Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Kunjungan dokter Rangga


__ADS_3

Bangsal yang berada di pojok adalah sasaran kedatangan rangga kali ini. Rangga nampak berjalan tegap dan bersahaja, tatapan ramahnya itu dia tujukan di setiap orang yang melewatinya. Ada seorang suster yang berbisik setelah melewatinya.


" Dia adalah tuan muda pemilik rumah sakit," ucap suster devia.


" Dia sangat tampan ya sus?" jawab suster nadia.


" Tapi kita bukanlah seleranya, dia sangat selektif sus. Hahaha," ucap devia kembali.


Rangga yang di Calling langsung oleh sang ayah untuk datang ke rumah sakitnya untuk menangani kasus Fatimah yang langkah hanya merasa tercengang. Dia tidak menyangka akan kembali karena dia. Saat ini rumah sakit sangat membutuhkan tenaganya karena dia adalah dokter ahli yang di kirim oleh rumah sakit ke LN dia adalah aset rumah sakit itupun kata ayah rangga.


Sesampainya ...


" Pagi !" seru rangga. Spontan semua orang menoleh tapi tidak untuk fatimah ia nampak enggan. Namun Rangga tetap tersenyum sopan.


" Bagaimana kabarnya hari ini nona Fatimah?" tanya dokter rangga pada gadis yang sedang menatap ke arah luar jendela. Gadis itu menoleh dan mengatakan sesuatu yang membuat Rangga kasihan.


" Tidak baik dokter, masa lalu terlupakan begitu saja rasanya hambar. Begitu merasa tak bernyawa," jawabnya dengan malas. Rangga pun kembali mengajak gadis itu berdiskusi supaya tak melamun saja ke arah luar.


" Nona coba perhatikan aku!" perintah sang dokter. Fatimah pun menoleh ke arahnya dengan sangat cantik.


Kamu masih sama Fatimah. Cantik. Batin Rangga dengan nelangsa.


" Tidak ingatkah kamu dengan beberapa orang di sekitarmu?" tanya sang dokter. Fatimah menggeleng pelan.


" Saya ingin mengingat setidaknya orang-orang terdekat saja dok. Rasanya tersiksa jika tidak ingat. Sebenarnya apa yang saya lakukan beberapa waktu lalu sampai saya seperti ini. Tindak bodoh," ucapnya menyesali perbuatannya. Dokter rangga tersenyum telaten. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang untuk datang ke ruangan Fatimah. Ia pun mencoba mengakhiri sambungan telponnya.


" Nona, bolehkah saya memeriksa anda sebentar?" ucap Rangga dengan sabar.

__ADS_1


" Silahkan dokter," jawabnya dengan lempeng. Rangga melakukan beberapa pemeriksaan terhadap gadis yang berada di depannya ini. Tak berselang berapa lama rangga mendengar langkah kaki datang dia nampak menyapa orang tua Fatimah terlebih dahulu.


" Assalamualaikum pa, ma ..." ucap Izdi.


" Waalaikumsalam nak. Ada apa kemari?" tanya mereka pada izdi.


" Di panggil dokter rangga untuk mendampingi kasus Fatimah. Saya masuk dulu ," jawab izdi yang diikuti anggukan kedua mertuanya. Izdipun masuk dengan perasaan was-was. Meskipun istrinya bilang Fatimah tidak mengingat apapun tapi tetap saja dirinya merasa tidak nyaman saat ini. Rangga masih saja tersenyum karena Izdi memang pemuda yang sopan meskipun beberapa kejadian lalu membuat dirinya tidak berharga akan tetapi dia tetaplah dia yang tak memiliki dendam pada siapapun.


"Masuklah dokter Izdi!" seru dokter rangga yang sengaja menyebut namanya untuk memancing daya ingat Fatimah. Izdipun melangkahkan kakinya ke hadapan Fatimah serta berdampingan dengan Rangga.


" Iya dokter," jawabnya singkat.


" Apa kabar nona Fatimah? Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya izdi tak lupa mengulas senyum. Rangga pun jadi ikut tersenyum.


" Baik dok. Sepertinya anda bukan dokter yang biasanya kemari?" tanya fatimah menelisik. Izdi pun menggangguk membenarkan pertanyaan Fatimah.


" Alhamdulillah. Iya saya di sini hanya mendampingi dokter rangga," jawabnya realistis tanpa basa basi sama sekali.


