Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Terapi Fatimah 3


__ADS_3

Di taman Rangga kembali mendapatkan pemandangan indah Fatimah. Dulu gadis ini adalah cinta pertamanya. Demi kebahagiaan Fatimah rangga rela jika fatimah berdampingan dengan sahabatnya. Bahkan saat itu rangga rela memohon pada izdi untuk membahagiakan Fatimah. Tapi karena kebucinan fatimah dan keangkuhannya malah memisahkan dirinya dengan izdi. Sehingga terjadilah hal yang kurang mengenakkan.


" Tidakkah kamu mengingatku fatimah?" ujarnya lirih di samping fatimah. Fatimah yang samar-samar mendengar jadi bertanya padanya.


" Iya ... Dokter. Apakah anda mengatakan sesuatu?" tanya fatimah dengan tersenyum manis. Rangga menggeleng sambil duduk di hadapan fatimah sambil tersenyum.


" Tidak ada nona ... Hanya saja bisakah kamu menjadikanku seorang kekasih saja daripada doktermu ?" tanya rangga tersenyum sambil menggoda tapi hatinya sungguh-sungguh. Fatimah jadi tersenyum melihat tingkah dokter satu ini.


" Dokter ini bisa saja ... Jangan begini nanti kekasih dokter marah di kira saya nanti mau merebut calonnya," jawab fatimah dengan tertawa kecil. Rangga jadi menggeleng.


" Belum punya ... Jadi tidak akan ada yang marah. Tenang saja nona," jawab rangga sedikit berharap. Fatimah menoleh sambil menunjuk seseorang.


" Bukankah dokter di sana adalah calon istrimu dokter? Jangan berbohong dosa loh pak dokter," jawab fatimah yang membuat rangga menoleh. Seketika menatap tidak suka ke arah rubiah yang melambaikan tangan pada mereka. Rangga jadi kehilangan mood boosternya. Dia pun tak ingin terlihat pemarah di hadapan fatimah. Dia kembali tersenyum.


" Untuk terapi hari ini sudah dulu ya nona. Adakah pertanyaan lagi untuk dokter tampanmu ini?" tanya Rangga dengan pede-nya yang membuat fatimah mengangguk dan berbisik sesuatu yang membuat degup jantung rangga terhenti.


" Seandainya kamu belum memiliki pasangan pasti aku akan menikahimu pak dokter," goda fatimah setelah di relaksasi oleh rangga. Fatimah merasa lebih baik. Berani berkomunikasi dengan orang lain. sekaligus bisa interaksi layaknya orang normal.


" Benarkah? Akan kupastikan itu terjadi," jawab rangga sungguh-sungguh. Fatimah hanya tertawa-tawa mendengar jawaban rangga yang dia kira hanya guyonan belaka. Fatimah hanya mengangkat kedua pundaknya dan mengangguk. Tanpa menjawab sepatah kata lagi. Rangga pun mendorong kursi rodanya menuju kamar rawat inapnya.


Rubiah sedari tadi memperhatikan mereka intens jadi merasa cemburu melihat kedekatan pasien dan dokter itu.


Apa iya hanya pasien? Terlihat aneh jika sangat dekat sekali. Seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Rumaj sakit ini jadi bukan tempat orang sakit badan saja yang sakit hati rupa-rupanya jadi alternatif untuk bisa di sembuhkan. Aneh. Batin Rubiah di seberang sana saat melihat Rangga membantu Fatimah.


Sesampainya di ruangan ...


" Dokter ijinkan aku pulang ya? Aku merasa sudah lebih baik. aku mohon dok," ucap fatimah.


" Lalu bagaimana dengan terapimu nona kita baru saja mulai," jawab rangg sedikit kecewa.


" Datanglah ke rumah dok. Aku pasti akan menunggu kedatanganmu. Tapi jangan mahal-mahal ya," goda fatimah yang membuat rangga tersenyum manis. Fatimah pun nampak polos. Sebenarnya ingatannya tertinggal itu lebih baik. Jiwa baik gadis itu seakan kembali lagi.


" Oke ... Jika itu permintaanmu," jawab rangga sambil menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


" Berikan rekomendasinya ya dok please aku ingin di rumah. Biar adikku pun bisa berkunjung. Aku ingin bercerita banyak dengannya. Rasanya sudah lama tidak bertemu," ucap fatimah menerawang. Rangga mendengarkan dengan setia.


" Baiklah bersiaplah sebentar lagi surat rekomnya saya buatkan. Sampai bertemu besok di rumah," jawabya kemudian. Orang tua fatimah pun mengangguk pada dokter rangga.


Sesampainya di ruangannya...


