Jika kamu bersih keras untuk pergi, itu artinya kamu akan kehilangan ku" Ujar Arga dengan tegas.
"Jika ini lah hal yang mau kamu bicarakan lebih baik aku pulang"
"Kenapa kamu keras kepala seperti ini?"
"Arga, aku memang keras kepala. Karena aku seperti ini lah yang membuat kamu dulunya mencintai ku. Hingga saat ini aku tidak pernah berubah. Yang berubah saat ini adalah kamu. Cinta kamu kepada ku sudah berubah"
"Kamu jangan coba menegak kan benang yang telah basah. Kamu sama sekali tidak pernah menyadari bahwa kamu pun bersalah dalam hal ini" Ujar Arga dengan sedikit meninggikan suara nya karena Sandra tidak mau mendengar ucapan nya.
"Coba lah kamu pikirkan kembali tentang hubungan kita, tentang pernikahan kita ini, tentang kamu yang mau pergi ke Jakarta dan ke Paris itu. Dan... " Ujar Arga tidak melanjutkan perkataan nya. Ia mengambil surat yang ku tulis untuk Sandra di meja hias ku dan memberikan nya kepada Sandra.
"Perlu aku membacanya?"
"Terserah kamu"
Sandra mengambil dengan kasar surat itu lalu pergi meninggalkan Arga yang masih berada di kamar ku itu.
***
"Aduh pa, pusing kepala mama melihat masalah keluarga nya Arga seperti ini" Ujar Rina ngobrol bersama suami nya di kamar mereka.
"Kenapa emang nya?" Rudi duduk di samping istri nya.
"Tadi siang Sandra datang ke rumah kita. Terus aku berpas-pasan dengan nya. Dia malah membuang muka dan tidak mau menegur ku. Memang pantas dari dulu mama gak merestui hubungan mereka pa"
Rudi tersenyum melihat istrinya yang mengomeli menantu keduanya.
"Kasihan anak kita pa, Sandra tega membuat nya seperti itu" Ujar Rina dengan nada sedih nya.
"Ini sudah keputusan dari Arga nya sendiri ma kita bisa apa?"
"Jadi biarkan saja Arga menyelesaikan masalahnya sendiri yang selama ini dialah yang mencari masalah itu sendiri" Tambah Rudi lagi.
"Papa sudah bilang dari dulu bahwa papa tidak mau ikut campur urusan rumah tangga mereka" Ujar Rudi lagi.
"Pa, apa papa gak kasihan sama anak kita satu-satu nya itu? Anak semata wayang kita lo pa. Tidak kasihan kah sama Arga pa?" Tanya Rina merasa iba dengan nasib putra nya.
"Nasehat kan lah dia pa"
"Nasehat? Nasehat bagaimana maksud mama? Mama tahu sendiri Arga tidak mau mendengarkan perkataan papa. Mau nasehat bagaimana pun dia tidak akan mendengarkan nya" Ujar Rudi lagi.
***
Sandra mengemasi semua baju-baju nya yang ada di rumah ia tepati berdua dengan Arga.
Arga masuk ke rumah itu dan melihat Sandra telah membawa koper yang berisi baju-baju nya.
"Aku sudah membereskan semua barang-barang ku. Aku rasa saat ini aku harus keluar dari rumah ini. Aku sudah gak tahan berada di sini" Ujar Sandra.
"Sangat mudah kamu berbicara seperti itu" Ujar Arga dengan sikap dingin nya. Berusaha menahan emosi nya saat ini melihat Sandra ingin pergi meninggalkan nya sendiri.
__ADS_1