Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Pertemuan izdi dan Wardah


__ADS_3

Meskipun sedang di hadapkan dengan permasalahan yang pelik antara mereka tapi baik wardah maupun izdi tak ingin menyakiti siapapun. Malam ini wardah ke toko buku guna untuk menyelesaikan tugas skripsinya. Saat ini dia benar-benar ingin fokus terhadap masa depannya. Saat dia berkunjung ke perpustakaan umum.


" Wardah kenapa di sini?" tanya izdi. Wardah bertemu izdi dalam keadaan seperti mahasiswa. Wardah yang menggunakan kacamata penampilan kasual yang sederhana di tamba dengan warna monokrom yang membuatnya kian tambah cantik.


" Oh, pak izdi! Selamat malam pak!" seru wardah pada izdi. Izdi jadi menoleh ke sana kemari. Kenapa wardah seformal ini. Sahabat wardah yang mengetahui kebingungan dosennya langsung saja nerocos.


" Pak ... Dia mahasiswa anda. Dia mahasiswa yang selalu menutupi wajahnya saat kuliah," sontak saja izdi agak terkejut. Jadi selama 3 terakhir ini dia sudah bersama wardah.


" Apa iya?" tanya izdi pada wardah.


" iya pak benar," jawaban wardah membuat pemuda itu tersenyum. Pasalnya saat dia bersama wardah gadis itu tak mau kuliah sedangkan hari ini dia sudah mau berkuliah dan skripsi.


" Baiklah lanjutkan!" seru izdi pada mereka berdua.


" Siap pak!" seru mereka. Kemudian izdi berlalu dari hadapan mereka.


Nampaknya dari kejauhan zizah memperhatikan kakaknya sedang mengobrol dengan mantan istrinya yang dia anggap sebaGai benalu dalam kehidupan kakaknya. Zizah semakin ke sini selalu saja ingin menjauhkan izdi dari wardah. Dia bahkan tahu jika kakaknya itu belum bercerai. Zizah bukan orang jahat tapi ketika penolakan yang azzam lakukan padanya waktu itu membuat adik saudara izdi itu tak seramah dulu.


Flash back ...


Lamaran di rumah kediaman kyai sedang berlangsung. Azzam ingin nengkhitbah zizah kakak izdi. Azzam ingin zizah mendampinginya dalam keadaan apapun. Namun gadis itu memberikan syarat yang memberatkan azzam.


" Saya akan menerima lamaran jika mas azzam menjauhi keluarga pak yusuf dan harus pulang ke pesantren sebagai bukti bahwa dia sudah melupakan wardah. Karena zizah tahu dia mencintai wardah. Karena aku dan wardaH kami jauh berbeda. Azzam hanya bisa melongo mendengar penuturan zizah yaNg menurutnya kurang tepat. Aneh bagi azzam jika zizah tak ramah. Mana mungkin dia bisa sejalan dengan zizah sedangkan responnya sudah demikian terima kasih membuat azzam sedikit ragu pada gadis itu.


" Bagaimana nak azzam?" tanya pengarep padanya. Azzam menghebuskan nafas panjangnya.


" Sebelumnya saya meminta maaf jika lancang. Begini syarat yang di minta neng terlalu berat. Mungkin jika melupakan wardah oke saya kyai bu nyai. Tapi yang lain malah ikut berimbas. Keluarga fatimah adalah rekan bisnis saya yang tidak mungkin menghapus jejak. Kami saling berkolaborasi dalam bisnis sudah lama. Jika memang neng tidak berkenan saya lebih baik mundur," jawab azzam dengan tegas. Dia tidak mungkin mengorbankan bisnisnya demi sebuah pernikahan. Masih ada jalan lain yang bisa di tempuh untuk menuju pernikahan. Walaupun dengan siapapun nanti kita bersanding.

__ADS_1


" Baiklah saya tidak ingin meneruskan hubungan ini. Permisi Assalamulaikum," jawab Zizah dan kemudian pergi meninggalkan ruangan. Azzam pun menghela nafas panjang. Tidak ada niat untuk menolak maupun membatalkan khitbahnya pada neng zizah tapi syarat itu terlalu berlebihan menurut azzam.


" Mohon maaf bu nyai pak kyai ... Sekali lagi azzam mohon maaf bukan bermaksud yang lain," ucap azzam. Pak kyai dan bu nyai pun mengangguk sambil tersenyum. Entah bagaimana perasaan beliau saat ini. Ketika putrinya tidak jadi di khitbah. Karena pada dasarnya neng zizah memiliki sikap yang egois sedari kecil.


Semenjak hari itu azzam keluar dari pesantren. Dia sudah memutuskan untuk melanjutkan perusahaan keluarganya. Dia harus fokus karena sang ayah saat ini berada LN. Jadi perusahaan yang di indonesia harus tetap berjalan.


