
Kepergian suaminya membuat wardah semakin yakin ada sesuatu antara dirinya dan orang tuanya. Akhir- akhir wardah semakin mengenali sifat suaminya itu. Wardahpun mulai mendekati ayahnya dan mendudukkan sang ibu di kursi di depan ruang ICU.
" Pa ... Ada apa?" tanya wardah dengan hati-hati. Ayahnya pun tak bisa mengeluarkan kata- kata tadi yang sempat dia lontarkan di hadapan menantunya. Namun sang mamapun memegang kedua tangan putrinya.
" Nak, izinkan kakakmu menikah dengan suamimu. Ini jalan satu-satunya yang bisa membuat dia sadar dan sehat kembali," ucap sang mama. Bak petir di pagi hari yang cerah ucapan mama benar-benar menyakiti hatiku kala ini. Hati ini seperti tersayat sembilu, sakit sampai di ulu. Air mata ini tak terasa melintas di pipi mulusku.
" Ma, Pa, Wardah pulang dulu ya. Saat ini Wardah belum bisa menjawab. Besok Wardah datang lagi untuk menjenguk semoga kakak segera sadar. Assalamualaikum wr.wb," ucap Wardah tanpa menjawab ucapan mamanya yang sudah terlontar.
" Waalaikumsalam," kepergian Wardah membuat mamanya menangis. Dia sudah mengorbankan putri bungsunya untuk sang putri sulung. Orang tuanya selalu kalah dengan keadaan yang dibuat oleh Fatimah.
Di tempat lain...
Di kamar mandi rumah sakit Wardah menangis sejadi-jadinya. Ia buka cadarnya dan ia hidupkan kran supaya tangisannya tidak terdengar oleh siapapun.
" Tidak berhakkah aku bahagia Ma, semenjak kecil kalian membuangku dengan alasan yang sama. Jika aku tidak diharapkan kenapa mama lahirkan aku ke dunia ini," tangis wardah tumpah sampai ia lupa menghubungi suaminya bahwa dia sudah selesai. Dia meringkuk di kamar mandi rumah sakit, kakinya lemas tak bertenaga. Ia benar-benar menyesal menikah dengan Izdi jika harus merelakan dia menikah dengan kakaknya.
" Hah, keterlaluan kalian.huhuhu," tangis Wardah sambil menenggelamkan wajahnya di kedua pahanya.
__ADS_1
Di ruangannya izdi nampak gusar. Dia memikirkan istrinya, hingga akhirnya dia menyuruh asistennya untuk mengecek keberadaan istrinya. Namun beberapa menit kemudian dia mendapat notif dari asistennya bahwa istrinya sudah tidak ada di sana. Izdipun mulai panik sebab wardah tak memberi dia pesan masuk sama sekali.
Dia mencoba menghubungi Wardah namun tak ada jawaban sama sekali.
" Angkat dong sayang! Kamu dimana? Jangan bikin aku panik seperti ini," ujar Izdi yang bingung karena Wardah tak kunjung mengangkat telpon darinya.
Namun panggilan ke 10 wardah baru mengangkatnya.
" Sayang dimana?" tanya izdi dengan nada yang sangat khawatir.
Sesampainya di sana ...
"Wardah dimana?" tanya izdi pada seseorang yang berada di dalam kamar mandi. Seseorang di sana menatap seorang dokter muda memasuki kamar mandi wanita.
" Istri dokterkah ini?" tanya seseorang di sana.
" Iya benar mbk, sudah berapa lama dia seperti ini?" tanya izdi dengan memasang cadar istrinya.
__ADS_1
" Tidak tahu dok, tadi saya di kamar mandi risih karena hp-nya bunyi terus saya ketok tidak di jawab tapi ketika saya dorong si mbaknya sudah gini," jawab seseorang itu dengan detail.
" Baiklah, terima kasih mbak. Permisi!" seru izdi yang langsung membawa istrinya ke ruang pribadinya.
.
.
.
.
" Sayang kenapa? Apa yang terjadi? Bukankah sudah kubilang telpon aku," ujar Izdi menyesal saat melihat istrinya dengan kondisi tidak sadar.
# pembaca yang budiman jangan lupa like, komen dan subscribe ya...
Makasihhh.
__ADS_1