
"Lo, Arga sudah pulang?" Tanya Rina saat melihat putra kesayangan nya tiba di rumah.
"Sudah kok ma" Arga menghempas tubuh nya di sofa ruang tamu.
"Lo bukan kah liburan nya seminggu? Kenapa baru tiga hari sudah pulang" Tanya Rina lagi.
"Sandra kemana?" Tambahnya lagi mencari keberadaan menantu kedua nya.
"Ke rumah papa dan mama nya" Jawab Arga.
"Rumah papa, mama nya? Kenapa gak pulang ke sini bersama kamu?"
"Gak tahu ma, katanya ada beberapa berkas untuk desainer nya ya g tertinggal di sana. Jadi dia mau ke sana untuk mengambil berkas itu dan kembali ke sini" Jelas Arga.
"Lo, kenapa tidak kamu ikut bersama nya?" Ujar Arga.
"Lagi malas aja ma, capek juga" Ujar Arga.
"Ya sudah ma, aku ke kamar dulu ya mau istirahat" Ujar Arga bangkit dari duduk nya menuju kamar nya.
Rina menggeleng-geleng kepala nya melihat peringai anak dan menantunya.
***
Kembali tatapan ku beradu pandang dengan Arga saat diri nya mau masuk ke kamar nya dan aku keluar dari kamar ku.
Aku mengalihkan pandangan ku dan berlalu dari hadapan nya untuk pergi ke lantai bawah.
"Eh" Ucap nya saat aku lewat di depan nya.
Langkah ku terhenti saat Arga menegur ku. Aku lihat wajah nya nampak kelelahan itu.
"Apa?" Ujar ku.
"Kamu tahu gak aku lapar?" Ucap nya dengan nada yang cukup menyebal kan.
"Gak" Jawab ku seadanya. Memang aku telah berkata jujur pada nya. Mana ku tahu jika dia sedang lapar. Toh aku sama sekali tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Kenapa gak tahu?" Ujar nya sedikit marah.
Aku mengerut kening ku menatap nya dengan kesal.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" Ucap nya.
Aku tak menjawab pertanyaan nya. Aku terus menatapnya dengan kesal.
"Jangan menatap ku seperti itu. Mau ku colok tu mata" Ujar nya lagi.
Aku mengalih pandangan ku ke arah lain.
"Apa sih mau nya ni orang. Pulang-pulang nyeselin banget" Batin ku.
"Ha, kamu belum menjawab pertanyaan ku" Ujar nya.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya ku memalas.
"Kenapa kamu tidak tahu kalau aku sedang lapar?" Ujar nya lagi.
Aku menghembus napas berat ku.
"Mana lah aku tahu. Aku bukan paranormal atau pun mempunyai mata batin bisa melihat apa yang kamu rasakan" Ujar ku dengan kesal"
"Alah, alah, sudah berani melawan kelihatan nya" Ujar nya lagi.
Aku berdecak kesal.
"Aku bukan melawan. Hanya saja aku benar-benar tidak tahu kalau kamu sedang lapar" Ujar ku.
"Sekarang kamu tahu kan?" Ujar nya.
Aku mengangguk. Malas rasa nya berdebat sama orang yang menyebal kan ini. Lebih baik aku mengalah saja dari pada perdebatan nya menjadi panjang.
"Jadi apa yang kamu tunggu?"
"Tunggu apa?" Aku tidak mengerti.
"Kamu sudah tahu aku lapar kenapa tidak membuatkan ku makanan. Lebih baik kamu buatkan aku makanan. Nasi goreng ya, yang pedas. Ada telor mata sapi nya" Ujar nya.
"Ha, satu lagi buat kan aku teh manis dengan gula sedikit saja" Tambah nya lagi.
"Iya, sebentar aku buat kan" Ujar ku.
"Eits, satu lagi"
"Apa lagi sih" Ujar ku kesal.
"Jangan lupa di bumbui dengan cinta" Ucap nya sambil mengedipkan sebelah matanya. Kemudian langsung masuk ke dalam kamar nya.
Spontan aku kaget dengan tingkah nya seperti itu kepada ku.
"Dasar bunglon. Tadi membuat aku jengkel dan kesal. Sekarang malah mulai bertingkah merayu" Batin ku tersenyum.
"Merayu? Merayu apaan sih. Sadar, sadar" Ujar ku menggelengkan kepala ku.
