
Pagi yang cerah sudah membentang. Sinar matahari sudah menerawang ke dalam kamar izdi dan Wardah. Nampak wardah menyiapkan keperluan suaminya. Jas putih, hem berwarna monokrom, celana jeans resmi kesukaan izdi, perlengkapan kedokterannya yang baru beberapa hari dia beli namun belum sempat digunakan. Semua keperluan izdi di taruh di atas ranjang. Wardah kembali ke ruang makan untuk menata sarapan pagi. Si bibi yang melihat tersenyum kagum pada istri den izdi.
" Non, sudah jangan terlalu lelah kan baru sembuh. Istirahat saja bibi yang teruskan," ujar sang bibi pada istri den izdi. Wardah tersenyum sambil mengangguk.
" Makasih bi," jawabnya yang kemudian membersihkan dirinya di kamar mandi dekat dapur.
Di kamar ...
Izdi menatap ranjang yang penuh dengan persiapannya berangkat kerja. Senyumannya kembali mengembang saat istrinya masih saja memperhatikan keperluannya di saat dirinya sakit. Tidak mungkin jika izdi tidak mencintai dia. Ini sangat berharga bagi izdi. Perhatian yang begitu detail meskipun tak mengumbar kemesraan di publik tapi dia memberikan kesan manis di setiap momennya. Ya, itulah kelebihan wardah pandai memberikan stimulus cinta pada suaminya.
Tap.tap.tap.
Suara sepatu izdi menuruni anak tangga terdengar dari ruang makan. Si bibi tersenyum nampak den izdi yang semakin hari semakin menawan. Izdi pun membalas senyuman bibi yang mendampinginya di rumah ini semenjak lama.
" Bi, dimana wardah? Tadi di kamar juga tidak terlihat," tanya izdi pada sang bibi.
" Masih di kamar mandi den, tadi bibi suruh istirahat karena terlihat lelah. Tapi belum selesai ruapa-rupanya," jawab bibi. Izdi mengangguk dan segera menyusul istrinya ke kamar mandi dekat dapur.
" Sayang baik-baik saja ya di dalam?" tanya izdi dari luar. Belum ada jawaban izdi di kagetkan wardah yang muncul dari ruang sebelahnya.
" Apa mas? Kok teriak-teriak," ucapnya dengan santai. Izdi jadi menggeleng kepala saat melihat istrinya menggunakan gamis press body dengan warna nude plus hijab seger banget di lihatnya. Tapi senyumannya berhenti saat istrinya meminta tolong.
" Mas, minta tolong dong ambilkan cardigan itu dong!" serunya tanpa melihat kearah suaminya yang masih terbengong. Tapi tetap saja mata candu izdi menatap nakal kearah istrinya. Dia mengambil cardigan namun saat mau memberikannya tentu saja izdi menariknya hingga istrinya jatuh ke pelukannya.
"Aahhhhhh!" teriak Wardah saat dirinya merasa oleng. Izdi menangkapnya dengan suka rela.
__ADS_1
" Jangan berteriak nanti bibi di kira kita ngapain sayang," bisiknya dengan rasa penuh kemenangan. Wardah langsung memukul bidang datar suaminya.
" Sengaja kamu ya mas? Modus anak muda di pakai sama suamiku ini," cecar Wardah pada izdi. Izdi berlari karena melihat jam sudah agak siang. Bisa-bisa terlambat ke rumah sakit. Wardah hanya menggelengkan kepalanya.
Di rumah sakit ...
"dr. Izdi, di tunggu dr. Baru di ruangan anda!" Seru asistennya. Izdi mengangguk.
" Terima kasih," jawab izdi yang segera ke ruangannya.
" Assalamualaikum," ucap izdi. Seseorang di dalam sana menjawab salam Izdi.
" Waalaikumsalam dokter," jawabnya sambil berdiri dan menoleh kearah izdi. Tanpa di duga izdi melihat sahabat sekaligus putra dari pemilik rumah sakit ini dr. Rangga Azhof khan ( dokter spesialis Saraf ) sudah lama mereka tak berjumpa. Karena Rangga harus menempuh pendidikan spesialis.
" Hai Iz bagaimana kabarmu?" tanya dr. Rangga.
