
Setelah kejadian itu berlalu dan permintaan maaf pada maria. Dia mendapatkan sebuah pengakuan yang sangat memukul hatinya. kala itu ...
" Mas ... Aku hanya ingin menghapus jejak buruknya hubungan kita di masa lalu. Tapi rupanya hal itu malah membuatmu jauh dari identitas aslimu. Maafkan aku yang telah menjauhkanmu darinya. Aku hanya ingin menikmati kebersamaanku denganmu yang singkat ini. Tapi bukan kebahagiaan yang ku dapatkan malah rasa brsalah kian bersarang dalam hatiku karena membuatmu semakin buruk ketika berada di sisiku. Saat ini aku ikhlas apapun yang kamu lakukan harus kembali dengannya. Dia belum bercerai denganmu mas," ucap maria kala itu.
Kini 2 tahun berlalu izdi mendampingi dan merawat maria. Saat itu izdi tak menjawab apapun atas pengakuan maria. Dialah yang telah membuat maria terusir dalam hidupnya. Dia tak berkomentar apapun untuk hal itu. Saat ini izdi berada di bangsal ruang VVIP dia sedang menggenggam sebuah tangan manis milik maria yang sedang terbaring di lengkapi dengan alat medis. Wajah pucat pasi nampak dalam wajah gadis itu. Izdi tak banyak berkomentar apapun diapun juga tak berupaya untuk menghubungi wardah. Meskipun maria menunggu kedatangan wardah.
" Semuanya sudah terlambat maria. Wardah mungkin saat ini sudah bersama orang lain. Bertahanlah untuk dirimu, namun jika sudah tidak sanggup apapun itu semoga di kasih jalan terbaik. Terima kasih sudah memaafkan kesalahanku," ucap izdi
Rahman dan Rangga menatap sahabatnya dengan hati yang pilu. Mereka sudah memberi tahu wardah akan keadaan izdi dan maria. Tapi perempuan itu belum datang hingga detik ini.
Di sisi lain...
" Kak bahkan aku tidak bisa berkata apapun saat ini," ucap wardah. Fatimah mengerti perasaan adiknya saat ini.
" Tidak apa-apa bagaimana baiknya menurutmu saja. Dokter rangga dan dokter rahman hanyalah penyampai berita wardah. Tidak usah terlalu dipikirkan," jawab fatimah.
Flash back ...
" Wardah di dunia tidak ada yang bisa membuat kita unggul dari siapapun kecuali sebuah kesabaran serta memaafkan kesalahan seseorang meskipun itu berat. Aku harus menyampaikannya wardah kamu suka atau tidak. Saat ini maria sedang dalam kondisi tidak baik. Jika umur masih bisa bersamanya kamu akan berkesempatan berbincang tentang masalah kalian namun jika dia tak punya cukup waktu dia menitipkan surat untukmu. Saat ini izdi tak memiliki keberanian untuk datang padamu dan dia sudah tidak pantas untuk meminta kembali padamu," ujar dokter rahman beberapa waktu lalu.
.
.
Surat itu masih di genggam olehnya. Wardah tak bisa tidur saat kakaknya pergi. Dia lalu membuka surat itu.
" Hai maduku? Lucu ya panggilan ini. Wardah sebelumnya maafkan aku sebagai perempuan yang merebut suamimu. Boleh ya sedikit curhat masa lalu kami.
__ADS_1
Wardah mas iz adalah laki-laki yang baik perangainya. Dia suami yang penyayang pada dasarnya. Kenapa aku bisa mengatakannya karena 2 tahun lamanya kami bersama dia memperlakukanku dengan sangat baik. Bahkan hubungan kami berjalan baik namun karena keegoisanku yang tanpa kabar membuatnya jadi sedikit berubah. Namun saat bertemu denganmu sosok itu kembali lagi tapi aku dibuat cemburu. Munculkah ide yang membuatmu tersingkir. Maafkan aku ya maduku aku memaksanya mencintaiku kembali namun aku tak mendapatkan apapun dari itu. Bahkan aku tahu tersiksanya dia saat mengetahui dirimu bersama azzam. Dia reka menyiksaku demi kemarahannya padamu saat bersama pria lain.
Oh iya maduku maafkan aku ya? Maafkan mas iz. Jika kamu tidak keberatan dampingilah dia kembali. Aku yang bodoh ini telah menyerahkan izdi kembali padamu. Aku sudah bosan hahaha.
