Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Bertamu ke rumah Adik Ipar


__ADS_3

Izdi yang kembali ke ruangannya. Sesampainya di ruangan dia menelpon istrinya.


Di kediaman izdi wardah sedang menanam bunga di halaman belakang. Hari ini dia ingin menyelesaikan taman bunganya. Dia ingin membuat taman di belakang bak kafe seperti di rumah makan. Supaya ketika dia membaca novel dan mengerjakan apapun bisa menikmati pemandangan yang indah. Tanpa harus bosan menunggu suaminya datang.


Izdi menelpon wardah berulang-ulang tapi istrinya itu tak kunjung mengangkatnya. Akhirnya izdi pun menelpon sang bibi yang bekerja di rumahnya tapi tetap saja nihil. Untuk terakhir kalinya dia mencoba menelpon sang satpam, dia sudah sangat khawatir karena orang rumah tidak ada yang mengangkat telpon.


Di seberang ...


" Ya ... Den kenapa?" tanya pak satpam pada izdi. Izdi pun tak sabar dan menyerang petugas keamanannya itu dengan berbagai pertanyaan yang membuat pak satpam tersenyum.


" Pak kemana istriku ? Dia dari tadi ku telpon tapi tak merespon. Sudah ku coba berulang kali. Bibi juga tidak mengangkat panggilanku. Kemana semua orang di rumah panggilan tidak ada yang terjawab," tanya izdi dengan berbagai pertanyaan dengan nada suara yang panik.


" Tuan ... nona ada di taman belakang. Nona sedang mempercantik taman rumah tuan," jawab pak satpam yang membuat izdi bernafas lega saat mendengarnya.


" Alhamdulillah ... baiklah pak tolong nona suruh membuka hpnya sebentar saya ingin berbicara," ujar izdi dengan rasa lega dalam hatinya. Tadinya dia sudah parno dengan keadaan rumah.


" Siap tuan!" seru pak satpam.


Sang penjaga rumah pun segera pergi ke taman belakang untuk menemui istri izdi. Karena tuannya nampak memiliki keperluan yang penting kepada nona.


Sesampainya ...


" Nona ... Tuan meminta nona menghubunginya. Dari tadi tuan menghubungi namun tidak diangkat," ucap pak satpam pada Wardah yang sedang menanam bunga mawar merah.


" Iya pak terima kasih," jawabnya yang kemudian segera beranjak mencuci tangan dan menuju Gazebo di taman.


" Ya Allah mas iz sudah menelponku dari tadi. Kenapa aku tidak dengar sih?" monolog Wardah saat membuka hpnya. Segera ia menelpon suaminya.

__ADS_1


" Assalamualaikum mas," Ucap wardah di gagang telpon. Senyuman terbit di wajah suaminya.


" Waalaikumsalam sayangku, kemana sih suami mas ini dari tadi. Gak kangen ya sama mas? Kok ya gak diangkat-angkat. Jadinya mas ini khawatir sayangku," jawab izdi dengan manja. Wardah tersenyum bahagia.


" Mas izdi sayangnya wardah ... Tadi wardah bebenah taman pengen aja taman kita terlihat cantik. Ini udah siap di pakai mas cuman lampunya belum di pasang nunggu di bantuin pak satpam nanti," jawabnya dengan sangat riang.


"Okelah sayang ... Wardah gini sayang nanti ada teman mas mau ketemu kamu sekalian berkunjung ke rumah kita. Baru hari ini dia pulang dari luar negeri. Minta tolong disiapin sesuatu ya sayangku yang cantik," ucap izdi merayu istrinya. Wardahpun tersenyum.


" iya mas ... Siap," jawab wardah mengakhiri panggilannya. Wardah pun segera menyiapkan apa yang diminta suaminya. Sebelum itu dia menyuruh penjaga sama pak satpam untuk membereskan tamannya. Sudah seharian di sana kini wardah pindah tempat ke dapur kesayangannya.


Sesampainya di dapur ...


Wardah berlaku seperti koki handal dia segera menyiapkan makan malam untu keluarga dan tamu yang akan datang. Bibi yang melihat istri den izdi sangat kagum karena dia sangatlah lihai dalam memasak. Padahal nona wardah masih sangatlah muda. Diapun tak pernah mengeluh sedikitpun tentang kesibukan di rumah. Setelah sakitpun masih tak ada keluhan apapun. Dia sangatlah baik untuk usianya saat ini.


2 jam


4 jam.


