Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Pengakuan Rangga


__ADS_3

Seharian sudah rangga bersama dengan rubi. Dia melihat rubi sudah membersihkan dirinya. Rangga mulai mendekat. Rubi agak menjauh.


" Mau apa?" tanya Rubi.


" Aku harus bertanggung jawab atas dirimu. Biarkan aku membeberkannya pada semua orang," jawab rangga. Namun Rubi menggeleng.


" Jangan katakan apapun biarkan semuanya mengalir," jawab rubi sambil menatap rangga. Namun rangga berupaya menyanggahnya.


" Kenapa? Aku sudah mrlakukan hal yang tidak senonoh padamu, apa kamu tidak takut hamil?" tanya rangga. Rubi hanya mengedikkan bahunya.


" Entahlah ... Tapi biarkan semuanya begini dulu ngga. Aku sedang tidak ingin berbuat apa-apa," Jawabnya dengan malas.


Rangga pun tanpa banyak bicara mengantarkan Rubi pulang. Dia tatap gadis itu karena setelah kejadian naas itu dia seperti perempuan yang trauma tapi sekarang dia terlihat aneh. Dia seperti tak terjadi apa-apa. Sebelum rubi turun dia mengucapkan sesuatu pada rangga.


" Jangan menikahiku jika kamu masih mencintai istri Izdi. Meskipun aku sudah jadi korbanmu karena dia setidaknya aku tidak tersiksa jika harus menikah tanpa cinta. Selesaikanlah rasa penasaranmu pada dia," ucap Rubi dengan berbisik. Dia kemudian meninggalkan rangga yang tak paham dengan maksud rubi. Gadi itu tak menoleh lagi. Dia berjalan masuk dengan tanpa beban.


Semenjak malam itu tak ada perbincangan yang signifikan antara rangga dan rubi. Mereka sama-sama dalam dunianya. Hanya saja kata-kata terakhirnya masih tergiang di telinga rangga.


Selesaikan rasa penasaranmu pada dia. Batin rangga. Dia tak habis pikir apa yang di maksud dengan itu. Saat ini dia sedang menunggu mas rahman dan izdi. Mereka bertemu seperti tak pernah terjadi apapun. Izdi juga membawa wardah bersamanya. Di cafe Rustic malam ini adalah perjamuan untuk dokter-dokter rumah sakit dan keluarganya. Semua hadir tanpa terkecuali.


Nampak tatapan mata rangga menemukan gadis cantik di balik cadarnya memasuki cafe warna soft blue yang dia kenakan sangatlah cantik. Rangga kembali mengingat kata-kata rubi. Jika dia menyuruh rangga menyelesaikan rasa penasarannya. Saat ini dia hanya penasaran apakah gadis itu pernah mencintainya atau tidak. setidaknya dia tidak akan menjadi orang bodoh.

__ADS_1


" Sayang mas ke sana dulu ya!" pamit izdi. Wardah hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan izdi.


Entah angin apa yang membuat rangga nekat. Dia menatap ke arah rubi yang nampak flat semenjak kejadian itu. Rangga langsung memegang microfon dan mengatakan sesuatu yang membuat semua orang tak beraktivitas.


" Hai, nona gadis cantik yang memakai gamis soft blue. Oh iya nona wardah atau nona khumairah. Benar ya begitu? Wardah atau khumairah," sekali rangga menegaskan ucapannya.


Rahman dan izdi menatap rangga. Apa yang dia inginkan saat ini. Dia biarkan wardah duduk sendiri dan mencermati ucapan rangga yang mulai ngelantur. Tapi dia nampak tidak mabuk. Karena memang dia sedang baik-baik saja.


" Nona khumairah hampir 2 tahun kita menjalin sebuah komunikasi lewat medsos. Saat saya mengatakan bahwa mencintai kamu, kamu menegaskan bahwa pacaran itu adalah dosa. Aku pun ingin mengajakmu menikah, Namun kamu mengatakan ingin kuliah. Ketika aku berupaya menunggumu malah kamu berpamitan jangan hubungi aku lagi karena akan menikah. Sebentar saya jadi bingung,terus hubungan kita ini selama ini apa?" tanya rangga sambil menatap wardah yang merasa mulai terpojokkan. Dia tak kunjung menjawab tetapi rangga kembali mengatakan sesuatu.


" Saya ini sangat mencintaimu kamu, bahkan saya bisa melupakan fatimah karena kamu hadir di saat yang tepat. Apakah kalian dua bersaudara ini memiliki selera yang sama? Dokter izzudin? Kok ya lucu selera laki-lakinya sama," ucap rangga dengan nada yang kurang enak di dengar. Wardah masih saja mendengarkan. Izdi bahkan sudah geram.


