Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Ketegasan Izdi


__ADS_3

Ketika Wardah kembali beristirahat, izdi melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Fatimah dimana orang tua Fatimah dan Wardah berada. Ketika melewati koridor rumah sakit, ia melihat rekannya dr. Rahman.


Dr. Rahman memeluk sahabatnya dan mengajaknya ke ruangannya untuk membicarakan suatu hal.


" Iz ... Maafkan aku jika harus mengatakan ini di saat kondisi rumah tanggamu sedang di landa permasalahan," ucap dr. Rahman serius. Rahman adalah tipikal orang yang suka bercanda namun kali ini dia memasang ekspresi serius.


" Iz, hasil lab-nya tidak jelas. Tapi kemungkinan istrimu hamil iz akan tetapi aku tidak yakin. Masalahnya iz dia sedang tidak stabil, jika dia benar hamil kondisinya harus stabil dan siap rahimnya. Jangan sampai istrimu terbebani hal- hal yan membuatnya depresi," ujar dr. Rahman lagi.


Izdi nampak gusar, dia mengacak - acak rambutnya. " Kapan harus tes ulang Rahman supaya aku tahu bahwa dia benar-benar dalam keadaan hamil?" tanya izdi.


" 2 minggu lagi, tapi kalian sudah melakukannya kan?" tanya dr. Rahman sedikit tersenyum.


" Rahman yang benar saja kamu ini," jawab izdi.

__ADS_1


" Kan aku harud tahu kapan terakhir istrimu menstruasi dan kalian melakukannya? Supaya prediksi tidak salah Iz," jawab Rahman dengan menahan tawa.


" Rahman, kau ini. Diamlah aku saat ini sedang labil menghadapi orang tuanya Wardah," ucap izdi dengan perasaan tidak karuan.


" Tapi aku serius Iz, bawalah istrimu kemari 2 minggu lagi. Satu lagi jangan bebani dia dengan hal-hal buruk di sekitar kalian. Rupa-rupanya dia tipe pemikir dan itu berbahaya bagi kondisi tubuh yang tidak stabil," sekali lagi Rahman memberikan masukan pada sahabatnya itu.


Akhirnya perbincangan diantara rahman dan izdi sampai pada intinya. Mereka saling say good by satu sama lain. Karena izdi ingin segera menemui orang tua istrinya itu.


Sesampainya izdi di depan ruang rawat Fatimah...


" Waalaikumsalam, akhirnya nak kamu datang juga. Apakah wardah sudah menyampaikannya padamu?" tanya sang mama.


" Sebelumnya izdi minta maaf ma, pa. Sebenarnya apa yang kalian sampaikan pada wardah?" tanya izdi mencoba untuk bertanya kembali untuk mengetahui secara langsung.

__ADS_1


" Nak, bantulah kami. Fatimah saat ini butuh bantuanmu untuk sadar kembali," ujar sang mama.


" Ma, sang pemilik alam punya caranya tersendiri untuk kehidupan seseorang. Izdi hanyalah manusia biasa, jangan meminta apapun selain kepada Allah. Untuk permintaan itu sekali Izdi mohon maaf sampai kapanpun istri Izdi tetaplah Wardah. Izdi mohon dengan hormat jangan bebani wardah dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Saat ini kondisinya sedang drop," jawab izdi panjang lebar membuat pak yusuf dan istrinya berdiri.


" Wardah kenapa nak?" tanya kedua mertuanya.


" Setelah kalian meminta sesuatu hal itu, Wardah tak pernah menghubungi saya. Dia menghilang entah kemana hingga akhirnya ada seseorang yang mengangkat Handphone-nya mengatakan bahwa Wardah dalam kondisi tidak sadar. Jadi Izdi mohon putri kalian bukanlah Fatimah seorang tetapi Wardah juga putri kalian yang sudah lama tidak kalian jumpai. Masih kurangkah pengorbanan putri kalian itu? Apalagi yang kalian inginkan darinya. Dia putri yang sangat berbakti, jika tidak maka pada waktu pernikahan itu dia pasti sudah menolak saya mentah- mentah," Izdi tak memberi jeda sama sekali dalam ucapannya. Dia nampak sangat geram. Sedangkan mama langsung terduduk tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan sang ayah menghampiri anak menantunya.


" Nak, terima kasih kamu menggantikan kami menjaga wardah. Maafkan kami jika permintaan itu sangat tidak sopan dan memberatkan kalian. Semoga berbahagia," ujar sang mertua. Izdipun menghela nafasnya dan memeluk ayah mertuanya. Masalah ini timbul semua karena takdir yang sudah digariskan. Semua sudah sesuai porsinya.


" Maafkan Izdi ... Saya harus segera kembali sebelum wardah sadar. Saat ini hatinya sedang terguncang. Maka saya harus selalu di sampingnya. Assalamualaikum," pamit izdi pada keduanya.


" Waalaikumsalam wr.wb," jawab sang ayah.

__ADS_1


Kepergian izdi membuat dada sang mama sakit. Kedua putrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sang mama merasa menyesal karena dulu telah menitipkan Wardah pada sang paman. Seharusnya dia biarkan saja kedua putrinya berselisih pendapat. Toh, nanti besarnya akan saling mengerti. Menyesal rasanya saat kedua putrinya pada posisi seperti ini, namun sang mama tak dapat berbuat apa-apa.


__ADS_2