"Buatkan rekom untuk pasien VIP bougenvile a.n Fatimah," ucap Rangga pada asistennya. Ketika di dalam ia melihat rubiah sudah duduk.


" Ada apa lagi?" tanya rangga pada gadis itu.


" Ngga pulang bareng ya!" ajak rubiah dengan semangat. Rangga menggeleng.


" Aku ada keperluan. Pulanglah dulu ini sudah sore," jawab rangga datar.


" Apakah selalu sedekat itu dengan pasien terapi?" tanya rubiah tidak suka jika rangga lebih akrab dengan pasien.


" Itu sudah pekerjaanku jangan terlalu ikut campur. Ku mohon segeralah pulang aku ingin berkonsentrasi," ucap rangga yang membuat rubi berdecak kesal pada calon tunangannya. Tanpa aba-aba dia sudah keluar dari ruangan rangga.


Rangga hanya menggelengkan kepala saat gadis itu pergi dari ruangannya. Dia saat ini sedang tidak ingin bertemu dengan rubi.


" Segera kamu urus kepulangannya, sekalian kamu pulanglah. Satu lagi tutuplah pintunya," ucapnya yang diikuti anggukan oleh asistennya.


.


.


.


Hari ini sungguh melelahkan bagi rangga. Tekanan dari papanya untuk segera menikah, kedatangan rubi yang menggaggu mood-nya karena kabar perjodohannya. Perasaan aneh untuk istri izdi. Semuanya seperti es campur yang menjadi satu.lelah itulah kata yang tepat.


Di sisi lain ...


" Sayang ... Kamu kuliah ya?" tanya izdi.

__ADS_1


" Perlu ya mas?" Tanya wardah.


" Tentu dong sayang kan Al umma madrasatul Ula bagi putra-putrinya. Bukankah begitu?" tanya izdi pada istrinya.


" Apa hubungannya mas?" tanya wardah.


"Tentu ada dong ... Saat ini kamu belajar untuk anak-anak kita kelak," jawab izdi. Wardah manggut-manggut saat mendengar jawaban izdi.


(capek gak nih para pembacaku, lanjut ya!!)


Suasana mencekam di rumah rangga ...


" Rangga tunggu!" seru sang ayah di ruang tamu.


" Ada apa pa? Bolehkah aku istirahat hari ini aku lelah," jawab rangga dengan malas.


" Sudah papa bilang ajaklah rubi komunikasi. Jangan berbicara kasar padanya. Kamu sudah waktunya menikah," ujar papa mengintimidasi. Rangga menatap papanya.


" Aku akan menikahi Fatimah pa. Jangan coba jodohkan aku dengan siapapun dan jangat membuatku semakin ilfeel pada semua perempuan karena papa. Permisi tuan Khan!" jawab rangga dengan ketus.


" Rangga ... Jaga bicaramu!" seru sang ayah. Namun rangga terus menyusuri tangga tanpa menoleh lagi.


" Lelah," jawabnya sambil berjalan.


Pak khan nampak kesal dan kecewa pada putranya. Ibunda rangga hanya tersenyum kecut saat melihat jawaban rangga yakni masih sama menikahi fatimah. Dari dulu hingga saat ini.


" Dia masih putramu rangga yang dulu mas. Cintanya masih untuk fatimah. Kau datangkan rubi pun dia tak terpangaruh. Malah rubi nanti yang sakit hati," ucap mama rangga. Pak khan hanya mengangguk lesu saat dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin putranya bahagia itu saja. Namun gayung tak bersambut, rangga tetaplah rangga yang masih dengan pendiriannya yang kuat. Menikahi Fatimah dokter muda yang kini sedang kehilangan ingatannya.


Di kamar Rangga ...


" Fatimah ku mohon menikahlah denganku saat ini. Ijinkan aku membahagiakanmu. Berikan aku kesempatan kedua itu. Bahkan hingga saat ini pun aku masih tetap mencintaimu. Sulit bagiku menerima orang lain dalam kehidupanku ini. rasakanlah cintaku mulai saat ini, jadilah pendampingku fatimah. Please," monolog rangga di kamarnya. Bayangan fatimah terus berkecamuk dalam kalbunya. Fatimah dan khumairah adalah dua gadis berbeda namun memiliki kisahnya sendiri. Rubiah gadis baik namun Rangga tak begitu tertarik dengannya. Ya, karena dia lelah kembali menaruh hatinya pada orang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Dears pembaca, kira-kira bersama siapakah ya dr. Rangga Azhof Khan? Fatimah atau rubiah ya?


Jangan lupa like, vote ya komen juga mksiihhhh.


__ADS_2