
" Maaf " kata itu yang terdengar di telinga Zayyan saat ini.
" Katakanlah sekali lagi! Khawatir pendengaranku yang salah," ucap zayyan pada zizah dengan senyum dan memgharapkan jawaban kembali. Zizah yang masih menunduk kemudian mengatakannya sekali lagi.
" Maafkan aku," lirihnya kembali. Zayyan kemudian menghentikan mobilnya.
" Menikahlah denganku!" ajakan zayyan membuat zizah mendongak. Dia kemudian menanggapinya.
" Tadi aku mengatakan maaf mas, bukan membahas pernikahan. Jawabannya kok seperti itu?" tanya zizah dengan serius.
" Tidakkah kamu mengasihani aku yang sudah menunggu terlalu lama," protes zayyan pada zizah.
" Mas ... Aku tidak pernah menyuruhmu menungguku loh," jawab zizah sambil memandang ke arahnya.
" Tapi aku pergi karena ingin kamu paham bahwa sebenarnya aku sangat care sama kamu," ucap zayyan menimpali.
" Tapi sepertinya tidak demikian," jawabnya membuat zizah gemes. Karena termyata zayyan selama berrahun-tahun masih menyimpan rasa yang sama untuknya. Zizah sangat terharu dengan pemuda itu.
" Ayolah zizah sampai kapan aku tidak menikah seperti ini? Kurang lamakah penantianku? Bahkan aku telah membuatmu berbuat jahat pada seseorang," ucap zayyan lesu.
" Tunggukah beberapa hari lagi untuk menunggu jawabanku," jawab zizah yang akhirnya mau tidak mau membuat zayyan mengangguk.
" Oke baiklah," jawabnya.
Setelah beberapa hari kemudian. Baik izdi dan yang lain telah selesai dengan masa bulan madunya mereka harus kembalinke tanah air untuk kembali pada aktivitas sehari-hari.
" Kita berangkat sekarang y sayang!" ajak izdi pada wardah. Wardah mengangguk Pada suaminya.
Ketika mereka semua di pesawat. Baik izdi, Rangga maupun azzam tak ada yang berkomentar mereka sedang asik dengan istrinya masing-masing. Mereka tetap menjaga privasi meskipun liburan di tempat yang sama.
Sesampainya mereka di indonesia ...
" Kok ... Rasa-rasanya silent please ya?" sindir izdi dengan nada sumbang namun bercanda. Rangga menoleh sambil terkekeh.
" Kami masih baru suhu. Jadi berilah kesempatan pada kami yang masih baru pertama jangan merusak keindahan kehidupan kami. Hahahahah. Baiklah kami duluan iz, mas azzam," pamit rangga pada kedua pasangan itu.
" Oke ... Hati-hati," jawab izdi maupun mas azzam.
" Iz ... Wardah kami juga duluan ya!" pamit fatimah. Wardah dan izdi mengangguk serentak seperti layaknya parade.
" Oke ... Sampai ketemu lagi kak," jawab wardah dengan senang. Fatimah dan azzam pun pergi dari sana.
Izdi menatap istrinya sambil menggoda....
" Tinggal kita nih sayang? Kemana ya!" ajak izdi sambil berpikir. Wardah langsung mencubit suaminya.
__ADS_1
" Waktu bermain sudah habis mas. Saatnya kembali pada putraku. Jangan di perpanjang lagi," jawab wardah dengan gemes. Dia pun mulai melangkah ke arah luar bandara dan izdi mengejarnya.
" Baiklah ... Nyonya iz!" seru izdi pada istrinya. Wardah tersenyum bahagia.
Akhirnya wardah kembali dapat menggirup udara segar indonesia. Dia sudah sangat merindukan putranya itu. Sudah satu minggu di negeri orang membuatnya ingin memeluk adzkan secara langsung. Izdi pun menggandeng istrinya menuju mobil pribadinya.
Ketika dalam perjalanan pulang. Izdi terus saja memegang tangan wardah sesekali di lepas untuk membenahi kemudinya. Izdi sangat bersyukur sekali. Saat ini yang dia harapkan adalah istrinya itu segera hamil kembali. Dia ingin merasakan apa yang para ayah alami saat istrinya hamil.
Sesampainya di kediaman izdi. Mereka di sambut oleh putranya itu. Adzkan berlari sangat bahagia pada mereka. Izdi tersenyum bahagia, si kecil adzkan berlari untuk memeluk mamanya.
" Kangen ma," ucapnya.
" Mama juga kangen sayang. Gimana adzkan rewel gak selama ini?" tanya mama dengan memanjakan putranya.
" Gak sih ma. Nurut kok," katanya dengan lucu.
" wah ... Kangen sama mama aja. Papa gimana nih sayang!" rajuk izdi pada putranya. Adzkan tertawa.
