
Di kediaman Fatimah hari ini atas permintaan rangga izdi mengosongkan jadwal prakteknya karena akan ikut bersama rangga ke kediaman mertuanya untuk melakukan terapi kedua pada fatimah. Rangga hari ini lebih bersemangat karena rubiah tidak datang mengganggu mood boosternya lagi.
Sesampainya di kediaman Fatimah ...
" Hai, Pagi pak dokter. Oh ada adik ipar juga?" tanya fatimah terlihat semakin membaik. Izdi hanya tersenyum ala kadarnya. Tapi senyuman lain terbit di wajah rangga.
" Hai, bisa kita mulai ya Terapinya? Kita ke taman belakang saja," ujar dokter rangga. Fatimah mengangguk sambil menunjukkan taman rumah mereka.
Aktivitas terapi pun di mulai. Dari sebuah pertanyaan yang intern hingga pertanyaan biasa. Hingga beberapa saat kemudian fatimah terdiam, terduduk air matanya mulai mengalir sedikit demi sedikit. Hingga menganak sungai. Rangga yang melihat langsung mendekatinya.
" Ada apa Fatimah?" tanya rangga sambil memegang pundaknya.
" Dokter aku mengingat sesuatu yang menyakitkan," ucap Fatimah sambil menunduk, menangis serta menyeka air matanya. Rangga menatap izdi intens. Izdi hanya menggeleng.
" Coba katakan padaku nona apa yang kamu lihat dalam ingatan itu?" tanya rangga pelan. Karena khawatir jikq di paksa memberikan dampak kurang baik.
"Aku melihat Adik ipar adalah kekasihku akan tetapi dia menikah dengan adikku. Hatiku rasanya sakit entah kenapa dokter," jawab fatimah. Akhirnya izdi menghela nafasnya dalam-dalam. Rangga pun mengangguk pada sahabatnya itu.
" Apalagi Fatimah? Masih adakah yang lain?" tanya rangga memastikan. Fatimah menggeleng pasti. Dia saat ini merasa pusing tidak ingin berfikir lagi.
" Baiklah istrihatlah sebentar. Apakah dokter izdi harus pergi dari sini?" tanya rangga memastikan. Fatimah menggeleng pelan. Rangga mengkode sahabatnya spya diam dulu tidak pergi dari sana.
" Dokter apakah sebenarnya kamu juga mengenaliku?" tanya fatimah menyelidik namun dengan nada sedikit melemah. Rangga mengangguk.
" Lebih dari sekedar kenal," jawabnya. Fatimah menatap intens pemuda di depannya.
" Benarkah?" tanya fatimah dengan serius. Rangga mengangguk pasti.
__ADS_1
Di sisi lain izdi mendapatkan telp. Dari rumah sakit bahwa ada pasien penting untuknya. Padahal hari ini sudah ijin dinas luar. Tapi tanpa memikirkan apapun dia akhirnya memutuskan untuk datang.
" Permisi ... ( dia mengajak rangga meminggir sebentar) ngga aku harus ke rumah sakit tiba-tiba ada pasien penting. Aku tinggal ya?" ucap sekaligys tanya pada sahabatnya. Rangga mengernyit tak percaya.
" Bukankah cutinya sudah kubuatkan kenapa masih ada pasien? Bukankah dialihkan ke dokter lain," ucap rangga terlihat heran. Izdi hanya mengangkat bahu menandakan bahwa dia tidak paham.
" Aku pergi ya? Nanti kuhubungi lagi jika sudah longgar," pamit izdi. Rangga mengangguk saja. Izdi juga tak berpamitan pada fatimah. Dia bergegas pergi khawatir terburu-buru dibutuhkan.
Fatimah jadi heran saat izdi tak berpamitan padanya. Tiba-tiba ada rasa kecewa dalam hatinya yang entah apa artinya itu. Namun lamunannya itu terhenti saat rangga menyentuh tangannya.
" kamu baik-baik saja?" tanya rangga. Fatimah mengangguk tapi kemudia membuka suara.
" Kenapa dia terburu-buru?" tanya fatimah.
" Ada pasien yang harus dia tangani segera. Ayo kita lanjutkan terapinya," ucap rangga tanpa basa basi lagi. Dia sedang berfikir kenapa izdi di panggil ke rumah sakit saat dia sedang bekerja luar. Namun dia masih belum bisa mencari info karena harus melanjutkan terapinya.
