
Blushhhh.
Rasanya malu sekali saat seseorang mengatakan pakaian dalam Nasya kelihatan. Orang yang tak di kenal mengatakan hal itu rasanya sesuatu. Rangga dari kejauhan nampak mencari sesuatu di dalam lemarinya. Beberapa saat kemudian ...
" Pakailah ini! Mataku jadi berdosa untuk kedua kalinya gara-gara kamu," ucap rangga sambil melempar kaos ke arah nasya. Gadis itu mendelik saat dirinya membuat rangga berdosa kedua kalinya.
" Jadi sebelumnya kamu pernah melihat?" tanya nasya memastikan pada dokter di depannya.
" Kenapa? Apa kamu ingin tahu? Atau mau mempraktekkan sekalian?" ucap rangga sambil tersenyum smirk ala-ala dokter rangga. Nasya langsung menutupi dadanya. Apa-apaan pemuda di depannya itu.
" Mana kamar mandinya?" tanya nasya tanpa basa basi dan tanpa menjawab ucapan rangga. Menurut nasya senyuman pedofil rangga mengerikan. Namuj rangga hanya menunjuk pakai tangan tanpa bersuara.
Setelah gadis itu melenggang ke kamar mandi dengan cepat. Rangga hantq menggeleng kepala.
" Gadis idiot ... Ngapain pakai nanya segala," ucap rangga kemudian fokus pada berkas pasien di depannya.
Saat rangga sedang sibuk nasya keluar dengan rambut basahnya dan saat itu pula ada dokter rahman. Mereka bertiga saling bertukar pandang. Rahman dan rangga jadi salah tingkah.
Glek.
Rangga jadi susah menelan salivanya. Sedangkan rahman langsung berbalik badan keluar sambil mengatakan yang membuat rangga menoleh dengan tatapan kesal.
" Sorry ... Gak sengaja. Kalau sedang melakukan sesuatu tutup pintumu. Lanjutkan lagi saja nanti kita bicara!" seru rahman.
" Melakukan apa?!" teriak rangga sambil mengernyit.
" Melakukan apa maksudnya dokter?" tanya nasya. Dokter rangga menatap nasya dari bawah sampai atas.
" Heh, gadis idiot! Kenapa kamu keluar gak pake hijab pake acara keramas segala. Kamu sengaja ya menggodaku," ucap rangga geram. Nasya masih saja tidak mengerti. "Masuk sekarang ke kamar mandi!" seru rangga kemudian.
" Tapi bapak ... Hijabku basah pak aku baru mau bilang," ucap nasya.
" Ya ampun gadis idiot ini huft ! Menyusahkanku ..." sesal rangga dengan sedikit marah pada dirinya sendiri. "Masuk sekarang ke kamar mandi akan kucarikan, cepat masuk!" bentak rangga. Nasya pun bergegas masuk tanpa menoleh lagi.
" Ya ampun dosa apalagi sih aku. Hah ... menyusahkan sebenarnya dia itu siapa sih? Kenapa juga tadi aku peduli padanya jadi nyesel kan heleh," monolog rangga sambil meminta bantuan pada asistennya mencari hijab.
__ADS_1
" Carikan aku hijab di dekat sini, cepat!" seru rangga pada asistennya. Dia pun segera berlari karena rangga nampak marah. Sedangkan rangga memijat pelipisnya yang sebenarnya tak sàkit. Dia hanya di uat pusing oleh gadis yang dia bantu. Apalagi di tambah rahman yang salah duga membuatnya malah pusing beneran.
" Hadeh ... Membuat jengah saja," ucap rangga.
Beberapa menit kemudian sang asisten datang dengan membawa beberapa hijab. Dia mendekati atasannya sambil menyodorkan jilbabnya.
" Ini dokter," ucapnya.
Rangga langsung mengambilnya dan segera masuk ke dalam sebelum gadis idiot itu kembali bikin ulah dengannya. Rangga mengetuk pintu kamar mandi dan menyerahkan sekantong plastik hijab. Nasya menerimanya dan segera memakainya.
" Thank you," ucap nasya. Namun rangga hanya mengangguk. Dan pergi dari depan kamar mandi. Tak selang beberapa menit gadis itu keluar dari kamar mandi. Suara rangga membuatnya geleng-geleng.
" Jika sudah keluarlah pintunya sebelah sana!" seru rangga.
" Sekarang pak?" tanya nasya yang baru keluar dari kamar mandi.
" Besok ... " jawab rangga. Nasya jadi bingung dibuatnya. Secara akademik nasya gadis yang cerdas hanya saja ketika di hadapkan hal-hal seperti ini dia bingung.
" Gimana pak maksudnya?" tanya nasya ulang.
"Ya ampun kasar sekali dia. Semoga dia bukan jodohku. Parah kasar banget sih!" seru nasya di luar ruangan.
" Tapi dia baik mbak pemilik rumah sakit ini juga. Mungkin mbaknya belum kenal saja," jawab asistennya. Nasya hanya mengedikkan bahu saja lalu pergi.