Doakan aku sehat ya maduku. Aku menulis ini saat suamimu itu tidak ada. Jika dia tahu pasti akan merobek suratku padamu untuk sekian kalinya.
Oh iya apakah dia sudah besar? Aku sudah menyiapkan hak warisku padanya semenjak kalian pergi dari hadapanku saat di rumah sakit itu. Maafkan aku ya sudah terlalu lama pinjam ayahnya.
Berbahagialah kalian. Harapan terakhirku semoga kita bersua untuk yang terakhir kalinya. Aku menyayangi kalian tapi caraku salah. Maaf ya maduku," secarik surat dari maria membuat wardah mellow.
Wardah mengusap air matanya saat menerima buku hak milik perusaan cabang 3 atas nama putra izdi dan perusahaan cabang 2 atas namanya.
Ada selembar kertas menempel diatasnya dan ini pun sangat lama penulisannya.
" Kelolah lah bisnisku dengan baik madu. Aku berjuang mendapatkannya susah payah. Karena ini adalah hadiah untukmu sudah mendampingi izdiku yang jelek itu. Makasih sudah merawatnya," wardah kembali terduduk saat melihat tulisan di kertasnya. Wardah tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Kacau galau semua ingatannya saat ini terbayang akan maria yang kembali menitikkan air matanya.
Di rumah sakit .
" Pergilah sekarang!" seru rahman izdi mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Rangga beserta rangga menjaganya bergantian selama izdi tak di tempat. Saat mereka asik bermain ponsel. Suara pintu terbuka.
" Assalamualaikum ... " wardah datang bersama fatimah.
" waalaikumsalam masuklah!" seru rahman. Fatimah dan wardah segera masuk.
" Gimana rahman keadaannya?" tqnua fatimah sebagai dokter.
" tidak baik fatimah. Tapi dia harus melewatinya," Saat mereka bercengkeramah tiba-tiba saja maria sadar. Dia tersenyum saat melihat wardah di sampingnya.
__ADS_1
" Hai ma... Du... Dimana suami kita. Terima kasih sudah datang," ucap maria terbata-bata. Wardah mengusap air matanya.
" Sehatlah mbk. Mari kita jadi madu seperti yang kamu inginkan," ucap wardah dengan sedih. Namun wardah menggeleng.
" tidak ... Aku sudah lelah. Aku ingin beraitirahat madu ... " jawab maria.
Saat mereka mengobrol izdi masuk dan melongi saat melihat wardah datang. Namun dia sangat malu dia ingin membalikkan badannya.
" Mau kemana kamu mas!" suara bariton wardah menggema di dalam ruangan. Izdi terhenti.
" Jangan kemana-mana mbak maria ingin mengucapkan sesuatu padamu," kemudian izdi membalikkan badan melangkah ke maria tanpa menjawab. Lidahnya keluh sekedar untuk meminta maaf pada wardah dia tidak sanggup. Negitu besar dosanya pada dia. Izdi mendekat ke arah maria.
" Mas ... Maafkan aku ya," maria menggapai tangan izdi. " Maduku ... Lihatlah suami kita. Dia nampak tak bersemangat dia sangat tidak berkuasa atas dirinya. Bantulah aku membuatnya kembali berbicara aku lelah melihat keterdiamannya," ucap maria. Namun izdi masih terdiam.
" Mas aku bangun hanya untuk berpamit padamu jagalah wardah maafkan aku... Dan titip usahaku kelolah lah dengan baik. Satu lagi sayangilah putra maduku..." ucap maria terbata-bata. Izdi langsung mendongak dan akhirnya mau berbicara.
" apa yang kamu katakan?" tanya izdi menatap maria yang sudah tersenyum.
" makasih mas. wardah ... " ucap maria sambil mengenggam tangan wardah. Kemudian alat deteksi itu berjalan lurus menandakan bahwa madunya sudah pergi.
" Maduku .. Tidak bangunlah. Mas bangunkan dia! Aku sudah bernegosiasi bahwa kami akan bersama," ucap wardah yang membuat izdi kembali terdiam menatap maria yang sudah tak bernafas.
Cinta pertamanya kini benar-benar pergi selamanya.
Maafkan aku. Aku bukan suami yang baik bagi kalian. Batin izdi.
.
__ADS_1
.
Hmmm jangan lupa like ya makasihhhh. Inilah pertemuan kedua izdi dengan wardah setelah dia kafe itu.