
Di sebuah puskesmas kota kecil. Wardah berbaring lemah karena membutuhkan sebuah energi cukup. Keadaannya yang tak memungkinkan baginya untuk kembali ke kediaman izdi saat ini. Wardah nampak lesu dengan kabar kehamilannya. Bukan karena dia tidak suka dengan kehadiran bayinya tapi dia sedih saat telah memutuskan untuk pergi dari ayahnya.
"Mbak cantik jangan bersedih kasihan bayinya," ucap sang ibu renta yang sejak pagi mendampinginya.
" Bu ini benar saya hamil sungguhan?" tanya wardah tak percaya karena peralatan medis di sana tidak memenuhi syarat.
" Tentu mbak cantik. Suaminya sudah tahu?" jawab dan tanya si ibuk renta balik.
" Belum buk. Tapi buk bolehkan saya menginap di rumah ibu dulu sampai pulih. Wardah memintanya tanpa sungkan. Sang ibu pun mengangguk karena sejatinya ibu sumi hidup sebatang kara.
" Tentu saja mbak cantik boleh. Berapa lama pun ibu siap dan sangat senang jika bisa menemani," ucap bu sumi yang membuat wardah tersenyum simpul dan memegang tangan bu sumi dengan bahagia. Orang asing namun sangat dekat. Itulah kalimat yang tepat untuk wardah dan bu sumi.
Alhamdulillah. Batin wardah.
Tak berselang lama sang mantri datang dan memberikan sebuah resep obat yang lengkap dan bagus. Wardah heran dapat darimana obat-obat itu. Tapi wardah tak peduli dia dan bu sumi ingin segera pulang. Namun saat melewati koridor puskesmas dia melihat Rangga sedang memberikan bantuan obat-obatan terbaik dari rumah sakit. Ketika wardah mencoba untuk bersembunyi namun rangga menangkap wardah di balik tembok itu.
" Tunggu sebentar aku ke sana dulu. Lanjutkan kegiatannya!" seru rangga.
Rangga mulai mendekat ke arah bu sumi. Dia mulai melihat di balik tembok. Bu sumi nampak bingung dengan kehadiran orang rumah sakit itu. Ketika rangga menemukan sosok itu.
" Jangan mengatakan apapun pada mas iz. Aku ingin sendiri," ucap wardah datar. Rangga jadi hanya bisa melongo saat gadis itu mengucapkan sesuatu tanpa senyum.
" Wardah sedang apa kamu di sini?" tanya rangga dengan tatapan mengintimidasi. Wardah mencoba bersikap setenang mungkin.
" Tidak ada bagaimana ? Kamu di cari keluargamu dari kemarin pulanglah!"seru rangga.
" Aku sedang ingin sendiri kak jauh dari mereka sementara waktu," jawab wardah. Namun sedari tadi rangga menatap kresek kecil yang di bawa oleh wardah.
" Kamu sedang hamil?" tanya rangga. Wardah sedang tidak ingin menjawabnya namun bu sumi memberi tahunya.
"Iya nak dokter mbak cantik sedang hamil," jawab bu sumi.
" Pulanglah kesehatanmu harus di kontrol," ucap rangga menatap wardah. Namun wardah malah melangkah pergi. Rangga mencegahnya.
__ADS_1
" Wardah ku mohon kondisimu harus stabil dan izdi harus tahu," sekali lagi rangga menekankan keadaan istri izdi itu.
" aku sedang sendiri kak mengertilah. Kamu pun sedang apa di desa ini?" tanya wardah balik.
" Aku sedang diberi tugas untuk menjadi dokter di daerah sini. Aku sudah banyak membuat kebodohan jadi papa mengirimku ke sini," jawab rangga dengan sungguh-sungguh. Wardah mengangguk paham.
" Kak aku harus pergi. Ayo bu sumi!" ajak wardah perempuan paruh baya di sampingnya. Bu sumi mengangguk dan mengikuti wardah yang tidak suka berlama-lama dengan pemuda itu.
Rangga hanya menatap punggung itu dari belakang sehingga menghilang di belokan pertama.
" Kenapa di saat aku ingin melupakanmu malah kamu hadir lagi dan kondisimu pun tidak baik- baik saja dengan izdi. Tidakkah kamu berfikir 2 kali untuk menjauhi izdi dengan keadaan ini wardah. Hamil tanpa di dampingi suami berat," monolog rangga sambil menatap punggung gadis itu. Rangga hanya menyesali keputusan wardah dalm keadaan ini.