Akhirnya aktivitas memasak Wardah selesai jam sudah menunjukkan pukul 17.00 dia harus bersiap karena sebentar lagi izdi datang. Dia tidak ingin suaminya datang tapi istrinya masih terlihat lecek.


" Bibi saya mandi dulu ya, ini tinggal menyiapkan di meja makan di taman belakang. Jangan lupa menghidupkan lampu-lampu cantiknya. Biar suasananya indah. Makasih bibi," ucap non wardah dengan bahagia sambil memeluk bibi. Asisten rumah tangga yang selalu mendampingi izdi.


" Siap non ... Sama-sama," jawabnya dengan senang. karena makanan tinggal menyiapkan tidak harus memasak. Nonanya itu sudah bekerja keras untuk makan malam hari ini.


Di kamar wardah mulai memilih gamis yang harus dikenakan. Sebenarnya saat ini dia ingin memberi sebuah kejutan pada suaminya. Akan tetapi karena ada tamu jadinya mungkin tidak efektif. Akhirnya wardahpun berpikir untuk menundanya.


Senja sore ini nampak sangat indah. Izdi yang sedang beberes untuk pulang tiba-tiba dia dikagetkan oleh kedatangan sahabatnya yang mengagetkan. Izdi hanya menggelengkan kepala saja.

__ADS_1


" Iz, aku ini merasa iri sekali denganmu. Fatimah lebih memilihmu tapi adiknya malah pasrah saja menerima dirimu. Sebenarnya pesona mana yang membuat wardah juga mau menerimamu?" tanya Rangga keheranan bahkan dirinya juga tidak kalah tampan dan masalah harta pun juga lebih-lebih. Izdi mulai tersenyum nakal pada sahabatnya itu.


" Doa umi yang nomor satu anak dodol, kamu kemana saja selama ini ndak pernah sungkem sama mama. Anak durhaka kau ini ngga. Ngakunya sahabatku memalukan," ledek izdi pada sahabatnya. Rangga langsung melotot sàat izdi mulai menyerangnya dengan kalimat ledekan tanpa meninggal anti gores.


" Sialan kamu iz ... Hahahah. Aku benar-benar kagum padamu saat ini. Cantik gak istrimu ini? Harus realistis ya tidak boleh condong," tanya Rangga sekali lagi pada sahabatnya. Izdi mulai senyum-senyum aneh. Rangga yang melihat jadi geli.


" Mau tau aja apa banget?" tanya izdi dengan senyum smirk-nya.


" Heleh dia kumat lagi. Sudah ya iz tinggal jawab susah amat sih antum. Kamu ini masih saja sama menyebalkannya seperti dulu kagak ada berubahnya," ucap Rangga dengan gemes pada izdi.


" Cantik dan itu bonus luar biasa. Tapi sayangnya hanya aku yang bisa menikmati kecantikan itu," jawab izdi dengan penuh kemenangan. Rangga melongo begitu saja. Kenapa hanya dia saja yang bisa menikmati? Rangga mulai bingung dengan kata-kata izdi.


" Iz ... apa dia bercadar?" tanya rangga menilisik wajah izdi yang penuh makna. Izdi hanya menaikkan alisnya dan tersenyum sambil tangannya memasukkan yang perlu ia bawa pulang. Izdi menoleh pada arah rangga yang masih tertegun.


" Iya dia bercadar. Puaskah kamu sahabtku. Ayo pulang wardah pasti sudah menungguku!" ajak izdi dengan menarik tangan sahabatnya. Hari ini pertama kalinya izdi mengajak rangga ke rumah pribadinya. Rangga yang mengekor di belakang mobil izdi mengerutkan dahi. Ini adalah jalan berbeda dengan yang dulu.


Anak ini mau mengajak kemana. Kenapa dia memasuki kawasan elit. Benar-benar menarik iz kisahmu. Pemuda mandiri dengan banyak talenta. Satu lagi di sukai banyak perempuan. Atiku miris iz kamu terlalu populer di kalangan kaum hawa. Monolog Rangga di dalam mobilnya.


Di rumah izdi ...


" Bi ... sudah semua ya?" tanya wardah.


" Sampun ... Nona di belakang. Bisa di cek-cek lagi. Monggo nona," jawab sang bibi.


Senangnya hati Wardah. Entah mood booster mana yang membuatnya demikian.


__ADS_1


Nampak ruang makan di taman belakang. wardah tersenyum "Cantik," batinnya.


__ADS_2