
Setelah pertemuannya dengan Azzam, wardah mengaktifkan kembali handphonenya. Ucapan bismillah dari lisannya terus dia bacakan. Wardah masih ingin menyendiri tapi dia juga tidak ingin berlama-lama kabur dan tak tanggung jawab dalam rumah tangganya. Dia nampak 1000 panggilan tak terjawab dari suaminya. Dan 200 panggilan dari kak Fatimah. Senyuman terbit saat nomer fatimah muncul di layar ponselnya.
" Kakak ... Miss you," ucap wardah sambil mengelus dadanya serta melihat foto kakaknya. Saat wardah melamun tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia melihat pesan masuk terakhir.
" Sayang ... Jika sudah aktif bacalah pesan. Mas begitu merindukanmu, mas benar-benar minta maaf semua ini terjadi di luar perkiraan. Sampaikanlah kabar untuk mas wardah. Miss you sayang," pesan terakhir izdi pagi ini. Wardah masih enggan membalas pesan izdi dari gawainya.
Izdi yang melihat notif bahwa handphone istrinya telah aktif tanpa banyak kegiatan dia yang sedang ad pasien minta istrihat beberapa menit. Ia mencoba menghubungi wardah kembali di jam dinas.
Wardah melirik ponselnya yang bergetar nama izdi pun tercantum di gawainya. Wardah menghela nafas berat. Bu sumi yang melihat mencoba untuk memberikan kode pada putri angkatnya itu.
" Angkatlah nak, berkabarlah pada suamimu. Katakan bahwa kamu baik-baik saja," ucap bu sumi lirih.
Dengan enggan wardah mengangkat handphone-nya. Mata berbinar pun nampak di penglihatan izdi. Mimpi apa semalam saat ini istrinya mau mengangkat telpon darinya.
" Assalamulaikum sayang ..."
" Waalaikumsalam ... Anak mantu ya? Nak ibu minta maaf wardah belum bisa menerima telpon dari kamu. Ibu sudah mencoba berbicara dengannya kemarin bahkan baru saja ibu memberikan nasehat untuknya perihal tentangmu tapi dia bersikukuh belum ingin berbicara," jawab bu sumi dengan telaten. Izdi paham dengan apa yang di sampaikan oleh seseorang di seberang sana.
" Bu ? Apakah ibu yang menjaga istri saya di sana?" tanya izdi memastikan.
" iya nak ... Wardah bersama ibu berminggu-minggu," jawab bu sumi. Rasanya izdi lega saat nama wardah di sebut oleh sang ibu.
" Apakah dia baik-baik saja bu?" tanya izdi memastikam keadaan wardah.
" Tentu nak, wardah sudah bisa tersenyum meskipun saat ini belum bisa menerima panggilanmu secara langsung," jawabnya membuat izdi memiliki perasaan ganda. Sedih dan bahagia.
" Bu saya titip istri saya, terima kasih sudah membantunya selama saya tidak ada. Mohon maaf Bu saya lanjutkan dulu memeriksa pasien kapan-kapan saya telpon lagi ini sedang jam praktek. Salam sayang untuk wardah," ucap izdi tanpa malu pada siapapun orang yang berada di sana.
" Iya nak akan ibu sampaikan," jawab bu sumi kemudian mengakhiri percakapan. Bu sumi menoleh ek arah wardah gadis itu sudah meneteskan air mata.
" Nak jangan menangis. Suamimu memberikanmu kesempatan untuk memikirkan segala sesuatunya. Dia begitu menyayangimu nak," ucap bu sumi yang membuat wardah menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
" Wardah belum bisa memaafkan diri wardah sendiri bu. Kenapa harus wardah yang menjalani kisah serumit ini?" rengek wardah yang nampak baper. Bu sumi memeluk wardah memberikan suport untuk perempuan yang sudah di anggap seperti putri sendiri.
Malam ini terasa sangat berbeda. Wardah merasa ada kelonggaran dalam dadanya karena bisa mengaktifkan handphone-nya. Begitupun dengan izdi dia merasa saat nomor hp wardah aktif meskipun dia masih belum mau berbicara setidaknya dia ada yang menjaga dan dalam keadaan baik.