Di sisi lain ...
" nduk tadi suaminya?" tanya bu sumi. Wardah menggeleng pelan.
" Bukan bu. Dia sahabat suami saya," ucap wRdah dengan tersenyum," bu sumi manggut-manggut mendapati jawaban dari gadis itu.
Dalam perjalanan ke rumah bu sumi wardah hanya diam. Dia berharap rangga kali ini tak memberi tahukan keberadaannya pada izdi. wardah tak bicara sama sekali saat perjalanan pulang bersama bu sumi.
Keesokan pagi harinya izdi yang berada di ruang kerjanya dengan tidak pulang sama sekali karena tidak tahu harus bagaimana mendapat sebuah panggilan dari umiknya.
" Assalamulaikum putra umik," ucap umi di seberang.
" Waalaikumsalam umik," jawab sudah tak bersemangat.
" Ada apa nak? Suaramya kok seperti lesu begitu?" tanya umi sedikit khawatir.
" Mik, wardah pergi dari rumah," jawab izdi singkat.
" Kenapa ? Aap alasannya?"tanya umi dengan penasaran.
" Maria kembali hadir dalam hidup kami umik," jawab izdi menjelaskan sedikit. Seketika sang umi merasa teekejut saat mendapati nama maria disebutkan oleh putranya.
__ADS_1
" Dimana maria saat ini?" tanya umi mencoba tenang.
" Dia sedang rawat inap umi. Dia memiliki penyakit serius," jawab izdi dengan lemah.
" Sabar nak, mungkin aba dan umi ke sana. Untuk wardah tetaplah cari istrimu, dia harus mendapatkan sebuah kejelasan tentang hubunganmu dan maria," jawab umi.
" Ya umik," jawab izdi yang kemudian mengakhiri panggilannya. Dia sudah tidak tahu akan berbuat apa untuk kehidupannya.
" dokter nona maria sudah sadar,"ucap asiatennya.
" Baiklah sebentar lagi aku akan berkunjung," jawab izdi. Dia segera bebenah mandi biar rasa lelah dalam tubuh dan hatinya terkurangi. Bebannya pun biar ikut meleleh di dalam air.
Maria yang sudah sadar sedari tadi. Merasa malu pada izdi karena saat dia sakit malah izdi yang ada sedangkan dulu dia pergi tanpa kembali ke izdi. Maria sebenarnya mencintai izdi, entah setan mana yang membuat dirinya meninggalkan pemuda yang tak lain adalah suaminya itu dengan sangat yakin. Namun beberapa tahun stelah semua yang dia impikan terwujud seketika pula dia merasa bersalah pada orang yang berstatuskan suaminya itu. Namun ketika niat baik waktu ingin kembali tiba-tiba dia terkena penyakit berbahaya sehingga dia memutuskan untuk berobat terlebih dahulu sebelum kembali. Tapi apalah daya dia bertemu dengan izdi si kampus dengan keadaan sakit dan izdi pun sudaj menggandeng perempuan lain.
Ya Maria adalah tipe orang pemikir. Hingga pertemuan itu berdampak pada psikisnya sehingga membuat penyakit itu kembali merongrong tubuhnya yang sudah membaik. Alhasil izdi melihat apa yang seharusnya tidak lihat. Saat asik dengan pikirannya.
" Apa yang kamu pikirkan?" tanya izdi pada maria.
" Oh izdi, tidak ada sedang mengingat sesuatu saja. Sejak kapan di sini?" jawabnya sambil bertanya.
" Sudah dari tadi," bohong izdi pada maria.
" Oh ... " jawab maria agak canggung. Dia merasa sudah bukan siapa-siapa izdi semenjak tahu istrinya adalah wardah.
" Makanlah aku bantu!" seru izdi. Namun maria menggelengkan kepalanya.
" Aku bisa sendiri iz. Kemarikan aku akan memakannya," jawab maria dengan menatap izdi yang sudah menatap maria dengan tatapan tajam.
" Duduk dan diamlah. Aku suapi jangan banyak berkomentar," ucap izdi yang kemudian menyuapi maria dengan perasaan campur aduk.
Rasa-rasanya hati izdi sudah seperti nasi campur tidak bisa fokus pada satu titik. Yang satu istri sekaligus cinta pertamanya dan yang kedua istri sekaligus orang yang paling berharga dalam hidupnya. Semuanya begitu ambyar ketika bebarengan.
...****************...
__ADS_1
Like ya izdinya galau sebenarnya siapa sih yang dia inginkan??????