Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Wisuda 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari bersejarah bagi wardah dimana dia akan di ikrar sebagai sarjana. Impian izdi untuknya terdahulu. Namun dia setelah menikah tidak ingin berkuliah.


Pagi ini wardah sangatlah cantik sekali. Sedangkan fatimah hari ini mengajukan cuti pada rumah sakit untuk mendampingi adiknya berwisuda sekaligus untuk mendampingi azzam.


" Dek sudah kah?" tanya fatimah pada adiknya.


" Bentar lagi kak," jawab wardah.


" Hai boy ... Gantengnya bibi Fatimah. Uwuuhhhh semakin cakep nih si boy!" goda fatimah kepada ponakannya.


" Hai ... Omay cantikkuuuu," jawab adzkan dengan lucunya. Fatimah melotot sambil tersenyum pada ponakan.


" Wah ... Boy suka temenan sama om nih kayaknya udah di ajarin kata-kata roman," jawab fatimah sambil menggelitik keponakannya itu. Adzkan tertawa sambil berlari-lari.


Setelah mereka semua siap. Mereka berangkat menuju Gedung dimana tempat wisuda berlangsung. Papa, Mama, Azzam, Fatimah, Wardah beserta si kecil. Mereka datang bersama. Namun karena tamu undangan hanya 2 maka fatimah dan azzam menunggu di taman kampus dengan adzkan.


" Jangan lari-lari sayang ... Hati-hati!" teriak azzam.


Saat hal itu terjadi di depan mata izdi. Sang dosen sekaligus suami wardah itu jadi menatap anak kecil yang sedang berlari kecil. Tanpa sengaja anak kecil itu menabrak izdi.


" Upzsss ... Maaf om. Adzkan tidak sengaja," jawabnya sambil menatap izdi dengan lekat. Begitu pun sebaliknya izdi juga menatapnya. Izdi tersenyum mengangguk.


" Papa ... " ucapnya saat melihat senyum izdi. Spontan saja izdi terkejut dengan panggilan yang di sematkan padanya.


Tap. Tap. Tap


Suara derapan laNgkah kaki seseorang datang menghampiri. Fatimah ya dialah yaNg menghampiri izdi.


" Maafkan ... Keponakan saya," ujar fatimah. Namun izdi malah tersenyum dan menggendong adzkan.

__ADS_1


" Hai .... Sayang. Siapa namanya?" tanya izdi.


" Adzkan pa," jawab anak itu sambil tersenyum bahagia. Fatimah jadi melongo ternyata yang di depannya adalah izdi.


"Anak pinter sama tante dulu ya? Papa mau ada acara di dalam sana!" seru izdi dan adzkan mengangguk. Azzam berjalan ke arah mereka.


" Om ... Aku gendong!" pintanya pada azzam. Setelah adzkan berpindah tangan akhirnya mereka berlalu dari hadapan izdi.


Izdi berjalan menuju ke gedung yang ia tuju. namun hatinya saat ini berkecamuk. Kenapa adzkan memanggil azzam sebagai om malah dirinya yang dipanggil papa olehnya. Sebenarnya dia anak siapa wardah. Dan fatimah kenapa bersama azzam.


Ambigu? Batin izdi.


Ketika senat terbuka sudah di mulai. Acara di mulai dengan hikmat dan lancar. Semua mahasiswa-mahasiswi di panggil satu persatu dan maju. Begitu juga dengan wardah dia di panggil dengan kategori mahasiswi yang memiliki nilai camlaude alias terbaik.


Tak heran jika wardah dapat prestasi itu karena selain dia pintar dia juga mahasiswi yang rajin sekaligus tidak pernah alpa sekaligus jarang ijin. Seusai acara wisuda selesai semua mahasiswa-mahasiswi berhambur keluar untuk mengambil moment. Ketika izdi keluar dari gedung ada beberapa mahasiswi yang mengajak berfoto.


" Baik silahkan," jawab izdi


Mereka berfoto ala-ala mahasiswa-mahasiswi. Namun satu kali permintaan sheila supaya bisa foto berdua saja.


" maaf sheila ... cukup itu saja ya. Terima kasih," ucap izdi langsung pergi dari sana. Nampak-nampaknya wardah sedang memperhatikan suaminya yang enggan untuk berfoto berdua. Fatimah yang melihat wardah menatap suaminya itu berinisiatif untuk memanggil izdi.


