Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Prepare to akad


__ADS_3

Izdi yang masih menatap istrinya itu mulai sedikit terganggu karena zayyan tiba8tiba muncul dengan ke-Geje-an yang dia buat.


" Udah kali dek mandang istrinya lanjut nanti malam lagi," zayyan mulai agak vulgar arah katanya.


" What ....!" seru izdi dengan diikuti tawa azzam di sebelahnya.


Izdi menggeleng-geleng dengan ucapan kak Zayyan. Azzam juga ikut tertawa saat melihat ekspresi izdi.


Canda dan tawa terus menghampiri keluarga pesantren. Izdi dan para lelaki lainnya mempersiapkan kebutuhan pernikahan untuk zayyan. Para perempuan juga sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kak azizah.


Saatbdi kamar azizah ...


" Mau di apakah kamar kakak dek?" tanya zizah pada wardah.


" Di sulap dong mbak. Ini cewek-cewek cantik siap bantu kak," jawab wardah sambil mengerling.


" ya Allah gak usah repot-repot. Kakak kan gak ada pesta pernikahan hanya syukuran biasa dek. Gak usah gini-ginian gapap," ucap azizah nampak tidak enak pada wardah.


" Kak ... Menikah itu sekali seumur hidup jangan menyia-nyiakan. Nikmatilah pernikahan ini. Kakak zayyan bukan orang tidak mampu tapi demi kebahagiaanmu dia rela melakukan apapun," jawab wardah. Azizah mengangguk mengiyakan ucapan wardah.


" Baiklah ... Semuanya terserah kalian saja kakak akan ikut," ucap azizah yang kemudian duduk di sebelah mereka.


Azizah nampak bahagia melihat mereka semua berkumpul di pesantren ini. Dia terkadang berpikir siapa yang akan meneruskan pesantren besar ini. Sedangkan umi dan aba tidak mungkin mengelolanya sendiri. Beliau-beliau sudah sepuh. Namun guratan sedih itu terpancar ke wajah azizah sehingga wardah menyadarinya. Dia mendekati azizah dengan perlahan.


" Kak .... Apakah yang kamu pikirkan saat ini?" tanya wardah pada kakaknya.


" Pesantren ini yang kakak pikirkan dek. Bagaimana ke depannya? Inilah yang kakak khawatirkan ketika meniKah," ujarnya dengan mata sendu. Wardah memeluknya dengan ikhlas dan membuatnya tenang sebelum akad. Wajah bahagia pengantin tak boleh berubah karena hal semacam ini.


" Kak ... Percayalah pada alur Allah. Siapapun nanti yang menggantikan aba sama umi dialah yang terbaik," jawabnya dengan wajah teduh. Azizah mengangguk. Dia benar-benar memikirkan hal itu.


Hari ini suasana pesantren sangatlah berbeda dari biasanya. Nampak tenda di dirikan di depan masjid pesantren. Banyak makanan di sediakan di meja-meja. Lampu sorot yang menyinari halaman pesantren. Karena malam ini adalah hari akad putri kedua Kyai Azizah. Setelah sekian lama perjalanan mencari jati diri kini dia sudah menerima bahwa sebenarnya dia harus menikah bukan sebaliknya. Umi yang sakit malam ini berusaha bangkit untuk menyaksikan putrinya yang sebentar lagi menjadi istri dari seseorang.


" Umi? Apakah bisa?" tanya wardah sekali lagi.


" bisa nak. Kita ikuti saja khidmatnya pernikahan kakakmu. Terima kasih sudah bersabar selama ini. Maafkan umi jika tak adil padamu nak," ucap umi sambil memegang tangan wardah.


" Umi ... Entah apapun masalahnya kemarin. Hikmahnya wardah jadi memiliki kesempatan untuk tinggal bersama kakak dan orang tua lebih lama. Kakak pun lebih menyayangi wardah umi. Semua hal yang terjadi bukankah ada hikmahnya umi. Kan umi yang menjelaskan dalam kajian saat wardah nyantri di sini.


" Terima kasih sayang. Umi bangga memiliki menantu sepertimu," Ucap umi membuat wardah mewek sebentar karena terharu.

__ADS_1


" Umi harus sehat. Harus. Supaya bisa mendampingi kami," ucap wardah menciumi tangan umi izdi sekaligus guru agamanya itu.


