
Rangga segera kembali ke dalam kamar. Dia menunggu istrinya keluar dari bilik kamar mandi. Dia ingin bertanya sekaligus meminta maaf pada nasya. Dia mau honeymoom dengan siapa saja banyak sekali tiket yang di pesan. 10 menit kemudian...
" Sya ... " ujar rangga saat istrinya keluar dari kamar mandi. Nasya hanya diam kali ini. Dia menuju ruang ganti tanpa menjawab ucapan suaminya.
Rangga mengikutinya dari belakang. Ketika di ruang ganti betapa kagetnya dia ketika melihat pundak istrinya memar. Dia mendekat pada istrinya.
" Sya ... Ini," ucap rangga.
" Mas kok masuk? Jangan di pegang sakit," ujar nasya sambil mencari salepnya. Rangga terdiam memwbeku di tempatnya.
Tiba-tiba saja rangga terduduk lemas sambil menunduk. Nasya yang melihat suaminya langsung mendekat.
" Mas ... Kenapa? Maaf ya tadi aku gak jawab karena buru-buru mau ganti baju biar memarnya gak kelihatan," jawab nasya.
" Sya jawab ... Apakah ini bekas pukulan beberap hari lalu karena kesal," ucap rangga menatap istrinya berharap nasya menjawabnya dengan jujur. Nasya mengangguk pelan.
" Ini sudah lebih baik mas tidak apa-apa," jawab nasya pada akhirnya. Rangga mengambil salep itu dan mengoleskannya pada Nasya.
" Maafkan aku yang sudah dholim padamu sya ... Kenapa kamu tidak membalasku ?" tanya rangga sambil mengolesinya dengan meniup-niup biar tidak terasa sakit.
" Karena kamu adalah suamiku mas. Mungkin aku terlalu naif bodoh atau apapun itu sebutannya. Hanya saja aku bisa berada di dekatmu sudah bahagia. Tapi jangan menuduhku membunuh mb Rubi mas. Aku benar-benar tak melakukannya. Phobiaku sudah kalah saat itu. Dia lebih memilih diam daripada menjawab pertanyaanmu dari atas diriku," jawab nasya sambil menangis. Baru kali ini selama dia menikah dengan rangga dirinya menangis di hadapan suaminya.
" Sya ... " lirih rangga menatap istrinya dengan lekat.
" Ku mohon mas jangan menuduhku membunuh mbak rubi lagi. Aku jiwaku lebih sakit daripada fisikku saat kamu mengatakan bahwa akulah penyebabnya. Aku benar-benar hanya membantu. Saat mereka menabrak mbak rubi mereka tak berniat kembali dan aku datang menolongnya tapi darah itu membuatku frustasi tapi aku tetap berusaha menolongnya meskipun tanganku susah sekali di ajak kompromi. Sehingga tanganku gemetar tidak sanggup berkata dan lidahku keluh hanya untuk sekedar mengatakan sesuatu hal yang tegas padamu," tangisnya di hadapan Rangga yang terduduk sambil menatapnya.
" Maafkan aku sya ... " rangga terduduk sambil merasa bersalah. Dia kemudian menarik nasya dalam pelukannya. " Aku memang suami bodoh ... Aku yang membuat dia celaka karena meninggalkannya sendiri dalam keadaan seperti itu. Seharusnya aku berterima kasih padamu," lirih Rangga. Namun nasya terdengar merintih. " Sya ... Kenapa?" tanya rangga.
" Sakit tahu mas. Udah di bilangin jangan pegang yang ini sakit mas. Hiks hiks hiks," tangis nasya.
" Aduh ... Sorry idiot gak sengaja aku baper nih sama kamu," jawab rangga yang membuat nasya terdiam.
Nasya mematung menatap suaminya. Saat ini dia sedang kembali disebut dengan panggilan idiot itu artinya suaminya sudah benar-benar memaafkan dirinya. Itu adalah panggilan khusus untuknya semenjak mereka bertemu pertama kali. Rasanya senang saat rangga kembali memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
" Pak dokter ... " lirih nasya. Rangga mengkerut.
" Mulai deh panggil pak dokternya. Anak ini memang membuatku merasa jadi orang tertua di dunia karena di panggil bapak semenjak dulu," gerutu rangga tidak jelas tapi bahagia rasanya.
" Sorry ... Mas. Hehehehe," jawab nasya dengan gafuk-garuk kepala.
" IDiot ... Kamu ini mau bulan madu apa rekreasi? Kenapq banyak sekali kartu Honeymoonnya? Wah gila bener," ucap rangga tak terima. Nasya jadi tertawa - tawa.