" Pak iz kemarilah foto bersama kami!" seru fatimah pada izdi. Pemuda yang merupakan ayah adzkan itu mengangguk dan tersenyum.


" Gendonglah dia fotolah di sebelah Wardah," ucap fatimah.kemudian mereka berfoto bersama ala-ala keluarga sungguhan yang sementara masih terlihat kias. Fatimah berdampingan dengan azzam, kedua orang tua dan wardah berdampingan dengan izdi bersama putranya.


" Baiklah ... Terima kasih," ucap izdi. Namun adzkan.


" Papa ... Tidak pulang dengan kami. Kan sudah lama di luar rumahnya," ucapnya. Semua orang hanya diam tak menanggapi adzkan. Tapi izdi memeluknya dan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Pulanglah bersama mama. Papa akan pulang jika sudah waktunya boy," bisik izdi. Putranya itu mengangguk bahagia.


" Oke ... JaNji!" seru adzkan bersemangat.


" Janji ... Baiklah saya permisi!" seru izdi yang kemudian diikuti senyuman semua orang.


Seusai itu mereka semua pulang ke rumah dan mengistirahatkan diri. Wardah menidurkan si adzkan yang sudah bertemu ayahnya. Sengaja wardah tak berkomentar apapun karena membiarkan dia putranya untuk mengenal sosok ayah.


" Bahagia ya nak sudah ketemu papa," lirih wardah pada putranya itu. Wardah mengelus-elus putranya supaya kian terlelap. Wardah pun ikut beristirahat setelah wisuda dan berswafoto dengan teman-teman dan suaminya. Namun yang dianggap suami tidak merasa. Yang izdi tahu mereka sudah bercerai.


Di tempat lain ...


" Kenapa keluarga wardah diam saja saat dia memanggilku papa? Sedangkan wardah juga tak menanggapinya. Dia hanya memperhatikan kami yang sedang mengobrol layaknya ayah dan anak. Sebenarnya ada apa ini. Semua berubah saat aku kembali tersadar dari kecelakaan. Saat itu yang ku tahu wardah sudah meninggalkanku dan aku di haruskan menikah dengan maria. Saat itu aku frustasi usahaku kembali dengan wardah sudah sia-sia," monolog izdi di dalam kamarnya.


Saat ini izdi sudah kembali ke rumahnya yang di tinggali bersama wardah. Dia sangat merindukan rumah ini. Rumah yang di tempatinya dengan maria sudah ia jual. Karena dia ingin menghapus semua jejak buruknya. Bahkan dia tidak tahu siapa yang salah di sini. Karena saat itu dia tidak sadar dan dia merasa tidak menceraikan istrinya itu tetapi semua keluarga mengatakan bahwa dia telah bercerai dengan wardah.


" Sebenarnya bagaimana cerita sebenarnya wardah. Kamu pun tak pernah membahasnya denganku. Ketika bertemu seperti tidak terjadi apapun. Kamu marah au benci padaku pun aku tak bisa menemukannya. yang aku lihat kamu malah menghindariku," ucap izdi saat melihat foto pernikahan mereka di kamar.


IZdi melelapkan dirinya dalam kamar saat dia bersama wardah. Dia lelah dengan keadaan, ingin berbicara dengan wardah namun tak punya nyali. Malu takut salah banyak sekali pikiran-pikiran tentang yang tidak baik tentang dirinya.


Hari ini begitu sangat berarti bagi izdi dia seakan-akan menajdi ayah sesungguhnya dan wardah menjadi sarjana di hadapannya. Tetapi dia juga tak melihat kemesraan wardah dengan azzam seperti beberapa waktu lalu yang dia lihat di mall. Dia hanya nampak seperti biasanya. Hari yang membagongkan bagi kedua insan itu. Cinta kasih wardah membuat dirinya diam. Kesalahan izdi yang besar membuat nyalinya sebagai laki-laki seakan-akan sirna di telan bumi.


" Aku masih mencintamu wardah sampai saat ini, maaf aku belum bisa menatap mata teduhmu itu. Rasanya aku terlalu naif dalam hidupku sendiri. Jadilah orang sukses," sebelum mata izdi terlelap dengan tenangnya.


.


.


Up lagi nih. Kasih like jangan lupa komen untuk membangun motivasi karya ini. Vote jangan lupa, eittsss bintang ya kasih nilai. wah terlalu banyak permintaan ya kak thorrrr. Salken semua... Makasoh banyak.

__ADS_1


__ADS_2