
Semenjak maria menghembuskan nafas terakhirnya. Baik izdi maupun wardah tak saling bertegur sapa. Laki-laki itu seperti menghindari sesuatu. Namun rangga dan Rahman meyakinkan bahwa maria sudah diberikan yang terbaik. Saat kepulangan jenazah maria ke rumah baru izdi. Wardah mulai mengatakan sesuatu.
" Mas ... Aku tidak bisa mengantarkan kalian. Semoga maria di tempat di surga-NYa Allah. Aku harus pulang sudah ada yang menunggu semenjak tadi," ucap wardah. Izdi hanya mengangguk karena hubungan apa yang dia punya dengan wardah saat ini sedangkan dia sudah memiliki hubungan baru dengan azzam. Kesalah pahaman izdi itu masih berlanjut hingga saat ini.
" Pergilah dia pasti menunggumu. Hati-hati di jalan!" seru izdi pada wardah. Tapi tidak dengan wardah dia bingung saat izdi mengatakan dia. Apakah sebenarnya izdi tahu tentang putranya atau bagaimana.
" iya mas .. Asslamualaikum" pamit wardah pada pemuda yang masih menjadi suaminya itu.
Wardah melenggang pergi meninggalkan rumah sakit dengan terburu-buru. Langkah kaki yang lebar karena putranya itu pasti sudah menunggu saat ini. Izdi yang melihat merasa sangat cemburu pada wardah. Secintakah itu dia pada azzam karena dia terlihat buru-buru sekali.
" Iz ... Kenapa wardah dibiarkan pulang?" tanya rahman.
" Suaminya sudah menunggu di rumah," jawab izdi membuat rahman membeo tidak mengerti dengan ucapan izdi di depannya ini. bukankah suami wardah adalah izdii. Suami mana lagi yang di maksud dengan izdi.
Wah fix gila ini sahabat gue. Omongannya udah ngelantur kemana-mana. Makin berat hidupnya nanti jika tak segera berdamai dengan wardah. Apa dia tak merindukan putranya? Batin Rahman.
" Suami siapa?!" suara bariton Rangga muncul di koridor rumah sakit. Rahman sudah mengkode rangga dengan lirikan mata.
" Suami wardah," jawab izdi sambil menunduk.
" Ah sudah gila kamu bilang suaminya!!!" seru rangga yang kemudian di cubit oleh rahman." Ah ... Sakit tahu mas," ucap rangga pada rahman.
" Diamlah jangan heboh di sini!" seru rahman.
" Iz ... Ke bumikanlah jenazah mario kami akan berkunjung saat jam dinas selesai," ucap rahman.
" Terima kasih mas," jawabnya kemudian berdiri dan berpamitan. Setelah izdi menghilang rahman menarik rangga ke ruangannya.
" Heh ... Anak muda hampir saja kamu membongkar semuanya!" teriak rahman.
" Apa mas? Apanya yang di bongkar. Ya ampun aku ini sudah sejujur - jujurnya loh," jawab rangga merasa benar. Rahman langsung melempar jasnya pada rangga.
" Sialan! Makanya kamu tadi mas kode supaya diam," jawab rahman. Rangga jadi di buat bingung oleh sahabatnya yang satu ini.
" Dengarkan aku baik-baik. Dokter rangga yang terhormat jika izdi berpikir wardah sudah menikah itu malah baik. Biarkan dia beranggapan seperti itu sampai fatimah dan azzam menikah. Biarkan sekali-kali dia merasakan apa yang di rasakan oleh wardah. Paham kamu? Jangan berani membocorkan ini. Paham kan kuda nil?" ujar rahman memastikan.
__ADS_1
" Ya elah mas segitunya. Sampai aku di panggil kuda nil," jawab rangga.
Mereka berdua jadi tertawa bersama. Ya rahman dan rangga tidak bermaksud menyakiti hati suami wardah itu. Tapi biarkan keluarga izdi yang merasa butuh pada wardah. Sebaik apapun mereka mencoba mencari pengganti wardah semakin mereka tidak bisa melakukannya. Karena mereka berdua terikat di dalam hati tapi enggan mengungkapnnya.
Di kediaman Izdi ....
" Umur Allah yang punya nak. Bersabarlah!" seru umi pada putranya itu.
Semua keluarga besar izdi berada di rumah besar. Berkumpul sambil mendoakan maria. Mereka sangat kalut. Kenapa hal buruk selalu datang pada putranya. Umi merasa ujian datang twrus menerus.
