Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Pulang ke Rumah


__ADS_3

Liburan bersama telah usai. Izdi hari ini memboyong keluarga kecilnya ke kediaman mereka. Hari ini izdi akan memulainya semuanya dari awal. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan ia melewatkan kebahagiaan orang-orang dia yang cintai.


Sesampainya di kediaman izdi ...


" Pa ... Ini rumah siapa? Bagus sekali?" tanya putranya saat melihat sekeliling rumah. Izdi tersenyum dan memangku putranya dengan sangat bahagia.


" Sayang ini rumah kita. Rumah yang papa dan mama tempati saat adzkan belum datang di tengah-tengah kita. Adzkan mau kan ya tinggal di sini?" tanya izdi pada putranya.


" Tentu pa ... Jika mama tinggal adzkan pasti tinggal," jawabnya dengan senang.


Wardah yang melihat interaksi mereka berdua jadi tertawa kecil. Adzkan yang melihat mamanya segera berlari.


" Ma ... Sudah ada teman adzkan gak di sini?" ucapnya sambil menunjuk perut wardah. Anak sekecil ini menanyakan hal yang nggak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Dia menginginkan adik sebagai teman. wardah hanya menghela nafasnya dengan berat namun tidak dengan izdi ia merasa ingin tertawa saat adzkan menanyakan hal itu pada istrinya.


" Adzkan mau adik?" tanya izdi pada adzkan dengan nada yang ikutan polos. Wardah membulatkan bola matanya saat suaminya kembali menggoda melalui putranya.


" Mau pa ... Lama ya?" tanyanya dengan gemas. Izdi mendekati putranya.


" Jika adzkan sering memberikan waktu mama untuk papa pasti adiknya segera otw," jawaban izdi membuat adzkan gembira.


" Ayo bi ajak adzkan main di kamar yang papa siapin. Biar mama sama papa cepet kasih adzkan adik," ajak adzkan pada bibi dan pergi begitu saja. Hal itu membuat izdi dan wardah melongo.


Mereka pergi begitu saja. Sedang izdi dan wardah saling memandang satu sama lain. Bibi dari kejauhan juga menoleh dan memberikan jempol.


" Mas ... Semua ini ulahmu. Memberikan dia stimulus apa itu. Coba lihat sekarang dia!" ujar wardah dengan tatapan menusuk pas ke dada. Izdi yang mendapati itu jadi tersenyun kaku. Dia mendekat.

__ADS_1


" Anakmu itu luar biasa sayang ... Dia paham akan ayahnya ini," ucap izdi. Namun wardah hanya menggeleng saja dengan tingkah suaminya.


Wardah hanya menggeleng dan membersihkan dapur. Izdi hanya tersenyum saat melihat istrinya kembali di dapur. Akhirnya dapur itu kembali bernyawa setelah datangnya wardah ke rumah.


" Sayang ayo!" ajak izdi dengan merajuk. Wardah menatap suaminya dengan tajam.


" kemana? Jangan rusuh deh mas," jawab wardah sambil membereskan meja dapur.


" Biar feel-nya dapat sayang. Kan biar segera dapat yang kedua kan adzkan udah minta yang .." rengek izdi seperti anak kecil. Semakin tua semakin manja itulah kata-kata yang di sematkan oleh wardah untuk suaminya.


" Jangan ngadi-ngadi deh mas. Buru-buru amat punya anaknya lagi kan masih pengen bertiga dulu," protes wardah dengan nada kesal dan manyun. Izdi segera mendekat dan memeluk wardah dengan erat dan membisikkan sesuatu.


" Kita ... Sholat dhuhur yuk! Sudah lama kita tidak merajut kasih bersama pada sang robb," ucap izdi sambil menikmati aroma shampo yang di gunakan istrinya.


Wardah berbalik dan menatap suaminya.


Sontak saja hati izdi berbunga-bunga. Wardah kemudian berjalan menuju kamarnya diikuti izdi yang masih menggaruk kepalanya yang tidak gatal tapi terlanjur GR. Semakin dewasa istrinya semakin dia menyenangkan. Tidak lagi yang tertutup seperti biasa.


Mereka melaksanakan sholat dengan khusu'. Mereka biarkan adzkan menikmati rumah barunya bersama sang bibi. Izdi yang telah mengakhiri sholatnya kemudian menghadap ke istrinya.


