Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
H-1


__ADS_3

Hari ini adalah hari ewuh pakewuh. Banyak orang untuk membantu acara pernikahan ini. Nampak rahman, rangga ikut membantu. Wardah pun sedang menghias ruangan dengan bunga sedap malam. Nuansa putih seperti permintaan fatimah.


Dari kejauhan izdi nampak hadir. Ada sungkan di hatinya namun dia datang dengan keinginannya. Saat dia baru masuk adzkan sudah memanggilnya.


" Papa ... !" suara teriakan adzkan menggema di seluruh ruangan. Izdi jadi menghentikan langkah kakinya. Semua orang berhenti beraktivitas hanya sekedar untuk menatap izdi yang jadi malu tetiba.


Adzkan berlari semampunya untuk sampai pada papanya. Izdi bingung mau bagaimana akhirnya izdi tersenyum saja pada putranya itu. Langkah kakinya jadi berat saat ini. Dia ingin kabur saat ini. Tapi putranya langsung menggendong. Pak yusuf bukanlah tipe orang pemarah dia hanya dapat tersenyum saat menantunya datang sedangkan paman zulfi mengucapkan kata-kata yang pedas di dengar.


" Anak muda untuk apa kamu ke sini acaranya masih besok," ujarnya.


" Sekedar mampir paman," jawabnya ala kadarnya saja.


Sedangkan adzkan memblokir ayahnya. Semua orang dilarang mengajak ayahnya mengobrol saat ini me time with daddy.


Mereka memilih kolam di taman untuk tempat bermain. Izdi memandang putranya lekat-lekat. Mungkin dengan menjada adzkan cukup membantu keluarga ini.


" pa, sebenarnya papa kemana? Selama ini ..."


" Entahlah nak, papa lupa jalan pulang. Percaya gak adzkan?" tanya sang papa dengan menatap putranya yang kini berusia 3,5 thun. Ya anak itu sangatlah lucu sekali. Parasnya yang tampan kulitnya yang putih tingginya yang memadai. Semua itu ada pada putranya.


" Pa mana ada orang dewasa lupa jalan pulang?" tanya putranya itu dengan terbata. Adzkan dia tarik ke pelukannya dan mendaratkan beberapa ciuman pada putranya.


" Papa tidak akan kemana-mana. Hanya saja papa masih butuh waktu sedikit lagi," ujar izdi dengan memeluk putranya itu.

__ADS_1


Seseorang datang menghampiri mereka membawakan makanan dan minuman.


" Makanlah!" seru wardah pada izdi. Adzkan ke mama untuk memeluknya.


" Ma ... Adzkan di sini dulu ya takut papa pergi lagi. Jarang-jarang papa di sini," ujar si kecil adzkan. Izdi menatap sekeliling yang masih sama namun ada sedikit perubahan.


Tak berselang lama paman zulfikar menghampiri mereka.


" Ajaklah adzkan masuk dulu! Ayah ingin berbicara dengan Izdi," ujar sang paman dengan wajah tak bersahabat. Adzkan awalnya menggeleng tidak mau pergi dari ayahnya. Namun wardah merayunya jika ayah tidak akan kemana-mana. Kakek ingin berbincang sebentar.


Setelah kepergian mereka dari gazebo dekat kolam.


" Iz ... Kamu sudah kuanggap sebagai putraku bahkan aku tidak pernah bertemu wardah semenjak dia kembali ikut ayahnya dan menikah denganmu. Aku memang bukan ayah kandungnya tapi aku yang merawatnya dari kecil. Ketika semua orang tidak mengharapkan dia hanya aku yang ada di sampingnya. Jadi ikatan batin kami sudah tak di ragukan lagi. Putriku itu terlalu penurut. Jujur aku kecewa padamu dan keluargamu iz. Mengapa kalian membuat anak baik itu dalam keadaan yang buruk. Ketika menikah harapannya hanya bahagia bersama suaminya. Dia pun memilih mengurus keluarga daripada kembali ke bangku kuliah. Keluargamu sangat egois iz paman tidak menyangka jika mereka membenci wardah sehingga mereka mengusir wardah saat kamu kecelakaan. mereka bilang wardahlah penyebab semua kecelakaan itu. Sebenarnya apa yang putri paman lakukan sehingga kalian setega itu, ujar paman panjang lebar seperti ingin berkisah.


Izdi langsung menoleh ke arah pamannya.


" Iya ... Mereka mengusirnya demi gadis bernama maria. Padahal waktu itu untuk sampai jakarta wardah butuh waktu. Dalam kondisinya yangs sedang hamil muda. Paman tidak habis pikir ada apa dengan keluargamu setega itukah atau memang mereka pura-pura baik selama ini," timpal paman menekankan mereka. Karena jelasnya dia tahu semua orang yang berperan aktif mengusir wardah.