...****************...


Karena dia aku tidak bisa menjalin hubungan dengan azzam. Pemuda itu memilih keluargamu dari pernikahan kami. Ada rasa jengkel di hatinya saat kakaknya bertegur sapa dengan wardah. Luka lamanya saat ini kembali terbayang-bayang.


Di tempat wardah ...


" Pak bisakah saya pergi sekarang?" tanya wardah pada izdi yang masih di sana. Izdi mengangguk.


" Silahkan! Oh ya wardah selamat atas pernikahanmu," ucap izdi yang membuat wardah meng-oh dan temannya pun ikut bertanya gara-gara izdi.


" Sebentar ya ... Saya memang sudah nikah dan satu lagi sudah punya 1 putra berusia 2 tahun," jawab wardah akhirnya.


Betapa terkejutnya izdi saat wardah mengatakan sudah punya putra. Bahkan bersama izdi dia tidak hamil waktu itu. Teman-temannya kini jadi membeo tidak percaya dengan yang diucapkan oleh wardah.


" Tapi ... Wardah kamu tidak pernah sama sekali di antar oleh suamimu ke kampus?" tanya sahabatnya.


" Dia sedang sibuk," jawab wardah kemudian melambaikan tangannya. Dia segera melesat sebelum izdi bertanya kembali. Tapi wardah masih bingung dengan ucapan selamatnya. Pernikahan dengan siapa maksudnya. " Sudahlah," ucap wardah lirih.


Kepergian wardah benar-benar membuat dia iri sekali. Seberuntung itukah si azzam dengan istrinya. Bahkan dia tak selama itu berbahagia dengan wardah.


" Tidakkah kamu masih mencintaiku wardah, secepat itukah kenangan kita. Aku memang bersalah atas hubungan kita ini. Aku minta maaf. Mungkin maaf saja tidak bisa mewakili apapun tapi setidaknya jika kamu memaafkanku membuatku lebih baik," ujar izdi sambil berjalan ke arah parkiran.

__ADS_1


Sedangkan teman-temannya di dalam ...


" Wardah memangnya kenal pak izdi ya? Tapi apakah pak izdi suaminya? Tapi kok pak iz mengucapkan selamat aku jadi bingung. Ya gak guys? Ada yang aneh dengan mereka berdua semenjak di kuliah pertama," ujar intan.


" Entahlah tan ... Kan kamu yang selalu di samping wardah harusnya lebih tahu. Gimana coba teman nikah gak tahu? Harusnya kita ikut berbahagia waktu itu," jawab temannya.


" Tapi dia tidak pernah ijin. Bener deh gak bohong," jawab intan bingung. Karena selama berkuliah temannya itu tidak pernah ijin lebih dari 1 hari. Itupun karena sakit.


" Hadeh ... Pulang-pulang yuk! Besok ketemu lagi," mereka pun berhamburan pulang. Sekedar untuk beristirahat dengan menikmati skripsinya ini.


Di kamar wardah..


Putranya yang sudah tertidur di sampingnya. Wardah jadi mengingat pertemuannya dengan izdi. Pemuda itu sedikit lebih kurus namun tetap berkharisma. Tidak menyangka mereka terpisah karena seseorang. Keluarga izdi pun ikut andil dalam pemisahan mereka. Tidak menyangka jika perpisahan itu menjadikan sebuah kerinduan. Biarkan semuanya sama-sama meredamkan emosi. Wardah ingin waktu luang dan biarkan izdi pun berfikir untu masa depannya. Karena rumah tangga-nya yang sudah terpisah 3 tahun menyisakan duka bagi wardah. Tapi perempuan itu tidak menanda tangani perceraian. Dia ingin memberikan waktu izdi berfikir. Karena keluarga broken home bukanlah keinginanan wardah. Semua itu bisa di cegah selama memiliki kemampuan.


" Mas ... Kamu harus lebih dewasa lagi saat kita kembali. Aku pun berusaha menjadi ibu yang baik bagi putramu. Aku sudah memperbaiki diri setiap waktu. Aku harap kamu pun bisa membuat keputusan yang tegas dalam hidupmu. Berusahalah menjadi lebih baik mas demi putramu. Karena kamu adalah contoh baginya," ucap wardah sebelum memejamkan matanya. Dia merasa lelah dengan berjauhan dengan izdi. Waktu itu dia pergi bukan karena kalah. Tapi dia pergi untuk menang dalam membina rumah tangganya.


" Pa ... " lirih putranya.


" Ssssss ...... Sabar putraku kamu pasti akan bertemu dengan papa," jawab wardah dengan mata terpejam dan meng-pok-pok putra semata wayangnya.


.


.


.


Like yaaaaa makasihhhh baru bisa up lagi.

__ADS_1


__ADS_2