"Ngapain kamu geleng-geleng seperti itu?" Ujar Arga yang ternyata keluar lagi dari kamar nya.
"Ha" Ucap ku kaget.
"Dasar aneh"
Aku berdecak kesal.
"Oh ya, jangan lupa antarkan ke kamar ya jika sudah selesai" Titah nya lagi.
"Gak mau, ambil saja sendiri di bawah" Ujar ku.
"Berani melawan?" Tantang nya dengan kedua tangan nya di pinggang.
"Gak, aku gak melawan. Hanya saja biasakan jika mau minta pertolongan dari orang, harus mengucapkan kata tolong terdahulu" Ujar ku.
"Rea, tolong buatin nasi goreng ya dan tolong antarin ke kamar juga jika sudah selesai. Nah jika begitu orang yang membantu jadi seneng hati nya" Protes ku.
"Oke, oke, Rea, tolong buatin aku nasi goreng dan tolong antarkan ke kamar ya jika sudah selesai" Ulang Arga.
Aku tersenyum mendengar ucapan Arga barusan.
__ADS_1
"Dasar cerewet" Ujar nya lagi dan masuk ke kamar nya serta menutup pintu.
"Musang" Ucap nya lagi kembali membuka pintu dan menutupnya"
"Bunglon" Ujar ku lagi tak mau kalah.
***
"Non, masak apa?" Tanya bik Ina.
"Ini Arga meminta ku buatkan nasi goreng" Jawab ku terus mengaduk nasi yang masak tadi.
"Bik, Sandra mana? Aku gak melihatnya bersama Arga" Tanya ku.
"Non Sandra pulang ke rumah orang tua nya non"
"Kenapa?"
"Tadi tuan Arga bilang sama ibu katanya non Sandra mau mengambil beberapa dokumen mengenai desainernya ke rumah orang tuanya" Jawab bik Ina.
Aku mengangguk mengerti.
"Kapan dia bakalan pulang bi?"
"Kalau masalah itu sih saya kurang tahu non. Kenapa non tidak tanya saja sama tuan Arga langsung?" Ujar bik Ina.
"Nanti saya akan tanyakan langsung sama Arga" Ujar ku berbohong.
Mana berani aku bertanya kepada Arga tentang masalahnya dan Sandra. Bisa-bisa aku dimarahin sama dia karena terlalu ikut campur urusan mereka.
"Emang kenapa Non? Non menanyakan tentang kapan dan Sandra pulang?" Tanya bik Ina.
" Enggak aku merasa nggak enak saja Bi jika nantinya Sandra melihatku mengantarkan makanan ke dalam kamarnya"
"Lho kenapa Non? Non kan juga istrinya tuan Arga"
"Nggak enak aja bi. Makanya aku tanya kapan Sandra pulang. Agar nggak terjadi kesalahpahaman nantinya"
"Loh non ini kok aneh ya? Masa sama Suami sendiri akan terjadi kesalahan pahaman sih? Harusnya non Sandra itu ngerti dan mau berbagi suami sama Non. Non kan juga punya hak atas tuan Arga" Ujar bik Ina merasa aneh.
Aku hanya tersenyum hambar mendengar penjelasan dari bik Ina.
Memang benar apa yang dikatakan bik Ina, aku memang mempunyai hak atas Arga sebagai suamiku. Namun aku juga harus sadar diri aku hanyalah istri di atas kertas saja. Tidak dianggap sebagai istri sebenarnya. Jadi aku tidak mungkin meminta hak ku kepada Arga. Karena jelas-jelas dia akan menolak mentah-mentah apa yang aku minta darinya.
"Non, mau saya bantu?" Tawar bik Ina.
"Oh, gak usah bik makasih ya. Ini juga sudah selesai kok" Jawab ku menyajikan nasi goreng yang ku buat tadi di atas piring. Tak lupa teh yang di minta oleh Arga pun sudah selesai ku siapkan.
"Bik, aku ke atas dulu ya" Ujar ku.
"Iya non" Jawab bik Ina.
***
Aku mengetuk pintu kamar Arga.
"Masuk" Jawab nya.
Aku masuk ke kamar nya Arga.
Arga yang dari tadi hanya duduk di kasur nya dan sibuk dengan ponsel nya meletakkan ponsel nya di atas nakas.
