
Beberapa minggu sudah kepergian wardah dari kediaman izdi. Nampak di halaman depan rumah bu sum ramai pembeli. Nampaknya semenjak wardah berada di rumah bu sumi wardah menikmati keenjoyannya sendiri.
Rumah mewah seberang jalan...
" Mas ayo kita beli jajanan di rumah bu sumi!" seru Nasya adiknya.
" Jajanan apa toh dik? Sudahlah jangan seperti anak kecil," jawab sang kakak.
" Kata orang-orang enak kak. Please ya mau? Anter aja deh ntar nasya yang masuk ke halamannya," pinta nasya dengan mengerling pada kakaknya.
" Hmm ... Rayuannya mantap ya dek," ucap sang kakak dengan mengacak-acak rambut nasya.
" Iya dong siapa dulu nasya ...!" Serunya sambil berlalu membuat sang kakak menggelengkan kepala.
Mereka pun segera berangkat ke rumah bu sumi. Kakak-beradik itu nampak sangat akrab satu sama lain. Sesampainya di rumah bu sumi. Nasya bergegas turun dari mobilnya.
" Kak ... Nasya turun ya? Tungguin sini jangan kemana-mana," ucap nasya memastikan kakaknya itu tidak kabur. Azzam hanya mengangguk cepat. Nasya segera turun dan mengantri di halaman rumah.
" Kakak bercadar nasya satu ya!" serunya. wardah yang melihat keceriaan itu mengingat dirinya saat masih duduk di bangku smp. Gadis itu melambaikan tangannya pada wardah.
Saat wardah berjala mendekati nasya sang kakak azzam keluar dari mobil seketika menatap tidak percaya ada wardah di sana. Meskipun dia tak melihat wajahnya azzam yakin perempuan itu adalah istri dari gus-nya.
"Kakak cantik ikut nasya sebentar ya, yuk sana!" seru nasya sambil mengandeng tangan wardah.
"Ibu sumi pinjam kakaknya bentar ya!" seru nasya yang membuat bu sumi tersenyum sambil menggeleng. Wardah pun mengikuti jejak nasya ke arah mobilnya.
Ketika wardah sudah di dekat mobilnya tanpa wardah sadari sudah ada pemuda yang sedari tadi menatapnya tajam. Aura CEO sudah terlihat pada Azzam.
__ADS_1
" Kenapa bisa ada di sini?" tanya Azzam dengan datar tanpa ekspresi. Dia tahu bahwa jika tidak ada masalah maka wardah bukan tipe orang yang suka berlari dari kenyataan.
"Siapa? Apanya kak?" tanya Nasya yang mngerutkan dahinya. Namun Azzam tak bergeming sampai wanita bercadar di depannya ini menatap ke arahnya.
" Mas Azzam? Kok di sini?" tanya wardah dengan sedikit terkejut.
" Menurutmu bagaimana wardah? Seharusnya aku yang bertanya kenapa menantu pak kyai bisa ada di sini?" azzam terlihat tidak suka saat melihat wardah di tempat seperti ini. Hatinya iba namun tak bisa berbuat apa-apa itulah alasan azzam marah. Mereka bukan mahram.
" Wardah sedang ingin sendiri mas. Hanya itu saja butuh me time," jawabnya asal. Namun azzam tak bergeming dari tempatnya. Dia yakin ada sesuatu yang di tutupi olehnya. Nasya yang melihat aura tidak nyaman diantara mereka menjadi mencairkan suasana.
" Kakak bercadar ... Sebenarnya nasya ingin mengajak kakak makan siang bersama mau ya?" nasya merengek seperti anak kecil.
" Tapi dek untuk apa?" tanya azzam melihat adiknya.
" Dari kemarin pengen ngajak aja, boleh ya babangku yang baik. Tidak akan miskin kakakku ini malah akan semakin sukses. Ayolah please!" seru adiknya dengan sedikit memaksa.
" Baiklah tanyakan dia. Jika mau silahkan masuk mobil kakak tunggu di dalam," jawab azzam yang kemudian langsung masuk mobil.
"Kakak bercadar please!" seru nasya. Wardah yang sudah terlanjur janji waktu itu. Akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan nasya. Gadis yang selama ini menemani hari-harinya dan ternyata dia adalah adik dari Azzam pemuda yang pernah mencintainya jauh sebelum menikah dengan azzam.