"Ngga ... Apa yang kamu katakan. Kita sedang ada perjamuan. kenapa kamu merusak acara kedokteran rumah sakit kita?" tanya izdi. Rangga tersenyum.


Wardah mengambil nafas dan mulai membalas ucapab rangga sedari tadi.


" yang pertama cinta yang sesungguhnya adalah murni dari Allah. Kenapa aku tidak menerima anda karena memang pacaran itu banyak mudharatnya. Kedua kenapa saya bilang ingin kuliah karena memang saya ingin kuliah. Ketiga kenapa yang berpamitan pada anda bahwa saya akan nikah karena bakti saya pada orang tua. Jika ditanya apakah saya mencintai anda jawaban saya iya, saya memang pernah mencintai anda. Tapi takdir yang sudah digariskan tidak bisa di tolak begitu saja. Tapi jika anda bertaa apakah saya mencintai suami saya. Jawabannya adalah nama suami saya sudah ada dalam doa pada saat usia saya 15 tahun. Satu lagi untuk selera saya dan kakak saya memang mencintai orang yang sama tapi saya tidak pernah bermimpi untuk merebut mas izdi menjadi suami saya. Jika tidak ada campur tangan Allah pasti mas iz sudah menikah dengan kakak saya Fatimah. Dokter rangga tidak setiap masalah menemukan jawabannya tapi bagaimana kita menyelesaikannya. Anda puas dengan jawaban saya? Satu lagi saya mencintai anda tapi tidak untuk sekarang," jawabnya membuat semua orang yang hadir tepuk tangan dengan jawaban wardah yang tegas. Dari kejauhan fatimah sudah mendengar semuanya. Rasanya dunianya runtuh saat tahu jawaban wardah. Dia berharap izdi bukanlah orang yang dicintainya namun akhirnya jawaban itu malah membuat fatimah mengingat semuanya.


" Wardah ... " Ucap sang kakak sebelum pingsan. Dokter rahman segera berlari untuk melihat kondisi fatimah. Wardah jadi ikut berlari ke arah fatimah.


"Kakak ... ? Bagaimana ini dokter dengan kakak saya? Tanya wardah dengan cemas pada rahman. Izdi masih mematung di tempatnya begitu juga dengan rangga. Dua pemuda ini terlibat kontak batin yang tak ada ujungnya.

__ADS_1


" Tenanglah kita akan memberikan pertolongan pertama," jawab rahman menenangkan istri izdi. Beberapa orang membawa fatimah ke ruang istirahat di cafe dengan memberinya pertolongan. Wardah nampak menghampiri rangga.


" Apa yang kamu inginkan sebenarnya kak? Tidak puaskah kamu berbincang denganku kapan hari? Masihkah kamu menyimpan rasa dendam padaku dan mas iz? Seharusnya jika kamu memang mencintai kami tidak seperti ini caranya," ucap wardah seperti dia memberikan pertanda bahwa dia membenci rangga saat ini. Izdi hanya mematung melihat rangga yang seperti orang lain. Sedangkan rubi ikut terdiam melihat keangkuhan rangga. Dia benar-benar mengeluarkan unek-uneknya saat ini. Sesakit itu rupanya hati pemuda ini. Dia menghukum dirinya dengan menenggak alkohol sehingga menghancurkan dirinya sndiri.


Izdi mendekati sahabatnya itu.


" ngga ... Kamu kenapa? Apakah ini bebanmu selama ini padaku. Aku benar-benar bingung dengan keadaanmu. Aku seperti melihat orang lain," ucap izdi. Rangga bersimpuh lemas.


" Jika kamu saja bingung, apa kabar dengan diriku yang sudah melampiaskan kemarahanku pada gadis lain? Aku saja sudah tak mengenali pribadiku iz apalagi kamu? Inilah penyesalan terbesarku telah merusak kehormatan seorang perempuan lain karena cinta yang sangat bergejolak. Aku marah karena perempuan terakhir yang aku cintai juga mencintai sahabatku. Aku harus marah pada siapa. Hatiku yang baru sembuh kembali terluka bahkan malah melukai gadis lain. Buruk bukan diriku ini?"


Izdi tak bisa menjawab. Namun Rubi datang mengulurkan tangannya.


" Berdirilah ... Aku sudah memaafkanmu. Datanglah untuk bertanggung jawab," ucapan wardah di sambut oleh rangga namun izdi, wardah, rahman aisyah bahkan semuanya menatap ke arah mereka.


.


.


.


Tanda tanya semua orang tentang Rubi dan Rangga. Karena perkataan tanggung jawab. Situasinya jadi sangat mengharu biru serta tidak kondusif.

__ADS_1


" Rangga ... Tanggung jawab apa??" suara maraton sang ayah dari pintu masuk. Semua orang menunduk saat bapak direktur memasuki cafe.


__ADS_2