" Itu untuk kita, mbak fatimah dan sahabatmu izdi mas. Boleh ya? Pengen rame-rame gitu. Tapi cottage-nya beda kok mas," ucap nasya sambil mengerlingkan mata. Rangga menggelengkan kepalanya.
" Ada saja ide gilanya ... Ini namanya mau rame-rame bukan romantis idiot. Hadeh," jawab rangga dengan kesal. Tapi nasya hanya ketawa- ketiwi mendengar keluhan suaminya. Tapi rangga bahagia akhirnya dia bisa meminta maaf pada istrinya dan nasya pun bisa mengatakan kejadian itu meskipun rangga sudah mendengar dari Rahman dan Fatimah.
" Mas ... Sudah gak cemburu pada Zayyan kan?" tanya nasya.
" Masih," jawab rangga.
" Kok masih ... Dia kakakku loh mas," ucao nasya mempertegas.
" Tapi padaku kamu tak seromantis itu. Harusnya aku lebih dari itu perlakuannya," protes rangga.
" Iya ... Setelah ini gak. Beneran deh idiot janji... " jawab rangga sambil senyum. Namun nasya hanya manggut-manggut.
Nasya dan Rangga bersiap ke rumah Fatimah. Karena mereka sudah menunggu. Rangga mencoba menghubungi sahabatnya karena Nasya memintanya. Sebab fatimah bilang kak wardah gak bisa hadir.
" Assalamualaikum iz," salam rangga.
" Waalaikumsalam ngga. Ada apa bro?" tanya izdi di seberang sana.
" Kita ada perjalanan bulan madu pekan depan. Jangan sampai gak ikut ini tiket untuk berenam," ucap rangga.
" Kamu dapat ide darimana sih bro. Aneh-aneh aja bulan madu pake acara bareng-bareng aneh tahu gak," jawab izdi sambil tertawa di seberang sana.
" Idiot itu yang pengen rame-rame. Hadeh ngeselin kan?" tanya rangga pada sahabatnya.
__ADS_1
" Wait ... Panggilannya udah beda. Loh udah baikan sama nasya bro?" tanya izdi balik.
" Iya iz ... Gue bersalah sekali. Malu rasanya padanya. Ini murni kelalaian gue sebagai suami," jawab rangga menyesal.
" Gapapa ngga ... Itu sudah jalan takdir kalian. Oh ya thank you loh tiketnya sampai ketemu minggu depan ya. Udahan ya mau main sama adzkan nih," ucap izdi.
" Okey ... Siap. Sama-sama bro," jawab rangga sebelum mengakhiri percakapan diantara mereka.
Izdi dan rangga bak pinang di belah dua. Dia tak bisa jika jauh-jauh dari sahabatnya itu. Izdi memberikan energi positif pada rangga. Ketika Rubi meninggal pun nama izdi yang membuat rangga bangkit dari keterpurukannya. Hanya saja saat itu sahabatnya izdi hilang bak di telan bumi. Perpisahan izdi dan wardah kala itu membuat rangga kehilangan sosok sahabat dan kakak. Namun saat ini kedekatan itu kembali terjalin. Setelah beberapa waktu lalu mereka berdua kembali bersatu.
" Best friend forever. Thank you iz," lirih rangga sambil menatap indahnya langit melalui balkom rumah istrinya.
" Mas ayo berangkat!" seru nasya. Rangga pun segera berlari menuju ruang bawah.
Mereka pun segera berangkat ke rumah fatimah dimana azzam kakaknya tinggal.
Di rumah izdi ...
" Telpon dari siapa mas?" tanya wardah pada suaminya.
" rangga ..." jawabnya singkat.
" Tumbenan?" tanya wardah singkat pula.
" Idiotnya memesankan tiket untuk kita berbulan madu kembali dan itu pun untuk berenam. Kebangetan gak sih tuh anak. Rame-rame gitu mana bisa bulan madu," gerutu izdi.
" Hahahahahahah .... " tawa wardah pecah saat suaminya seperti itu. " Asik malahan mas ... Setuju tuh aku bareng-bareng ," senyum jahik wardah muncul.
" Wah ... Jangan aneh-aneh deh sayang," selidik izdi pada istrinya. Namun wardah tertawa-tawa menikmati izdi yang nampak penuh dengan tanda tanya.
Obrolan ringan itu dapat membuat sensasi sendiri dalam hubungan izdi-wardah. Mereka meskipun tak sefrekuensi pada awalnya namun akhirnya berupaya satu frekuensi supaya lebih memahami satu sama lain.
.
__ADS_1
.
Makasih aayangku semua jangan lupa dukunganmu yes. Itu penting untuk semangat author thank you sayang.