Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Bertemu Maria


__ADS_3

Hari ini Pagi-pagi sekali izdi bersiap mengantarkan gadisnya untuk kembali menempu pendidikannya yang tertunda. Dia berharap kali ini sukses membuat wardah bahagia. Untuk rangga izdi sudah tak ambil pusing. Meskipun dia tak mencintai rubi setidaknya dia akan menikah dan berusaha membahagiakan rubi suatu saat pasti akan tumbuh rasa cinta.


" Sudah sayang?" tanya izdi pada wardah yang berada dalam ruang ganti.


" Bentar mas sedikit lagi," jawabnya dengan suara agak keras. Izdi hanya menggeleng sambil tersenyum dengan menatap ke arah meja rias istrinya.


" Mas tunggu di bawah ya yang?" tanya izdi dengan membawa tasnya.


" Iya mas," jawab wardah menimpali.


Suasana rumah kembali sangat damai. Meskipun mereka memiliki sebuah perihal pelik. Namun mereka kembali fokus pada keluarga. Rumah tangga memang tempatnya sebuah permasalahan biarlah semuanya diselesaikan satu persatu.


" Den ... Sudah siap sarapannya," ucap bibi. Rangga mengangguk sambil senyum.


" Iya bi nunggu ny. Izdi," jawab izdi yang membuat pembantunya tersenyum. Nampak dari kejauhan wardah sudah siap dan sudah cantik.


" Cantiknya ny. Izdi," pujinya pada wardah yang nampak tersenyum di balik cadarnya.


Tak berapa lama pun mereka menyusuri jalan untuk sampai di tempat tujuan yakni kampus besar. Universitas ini memiliki beberapa jurusan yang menarik namun istri izdi memilih jurusan yang menurutnya tidak perlu di tempuh. Design Fashion adalah sama dengan menjahit menurut izdi tapi ya sudahlah.


Sesampainya di kampus ...


" Ahmad Izzudin Al Qassam akhirnya kamu ke kampus ini juga," sapa Rasyid temannya di Zaman SMA.


" Kamu ini bisa saja syid," jawab izdi dengan santai. Rasyid penasaran karena membawa seorang perempuan.


" Siapa iz?" tanya rasyid tanpa ada urat malu. Penasaran dengan izdi yang sekarang. Izdi tersenyum.


" Istriku syid," jawab izdi dengan bangga. Rasyid sudah memprduganya. Saat wardah mengisi formulir izdi dan rasyid keluar dari ruangan berbincang di depan.


Ketika berada di depan ruangan pendaftaran ...


" Masih ingat Maria tidak iz?" tanya rasyid dengan sedikit berbisik.

__ADS_1


" Tidak begitu memikirkan sih syid. Memangnya kenapa dengannya?" jawab izdi ngasal karena sedang tidak ingin membahas selain istrinya.


" Bukankah dulu kamu mencintai Maria iz?" tanya Rasyid dengan menatap izdi.


" itu dulu. Semuanya sekarang sudah berubah syid. Dia dulu juga dengan tegas menolakku. Labil dong kan ya waktu itu namanya juga anak-anak sedang jatuh cinta. Tahulah ya pasti khilaf ngomngnya alias ngelantur kemana-mana," jawab izdi dengan santainya dan rasyid pun mendengarkan dengan seksama. Tak ada guratan rindu di wajah izdi untuk maria.


" Benarkah iz? Padahal aku ingin memberi tahumu tapi sepertinya tidak layak konsumsi ini," kata rasyid dengan tertawa yang membuat izdi menggeleng.


" Kamu ini masih saja seperti ini. Sudah menikah syid?" tanya izdi. Rasyid menggeleng.


" Belum iz. Sedang menikmati kesendirian," jawqbnya dengan serius.


Saat mereka sedang asyik dengan obrolannya. Wardah menyembul dari balik pintu.


" Mas sudah ... " ucap wardah. Mereka berdua pun spontan menoleh. Izdi tersenyum pada istrinya itu.


" Kita ke kantin dulu ya sayang? Atau sekaliaj jalan-jalan di kampus sama lihat-lihat situasi," ucap izdi yang membuat wajah wardah berbinar yang menunjukkan bahwa dia setuju. Rasyid yang melihat mereka berdua jadi ikutan senyum bahagia.


" oke mas," jawab wardah kemudian tangannya di gandeng oleh izdi. Rasyid hanya menggeleng iri dong ya masih jomblo.