" Baiklah, dokter Iz anda sudah membawa diagnosa Fatimah ke sini?" tanya Rangga pada izdi yang memegang berkas.


" Sudah dokter," jawab izdi yang kemudian mengulurkan berkas itu. Dokter rangga meminta izdi untuk mengajak fatimah mengobrol sebentar sedang rangga masih mempelajari berkasnya. Izdipun duduk sebelah perempuan yang pernah dia cintai sekaligus pernah melukai hatinya.


" Fatimah tidak bisakah kamu mengingat sesuatu tentang apapun itu?" tanya izdi memulai.


" Entahlah dok, tetapi saat melihatmu datang aku merasa hatiku menghangat. Maafkan aku ya, karena aku tahu kamu adalah suami adikku. Bagaimana keadaannya bukankah dia sedang sakit juga?" tanya fatimah membuat izdi terkejut akan sikapnya yang santai. Bahkan dia ingat jika pernah bertemu beberapa waktu lalu.


" Dia sudah lebih baik. Kau pun juga harus segera sembuh Fatimah. Mama papa adikmu juga sudah merindukanmu," jawab izdi yang merasa lidahnya keluh tanpa bisa mengatakan apapun kecuali hal itu.

__ADS_1


Kali ini Fatimah hanya tersenyum padanya. Dan kembali menatap ke arah luar. Sehingga izdipun mulai mengatakan sesuatu kembali padanya.


" Apa ada hal yang menarik kenapa kebiasaanmu ini sama dengan Wardah menatap ke arah luar jendela?" tanya izdi dengan tersenyum tampan. Fatimah pun ikut tersenyum dan menjawab pertanyaan itu dengan sedikit tertawa kecil.


" Benarkah dia juga menyukai hal ini?" tanya Fatimah memastikan atas ucapan adik iparnya itu. Izdi hanya mengangguk. Karena saat ini hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik ipar.


" Saat menatap jalan luar sana rasanya aku menemukan sesuatu yang menyenangkan sekali. Entah apa itu," jawabnya hanya begitu saja. Izdi hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala tidak mengerti dengan perempuan-perempuan. Hal apa yang membuat senang.


Tak berselang lama ...


Dokter rangga kembali mendekati ke arah ranjang pasien. Dia kembali dengan mode senyuman sambil berjalan.


" Nona kondisi anda sementara ini masih baik, hanya ada satu yang harus diberikan obat secara rutin. Jadi kunjungan hari ini cukup sampai di sini," ucap Rangga dengan sopan. Fatimah hanya mengangguk malas untuk menjawab.


" Permisi ... " ujar izdi yang kemudian diikuti Rangga di belakangnya. Rangga kemudian menghampiri orang tua Fatimah.


" Tolong resepnya nanti di tebus," ucap Rangga sekalian pamit pada mereka.


" Terima kasih dokter," jawab mama Fatimah.


Mereka berdua berjalan menuju ruang dokter. Izdi sudah medongkol dalam hatinya. Dia sudah tidak sabar mengobarik-abrik sahabatnya. Belum ijin istrinya malah sudah memberikan tugas. Sedangkan Rangga sudah tertawa-tawa di dalam hati karena sudah mengerjai temannya itu. Karena sebenarnya bisa saja dia memanggil asistennya tapi malah menganggu pekerjaan sahabatnya itu. Rasanya menang saat dia menduduki kursi teratas di rumah sakit. Karena lebih leluasa dalam pekerjaan. Sekaligus bisa berdampingan dengan sahabat lamanya.


Sesampainya diruangan Rangga ...


" Sialan kamu ini, kenapa harus memanggilku di saat bekerja. Dasar kamu ini masih saja jahil di saat bekerja pula. Hilangkanlah Ngga guyonanmu di saat aku urgent. Aku ini menangani orang sakit bukan mainan," ujar izdi gurau tapi serius. Rangga mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


" Siap, tadi hanya mengetes pegawai ayah dan hatimu. Masih tidak untuk dia ... ternyata sudah seperti adik ipar," jawabnya dengan serius.

__ADS_1


" Jangan lupa nanti ke rumah, temui istriku jangan ngasal lagi awas aja kamu ya!" seru izdi yang kemudian berjalan keluar. Rangga jadi tertawa-tawa terbahak-bahak melihat izdi demikian.


Hahahhaahah.


__ADS_2