" Sayang ... Biarkan aku menjadi imammu seumur hidupmu. Maafkan kekhilafanku beberapa tahun lalu. Itu adalah masa kelam bagi kita. Bahkan itu adalah hal paling buruk yang pernah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menjadi lelaki yang baik untuk istri-istriku kala itu. Maafkan aku tidak memberi tahumu tentang kisahku dan maria. Karena sebelumnya memang sudah ku anggap selesai tanpa jejak. Namuj nyatanya hal itulah yang menjadi boomerang dalam rumah tangga kita. Untuk keluargaku aku meminta maaf untuk mereka. Namun saat ini aku belum bisa mengantar kalian menemui keluarga. Karena aku sendiri belum memaafkan sikap mereka padaku. Jadi ku mohon bersabarlah," ujar izdi panjang kali lebar. Tak ada niatan dalam diri izdi yang menjauhkan wardah dari keluarganya. Namun saat ini menurut izdi inilah yang terbaik untuknya dan wardah.


" Mas ... Jangan berlarut-larut segera melonggarkan hatimu. Tapi memang butuh waktu wardah paham. Wardah pum saat itu sudah membenci keluargamu tapi setiap hari wardah berupaya untuk memaafkan mereka meskipun sangat berat. Mereka bahkan menjauhkanku darimu saat aku hamil rasanya sakit apalagi mengetahuimu menikah dengan maria kembali rasanya aku tidak memiliki harapan untuk rujuk denganmu karena bahkan aku bertemu denganmu saja enggan. Aku paham bagaimana rasa sakit itu menjelma dalam diri kita. Tapi aku benar-benar tak melarangmu untuk hadir kembali di tengah-tengah keluargamu mas. Walau bagaimana pun umi adalah ibumu. Beliau adalah orang yang harus kamu utamakan sebelum abi. Saat ini beliau pasti merasa gagal menjadi seorang ibu. Pasti saat ini beliau memyesal. Sesekali hubungilah umi beekabarlah kamu baik-baik saja," jawab wardah dengan sangat bijaksana. Dia tidak ingin membuat suaminya itu jauh dari keluarga. Karena di sana umi pasti sangat terpukul saat tidak dihadirkan dalam pernikahan putranya.


Izdi memeluk wardah dengan erat sambil mencium puncak kepala wardah.

__ADS_1


" makasih sayang ... Aku pasti akan berusaha melonggarkan hatiku kembali," jawabnya dengan tersenyum.


Di kediaman rangga ...


" Apakah kamu bercerita tentang hubungan kita pada wardah?" tanya Rangga dengan wajah yang serius. Nasya mulai menunduk, interaksinya dengan rangga memang kurang baik. Rangga bukanlah dokter yang dia kenal dulu sikap berbeda 180 drajat dari rangga yang dia kenal dulu. Rangga ada lelaki yang sering menolongnya mungkin bisa di katakan care. Namun hal itu lenyap beserta kematian istrinya rubi. Bahkan rangga sering melampiaskankemarahannya pada nasya secara tidak langsung.


Nasya mulai sedikit menjauh dari hadapan rangga. Dia khawatir menjadi sasaran amukan suaminya lagi. Hari ini dia lelah telah menemani putrinya dalam agenda sekolah. Rangga tak pernah mengetahui rutinitas putrinya. Dia hanya fokus pada dirinya sendiri yang merasa bersalah dan kehilangan rubi. Rangga mendekati Nasya yang juga melangkahkan kakinya mundur. Nasya yang berkepribadian ceria saat ini sudah menjadi pribadi yang diam.


" Katakan!" seru rangga.


Nasya kemudian menganggukkan kepalanya. Terlihat rangga mengangkat tangannya nasya langsung terduduk dan meneteskan air matanya sambil berkata yang membuat hati rangga pilu dan merasa sangat bersalah pada gadis di depannya.


" Maaf ... Pak," panggilan itu masih sama seperti dulu hanya nadanya agak berbeda di telinga rangga. Jika dulu sangat terdengar renyah saat ini sudah berbeda kasusnya.


" Aku butuh teman mengobrol. Maafkan aku ... Aku sungguj lelah menghadapi pernikahan kita pak. Aku pernah memintamu untuk menceraikanku jika kamu tidak menyukaiku. Namun kamu tak menjawabnya. Aku di sini hanya ingin merawat putri mbak rubi tidak ingin apapun. Tapi ku mohon jangan menyakiti fisikku. Batinku sudah sakit. Maafkan aku harusnya tidak begini. Tapi aku hanya manusia biasa pak," ujar nasya panjang lebar dengan menunduk dan tanpa menatap suaminya.


" Diamlah ... Jangan berbicara lagi," rangga menarik nasya dalam pelukannya. Ia merasa sudah menjadi suami pengecut selama ini. Izdi benar dia harus memulai rimah tangganya. Nasya tak melakukan kesalahan apapun. Dia pun sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk rangga. Rangga mendekapnya dengan erat.


Makasih Iz. nasihatmu begitu berarti bagiku. Jika tidak nasya akan terua seperti ini hingga nanti. Thank you. Batin rangga.


.


.


.

__ADS_1


Baru up lagi sorry ya. Maksih yg setia selalu. Love you all.


__ADS_2