
Pagi ini Abi menceritakan bahwa izdi sudah kembali bersatu dengan wardah secara tiba-tiba. Dia menyampaikan pada umi dan aba bahwa mereka saat ini sedang berlibur bersama putranya. Umi yang mendengar kabar itu langsung bersedih.
" Bahkan kamu sudah tak menelpon kami untuk sekedar mengabari nak," sesal umi. Abi yang melihat umi tak bisa berbuat apapun karena izdi mengatakan bahwa hal itu mendadak sedangkan hubungan mereka tidak seharmonis dulu. Wajar jika izdi memilih tak mengatakan apapun pada keluarganya.
Zizah yang mendengar adiknya sudah menikah lagi dengan wardah jadi dongkol. Tapi ia tak bisa mengatakan apapun. Kak abi juga menatap zizah dengan tatapan anehnya. Abi terlihat tidak bersahabat pada zizah semenjak kemarin.
" Kita kembali besok umi! Abi juga harus segera berdinas kembali. Kita pikirkan lain waktu. Biarkan mereka menikmati waktu yang hilang selama ini," ucap abi yang kemudian pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.
Hari ini umi merasa bahwa kehadirannya sudah tidak diinginkan oleh putranya. Dia merasa bersalah sekaligus tidak bisa melindungi putra-putrinya. Semua ini adalah kesalahannya tidak melakakukan tabayyun terlebih dahulu.
Malam hari yang berkabut seakan-akan menggambarkan bahwa izdi merasa bersalah akan apa yang dia lakukan. Bahkan dirinya pun merasa tidak menghargai kehadiran umi di kediamannya. Tapi siapalah izdi dia merasa tidak di hargai keberadaannya. Bukan berarti dia tak bisa membedakan mana baik buruk saat jauh dari pesantren dan orang tuanya. Namun pada akhirnya mereka tetap ikut campur dalam kehidupan rumah tangganya.
Terkadang yang nampak dalam pelupuk mata belum tentu benar. Itulah yang dialami umi dan aba. Penyesalan atas apa yang mereka lakukan pada putra bungsunya membuat pemuda itu menjauh dari keluarga.
" Mas ... Kenapa?" tanya wardah pada suaminya saat menatap lekat pada adzkan. Izdi tersenyum sambil menggeleng.
" Tidak ada ... Mas hanya ingin menjadi ayah baik untuk adzkan serta suami yang siaga untuk istriku yang cantik jelita ini," ucap izdi sambil tersenyum. Namun bukan wardah jika dia tak mencurigai mimik wajah suaminya yang berubah.
" Mas ... Bukan seperti ini cara membohongi wardah. Mas bukan orang yang suka menyembunyikan sesuatu. Katakanlah wardah akan mendengarnya. Saat ini wardah sedikit lebih dewasa mungkin lebih matang jika memahami permasalahanmu," ucap wardah. izdi menatap intens manik mata ayu wardah dengan tatapan bahagia.
" Sayang ... Bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya saat ini. Hari ini kita fokus pada kebahagiaan kita dulu. Suatu hari mas pasti bercerita cepat atau lambat tapi tidak dengan hari ini," jawab izdi dengan sempurna membuat wanitanya tersenyum baiklah. Izdi memeluk istrinya dengan erat.
" Beradalah di sampingku semampu yang kamu bisa. Mas akan berupaya yang terbaik demi dirimu," jawab izdi. Wardah mengiyakannya dengan menepuk bahunya.
Ketika mereka sedang berpelukan ada rangga yang datang dengan arah berlawanan bersama istri barunya. Izdi segera tersenyum.
" Udah dong guys pelukannya mata gue yang lihat jadi sakit nih. Nyesek tahu," ucapnya tanpa sungkan. Izdi tersenyum dengan menatap ke arah sahabatnya. Wardah jadi menoleh.
" Ngapain mata loh pake sakit. Istri tuh jangan dianggurin di ambil buaya tahu rasa loh!" seru izdi yang membuat rangga tertawa lepas.
__ADS_1
" Sialan loh!" jawab rangga dengan memeluk sahabatnya dan menjabatnya.
Sedangkan dua perempuan di samping mereka terbengong begitu saja. Apalagi saat melihat interaksi gaya bahasa yanf mereka gunakan. Setahu para istri itu suami mereka tipikal orang yang menjaga gaya bahasanya.
" Mas?" tanya wardah.