"Aduh lama banget sih. Aku sudah lapar banget ini" Ujar nya.
"Bukan nya terima kasih sudah di buatin makanan, malah protes" Ucap ku pelan.
"Apa?" Tanya Arga.
"Gak" Jawab ku langsung beranjak dari sana.
"Mau kemana?" Tanya nya.
"Keluar"
"Sini aja, duduk di samping ku teman kan aku makan" Pinta nya.
"Ha?" Aku kaget.
"Malah bengong. Sini teman kan aku makan" Ulang nya lagi.
Dengan terpaksa aku duduk di kursi meja hias nya Sandra.
"Kenapa jauh sekali duduk nya. Bukan nya aku bilang di samping ku?"
"Di sini saja lebih baik" Ujar ku.
"Kenapa kamu takut akan jatuh cinta pada ku?" Ujar Arga menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut nya.
"Gak, aku hanya gak mau nanti Sandra melihat kita dan akan terjadi salah paham" Jawab ku.
"Sandra gak akan melihat kita"
"Jika di sudah pulang dan langsung melihat kita bagaimana? Pasti nanti nya akan terjadi salah paham antara kita" Jelas ku.
"Dia gak akan pulang hari ini. Pulang nya lusa mungkin" Ujar Arga.
"Lusa?" Tanya ku.
"Malam ini dia akan tidur di rumah papa dan mamanya besok pagi-pagi dia akan berangkat ke Bandung untuk menyelesaikan beberapa project-nya. Selesai itu baru dia pulang ke sini" Jelas Arga
Aku mengangguk mengerti.
"Kenapa mengangguk begitu? Senang jika Sandra tidak ada di rumah? Agar lebih banyak waktu untuk mencuri perhatian ku?" Tanya nya.
Aku menatap dengan kesal kepadanya.
"Kepedean" Ucap ku.
Sejujurnya memang hati ini senang jika tidak ada Sandra. Aku tidak perlu berkurung diri di kamar.
"Ini kamu yang bikin?" Tanya Arga.
"Apa?"
"Nasi gorengnya kamu yang bikin? Nggak bik Ina kan?"
__ADS_1
"Iya, emang kenapa?"
"Nice, pinter juga kamu masak. Sesuai dengan seleraku" Komentar Arga.
"Besok-besok aku minta kamu buatin lagi ya nasi goreng nya" Tambah nya.
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban dari ucapan Arga.
***
"Arga, Sandra mana? Masih belum pulang?" Tanya Rina saat mereka makam malam.
"Belum ma, mungkin pulang nya lusa" Jawab Arga menyodorkan makan ke dalam mulut nya.
"Lusa? Dari pulang liburan kemaren dia belum datang lo ke rumah ini. Apa dia lupa bahwa sekarang kalian sudah menikah? Apa dia tidak mau mengetahui keadaan suami nya" Protes Rina.
"Tadi kita sudah saling telfonan kok ma. Lagi pun dia ke Bandung karena ada Project yang harus dia selesaikan"
"Iya tahu ada project yang harus ia selesaikan. Tapi apa tidak bisa dia pulang ke rumah ini dulu. Lagi pun rumah kita dan rumah kedua orang tuanya kan juga tidak jauh satu tanah tidak pakai seberang menyeberang kan" Ujar Rina lagi.
"Benar apa yang di katakan mama kamu. Seharusnya dia juga harus memikirkan kamu sebagai suami nya. Jangan hanya pekerjaan saja dan karir nya saja yang harus ia pikirkan" Balas Rudi.
"Aku tidak mempermasalahkan pekerjaan nya ma, pa. Dia seperti itu kan karena selama ini itu adalah mimpi dan keinginannya. Dan sekarang sudah terwujud dan tinggal dijalaninya saja. Jadi nggak apa-apa" Bela Arga.
"Terus, Rea kemana? Kenapa kamu tidak mengajak nya makan bersama kita?" Tanya Rudi.
"Ada di kamar mungkin"
"Mungkin? Jadi kamu tidak melihat nya ada atau tidak nya di kamar?" Tanya Rina.
"Sudah besar juga kan dia ma, gak harus di pantau terus. Jika lapar bisa saja di turun ke bawah dan mengambil makanan. Gak perlu di antar juga ke kamar nya" Jelas Arga.