" Paman tapi cerita yang saya dengar tidak demikian," jawab izdi. Paman mengedikkan tidak paham kenapa lagi. Karena yang harusnya tahu semua ini adalah saksi yang berada di sana. Rangga dan Rahman duduk datang menghampiri paman dan izdi yang berada di gazebo.


" Boleh kami bergabung paman ?" tanya rangga dan Rahman. Paman zulfi mengangguk dengan tersenyum.


" Hai iz ... Akhirya kamu datang kemari!" seru mas rahman.

__ADS_1


" Rahman, Rangga coba jelaskan apa yang terjadi di sana!" seru paman pada mereka. Rahman mengangguk mencoba menjelaskan secara rinci.


" Semoga aku tidak mengurangi maupun menambahi cerita. Iz waktu setelah kecelakaanmu, rangga yang tinggal satu desa lupa mengabari istrimu. Akhirnya dia menelpon wardah secara langsung. Beberapa jam kemudian wardah datang bersama azzam kakak nasya yang saat ini menjadi istri rangga. Dokter yang menanganimu memanggil istrimu saat itu maria pun ikut mengangkat tangan bahwa dia juga istrimu padahal kami tahu jika kamu telah menceraikan dia. Tapi keluargamu mereka tidak tahu. Tapi umi masih baik masih menyuruh wardah masuk iz. Akhirnya wardah bertemu denganmu untuk yang pertama dan terakhir waktu itu. Karena setelah itu wardah keluar dari kamar umi masuk ke ruangan. Maria mulai memberikan kesaksian tidak benar pada aba dan sanak saudara lain. Satu lagi kakakmu Zizah mengiyakan yang dikatakan maria bahkan dia ikut menambah-nambahi iz. Mungkin karena batalnya pernikahannya dengan azzam. Sedangkan azzam datang bersama wardah kala itu. Bahkan saat mereka mengusir istrimu umi belum keluar dari ruangan iz. Aku sudah mencoba menghentikan istrimu namun wardah memgatakan tidak apa-apa mas.


Seusai umik keluar semua orang yang di sana mengatakan bahwa wardah berselingkuh dengan azzam dan aku dengar sendiri dari kejauhan setelah mengejar wardah. Rasanya aku kecewa pada semua orang di sana. Istri baik di katakan berselingkuh dengan azzam yang hanya sekedar mengantar. Alhasil umik murka dikira benar. Akhirnya umi memutuskan bahwa maria akan tetap menjadi istrimu iz. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Aku pergi dari ruanganmu. Semenjak itu pula kita tak pernah bertemu. Sulit bagi kita menghubungimu kembali," cerita Rahman membuat izdi blank. Keluarganya yang bernuansa islami yang memiliki pesantren. Ada apa dengan mereka semua. Kenapa sikapnya bukan seperti orang baik. Mereka memiliki santri banyak tapi kenapa sikap buruk pada merek begitu menyakiti hati izdi. Wardah adalah santri mereka kenapa menfitnah dia sekejam itu.


" Untuk kehamilan wardah gimana mas?" izdi memberanikan diri untuk bertanya.


" Aku yang pertama kali tahu iz ketika di desa itu. Dia berusaha menyembunyikan kehamilannya dariku. Tapi aku seorang dokter pasti tahu resep yang dia pegang. Namun wardah tak ingin orang lain tahu iz," jawab rangga mengingat pertemuannya dengan wardah kala itu di rumah sakit cabang miliknya.


Izdi merasa dunianya terbalik. Dia tidak tahu harus seperti apa. Dia benar-benar sakit mengetahui kenyataan tentang keluarganya. Bagaimana bisa mereka sekeji itu pada menantu dan istri dari putranya sendiri. Kenapa tidak di tabayyun dulu oleh aba dan umi. Kekecewaan rasanya kali ini membuncah dalam dada izdi. Dia hidup dengan gamangnya setelah kepergian wardah. Dia merutuki istrinya itu karena meninggalkannya dalam keadaan sakit.


Bodohnya aku. Batin izdi


Tangisnya pun pecah saat itu di hadapan paman, rangga dan rahman. Dia merasa menjadi suami dholim pada istrinya.


Dari kejauhan wardah melihat suaminya menangis jadi ikut meneteskan air mata. Fatimah kemudian memeluk adiknya.


" Kak ... Haruskah dikatakan semuanya. Kasihan mas iz jika harus tahu bagaimana kejadian waktu itu," tangis wardah pada kakaknya.


" Harus ... Ini demi nama baikmu di hadapan izdi dek. Biar izdi tahu sesetia apa istrinya ini selama beberapa tahun terakhir. Tidak mudah menjadi seperti dirimu dek," jawab fatimah sambil memeluk adiknya.


.

__ADS_1


.


Like yaaaaq, gift dong ya maksihhhhhh


__ADS_2