Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Akad


__ADS_3

Sholat maghrib pun usai di laksanakan. Pagelaran akad nikah akan segera di laksanakan di masjid pesantren. Zayyan nampak gugup namun azzam meraih pundak kakaknya.


" Tenanglah ... " ucap sang adik. Zayyan mengangguk pasti. AzzAm tersenyum pada kakaknya.


Akhirnya saat tiba zayyan duduk di hadapan ayah dari calon istrinya. Semua orang sudah siap menyaksikan pernikahan mereka malam ini.


" Sudah siap anakku zayyan?" tanya aba pada zayyan.


" Siap aba," jawabnya mantap.


" Baiklah kita mulai ... " jawab pak kyai.


" Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti .... alal mahri ...... hallan.”


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.” jawab zayyan dengan lancar.


" Sah!" seru aba


" Sah,"


" Sah,"


" Sah,"


" Alhamdulillah .... Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin."


Ijab qobul pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Semua jamaah yang hadir di persilahkan untuk menikmati hidangan. Sementra zayyan di antar ke kamar sang istri. Di tradisi pesantren memang pengantij perempuan tidaj diizinkan keluar dari kamar.


Sesampainya di depan kamar ...


" Silahkan masuk kak!" seru izdi pada suami kakaknya itu.


" Terima kasih," jawabnya dengan tersenyum.


Zayyan pun masuk ke ruangan. dia melihat istrinya yang sangat cantik dan ruang kamar yang sudah di dekorasi sangat indah. Zizah tersenyum pada suaminya. Zayyan mendekat sambil menyambut tangan zizah yang mencium telapak tangannya zayyan mencium kembali tangan itu san mencium dahi istrinya.


" terima kasih zizah," ucapnya. Namun zizah hanya mengangguk saja sambil menunduk.


Keadaan di halaman luar pesantren. Wardah memandang ke arah sekeliling pesantren. Suaminya menghampirinya dari belakang.


" Sedang memikirkan apa sayang?" tanyanya dengan menatap wardah.


" Mas tidakkah kamu memikirkan nasib pesantren ini?" tanya wardah yang membuat izdi mengernyitkan dahinya.


" Ada apa tumben istri mas yang cantik ini bertanya demikian," tanya izdi tak memahami alur pembicaraan istrinya.

__ADS_1


" Mas ... Setelah mbak zizah menikah dia pasti ikut mas zayyan ke luar negeri. Mas abi pulang ke pesantren istrinya. Lalu umi dan aba bagaimana? Tidakkah kamu ingin kembali kemari?" tanya warday langsung pada pokok pembicaraan. Izdi tersenyum dengan tampan.


" Memangnya sayangnya mas ini sudah siap di boyong kemari?" tanya izdi menanyakan hal itu untuk memastikan.


" Apapun mas. Jika mas baik wardah akan ikut," jawabnya dengan yakin.


" Begini sayang ... Kita memang akan kembali ke sini tapi tidak sekarang. Mas akan cari waktu yang tepat sekaligus membagi waktu antara di sini dan di sana. Berat mungkin tapi kita harus berupaya," jawab izdi pada istrinya. Wardah kini balas menatap suaminya.


" Kurang rame ya mas kalau hanya kita berdua yang tinggal di sini," ucap wardah membuat Isi terkekeh.


" apa kamu mau di carikan teman untuk tinggal sini?" tanya izdi.


" Memangnya bisa mas?" tanya wardah.


" Bisa asalkan aku di ijinkan poligami hahahah," tawa izdi pecah membuat wardah melotot dan sukses mencubit suaminya.


" Sakit dong sayang ... " keluh izdi pada istrinya.


" Kamu sih mas," jawab wardah sambil mencebik.


" lagian kamu aneh-aneh bilang sepi segala. Ayo hamil lagi biar rumahnya rame," jawab suaminya.


" pengen mas tapi belum di kasih," jawab wardah malu-malu.


" Ayo kita buat!" ajaak izdi. Wardah jadi mendongak.


" Eh ... Jangan harap ya bawa wardah ke kamar wnak saja. Aku gak ada temen!" seru fatimah.


" Kemana sih azzam itu kenapa istrinya di sini!" kesal izdi namun di tertawakan oleh wardah.


" Tuh dia bantu aba. Kamu kan putra aba sono bantu-bantu main kabur aja di luar sibuk gitu mau enak-enak," cerca fatimah layaknya kakak ipar.