"Ayo nasya ... Kakakmu sudah menunggu. Jangan terlalu lama," jawab wardah.
Mereka pun meluncut ke kafe dekat pantai. Suasananya begitu romantis membuat mood wardah jadi baik. Sebenarnya dia sungkan tapi entahlah karena hormon hamilnya dia jadi gonta ganti perasaan kadang baper kadang flat ataupun lainnya.
Nasya nampak berlarian di pinggiran pantai namun wardah tak bisa mendampinginya karena kondisinya yang sedang hamil. Azzam yang berada di dekatnya mencoba untuk mengklarifikasi perempuan di sampingnya ini. Senyuman wardah untul nasya terhenti saat mendengar azzam mengatakan sesuatu.
" Apakah maria sudah kembali ke sisi Gus Iz sampai kamu meninggalkan mereka berdua saja?" tanya Azzam menebak apa yang sedang terjadi. Spontan saja wardah menoleh dengan cepat.
__ADS_1
" Tahu darimana jika ada maria di antara kami?" tanya wardah memastikan.
" Aku hanya menebak saja. Maria pergi bukan karena keinginannya dia terpaksa melakukan itu demi sebuah impian yang ingin dia gapai. Mereka menikah sudah lama izdi pun tak pernah menceraikannya meskipun orang tuanya sudah menyuruhnya. Karena maria sangat berarti bagi izdi," jawaban Azzam menyakiti hatinya. Namum apalah daya jika sesuatu benar adanya ya sudahlah ini takdir mereka.
" Aku belum mengkondisikan apapun diantara kami. Aku butuh waktu sendiri untuk mencerna semuanya," jawab wardah dengan dewasanya.
" Jangan salah paham dengan mereka. Kehadiranmu tidak salah wardah, hanya saja mungkin kamu merasa ini tidak adil bagimu. Akupun tidak bisa membantu apapun. Hanya bisa mengatakan bersabarlah," jawab azzam. Dia tak berupaya untuk memanas-manasi wardah meskipun hatinya masih terpaut.
Wardah yang mendengar hanya nyengir tak menanggapinya. Tak ada sisa saat ini hatinya entah apakah marah ataukah benci atau bagaimana. Dia sudah lelah tidak ada yang mulus dalam kehidupannya. Sekalipun satu saja, semuanya pasti terhalang.
" Hai, kakak cantik. Apakah dia menyakitimu?" tunjuk nasya pada kakaknya. Azzam langsung melotot pada adiknya itu. Wardah menggeleng tersenyum pada gadis di depannya ini.
" Dia baik nasya sama sepertimu," jawab wardah yang malah membuat Azzam berbunga-bunga. Wardah tak menaggapi apapu tentang azzam. Dia sedang asyik bercanda dengan nasya. Gadis itu membuat hatinya bahagia. Senyum wardah merekah saat bersamanya. Dengan adanya nasya membuat wardah merasa dia memiliki adik perempuan.
"Ah bisa saja kakak cantik padahal abangku ini gak bisa loh kak deketin gadis cantik. Udah mapan sukses jadi CEO perusahaan besar tapi kisah cintanya lempeng aja. Membosankan gak kak," ucap nasya meledek kakaknya. Namun azzam tidak peduli dengan ucapan adiknya. Dia sedang menikmati coffe-nya dengan memandang lautan lepas.
Wardah melirik sekilas Azzam. Pemuda itu nampak sangat tampan. Hati wardah merasa bersalah telah membuatnya terlantar karena mencintai dirinya. Mungkin ini balasan wardah sudah menyia-nyiakan orang baik seperti azzam.
" Kenapa kak cantik menatap mas azzam? Tampan ya babangku itu. Heheheh," saat azzam mendengar ucapan adiknya dia menoleh dengan cepat. Wardah kembali tersenyum oleh sikap nasya.
" Tentu saja abang nasya tampan. Nasya -nya saja sudah cantik gini pasti abangnya lebih dong ya," puji wardah sambil menggelitik nasya. Karena hampir saja wardah dibuat malu oleh anak ABG.
Blushh.
Wajah azzam yang diterpa angin sore jadi seperti kepiting habis di rebus. Wardah memujinya. Menyesal dalam hatinya tak bisa memiliki wardah tapi inilah kisahnya tak ada yang tahu.
.
__ADS_1
.
Like ya. Sorry baru up sore. Ewuh pakewuh sama ank didik. Makasihhhhh ya readers.