" Opps .... Sorry. Ini interaksi kami saat berdua. Tadi kelepasan saat di hadapan kalian," jawab izdi sambil menggaruk-garuk kepala. Wardah hanya menggeleng saja.
" Ngga ... Adik gue jangan lo sakiti dia udah dapat bekas masih saja menderita awas aja!" ancam wardah tiba-tiba membuat rangga dan izdi melotot dan mengowoh begitu saja. " Kita pergi ke sana yu sya!" ajaknya pada nasya yang mengajak puri kecilnya bersama. Nasya mengangguk patuh.
" Bro ... Beneran? Dia istri lo kan?" tanya rangga.
" Pastilah ... Tapi aneh gak sih ucapannya tadi?" tanys izdi pada rangga sehabis membalasnya.
"Wah ... Gila bener. Dia udah bikin perhitungan bro sama gue. Jika gue sakiti nasya," jawab rangga sambil menggelengkan kepala.
" Ya ... Emang harus di bahagiakan toh ngga. Lo -nya aja yang gila yang bikin dia sedih," ucap izdi.
" eh .. Anak odong-odong yang lo kata-katain tuh istri gue. Jangan sembarangan bicara mulut ente enak aja!" seru izdi yang kemudian diikuti tawa dari rangga.
Di sisi lain ...
" Gimana sya?" tanya wardah dengan menelisik.
" Apanya yang gimana kak?" tanya balik nasya padanya. Kedua alis wardah menyatu.
" Jangan bohong pada kakak," jawab nasya.
" Kak ... Mungkin mas rangga masih butuh waktu. Dia sangat kehilangan mbak rubi jadi wajar jika dia belum membuka hatinya untukku. Posisiku saat ini hanya sebatas ibu gadis cantik ini," jawab nasya sambil memeluknya.
__ADS_1
" Tapi teori rumah tngga tidak seperti itu sya. Kalian harus berusaha menjadi pasangan yang sakinah," ucap wardah menasehati adiknya yang merupakan saudari dari azzam suami kak fatimah.
" Aku ingin menjadi istrinya yang seutuhnya kak. Bahkan aku pun butuh waktu untuk itu. Aku tidak ingin menjadi bayang-bayang mbak rubi semata. Keputusan yang kuambil sendiri sebenarnya berat tetapi entahlah kak. Lidahku saat itu mengiyakan," kenang nasya kembali.
" Berusahakah sekali lagi sya. Tidak ada sakahnya melakukan itu untuk suamimu," sekali wardah menekankan untuk memperbaiki rumah tangga adiknya yang tidak sehat. Nasya hanya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Masih saja seperti itu?" tanya izdi kali ini serius.
" Aku belum siap menyentuhnya iz," jawab rangga dengan menunduk.
" Jangan membuatnya menunggu terlalu lama. Itu bahkan tidak baik ngga," nasihat izdi yang akhirnya lolos begitu saja.
" Aku masih terkunci pada satu titik iz," jawabnya kembali.
" Tapi kunci itu ada pada dirimu sendiri ngga. Orang lain hanya mengingatkan saja. Bahkan kebahagiaanmu tergantung dirimu sendiri. Orang lain seperti aku hanya bisa mengingatkanmu ngga," ucap izdi.
" Iz ... Sebenarnya aku takut mendekatinya. Aku khawatir menyakitinya. Bahkan pernah sekali ketika dia tidur aku mencuri ciumannya. Aku belum berani melakukan secara terang-terangan," jawan rangga mrngingat kembali kejadian aneh itu. Istri rasa orang lain.
" Ngga .... Sekali lagi kukatakan dia halal bagimu. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya pun halal bagimu untuk melakukan apapun. Sekarang coba kutanya satu hal. Apakah kamu mencintainya?" tanya izdi mencari jawaban pada sahabatnya.
" Ya ... Aku memncintainya," jawab rangga yang membuat izdi tersenyum lega saat ternyata sahabatnya serius pada nasya. Karena bagaimanapun nasya adalah gadis baik-baik.
.
.
Sorry ya syg baru bisa up 1 lagi. Author lagi sakit beberaoa hari terakhir. Kakak @Tika ika miss you kakak sehat selalu. Makasi selalu jadi pembaca teraktif. thankyu gift2nya.
__ADS_1
Untuk yang lain thank you juga ya sayang untuk like dll. Kalian adl support is the best for me. Love you all.