" Ya ... Ya baiklah kakak ipar," izdi pun pergi ke halaman pesantren.


Fatimah mengajak adiknya mencari udara segar di samping pesantren.


" dek ... Beneran mau pulang ke sini?" tanya fatimah.


" Gimana ya kak. Pesantren juga butuh penerus. Mas iz adalah putra mereka. Jadi seharusnya mas iz harus memperjuangkan perjuangan kedua orang tuanya. Mana mungkin pesantren dibiarkan begitu saja kak," jawab wardah. Fatimah mengangguk paham pada apa yang di maksud oleh adiknya.


" Kamu benar dek. Jika suatu kalian pulang ke sini. Aku pasti akan merindukan kalian," ucap fatimah nampak bersedih.


" berkunjunglah kemari kak. Aku pasti sangat bahagia sekali," jawab wardah dengan antusias.


Obrolan malam mereka adalah obrolan tentang sebuah kedewasaan. Dimana seorang istri harus memberikan yang terbaik untuk suaminya. Serta memberikan dukungan yang membuatnya berada di pilihan yang benar. Di sinilah peran istri dapat mendukung segala kebaikan yang berada di sekeliling suaminya.

__ADS_1


" kita masuk yuk dek udah adzan isya tuh," ucap fatimah.


" iya kak ... Kita sholat setelah itu istirahat!" seru wardah pada kakaknya.


Sesampainya di ndalem ( rumah yang di tempati oleh pengasuh/ kyai) ...


" Darimana saja kalian?" tanya azzam pada kedua perempuan yang baru masuk rumah itu. Fatimah dan wqrdah tersenyum.


" jalan-jalan sekitar sini mas," jawabnya pelan.


" Kakak-adik gini nih kalau ngumpul. Sampe lupa sama para suami yang rasa jomblo. Tahu gak sih tuh pengantin di dalam gak keluar sama sekali loh betah banget," keluh izdi. Wardah jadi mencubit suaminya.


" Mas ... Apa sih jangan ram deh. Kan masih baru wajar kalau ngobrol ya gak sih kak?" tanya wardah pada fatimah.


" Iyalah butuh waktu intern tanpa gangguan dari manapun," jawab fatimah dengan meyakinkan mereka.


" Kami juga butuh waktu intern juga dong ayuk masuk!" ajak izdi pada istrinya. Namun wardah menolak.


" Mas sholat. di masjid udah berkumandang tuh adzannya. Gak dengar ya!"seru wardah membuat suaminya menepuk jidad.


" Baiklah ... Kita kalah kali ini mas azzAm dari perempuan yang memiliki julukan istri. Lebih baik kita sholat sekarang sebelum kebablasan," jawab izdi kemudian beelalu begitu sjaa. Wardah dan fatimah menggeleng. Mereka pun menyusul suaminya.


Keesokan harinya ...


Wardah merasa badannya kurang sehat dan lelah. Wajahnya nampak pucat. Tetapi izdi tak ada di sampingnya dia menemani putranya bermain di luar. Sehingga wardah pelan-pelan berjalan ke kamar mandi. Karena dia merasa pusing.


Namun karena rasa pusingnya tak tertahan sehingga dia terjatuh di samping ranjang. Wardah pingsan tanpa ada orang yang tahu. Namun izdi yang dari tadi tak melihat wardah jadi berpamitan pada putranya.


" Sayang main sama tante dulu. Papa mau nyari mama bentar. Setelah ini kembali lagi," pamit izdi pada putranya adzkan hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa menjawab karena sedang asik bermain.


Ketika izdi sampai di kamarnya ...


" Astagfirullah ... ! Sayang kenapa!" teriak izdi panik saat melihat istrinya terkulai lemas di lantai. Pasalnya semalam dia baik - baik saja.


Semua orang yang mendengar teriakan izdi jadi berlari ke arah kamarnya. fatimah berlari menggendong keponakannya itu. Dia lihat fatimah berada di ranjang dengan wajah pucat pasi.


" kamu kenapa sayang," ucap izdi panik.


" Biar aku yang periksa iz. Kalian semua keluarlah!" pinta fatimah pada semua orang.


Akhirnya mereka semua menunggu dengan harap-harap cemas. Izdi terlihat syok saat melihat istrinya tergeletak di lantai.


.


.

__ADS_1


Baru bisa up malam. makasihhhh yang setia baca.


__ADS_2