" Siap bro," jawab rasyid dengan senyum hormat. Izdi hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Rasyid masih orang yang sama dengan dulu.


"Asslamaualaikum .. "


" Waalaikumsalam bro. Hati-hati," jawab rasyid yang kemudian diikuti anggukan iz dan rasyid pun masuk ke ruangan.


Kampus besar kini nampak sangat bagus. Begitulah izdi menyebut kampus ini. Ini adalah kampus dimana dia menimba ilmu kedokteran umum. Izdi menggandeng istrinya dengan bangga menyusuri setiap jangka di kampusnya. Nampak asri dan menyenangkan. Sudah banyak yang di perbaiki.


" Mas dulu kuliah di sinj enak ya?" tanya wardah. Izdi tersenyum mendengar oertanyaan itu terlontar.


" seneng dong sayang. Karena mas memang suka dengan jurusannya," ucap izdi.


" Oh ... " jawaban itu saja yang terlontar dari bibir manis wardah. Dia tidak menanggapi apapun lagi.

__ADS_1


Nampak dari kejauhan seseorang melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Wardah menatap izdi rupa-rupanya dia juga sedang menatap ke arah perempuan cantik yang datang ke arah kami.


" Hai, iz apa kabar?" tanya gadis cantik di hadapan kami. Mas iz hanya tersenyum canggung mungkin karena ada aku. Tak berselang lama.


" Baik ... " jawab mas iz singkat. Gadis itu kini menatap ke arahku dan melebarkan senyumnya. Dia pun menyapaku.


" Adiknya izdi ya? Pasti mau kuliah," ucapnya. Ketika mas izdi mau menjawab aku cubit lengannya. Aku yang menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk.


" Sudah ku duga. Iz kita makan siang dulu yuk, baru ketemu kan udah lama kita tidak jumpa," ucapnya dengan sangat riang. Mas iz yang ingin menolak menatapku tapi aku menganggukkan kepala untuk menghormati gadis di depannya ini.


" Tidak bisa lama ya aku harus segera kembali ke rumah sakit," akhirnya izdi memberi jawaban tengah-tengah. Wardah juga tak menaruh curiga apapun pada suaminya dan gadis itu. Ia berfikir bisa saja ini hanya sebuah pertemanan yang dulu mereka jalin.


Kami pun menyusuri panjangnya jalannya ke kampus untuk menuju kantin kampus. Gadis itu nampak menggandeng tangan suaminya. Namun izdi segera menepisnya.


" Jangan seperti ini kita bukan muhrim. Ada orang lain di sisi kita jangan melakukan hal-hal yang menimbulkan fitnah," ucap izdi menegaskan pada gadis itu. Aku hanya menghela nafas melihat gadis itu. Kenapa terlalu agresif pada lelaki.


" kan ada jas putihmu iz. Tidak akan mengena pada kulit. Kita sudah lama tak bertemu bukankah kamu pernah menitipkan hatimu padaku," ucap gadis itu tanpa sungkan. Izdi langsung pindah ke samping kananku.


" Jagalah sikapmu jika ingin kami temani ke kantin," jawab izdi sangat datar tanpa ekspresi yang jelas. Maria nampak kecewa pada sikap izdi padanya.


Sesampainya di kantin ....


" Eh ada nona maria ... Mau pesen apa non?" tanya bu kantin sambil menatap kami bergantian.


" Menu Spesial bu yang ada di sini," jawab maria dengan riang.


" Non ... Suaminya sudah datang ya? pak izdi??" pertanyaan itu sontak membuat izdi tersedak dengan air liurnya sendiri. Wardah pun ikut melotot ke arah bu kantin dengan tatapan tidak percaya. Kenapa suaminya terlibat pasangan suami istri dengan perempuan di depannya ini. Apakah di belakang wardah suaminya menikah lagi. Pikiran wardah jadi kemana-mana. Perempuan itu hanya senyum sendiri sedangkan mas iz nampak bingung dibuatnya.


" Bisa aja bu kantin ini," jawab maria dengan sangay ambigu. Izdi juga tak mengucapkan sepatah kata pun pada maria dan bu kantin. Wardah menjadi curiga diantara mereka.


.


.

__ADS_1


.


Hayooo siapa maria ya? Istri izdi juga gak sihhh readers. Ikuti terus yak jangan lupa like, komen, gift dong biar up-nya makin semangat


__ADS_2