Setelah dia sampai di tempat suami kakak cantik di rawat. Azzam menatap tajam pada adiknya.
" Kenapa baju sama jilbabmu berganti? Darimana saja dirimu?" cecar azzam pada adiknya. Nasya pun agak malas menjawab tapi tetap saja dia menjawabnya.
" ada seseorang yang membantuku," jawabnya malas menjelaskan.
Di dalam ruangan izdi ...
Wardah datang menghampiri suaminya yang terpasang banyak alat. Wardah yang awalnya terdiam jadi semakin tergugu hatinya. Suaminya di penuhi dengan perban dan alat-alat kedokteran entah apa itu. Wardah datang menghampiri.
" Mas ... Aku datang. Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah seharusnya mas baik-baik saja. Jangan lama-lama sakitnya tidakkah mas merindukanku. Maafkan wardah mas. I love you mas iz," ucap wardah di dekat telinga izdi. Namun izdi masih terlelap. Wardah mengusap air matanya sambil membisikkin sesuatu. " Bangunlah mas anakmu menunggu," ucap wardah lirih. Wardah mengecup izdi dengan penuh kasih sayang. Sekali lagi wardah menghrla nafas.
__ADS_1
Tak selang beberapa menit wardah keluar karena dia yakin umik pun sangat khawatir ingin mengetahui keadaan putranya. Wardah pun segera keluar.
Sesampainya di luar ...
" Umik ... Silahkan," ucap wardah. Umik mengangguk dan masuk.
Saat wardah duduk di sebelah azizah di dekati oleh maria.
" Jika kamu tidak datang tidak mungkin mas izdi bingung memilih diantara kita. Kamu pun mempersulit dia untuk memilih. Sedangkan laki-laki bisa menikah lebih dari 1," ucap maria membuat wardah syok.
Deg.
Apa yang dikatakan oleh maria adalah benar. Tetapi wardah tidak sanggup jika memiliki madu. Jika kecelakaan ini karena dirinya maka biarkanlah izdi menceraikannya. Dia bukan tipikal orang yang suka di madu. pernikahannya dulu bukan karena cinta saja tapi dia ingin mengembalikan nama baik keluarga. Jika wardah tak bahagia itu tidak adil baginya.
" Jika memang kecelakaan ini karena saya pergi dari rumah dan mas iz bingung memilih maka saya akan membantunya memilih. Biarkan saya yang pergi dari kehidupannya," jawab wardah dengan tegas sedang maria berbahagia dengan ucapannya. Azizah yang mendengar jadi mencurigai jawaban wardah. Apa mungkin wardah dan azzam memiliki hubungan katena wardah begitu yakin meninggalkan suaminya.
" Apakah ini balasanmu untuk kakakku? Dia begitu membahagiakanmu? Tanya azizah dengan ketusnya. Azzam pun menyaksikannya namun wardah tak melakukan pembelaan apapun karena dirinya sudah tidak baik-baik saja. Namun tidak dengan nasya dia langsung mengomentari sikap mereka.
" Jika kalian tidak bisa menghargai usaha kakak cantik untuk sampai di sini biarkan dia kembali bersama kami. Satu lagi jangan mencarinya hanya untuk menyakiti. Memalukan!" seru nasya kemudian menggandeng wardah
" Kak kita pergi sekarang! Bukan kita yang butuh mereka, tapi mereka yang membutuhkan kakak. Mari kak kesehatanmu lebih penting," ujar Nasya menggandeng wardah. Gadis rapuh itu mengikuti nasya sambil meneteskan air mata. Dia pun hanya diam tak menjawab apa-apa.
Aba, Abi, Azizah semuanya tak ada yang membela karena yang di sampaikan maria mereka anggap benar. Padahal yang sebenarnya izdi sudah menceraikan maria. Namun keluarga besar belum mengetahuinya. Tatapan sinis datang dari fatimah pada keluarga izdi.
" Kalian terlalu munafik! Adikku sudah merelakan semuanya demi putra kalian tapi balasan kalian sangat menjijikkan. Mungkin alasan ini yang membuat Allah tak mengizinkanku jadi anggota keluarga kalian. Karena aku tidak sebaik adikku, jikalau aku yang menikah dengan putra kalian pasti sudah kutegaskan bahwa maria adalah masa lalu dan dialah yang meninggalkan putra kalian. Cih, mengerikan! Ayo pa , ma kita pergi!" seru fatimah dengan sangat kasar. Gadis itu sangat marah karena adiknya di sia-siakan. Fatimah menyesal karena membuat adiknya menikah dengan orang yang salah.
Semua keluarga izdi melongo mendapat umpatan buruk dari fatimah. Semua orang pergi dari depan UGD.
" Tenanglah semua akan baik-baik saja, izdi juga akan sembuh. Kita harus berdoa," ucap maria dengan lemah lembut.
.
.
.
__ADS_1
Like,komen,gift-nya ya maksih readers-ku i love you sekebon ....