" Aamiin ... Doa anak yang baik insyaallah di dengar sama Allah," jawab umi sambil tersenyum dan mengelus menantunya dengan perlahan.


Fatimah yang menyaksikan kedua perempuan itu yang kini sama-sama menjadi ibu jadi menitikkan air mata. Wardah meskipun adiknya tapi pengalamannya lebih banyak darinya. Kesabaran wardah sudah keluar dari akal pemikiran keluarganya. Dia sungguh menjalaninya dengan ikhlas dalam keadaan hamil seorang diri ketika suaminya menikah dengan orang lain. Sakit saat melihat adiknya di perlakukan seperti itu. Tapi itu adalah pilihan wardah untuk bertahan. Tapi hari ini lihatlah kebahagiaan itu dia gapai karena sebuah kesabaran yang dia jaga dengan sepenuh hati.


" Semoga selalu bahagia dik," lirih wardah saat melihat umi dan wardah saling berpelukan.


Azzam mendekati fatimah ...


" Hai ... Sayang! Kenapa menangis?" tanya azzam pada istrinya.


" Lihatlah mas! Betapa bahagianya adikku bersama ibu keduanya. Jika kamu melihat kehidupannya hampir setiap hari dia tak melihat kebahagiaan. Tapi dia bertahan demi benih yang ada dalam rahimnya mas," cerita fatimah pada azzam.


" Karena dia adalah wanita pilihan untuk mendampingi izdi," jawab azzam sambil memeluk pinggang istrinya.


" Iya mas ... Jika aku yang menikah dengannya mungkin saat ini aku janda heheh. Mana mungkin aku sesabar itu," jawab fatimah terkekeh.


" Ya karena kamu sudah dijodohkan sama aku sayang sejak pertemuan kita di sekolah dulu," jawaban azzam membuat istrinya tersipu malu.


" Bisa saja kamu ini mas," jawab fatimah sambil mencubit pinggang suaminya.


" Ssstttttt .... Jangan membahas itu di sini. Malu tahu mas jika ada yang denger," ucap fatimah sambil melotot pada suaminya. Azzam terkekeh melihat ekspresi istrinya.


" Aku denger loh dari tadi udah nyimak bahkan," lirih Izdi dari belakang. Fatimah dan azzam menoleh.


" Ya ampun ... Selesaikan sendiri mas. Aku mau ke sana," fatimah sudah melesat menjauhi mereka berdua sebelum terlibat perdebatan yang gak ada manfaat.


" Kamu kenapa di sini gus iz. Lihat istriku yang notabene-nya adalah mantan kekasih anda itu mengatakan bahwa jika dia menikah denganmu saat ini statusnya janda katanya hahahahahah," kata azzam sambil tertawa yang diikutu izdi yang juga tertawa.


" Fatimah itu masih saja mengkhayal sesuatu yang gak kejadian. Jaga itu mas istrinya khawatir tertarik pada pesonaku lagi," goda izdi. Azzam langsung membogemnya dengan ringan di pundak.


" Janganlah gus. Jika semuanya tertarik padamu harusnya laki-laki di dunia punah saja untuk apa mereka hidup," ujar azzam yang membuat mereka berdua tertawa bersama-sama.


" Hahahahahhahaha," tawa itu mengundang pandangan fatimah dan wardah serta umi.


" Apa yang mereka obrolkan kak?" tanya wardah.


" Entahlah dua laki-laki itu elmemang sedang adu pendapat dik. Entah apa itu," ujar fatimah yang sebenarnya juga gak tahu apa yang mereka bahas.

__ADS_1


Di masjid...


" Sudah siap semua pak kyai! Monggo kita sholat maghrib berjamaah dulu setelah itu kita laksanakan akadnya. Para tamu masyarakat sini sudah banyak yang hadir," ucap ustadz ilyasa yang kini mendampingi pak kyai dan keluarga dalem. Dia adalah pengganti mas azzam.


" Baiklah nak ... Silahkan adzan dulu!" seru pak kyai pada ilyasa. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk.


٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ


(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ


(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ


(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)


Lantunan suara adzan yang di kumandangkan ilyasa sangatlah merdu. Pemuda jebolan kairo itu siap mendampingi keluarga ndalem 1 bulan terakhir ini.


.


.

__ADS_1


Alhmdulillah baru bisa up pas selesai buka. Likeee yaaaa dukungannya. Thank you so much.


__ADS_2