"Arga, arga pusing papa melihat rumah tangga mu. Punya dua istri satu seperti ini, yang satu nya seperti itu. Makan sendiri juga seperti masih lajang tidak ada yang temenin" Ujar Rudi.
"Pa, ini rumah tangga ku. Jadi Arga mohon sama papa dan mama jangan ikut campur ya urusan rumah tangga ku"
"Iya papa tahu. Tapi tidak baik juga kamu melayan Rea seperti itu. Sesekali coba lah untuk mengambil berat tentang hal nya" Nasehat Rudi.
"Iya pa" Jawab Arga.
Kali ini bisa di lihat Arga tidak terlalu menentang dengan apa yang di katakan mama dan papa nya. Mungkin hati nya sudah mulai terbuka karena apa yang di katakan mama dan papa nya ada benar nya juga.
***
"Astagfirullah Arga" Ujar ku kaget menarik apa saja untuk menutup kepala ku. Dan saat itu aku spontan menarik selimut yang ada di kasur ku.
"Ngapain kamu menutup kepala mu seperti itu" Tanya Arga.
Aku diam tidak menjawab. Bukan kah pernah ku bilang bahwa aku akan membuka penutup kepala ku jika Arga sudah bisa menerima ku sebagai istri nya.
"Kamu ngapain ke kamar ku? Tiba-tiba saja nongol tanpa mengetuk pintu" Protes ku.
"Aku hanya ingin memastikan kamu masih hidup apa tidak"
Kembali tatapan kesal ku perlihat kan kepada Arga.
"Kenapa menatap ku seperti itu" Ujar nya.
"Kamu ini ya. Gak bosan apa di kamar terus. aku kan melarang kamu untuk keluar dari rumah, ini bukan keluar dari kamar ini"
"Apa kamu gak lapar apa?" Tambah nya lagi.
"Nanti jika lapar aku pasti turun ke bawah" Jawab ku.
"Memang pas banget kamu di juluki sebagai musang" Ucap nya lagi.
"Malam-malam keluar mencari makanan ketika orang-orang pada terlelap tidur" Tambah nya lagi.
"Eh, buatin aku teh panas gih" Perintah nya.
"Sudah bilangin orang sebagai musang, sekarang dengan PD dan sama sekali tidak merasa bersalah meminta ku membuatkan nya teh hangat" Batin ku menatap nya dengan kesal.
Mendapati aku menatapnya seperti itu, Arga pun sadar.
"Oke, tolong buatin aku teh hangat ya. Nanti tolongin juga antarkan ke kamar" Ucap nya dengan lemah lembut.
Aku berdecak.
"Iya. Sekarang kamu ke kamar mu dan tolong tunggu nya di kamar mu saja"
"Kenapa?"
"Aku mau mencari hijab ku"
"Pakai saja hijab nya. Apa salah nya jika ada aku"
Kembali aku menatapnya dengan tajam.
"Oke, oke aku keluar" Ujar nya langsung ke luar dari kamar ku.
***
Aku mengetuk pintu kamar nya Arga. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Hingga aku memutuskan untuk masuk saja mengantarkan teh hangat yang di pesan Arga.
Ku dapati Arga sudah terlelap di kasur nya. Aku meletakan teh itu di atas nakas. Dengan sedikit berani aku membangun kan Arga dengan cara menggoyang-goyang kan lengan nya dengan pelan.
"Arga, Ga bangun. Ini teh yang kamu minta. Nanti keburu dingin" Ucap ku.
"Hmm.... " Jawab Arga.
Aku memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Tanpa ku sadari Arga menarik tangan ku.
Dengan sigap lelaki yang bertubuh kekar itu memeluk ku.
Aku membulatkan mata ku saat Arga memeluk ku. Kaget, yah sangat kaget di peluk oleh suami sendiri.
Bisa ku rasakan detak jantung Arga yang berdetak beraturan.
Aroma tubuh yang wangi ekskulin membuat aku merasa tenang di pelukan nya. Detak jantung ku semakin tak beraturan bila ku rasakan pelukan Arga semakin kuat kepada ku.
Jika bisa ku meminta, biarkan waktu berhenti saat aku di peluk oleh suami ku sendiri seperti ini. Nyaman, aman itu lah yang aku rasakan saat berada di dekapan nya Arga.
"Astagfirullah" Ucap ku sadar.
"Arga lepaskan aku" Ujar ku meminta di lepaskan.
__ADS_1