Sesampainya di rumah sakit. Izdi berjalan nampak terburu-buru ke ruangan prakteknya yang berada di ujung. Ada beberapa suster menyapa dan keluarga pasien yang tersenyum padanya izdi membalas semua sapaan itu. Namun dia berhenti melangkahkan kakinya saat dokter rahman berhenti.
" Loh kok sudah datang iz?" tanyanya.
" Ada yang menelpon katanya ada pasien untukku yang tidak bisa ditinggal," jawab izdi. Rahman nampak berfikir bukankah banyak dokter kenapa harus izdi yang menangani. Aneh bukan ya. Rahman menatap ke arah lorong ada asisten izdi yang menaruh telunjuknya di bibir itu artinya ada sesuatu yang menarik. Si asisten menyuruh mengajak izdi mengobrol dulu. Rahman dari kejauhan mengangguk.
" mungkin asistenmu salah kali iz. Bukankah kamu hari ini free karena cuti. Kan tadi rangga sendiri yang memberikan dispensasi," ucap Rahman membuat langkah izdi menghambat.
" Tapi aku tidak tenang mas rahman. Kepikiran semenjak di telpon soalnya tidak merasa ada janji dengan siapapun. Aku ke sana ya mas," pamitnya pada rahman.
" Ayo aku ikut Iz siapa tahu ada yang kau butuhkan," jawab rahman yang diikuti anggukan izdi. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang izdi.
__ADS_1
Sesampainya di sana ...
"Suprise ... !" seru Wardah di ruangan izdi. Ruangan prakteknya jadi sangat indah. Istrinya nampak sangat cantik dengan gamis nuansa baby blue gradasi pink, meskipun wajahnya tertutup cadar izdi bisa membayangkan betapa cantiknya senyuman itu. Izdi yang sedari tadi lelah karena terapinya dengan fatimah jadi melebarkab senyuman sambil menatap kembali istrinya. Rahman dan Aisyah juga menatap mereka sambil berpelukan ikut bahagia untuk mereka.
" Yaumul Milad mas ... Semoga bahagia selalu, diberikan umur yang barokah, sukses selalu untuk suamiku. Selamat ya sayang," ucap Wardah dengan spesial. Membuat izdi langsung memeluk istrinya dengan erat sambil menciumi pipi bercadar itu. Air mata izdi juga mengalir dengan sendirinya.
" Makasih sayang. Kenapa berfikir memiliki ide seperti ini? Bukankah kamu sedang tahap pemulihan sayang?" tanya izdi memastikan kesehatan istrinya.
" Sudah baik bahkan sangat baik," jawabnya dengan bahagia. Beberapa orang yang berada di sana dibuat bahagia saat harus mencicipi masakan istri izdi yang terkenal pandai memasak.
wardah membawakan nasi tumpeng beserta kue ultah untuk di diincip-incip bersama. Izdi memeluk istrinya dengan sangat bahagia
kue cantik yang di siapkan wardah terlihat sangat mewakili hatinya yang sedang terpesona oleh izdi.
Semua teman-teman di sana pun di minta mencicipi makanannya. Namun dari arah pintu ada suara bariton yang sangat khas. Ya , itu suara dokter rangga yang merasa jengkel karena izdi pergi tanpa mengajaknya.
" Ternyata ini alasanmu dokter tampan kembali! Meninggalkan aku sendiri karena istri tercintamu sedang mempersiapkan ulang tahunmu di kantor," ucap rangga yang membuat semua orang tertawa. Spontan saja izdi melepaskan pelukannya dan mendatangi sahabtnya itu. memeluknya sambil berbisik.
"Segeralah menikah sobat. Karena menikah itu sangatlah indah ada yang memperhatikan sekecil apapun yang ada pada diri kita," bisiknya meledek rangga dengan bahagia. Rangga mendelik seketika.
" Kau ini iz ... Hahahah. Selamat ya semoga sukses dan bahagia selalu. Nyonya izdi harusnya kamu meminta nomerku. Ajaklah aku membuat kejutan untuknya ini!" Tawar Rangga pada wardah. Namun wardah hanya mengacungkan jempol.
" Harusnya seperti itu ya dokter?" tanya wardah. Namun izdi langsung menyela.
__ADS_1
" Jangan terlalu dekat dengannya. Dia jomblo yang sangat akut sayang," jawab izdi spontan membuat ruangan itu ricuh dan ramai.