Rangga adalah putra pemilik rumah sakit medika tempatnya bekerja. Dia pemuda baik hati meskipun berasal dari keluarga ternama. Banyak dokter muda rumah sakit kami yang ingin di pinang olehnya. Namun ada salah satu dokter yang tidak tertarik padanya yakni Fatimah. Rangga ingin sekali memilikinya. Fatimah yang baik itu malah memilih izdi akan tetapi tidak tahu karena apa fatimah jadi berambisi tentang karirnya.
" Iz, rasanya aku sangat sedih tentang Fatimah. Gadis yang ingin kumiliki keadaannya membuatku tergerak datang kemari lagi. Saat ini aku datang untuk mengobatinya, akan tetapi aku butuh dirimu iz sebagai mantan kekasihnya sebagai terapi untuknya," ujar Rangga. Kami memang ada persaingan tapi Rangga adalah sahabat izdi semua kesalahpahaman pasti akan diselesaikan.
" Ngga ... Datanglah ke rumah temuilah istriku. Meminta ijinlah padanya, aku tidak ingin menyakitinya lagi. Saat ini posisiku terasa serba salah. Kumohon pahamilah aku untuk yang satu ini," ucap izdi dengan lesu karena ini pertama kalinya ia menolak permintaan Rangga. Pemuda itu tersenyum.
" Tentu saja iz aku akan menemui adik ipar karena dia saat ini aku memiliki kesempatan dekat dengan fatimah," jawabnya dengan tertawa. Izdi hanya menggelengkan kepalanya.
" Kamu ini masih sama saja. Gimana memang beneran single sampai sekarang?" tanya izdi memastikan. Rangga mengangguk sambil memainkan pena sahabatnya.
__ADS_1
" Kenapa dulu kamu malah mengikhlaskan fatimah bersamaku jika kamu sebucin ini. Keterlaluan anak ini," ucap izdi seperti seolah-olah dia kakak dari Rangga.
" Entahlah iz aku sudah berusaha melupakannya tapi nihil. Untukmu yang kubiarkan dia menjadi kekasihmu karena aku yakin semua akan lebih baik. Kamu adalah pemuda terbaik untuknya iz tidak denganku," ucap rangga mengingat. Izdi kemudian melempar buku kearah temannya itu.
" Kau ini memang kongslet! Sekarang kamu lihat sendiri kan semuanya tidak sesuai prediksimu anak dodol. Sialan kamu ini," jawab izdi menimpali ucapan rangga dengan sangat kesal.
" Hai, ustadz jangan berkata jelek kamu itu punya pesantren. Malu tahu iz," ucap rangga denga tertawa keras.
"Hahahahahahah ... " ( Rangga)
" Hanya denganmu sifat gilaku keluar anak dodol. Datanglah ke rumah sepulang kerja nanti. Sekarang pergilah bekerja ! Jangan coba ngerecoki pekerjaanku hari ini," jawab izdi dengan terawa setelahnya. Mereka berdua jadi tertawa bersama menjadi satu ruangan. Pelukan pun mereka lakukan untuk melepas kangen. Rangga-Izdi adalah sahabat dari dulu hingga saat ini.
Ranggapun keluar dari ruang izdi dengan memasang wajah serius kembali. Karena hanya dengan izdi ia terlihat bodoh pun sebaliknya dengan izdi. Tak ada yang membuat persahabatan mereka luntur. Meskipun tentang perempuan. Karena mereka pasti memilih jalan yang mereka setujui bersama. Ketika izdi di tinggal Fatimah ke luar negeri dan izdi menikah dengan wardah Rangga sudah mengetahui semuanya karena izdi sudah bercerita.
Flashback on
" Ngga ... Saat ini aku benar-benar sudah tidak bisa bertahan bersamanya. Penolakan pernikahan yang 2 kali terjadi membuatku tak memili harga diri. Maafkan aku ngga, semoga kamu saja yang berjodoh dengannya. Ini membuatku tak memiliki harga diri," ucap Izdi pada sahabatnya Rangga. Rangga adalah pemuda yang mencintai fatimah namun dia mendapat penolakan karena Fatimah mencintai izdi.
" Tidak apa-apa Iz. Berbahagialah dengan pilihanmu saat ini. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah berusaha mencintainya dan menjaganya selama ini," jawab rangga di seberang sana.
" Cukup ya Rangga?" tanya izdi sekali lagi.
" Cukup Iz, semoga kamu bahagia bersama Wardah. Semoga suatu hari ada alasan bagiku untuk bertemu denganmu dan Fatimah," jawab Rangga sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Visual Rangga