" Kangen pa .. " jawabnya kemudian. Adzkan akhirnya berpindah gendongan pada izdi.
Merekq bertiga pun masuk ke kediamannya. Bibi ternyata sudah menyiapkan banyak masakan. Izdi dan wardah tersenyum.
Masaknya banyak sekali bi? Mau ada tamu?" tanya izdi. bibi hanya menggeleng.
" Kemana umi sama aba bi?" tanya izdi dengan mencari-cari. Bibi tersenyum kecut.
" Pulang tuan tadi shubuh. Karena pesantren sudah lama di tinggal," jawabnya yang membuat izdi mengangguk. Paham kenapa umi dan aba harus kembali. Mereka sudah terlalu lama di sini.
" Kita makan dulu ya setelah itu istirahat!" seru izdi. Wardah mengangguk setuju. Wardah juga mengajak putranya itu.
Mereka pun makan bersama. Sang bibi dan petugas di rumahnya pun di ajak ikut makan bersama. Layaknya keluarga di sana.
Keadaan lain di rumah Nasya ...
" Hai ... Gimana nih bulan madunya sukses gak?" goda zayyan pada adiknya dan adik iparnya itu. Nasya tak menjawab namun rangga ikut duduk bersama kakaknya itu.
" Pergilah istirahat!" perintah rangga pada istrinya. Nasya pun pergi dari sana untuk istirahat.
" Wehhh ... Kok malah di suruh istirahat sih ngga. Kakak penasaran nih dengan bulan madu kalian," ucap zayyan sambil lesu.
" Kak ... Memangnya yang ingij kamu ketahui apa?" goda rangga pada kakak istrinya itu.
" Ya ... Gol gawangnya dong ngga. Kakak tahubkalian selama ini kurang harmonis," jawab zayyan akhirnya. Rangga kemudian memegang pundak kakaknya itu.
" Terima kasih kak ... Berkat kakak kami minikmati liburan itu," jawab rangga dengan senyum menggoda.
__ADS_1
" Jangan ambigu dong ngga ... Jawab yang jelas aja," pinta zayyan.
" Menikah dong kak. Biar tahu infonya!" seru rangga berdiri dan ingin menyusul istrinya.
" Ngga ! Yang benar saja dong," seru zayyan pada adik iparnya.
" Ajaklah dia menikah kak. Supaya kakak tidak bertanya pada kami gimana? Sudah sana jangan di rumah saja pergilah untuk mengapelinya. Ajaklah dia dating kak!" teriak rangga pada zayyan yang kemudian menghilang dari hadapannya.
" Dasar adik gak ada akhlaq kamu ya!" teriak zayyan balik. Namun rangga yang mendengar dari jauh hanya tersenyum bias. Ia biarkan kakaknya berfikir supaya dia segera menikah dengan zizah.
Zayyan kemudian pergi dari rumah untuk menemui zizah. Hari ini adalah beberapa hari setelah gadis itu menjanjikan atas jawabannya. Zayyan pun bersiap untuk ke rumah zizah. Rangga yang mengetahui mobil kakaknya beranjak jadi tersenyum.
" Akhirnya keluar juga dari rumah," lirih rangga.
" Kamu suruh pergi kemana kakakku mas?" selidik nasya.
" Ke rumah zizah," jawab rangga singkat.
Nasya hanya menghela nafas. Rangga tetaplah rangga dia masih saja dingin pada nasya. Bulan madu di antara mereka pun hanya sebatas bermain.
Di rumah yang di tempati zizah ...
" Asaalamualaikum," ucap zayyan
" Waalaikumsalam," suara itu terdengar dari luar. Zayyan menoleh dan benar saja dia melihat zizah sedang berkebun.
" Kok sudah berkebun pagi-pagi?" tanya zayyan.
" Mumpung libur. Lah mas sendiri ngapain pagi-pagi ke sini!" seru Zizah.
" Mau ngapel pagi sama menunggu jawaban yang kamu janjikan," jawab zayyan secara langsung. Zizah menatap pemuda di depannya itu.
" Memangnya sekarang ya yang aku janjikan?" tanya zizah.
" jangan bercanda deh. Nanti kalau aku marah lagi aku benar-benar tak kembali!" seru zayyan kali ini mulai gusar dan kesal.
Zizah nampak mengambil bunga di hadapannya untuk diberikan pada zayyan.
" Menikahlah denganku ! Dan datanglah ke rumahku sekali lagi pintalah aku kepada umi bukan untuk menjalin hubungan biasa. Tapi pintalah aku sebagai istrimu," ucap zizah membuat wajah zayyan berbinar-binar. Sampai dia lupa ingin memeluk zizah.
" Berhenti di sana. Jaga batasan belum halal," jawaban zizah membuat zayyan terkekeh.
.
.
__ADS_1