" Iya .. Mik meskipun semua itu berat bagiku," jawab izdi tanpa ada kegairahan dalam hidupnya.
Semua keluarga memKlumi sikap izdi hari ini. Dia mungkin terpukul atas kejadian ini. Tapi semua sudah di gariskan sesuai porsinya. Hanya saja izdi tak memahami apa yang sedang terjadi saat ini.
Setelah selesai memakamkan maria. Semua orang beristirahat sebelum nanti tahlilah di rumahnya. Rahman dan rangga pun mewurungkan niatnya untuk pergi ke rumah izdi karena ada kegiatan. Mereka memutuskan untuk berangkat keesokan harinya.
Malam ini cuaca mendung sedang tak seindah malam sebelumnya. Nampak bintang, bulan sedang berjanjian tidak menerangi bumi seperti malam- malam sebelumnya.
Di rumah wardah...
Keesokan harinya ...
"haruskah repot- repot seperti ini?" tanya rangga pada rahman.
" Haruslah ... sedikit ndak banyak. biarkan bagaimana responnya saat tahu azzam menikah dengan fatimah bukan istrinya.
" Manfaatnya untuk kita apa coba mas? Nd ada kan? Tapi udah terlanjur ini. Ada-ada saja idemu mas saat ini, " jawab rangga padanya.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk ke rumah izdi saat ini. Mereka menyusuri koridor bersama, hal itu membuat bingung rahman meskpun di usianya yang matang. Tumbenan si rangga serius.
" terserah kamu mas. ayo berangkat!" seru rangga. Mereka berangkat bersampingan tapi rupa-rupanya rahman tak merespon aPapun. " Dia sedang mencari keberadaan teman-temanmu itu," jawaban rangga membuat dokter rahman bngung dan Dia di bikin pusing oleh rangga. Dia hanya berharap ini yang terbaik. Biarkan saja rangga mengoceh sesuai dengan keadaan batinnya saat ini. Lama-lama dokter rahman ikut gila karena izdi dan rangga.
Di rumah kedua izdi ...
" Bagaimana keadaanmu iz. Kami baru sempat kemari," tanya mas rahman pada izdi.izdi tersenyum tampan meskipun terdapat bulu-bulu halus di sekitar mulutnya.
__ADS_1
" Dia siapa?" tanyak izdi...
" siapa bagaimana?! Saya kemarin sedang tidak fokus," jawab rangga tanpa dosa.
Rahman dan rangga sudah di mulai menikmati berkunjung ke rumah izdi tanpa harus melihat beban izdi seperti sebelumnya. Dia saat ini terlihat lebih segar dari pada sebelumnya.
Mereka mengikuti hingga acara tahlil selesai. Selepas sholat isya pun mereka berpamitan pada izdi dan keluarganya.
" Iz... Yang sabar. Kamu harus fokus pada seseorang setelah ini," ucap rahman memberi kode.
Di kediaman fatimah...
" Kak ... Aku harus ke kampus hari ini. adzkan gimana?" tanya wardah sedang sibuk dengan skripsinya. Fatimah mengambil alih adzkan dari gendongan wardah.
" kemarikan .... aku sedang libur!" seru fatimah.
Adzkan nampak bahagia karena begitu banyak orang yang mendukung dan mencintainya. Wardah tersenyum dan memberikan putranya pada sang kakak yang sedang di ruang keluarga. Fatimah yang bermonolog.
" Dek ... Semoga kamu bahagia," batin Fatimah.
Tak ada yang mendasari sebuah hubungan kecuali sebuah kepercayaan diantara pasangan itu sendiri. Nampaknya wardah dan Izdi mengalami sebuah perjalanan kisah yang membuat terusik di hati keduanya. Keduanya mengalami sebuah permasalahan pelik yakni kecemburuan berkepanjangan yang terjadi di antara mereka. Tak ada yang bisa meluruskan permasalahan itu jika bukan mereka sendiri.
" Semoga semuanya segera berlalu iz. Hanya itu yang bisa kami berikan sebuah doa untukmu di masa depan kelak. Karena tidak ada yang tahu masa depan seperti apa. Berusahalah sekali lagi iz untuk wardah," ucap rahman.
Sedangkan rangga hanya diam sedari tadi ogah menanggapi apapun.
" Maria ... Berbahagialah di sana. Aku baik - baik saja," ucap izdi dalam kamar.
.
.
.
Like ya kakak. Gak bisa up- banyak sorry. Mkasih bayk atas like komen subscribe vote-nya
__ADS_1