" Sayang ... Aku masih mencintaimu. Meskipun Maria datang aku tidak melupakanmu seperti yang kamu bayangkan. Kamar ini pun masih sama desain interiornya milikmu sayang. Milikmu akan selalu menjadi milikmu tidak akan ada orang lain yang mengambil. Maafkan mas yang tidak jujur jika pernah ada maria di masa lalu," monolog izdi dengan menatap langit-langit kamarnya. Betapa merindunya jiwa izdi pada istrinya. Tidakkah wardah merindukannya.
Di sisi lain ...
Azzam yang mondar mandir di dalam kamarnya sedari tadi membuat nasya bingung.
"Kakak hentikan! Kamu membuatku pusing jalan ke sana kemari seperti cacing kepanasan tahu gk," jengkel nasya pada kakaknya. Azzam kemudian mendekati nasya.
" Sya jelaskan pada kakak. Kenapa kamu bisa sedekat itu dengan kakak yang tadi?"tanya Azzam penasaran. Nasya jadi menatap kakaknya heran.
" Why? Pak CEO, kamu tertarik padanya. No ... Jangan macam-macam dia sedang hamil. Temanku itu bukan perempuan sigle jangan macam-macam," jawab nasya yang membuat azzam melongo. Kata-kata hamil itu keluar dari mulut adiknya. Dia tahu sampai sejauh itu tentang wardah.
" sya ... Kamu dekat sekali dengannya?" tanya azzam lagi. Nasya kali ini mengangguk cepat.
Nasya yang melihat kakaknya jadi jiwa jahilnya muncul. Tangannya mulai menggelitik azzam. Azzam segera melirik adiknya dengan pandangan mematikan.
" Nasya ... Apa yang kamu lakukan. Dasar bocah ingusan!" seru azzam yang kemudian mengejar adiknya. Nasya berlarian di kamar azzam.
" Segeralah menikah pak CEO jangan hanya menunggu. Bawa pulang jodohmu itu keburu putih itu rambut!" ejek nasya pada kakaknya. Azzam seketika membulatkan pupil matanya. Adiknya ini memang sulit dikendalikan.
" Keluar dari kamar kakak! Cepat," geram azzam pada adiknya. Candaan mereka pun berhenti saat nasya keluar dari kamar kakaknya.
Di rumah bu sumi..
" Sayang sudahkah kamu tidur? Mas sangat merindukanmu," pesan izdi untuk wardah.
Ting. (pesan masuk)
__ADS_1
Wardah menengok pesan masuknya. Dia mulai mengetikkan sesuatu di gawainya itu.
" Tidurlah mas besok masih harus bekerja," jawab wardah tanpa membalas rasa rindu izdi. Suaminya itu tidak menyerah.
Ting.
" Sayang mas mohon angkatlah telpon mas!" seru izdi melalui pesan.
Ting.
" Wardah ingin istirahat," jawab wardah singkat.
Ting.
"Love you sayang ... Met istirahat," ucap izdi
Ting.
" oke," jawab wardah kemudiam menonaktigkan hpnya.
Izsi menghela nafasnya dengan berat. Saat ini cukup di sini dia harus selalu berkabar dengan istrinya itu. Dia tak boleh memaksakan kehendaknya dengan terburu-buru. Izdi dan wardah pun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan lelahnya hari ini.
" Maaf mas. Belum bisa bicara banyak. Semoga kamu memahami hubungan kita saat ini. Semoga pekerjaanmu dimudahkan, di kasih sehat selalu dan kelak menjadi ayah yang baik untuk janin di kandungan wardah," monolog wardah di dalam kamarnya.
Wardah melepas penat hari ini dengan merefresh otaknya dan mengajaknya beristirahat. Besok dia harus membantu hu sumi berjualan kembali. Bu sumi adalah orang yang hebat tanpa siapapun dia mampu menjalani kerasnya kehidupan ini. Wardah termotivasi oleh perempuan senja yang menjaganya saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Melunak gak sih?????" lanjut ya.....